
***SELAMAT MEMBACA***
.
.
Sementara sibuk dengan pikirannya, tanpa menghiraukan rasa sakit pada wajahnya, tiba-tiba ponsel yang ada di atas meja kerjanya berbunyi. Awalnya Rain tidak menggubris panggilan yang masuk ke handphonenya, namun lagi-lagi handphonenya berbunyi, Rain sangat marah, bunyi di ponselnya itu mengganggu fokusnya memikirkan Nala. Rain mendekati meja kerjanya melihat siapa yang tengah menelponnya. Nama Bunga tertera pada layar Handphonenya. Pikirannya yang sekarang sedang kalut memikirkan Nala, sekarang malah Bunga yang menghubunginya.
Rain dengan malas mengangkat panggilan itu.
"Hallo" kata Rain
"Kak Rain, aku pengen ngomong sama kakak. Bisa kita ketemu?" Ucap Bunga
"Gak bisa. Aku lagi sibuk Bunga. Lain kali aja." Rain pun mematikan sambungan teleponnya.
Rain berpikir, bila ia mendapat kesempatan membuat Nala kembali ke sisinya, ia berjanji akan berubah. Awalnya Rain berpikir ucapan Nala yang mengancam untuk meninggalkannya apabila ia mendua hanya sebatas gurauan, tapi ternyata semua yang Nala Ucapkan benar-benar ia lakukan.
"Tapi apa aku bisa nahan godaan dari Bunga maupun Tessa? Ahhgg, harus bisa Rain." Monolognya pada dirinya sendiri.
"Aku harus menjernihkan pikiranku dulu, baru bisa ngomong sama Bunga. Ya, Bunga. Aku memang berjanji akan selalu melindunginya, hanya sebatas itu, tidak lebih. Hanya Nala yang ia cintai." Rain yakinkan dirinya.
Rain melangkah ke kamar mandi yang berada di ruangannya. Ia membasuh mukanya, seketika ia meringis memegang wajahnya. Sambil melihat wajahnya di cermin, mengingat kejadian tadi, Rain terus memaki Axel, mengumpatnya dengan kata-kata kasar.
Rain keluar dari kamar mandi, hari ini ia tidak mood untuk melihat kertas-kertas yang ada di atas meja kerjanya. Rain memutuskan untuk pulang ke rumah. Ya ia akan meminta tolong mamanya untuk terus dekat sama Nala. Rain tau Nala orangnya tidak enakan, mana mungkin ia bisa menolak mamanya maupun adiknya.
Kurang lebih 1 jam Rain berpacu dengan mobilnya, kini ia sudah tiba di rumah keluarganya. Tapi rumah hari ini nampak sepi. Rain berjalan menuju dapur, siapa tau ibunya ada di dapur. Namun yang ada hanya sang bibi.
"Bi. Mama kemana ya," tanya Rain pada Asisten rumah tangga yang ada disitu.
"Eh Den. Nyonya barusan keluar den, katanya mau jengukin temannya yang baru datang dari luar negeri den" jawab bibi.
"Oh yasudah Bi"
Rain melangkah ke kamarnya, karena pikirannya begitu suntuk, ia pun mematikan Handphonenya, membaringkan tubuhnya di kasur.
"Pening banget ni kepala. Mending tidur dulu" Rain pun tertidur dengan masih memakai setelan jas lengkapnya.
...
__ADS_1
Disisi lain, Bunga sedang mengacak-acak rambutnya Frustasi. Ia tidak menyangka Rain mengacuhkannya begini. Di tambah Rain telah mengekspos hubungannya dengan Nala pada semua orang. Dulu Bunga merencanakan dekat dengan Rain hanya untuk membuat Nala sakit hati dan terluka. Namun ia malah terjebak dalam permainannya sendiri. Ya, Bunga terjebak dengan perasaannya. Ia Menyukai Rain. Menyukai sentuhannya. Bunga tidak ingin semua ini berakhir. Walaupun ia juga mencintai Axel, tapi sulit mendapatkan orang yang bernama lengkap 'AXEL ABRAHAM' itu. Tapi tidak dengan Rain, ia cepat tergoda.
"Bagaimanapun caranya kak Rain harus gue milikin. Tenang, loe harus tenang Bunga. Jangan panik, ayo tunjukkan dirimu yang polos itu. Wajahmu yang polos ini, pasti bisa memikat kak Rain kembali" Bunga mensugesti dirinya sendiri dengan kata-kata positif.
"Hm. Langkah Awal gue harus minta maaf ke Nala. Gue harus bikin dia seakan gue udah berubah." Ucap Bunga.
