
Maaf yah kalo masih ada typo.
Selamat Membaca!!!
...
"Kak Axel cukup" teriak Nala.
Kedua orang itu seketika berhenti. Mereka berbalik dan menatap Nala dengan tatapan yang sulit di artikan.
Axel dan Leon sama-sama mendekat ke Nala. Leon hendak memegang tangan Nala tapi di tepis oleh Axel. Axel menatap Leon dengan tatapan tajam.
Axel duduk berhadapan dengan Nala diatas tempat tidur. Ia memandang sayu wajah Nala yang berantakan tetapi tidak mengurangi kadar kecantikan Nala.
Axel memegang tangan Nala, mengecupnya dengan sayang. Axel beralih mencium puncak kepala Nala mendiamkannya Beberapa saat, Nala diam saja ia terpaku dengan apa yang Axel lakukan padanya.
Leon yang melihat Tindakan Axel ke Nala Merasa ada yang tidak beres dengan hatinya. Diam-diam ia berjalan ke luar. Sebelum sampai keluar kamar ia menghentikan langkahnya.
"Urusan kita belum selesai Leon. Loe harus berikan penjelasan ke gue tentang semua ini" Ucap Axel.
"Loe tenang aja Ax, sehabis loe antar Nala pulang, temui gue di Club xx. Jaga baik-baik Nala. Gue Cabut" balas Leon dan ia melangkah keluar dari kamar itu.
Sesampainya di luar, Leon di kagetkan dengan tumbangnya para preman yang membawa Nala kemari. Ia tersenyum masam. Betapa bodohnya dia tidak menyadari bahwa gadis itu Nala, padahal tidak terlalu besar perubahan di wajah Nala. Dari kecil hingga besar, ia tetap Nala yang penuh dengan sejuta pesona.
"Kamu udah besar ternyata. Tambah cantik. Tapi ada masalah apa kamu sama Bunga, hingga Bunga sangat membencimu seperti ini" gumam Leon yang sudah keluar dari rumah mewah itu.
"Gue akan nanya ini langsung sama Axel nanti" sambung Leon lagi.
Masih di dalam kamar, Axel melepaskan jasnya dan memberikannya kepada Nala. Nala heran padahal ia sudah memakai jas milik Leon.
"Lepaskan jasnya, dan pakai jas punya saya" kata Axel.
"Tapi kak. Kenapa? Sama aja kan?" Kata Nala
"Gak sama. Udah lepasin aja, saya tidak mau, bau orang lain hinggap di badan kamu" balas Axel.
Nala heran sama kelakuan Axel, tapi ia menurutinya juga. Saat Nala hendak melepaskan jas, Nala melihat ke Axel yang masih menatapnya. Bagaimana ia mau berganti, Dia kan gak Pake baju.
__ADS_1
"Ngapain kamu hanya diam, ayo Ganti jasnya" ucap Axel.
"Tapi kakak berbalik dulu"
"Ngapain saya harus berbalik"
"Yah, karena Nala malu kak."ucap Nala menunduk.
"Ngapain malu, mau saya pakein jasnya, bilang dong"
Axel hendak membuka jas milik Leon, tetapi Nala memegangnya dengan erat.
"Kenapa? Saya bantu kamu, kamu diam saja" kata Axel tanpa sadar.
"Maaf kak. Itu kak. Nala gak Pake baju kak. Nala malu sama kakak"
Seketika Axel melepaskan tangannya. Ia berbalik, dan merutuki kebodohannya.
"Oh ya ampun. Maaf. Silahkan kalo gitu. Saya gak akan mengintip." Jawab Axel kikuk.
"Hais Ax, sebagai seorang CEO loe bodoh banget sih kalo uda berhadapan dengan yang namanya cinta." Gumam Axel pelan sambil menggaruk kepalanya.
"Udah kak. Kakak ngomong apa barusan" tanya Nala.
Axel berbalik"oh gak ngomong apa-apa kok"jawab Axel."yaudah ayo saya antar pulang"sambungnya.
Nala tersenyum, ia mengangguk. Saat Nala hendak turun, dengan cepat Axel menggendongnya. Nala kaget.
"Kakak ngapain, ayo turunin Nala. Nala bisa jalan sendiri. Malu kak"
"Gak. Kamu diam saja. Ngapain malu. Kalo malu tutup aja mata kamu. Lagian gak ada yang lihat juga" balas Axel cuek.
