
...SELAMAT MEMBACA...
...
Keesokan harinya Nala berangkat ke kampus. Nala ingin fokusnya hanya untuk mengikuti kegiatan kampus. Ia juga akan berusaha sebaik mungkin agar terlihat biasa-biasa saja di depan semua orang.
Saat memasuki kampus, ternyata Nala sudah di tungguin oleh Juan dan Bella.
"Na, loe gak kenapa-kenapA kan? " Bella
"Gak kok Bel. Gue biasa aja. Gak perlu khawatir" Nala
"Kita nunggu loe buat cerita Na. Jangan pendam sendiri yah. Kapan pun loe mau cerita, gue sama Juan siap kok dengarinnyA" Bella
Nala tersenyum. "Ia. Gue pasti cerita kok. Sebelum berangkat kegiatan, gue pasti cerita" Nala
"Ok. Kita tunggu. Yaudah yuk. Kita mau ke kelas. Ayo. Loe ada pertemuan kan?" Bella. Nala Mengangguk.
"Habis pertemuan, jangan lupa hubungin gue atau Juan, kita pulang bareng." Bella
"Ia Bel" Nala
Mereka bertiga memasuki gedung kampus mereka. Masing-masing mereka menuju ke ruangan mereka.
...
Setelah melakukan pertemuan terkait kegiatan yang akan mereka lakukan di luar negeri, Nala menghubungi Bella. Ternyata Bella dan Juan sudah menunggu Nala di depan kampus. Saat Nala hendak menuju keluar kampus, Nala di cegat oleh Bunga.
"Nala tunggu" Bunga
"Bunga? Mau ngapain? Gue lagi buru-buru" Nala.
"Gue mau ngomong sama loe. Please." Bunga.
"5 menit. Cepatan, gue gak ada waktu" Nala.
Sebenarnya Nala tidak ingin berurusan lagi sama Bunga, tapi mau gimana lagi watak BUnga yang sok polos dan suka memaksa itu yang terpaksa harus Nala ladenin.
"Ngomong di sana aja yuk" Bunga.
Bunga menunjuk ke arah kursi. Di situ cukup banyak orang. Bunga emang sengaja sebenarnya, ia memilih tempat yang orangnya cukup banyak.
Bunga dan Nala duduk saling berhadapan.
"Na. Gue minta maaf skali lagi sama loe yah. Please maafin gue" Bunga berbicara dengan nada yang cukup agak keras.
"Apa sih loe. Gak usah keras-keras juga ngomongnya" Nala merasa Bunga sengaja.
Bunga mulai berlutut di hadapan Nala. Nala tidak menyangka Bunga rela melakukan segala cara untuk mendapatkan maaf dari-Nya.
"Maafin gue Nala. Gue salah. Gue menyesal bangat Na. Gue nyesal banget. Maafin gue please." Sambil menangis Bunga terus memohon maaf dari Nala sambil memegang kaki Nala.
"Apa-apaan sih loe Bunga. Berdiri nggak loe. " Teriak Nala sambil berdiri.
Tapi hal itu di manfaatkan oleh Bunga. Bunga sengaja terjatuh ke belakang seakan-akan Nala yang mendorongnya. Saat yang bersamaan Rain, Bella dan Juan muncul di samping mereka.
"Nala, BungA" Teriak Rain
__ADS_1
Mereka menghampiri Nala dan Bunga. Bunga mulai berakting menangis.
"Maafin gue Nala. Maafin gue. Gue mohon. " Bunga.
Rain menghampiri Bunga dan membantunya berdiri.
Banyak pasang mata yang melihat adegan Nala bersama Bunga tadi mulai Berbisik-bisik.
"Eh. Kasihan juga yah si Bunga."
"Ia. Masa uda minta maaf sampe berlutut memohon, eh malah di dorong kayak gitu"
Suara-suata itu masih terdengar jelas di telinga Nala, Bunga, Rain, Bella dan Juan. Dalam hati Bunga sangat senang. Yha walaupun ia harus menurunkan harga dirinya, tapi hasilnya cukup memuaskan pikirnya. Dan benar saja, Nala mendapatkan sindiran dari banyak orang.
"Na. Bunga kan uda minta maaf sama kamu. Kalo gak mau maafin yah gak usah main dorong segala dong Nala, kasian kan Bunga" Rain mulai membela Bunga
"Ckkk" Nala mengepalkan tangannya kuat.
"Eh. An*ing loe. Mending diem deh loe smua. Kalo gak tau apa masalahnya mending diam" Marah Bella.