Bunga bergegas keluar rumah. Tujuannya yaitu ke rumah Nala. Dalam perjalanan, Bunga mulai menyusun kata-kata yang nantinya ia sampaikan kepada Nala. Bunga belum yakin Nala akan percaya langsung padanya, tapi itu tidak masalah. Yang penting coba dulu pikirnya.
Sesampainya di depan rumah Nala, Bunga segera keluar, ia mengetuk pintu rumah Nala. Tak lama, pintu terbuka. Ternyata bibi yang membukanya.
"Hallo bibi, Nala-nya ada?" Tanya Bunga dengan senyum manisnya
"Non Bunga, non Nala-nya ada di kamarnya non. Duduk dulu nanti saya panggilin non." Ucap bibi. Bunga hanya mengangguk.
Bibi bergegas ke kamar Nala.
Tok tok tok
"Non. Non Nala" panggil bibi. Tak ada suara dari dalam.
"Non Nala, Non. Ada yang mau ketemu sama non"
Tak sampai 10 detik pintu terbuka.
"Itu non. Non Bunga yang datang, katanya mau ngomong sama non Nala" kata bibi.
Nala mengerjitkan keningnya.
"Tolong Bilang sama Bunga, Nala lagi malas, dan gak ingin buat ketemu sama dia bi" ucap Nala.
"Baik non. Bibi permisi"
Bibi kembali ke ruang tamu.
"Maaf non Bunga, non Nala-nya lagi malas buat ketemu sama non Bunga katanya" ucap bibi
"Biar Bunga aja bi yang ke kamar Nala" kata Bunga. Bibi mengangguk setuju dan meninggalkan Bunga.
Bunga menaiki tangga menuju lantai dua. Ia tepat berdiri di depan pintu kamar Nala. Ia menghela nafas panjang.
__ADS_1
Tok tok tok
Tok tok tok
"Masuk aja bi, Nala gak kunci kok" terdengar suara dari dalam kamar Nala.
Nala pikir yang mengetuk pintu kamarnya itu bibi Lila.
Bunga membuka pintu kamar tersebut, Bunga bisa melihat wajah terkejut Nala dan aura membencinya saat menatap Bunga
"Na" panggil Bunga
"Ngapain Loe kesini bit*h. Loe bukan lagi Sahabat gue. PERGI" Teriak Nala.
Bunga tak bergeming dari tempatnya. Ia membiarkan Nala memakinya sesuka hatinya. Dalam hati Bunga, jika dia saat ini datang bukan untuk berpura-pura minta maaf, sudah dia cincang mulut Nala karena mengatainya dengan begitu keji.
Detik berikutnya, Bunga berjalan mendekati Nala. Ia bersujud di depan Nala. Nala begitu kaget Bunga melakukan ini padanya.
"Apa yang coba loe lakukan hah?" Bentak Nala.
"Maafin gue Na. Maaf. Gue salah. Please maafin gue" Nala shock, ia mundur beberapa langkah.
"Gak. Gak mungkin secepat ini Bunga berubah." Batin Nala.
"Loe kira gue percaya sama loe Bunga. Sekarang loe pergi. Sebelum gue panggilin satpam kesini" ucap Nala. Nala harus kuat, ia bukan lagi Nala yang dulu, yang bisa di permainkan begitu saja.
Bunga berdiri dari tempatnya berlutut tadi. Ia mengepalkan tangannya.
"Gue tau kesalahan gue banyak banget sama loe Na. Tapi gue tulus meminta maaf sama loe. Gue pergi ya"
Bunga berlalu dari kamar Nala meninggalkan Nala dengan begitu banyak prasangka yang ada di dalam kepalanya.
"Bunga, kenapa jadi seperti begini. Kenapa kita berdua seperti ini. Kenapa Bunga. Kenapa loe sampe hati, begitu tega sama gue, lalu dengan begitu gampangnya loe datang memohon buat gue maafin. Gue gak tau kenapa, hati gue mengatakan loe cuma pura-pura sama gue Bunga. Apalagi kali ini rencana loe Bunga. Gue berharap Loe bisa tobat sebelum semuanya terlambat dan bikin kita semakin jauh Bunga"
Nala menangis sejadi-jadinya. Persahabatannya selama belasan tahun dengan Bunga hanya omong kosong. Ternyata selama ini yang tulus hanya dia seorang. Tidak dengan Bunga.
Nala berjalan mendekati mejanya, disitu terdapat sebuah buku album. Nala membukanya, air matanya terus menerus menetes. Melihat foto dia dan Bunga dari kecil, hingga sekarang. Mereka begitu bahagia. Tapi semua berantakan karena keegoisan Bunga.
"Apa senyum ini juga pura-pura Bunga?" Ucap Nala memandang foto Bunga yang tersenyum begitu manis.
__ADS_1
BERSAMBUNG...
Maaf kalo masih ada typo..