Nala diam saja. Ia menutup matanya dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Axel. Ia dapat mendengar detakan jantung Axel yang berpacu lebih cepat, ternyata bukan jantungnya saja yang berdetak lebih cepat dari biasanya, tapi Axel juga. Nala dapat mencium bau parfum Axel yang menenangkan. Tanpa sadar, Nala melamun, andai saja Rain bisa seperti Axel. Apa salah kalo Nala secepat ini menaruh perasaan ke Axel, sedangkan Cinta sepenuhnya masih bertakhta kan Rain walaupun Rain sudah berkali-kali mengkhianatinya. Tanpa sadar, Nala menitikkan air matanya. Menyadari kalo bajunya basah, Axel melihat ke arah Nala. Ia tidak tau apa yang ada dalam pikiran gadis ini. Namun, Axel paling benci melihat gadis ini menangis. Walaupun air mata kebahagiaan sekalipun. Axel tidak akan kuat melihat butir bening itu keluar dari mata indahnya.
Axel membawa Nala ke Mobil, membuka pintu mobil, mendudukkan Nala dengan hati-hati. Axel beralih ke pintu sebelahnya dan memasuki mobil. Axel tidak langsung melajukan mobilnya. Axel memandang Nala dengan sayang, tangannya memegang kedua pipi Nala yang penuh dengan air mata.
"Jangan menangis. Saya tidak suka melihatnya" kata Axel sambil menghapus air mata Nala di pipinya.
__ADS_1
Nala melihat ke arah Axel.
"Terimakasih kak Axel. Terimakasih" Axel menarik Nala dan memeluknya erat.
"Kamu tidak usah mengucapkan terimakasih. Selama ada saya, kamu akan selalu aman" Axel melepaskan pelukannya"sekarang, saya antar kamu pulang"
Nala mengangguk. Axel dan Nala pun menjauh dari tempat itu.
...
Setelah kepergian Axel dan Nala. Dari balik pagar, Bunga mengepalkan tangannya kuat, menatap kepergian mobil itu dengan senyuman yang menakutkan.
"Terkutuk lah loe Nala." Ucap Bunga sambil berlalu pergi dari tempat itu.
Dalam perjalanan menuju apartemennya, Bunga masih memikirkan cara bagaimana membuat Nala di benci semua orang, entah itu Rain maupun Axel, bahkan semua orang yang menyayangi Nala.
"Sial. Kenapa kak Leon bisa kenal Nala. Nala kenapa semua orang sangat menyayangi loe. Gue gak suka itu. Kenapa dari kecil cuma loe. Loe bahkan berhasil merebut perhatian mama Nala. Gue benci sama Loe. Sangat benci."
"Kali ini loe beruntung Nala. Tapi tidak dengan rencana berikutnya. Hahahaha" Ucap Bunga sambil tertawa bagaikan orang gila.
"Setelah gue pikir-pikir, Kali ini Gue langsung aja pertemukan loe sama Tuhan Nala. Loe kan orang baik, jadi tempat loe di sisi Tuhan" Ucap Bunga dengan seringai iblisnya.
Bunga mengambil handphonenya. mendial nomor orang suruhannya.
"Gue mau loe bunuh seseorang. Masalah bayaran loe tenang aja. Jangan sampai gagal, ataupun ketahuan, kalau sampai gagal dan ketahuan, nyawA loe dan keluarga loe taruhannya" tanpa menunggu lama Bunga mematikan sambungan teleponnya.
...
Di kantor, Rain belum menyadari kalo beberapa jam yang lalu Nala sempat di culik. Rain frustasi karena Nala memutuskan pertunangan mereka secara sepihak. Rain marah. Sangat marah. Belum lagi, sehabis memutuskan pertunangan mereka, Nala langsung menggandeng pria lain di depan wajahnya. Bagaimana Nala bisa melakukan itu semua. Rain pikir dia memang salah. Tapi walaupun Rain berselingkuh, namun Satu-satunya orang yang ada dalam hatinya cuman Nala. Ia masih tidak habis pikir, Nala menggandeng orang lain secepat itu.
"Arggghhh. Gak, kakak gak akan biarin kamu ninggalin kak Rain Nala. Dalam mimpimu pun tidak akan."
Rain sudah punya rencana agar Nala tetap di sisinya. Dan akan bikin semua orang tau kalau Nala adalah miliknya.
Rain memutuskan pulang lebih dulu. Ia akan melancarkan rencananya.
Bersambung
__ADS_1