"dan loe kak Rain, loe kan baru datang. Emang loe liat sendiri apa Nala yang mendorong Bunga? Loe liat sendiri hah?" Bella tak perlu sopan santun berbicara dengan Rain memakai gue'loe. Bella sangat marah karna masih bisa-bisanya Rain membela Bunga.
"Yak gak liat langsung sih. Tapi loe liat kan jelas-jelas Bunga jatuh tadi." Balas Rain.
Juan mulai mendekat, satu bogeman mendarat di pipi kiri Rain.
"Ban*sat loe yah. Bel, Na. Ayo pulang. Emang yah cowok yang plin-plan kayak loe, cocok sama perempuan munafik dan murah*n kayak dia" Tunjuknya ke arah Bunga.
Juan langsung menarik tangan Bella dan Nala pergi dari sana. Juan tidak mau ia berlama-lama disini, takutnya ia tidak bisa menahan emosi melihat Rain mempersalahkan Nala.
Rain yang melihat Nala pergi begitu saja ia bertambah marah, apalagi kemarahannya belum hilang lantaran di pukul Juan. Rain menendang apapun yang ada di depannya. Ia begitu malu, di tonjok oleh anak baru gede kayak Juan. Mau di taruh dimana wajahnya nanti.
"Akhhh. Sial. Awas aja loe"
"Kak Rain. Kamu gak apapa kan? Ayo ikut aku, biar wajah kaka Bunga obatin'' Bunga
Rain Mengangguk'" Iya kakak gak apapa kok. Lecet dikit doang" Mau tidak mau Rain mengiyakan ajakan Bunga
Rain dan Bunga menuju parkiran disana Ia melihat mobil Nala menjauh. Rain terdiam sejenak. Ia menatap tajam mobil Nala hingga menghilang dari sana.
"Kak, ayok''
" Ia"
Rain dan Bunga pun pulang, kali ini bukan ke apartemen Bunga melainkan ke rumah besar keluarga Rain.
Sesampainya di sana, mereka disambut oleh wajah masam Mama Rain dan adiknya.
"Rain, kamu kenapa? Berantem kayak anak kecil aja kamu. Sama siapa lagi ini kamu" Cecar Mamanya.
Sedangkan Adiknya menatap Bunga dari ujung kepala hingga kaki dengan wajah datar.
"Ceritanya panjang Ma. Nanti aku ceritain. Yunita, ambil kotak obat sini." Jawab Rain, sambil memerintahkan adiknya.
Tak lama Adiknya datang, saat ia ingin membersihkan wajah Rain, Bunga langsung berinisiatif buat melakukannya.
"Biar kakak aja dek. Lagian kak Rain kayak gini juga karna belain kakak" Bunga. Mau tidak mau Nita menurut.
__ADS_1
"Jadi, Kamu kenapa Rain?" Mama Rain
"Sebelum Rain cerita, kenalin Ma, ini Bunga Temannya Nala. Skarang juga jadi temannya Rain." Rain menjeda kata-katanya" Jadi, Nala lagi salah paham ma sama Bunga, tadi waktu Rain nyampe kampus mau jemput Nala, Rain liat Bunga berlutut meminta maaf sama Nala, tapi Nala gak maafin Bunga Ma, malahan Nala mendorong Bunga hingga jatuh di lantai. Karna Rain kasihan liat Bunga kayak gitu, Rian cuma bilang sama Nala, kalo gak mau maafin gak usah pake dorong, eh malu Rain do pukul sama teman Nala anak ingusan itu"
"Gak mungkin kak Nala kayak gitu. Aku kenal kak Nala orangnya kyak gimana. dan Nita senang karna kak Rain di pukul sama temannya kak Nala. Emang kak Rain pikir kak Nala gak sakit hati apa belain cewek lain daripada pacar kak Rain sendiri." Nita mulai bersuara. Ia juga ikut sakit hati mendengar cerita Rain.
"Mama juga setuju sama kamu Nit. Nala gak mungkin kasar kayak gitu. Lagian kesalahan apa sih yang teman Nala ini lakuin hingga bersujud meminta maaf kayak gitu?"
Skakmat. Rain dan Bunga sama-sama memandang dan menelan ludahnya Masing-masing. Mereka sedang berfikir alasan apa yang mau mereka berikan. dan emang kalo pada dasarnya orang licik, cepat banget dapat idenya🤣
"Itu tan. Nala salah paham sama Bunga karena Bunga waktu itu sakit, dan kak Rain antarin Bunga ke dokter, padahal, karena pas Bunga pingsan ada kak Rain doang di situ tante" Bunga mulai mengarang.
