Menyesal Pernah MencintaiMu

Menyesal Pernah MencintaiMu
91


__ADS_3

Maaf kalo masih ada typo.


-Selamat Membaca-


.....


Axel dan Rio cepat-cepat membopong ayah Ivan ke mobil. Axel, Nala, Rio dan bu Nola masuk ke mobilnya Axel. Dan membawa ayah Ivan ke rumah sakit. Sedangkan yang lain menyusul mobilnya Axel dengan mobil mereka masing-masing.


Dalam perjalanan, Nala dan bu Nola tidak berhenti untuk menangis. Axel yang melihat keadaan ayah Ivan dan keadaan Nala yang dari tadi tidak berhenti umtuk menangis, merasa nyeri di hatinya. Ia tidak mampu melihat Nalanya seperti itu.


Axel berdoa dalam hati sepanjang jalan itu, semoga ayah Ivan baik-baik saja, karna jika ayah Ivan kenapa-kenapa, maka seumur hidup ia akan menyalahkan dirinya sendiri karna membuka pengkhianatan Rain saat kondisi kesehatan ayah Ivan masih dalam pantauan dokter.


Sedangkan di mobil satunya lagi, Rain sempat meneteskan air matanya, bukan karna keadaan ayah Ivan, melainkan karna perkataan ayah Ivan yang mengakhiri hubungannya dengan tunangannya Nala.


“gak. Gue gak mau pisah sama Nala. Kapan pun itu. gue egois? Ya tentu saja. Karna Nala gue egois. Gue emang selingkuh, tapi gue kan hanya cintanya sama Nala. Jangan memisahkan gue sama Nala gue mohon. Gue emang mencari pelampiasan sama yang lain, tapi kan Nala tetap nomor satu bagi gue” Rain berbicara sendiri pada dirinya.


Sepanjang jalan Rain memaki, mengutuk, memukul setir kemudinya. Ia tidak menerima semua yang terjadi atas hubungannya dengan Nala.


“gue bisa gila kalo sampe Nala pergi dari gue dan bahagia bersama orang lain. Gue akan benar-benar gila. Gue gak sanggup kalo suatu saat senyumnya, tawanya, marahnya gak gue lihat dan dengar lagi, gue gak sanggup kalo semua yang ada pada Nala dia berikan kepada yang lain. GUE GAK SANGGUP” teriak Rain di dalam mobilnya itu.

__ADS_1


Tidak jauh berbeda dengan penyesalan Rain, di mobil satunya, papanya Bunga sedang menceramahinya. Beliau tidak menyangka anak semata wayangnya tega melakukan ini dan mempermalukan keluarga mereka.


Papanya Bunga sangat menyesal karna selama ini tidak tahu-menahu tentang perkembangan anaknya di luar, ia juga menyesal karena terlalu sibuk dengan urusan pekerjaannya sehingga mengabaikan pergaulan anaknya di luar sana. Tak terasa setetes air bening jatuh dari bola mata milik pria paruh bayah itu. ia menangis karna gagal mendidik anak perempuannya ini.


Papanya Bunga memberhentikan mobilnya sejenak, ia masih memikirkan akankah ia melanjutkan perjalanan ini menyusul mobil-mobil yang lain ke rumah sakit, ataukah mereka pulang saja ke kediaman mereka. Karena jujur saja papanya Bunga sangat malu menunjukan wajahnya di depan semua orang yang ada di sana.


“pa, kok berhenti? Jalan lagi dong” ucap Mamanya Bunga.


“ma, kita pulang saja yah, kita tidak usah ke rumah sakit. Papa malu” ucap papanya Bunga.


“jangan gitu pa, kita harus tetap ke sana. Terserah mereka nanti mau ngapain kita, yang penting kita harus tetap jengukin mas Ivan. Kita ini bukan satu dua atau tiga tahun kenalan pa, kita udah bersahabat dari kecil, puluhan tahun kita bersahabat, jangan gara-gara kecerobohan, kebodohan dan keegoisan anak kita menghancurkan apa yang sudah kita bangun selama ini pa” ucap mamanya Bunga tegas.


Mamanya Axel kali ini serba salah. Mau bahagia juga ia, mau sedih juga ia. Bahagia karna hubungan Rain dan Nala sudah berakhir dan itu berarti besar kemungkinan Nala akan menjadi menantunya. Di sisi lain, ia sedih karena kondisi pak Ivan sekarang drop dan mereka belum tau bagaimana kondisi kesehatannya sekarang.


“pa, mama senang deh, Rain udah gak ada hubungan apa-apa lagi sama Nala, tapi mama juga sedih karena semua ini terbongkar, pak Ivan jadi kambuh lagi sakitnya pa” ucap mamanya axel.


“ia ma. Papa juga seperti mama. Senang juga sedih. Beberapa hari ini papa ingin mencari tau kesalahan-kesalahan Rain agar menjadi senjata buat mengakhiri hubungan Rain sama mama seperti yang mama minta. Tapi papa berpikir kembali bahwa itu tidaklah bagus. Eh ternyata dan tak papa sangka anak kita sudah bergerak duluan ma. Papa bangga skali sama Axel. Bibit papa memang top banget” ucap papanya Axel bangga.


“anak kita itu pa, itu hasil didikan mama yah”

__ADS_1


“hasil didkan papa juga mama. Kita berdua, hasil didikan kita berdua ma” ucap papanya Axel.


Di waktu yang sama tetapi di mobil yang berbeda, adik dan mamanya Rain sedang menangis. Mereka menyesali dan menyayangkan perbuatan yang Rain lakukan.


“sudah. Kalian jangan menangis lagi, ini sudah keputusan yang terbaik. Nala memang anak yang baik, dan tidak pantas bersanding dengan anak kita yang kelakuannya seperti itu. papa tidak tau, didikan papa yang mana yang salah ma, sehingga kelakuan Rain bisa sebejat ini. Padahal papa dan mama sudah mendidiknya semampu kita ma. Berarti selama ini didikan kita tak berarti apa-apa buat Rain ma. Sangat di sayangkan, ini seperti kita membuang garam ke dalam laut. Tak berarti apa-apa” ucap papanya Rain.


“ia pa. Mama juga tidak tau Rain sampai seperti ini kelakuannya. Mama kira selama ini Rain menghormati pasangannya seperti menghormati mama padahal demi kenikmatan duniawi ia rela mengkhianati Nala.” Balas mamanya Rain.


“ma, kak Nala gak jadi kakak iparnya Uni lagi dong. Padahal dulu Uni udah berhayal kalo nanti kak Rain nikah sama kak Nala, Uni akan bawa kak Nala ke teman-teman dan pamer kalo kakak ipar Uni sangat cantik. Uni juga udah berhayal buat gendong anak-anaknya kak Rain dan kak Nala. Pasti ganteng dan cantik karna kak Rain ganteng, kak Nala juga kecantikannya tidak perlu di ragukan lagi. Sekarang semuanya pupus begitu saja.”


“selama ini aku sudah tau kalo kak Rain sama kak Bunga itu memiliki hubungan, tapi Uni tidak menyangka kak Rain bisa berbuat sejauh ini sama wanita tidak tau diri itu. harusnya dulu, Uni mematai-matai kak Rain agar bisa mengantisipasi semua yang bakalan terjadi, tapi semuanya sudah terlambat sekarang” sambung Uni lagi.


“ia sayang. Mama waktu itu juga dengar Rain dan Bunga berbicara, saat Rain membawa Bunga ke rumah kita.” Ucap mamanya Rain.


“kenapa mama sama Uni tidak bilang sama papa. Papa pasti tegas ke Rain”


“sama aja pa, mereka udah terlanjur selingkuh pa. Dan mama sangat sayang pada Nala, mama tidak mau kalo Nala di khianati sama Rain apalagi dengan sahabatnya sendiri. Walaupun Rain anak kita, tapi mama tidak mau Nala sama Rain lagi pa. Mama tidak mau Rain nanti mengulangi apa yang ia lakukan skarang saat ia dan Nala sudah resmi menikah nanti pa”


Papanya Rain mencerna perkataan itu. dan memang benar, mereka tidak bisa memastikan kalo suatu saat nanti Rain bakalan mengkhianati Nala lagi.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2