Mama Rain dan adiknya menatap Bunga dan Rain secara bergantian, mereka ingin menyelidik, ada kebohongan dari cerita Bunga dan gelagat mereka berdua.
"Kalian gak lagi main kucing-kucingan dan kuda-kudaan di belakang Nala kan?"
Pertanyaan dari mama Rain seketika membuat mereka berdua gugup. Tapi mereka dengan pintarnya menutupi itu dengan baik.
"Ya gak lha Ma. Mana mungkin Rain menduakan Nala. Mama tau sendiri, Rain cinta banget sama Nala" Pernyataan Rain barusan membuat Bunga menahan geram dan sakit hatinya.
"Bagus kalo gitu. Oh ia. Kamu, Bunga. Ingat yah. Rain itu uda punya tunangan. Jangan dekat-dekat lagi sama Rain, apalagi minta tolong sama Rain buat urusan ini dan itu, walaupun kamu teman Nala, itu gak baik buat hubungan mereka berdua. Kalo mau tolong sama orang, cari yang masih jomblo aja, biar gak ada marah"
"Ia tante. Maafin Bunga yah. Bunga merasa bersalah banget sama Nala"
"Yaudah. Minta maaf yang benar sama Nala. Kalo nanti Nala gak mau maafin kalian berdua, itu urusan Nala. Mama gak mau ikut campur. Titik" Mama Rian berlalu meninggalkan ruang tamu.
Lain hal dengan mamanya Rain yang percaya begitu saja dengan penjelasan Rain dan Bunga, tetapi tidak dengan Nita. Gadis itu dari tadi diam sambil meninjau gelagat manusia dua itu🤣
Dari pantauan Nita Semua tuduhan mamanya tadi sepertinya benar. Karena setiap pertanyaan dan pernyataan yang di lontarkan mamanya, Rain dan Bunga sama-sama gugup dan saling memandang.
"Kalian berdua mungkin boleh menipu mama, tapi tidak dengan Nita. Kalian Selingkuh kan?" Nita langsung to the point
"Ngomong apa sih kamu Nit. Anak kecil gak usah ikut campur" Marah Rain.
"Ckk. Liat aja, kalau Nita cari tau dan ternyataa benar, Nita orang pertama yang menerima dengan tangan terbuka pembatalan pertunangan kak Rain sama kak Nala. dan Nita juga akan mencari laki-laki baik dan tampan dari kak Rain buat Kak Nala." Ucap Nita sambil berlalu, tapi ia berhenti lagi.
"Kamu... "
Ucapan Rain terhenti. Karena Nita tiba-tiba berbalik.
"Oh ia. Kamu. Apa gak ada laki-laki lain apa, hingga kamu dengan murahnya merebut tunangan sahabat kamu sendiri. Kamu harusnya sadar diri. Liat diri kamu, terus ngaca. Kamu sama kak Nala berbeda skali. Kalo kak Nala ibaratkan Ratu kamu pelayannya"
"Jangan kurang ajar kamu Nit" Bentak Rain.
"Bela aja terus selingkuhan murahanmu itu"
Habis mengatakan semua yang ada di kepalanya, Nita benar-benar berlalu dari situ. Ia muak melihat kakaknya dan selingkuhan kakaknya yang sok berwajah polos tanpa dosa itu.
"Maafin Nita yah Bunga. Jangan kamu masukin ke hati ucapan ade aku itu" Kata Rain.
"Maafin Bunga yah Kak. Bunga ngaku salah. Bunga dan kak Rain udah selingkuh di Blakang Nala. Bunga mau berubah kok kak. Tapi kak Rain jangan tinggalin Bunga yah." Bunga mulai menangis, yah hanya tangisan senjatanya untuk meluluhkan hati Rain.
Rain mendekat dan menghapus air mata Bunga."Kak Rain gak akan ninggalin kamu kok. Kakak uda janji bakalan jagain kamu"
Ternyata, Diam-diam mamanya Rain mendengar semua percakapan mereka. Tadi bukannya ia percaya begitu saja. Tapi ia pura-pura percaya. Ia akan mencari tahu sendiri. Tapi kebenaran dengan sendirinya datang. Ia sudah menduga, Nala orangnya sangat baik, tidak mungkin kalo hanya salah paham doang Nala gak mau maafin Bunga. dan ternyata benar, kesalahan yang Rain dan Bunga lakukan fatal.
Bersambung
__ADS_1