Menyesal Pernah MencintaiMu

Menyesal Pernah MencintaiMu
63


__ADS_3

.... SELAMAT MEMBACA....


.


.


Nala hari ini langsung kembali ke Jakarta. Ia pamit sama ayah dan ibunya bahwa hanya dapat ijin sehari. Nala juga harus meluruskan permasalahannya dengan Rain.


Sesampainya di Jakarta, ia langsung menemui Rain ke kantornya. Nala yakin saat ini Rain berada di kantornya tengah bersenang-senang menikmati hasil perbuatannya yang Sampai saat ini masih trending.


Tanpa memikirkan tata Krama Nala memasuki ruangan kebesaran Rain. Saat sudah di dalam, benar yang ada di pikiran Nala bahwa Rain pasti sedang senang, buktinya wajahnya yang Brengsek itu tenga senyum-senyum sendiri seperti orang gila.


"Dasar Sinting"batin Nala


"Selamat datang kembali Nala, sayangku" ucap Rain senang. Rain seperti sudah menduga kalo Nala akan datang menemuinya.


Nala tidak menjawab. Ia menatap Rain dengan marah. Rain terus saja menyunggingkan senyumannya. Ia berjanji akan kembali meluluhkan hati Nala.


"Kak. Apa yang sudah kamu lakukan hah? Hubungan kita sudah berakhir. Nala harap kak Rain ngertiin Nala. Mending kak Rain kembali sama Bunga, karena emang seharusnya begitu kan dari dulu?" Akhirnya Nala memulai pembicaraan juga.


"Gak. Gak akan berakhir. Kamu saja yang memutuskan sepihak hubungan kita. Aku tidak pernah berkata mengakhiri hubungan kita ini" balas Rain.


''dasar Kep*Rat kamu kak. Kamu udah nyakitin Aku, kamu selingkuh dengan sahabat aku di belakang aku kak. Tapi kamu juga yang tidak mau melepaskan aku. Kenapa kak Rain lakuin semua ini sama aku kak. Kenapa?" Nala menangis sejadi-jadinya di tengah kemarahannya.

__ADS_1


''kak Rain minta maaf Nala. Kak Rain tidak ingin hubungan kita berakhir. Kak Rain sayang sama Kamu. Kak Rain bisa gila tanpa kamu Nala."


"Seenak itu minta maaf kak. Intinya Nala tekankan hubungan kita berakhir. Kak Rain dan Bunga, Nala akan ingat perbuatan kalian. Perbuatan kalian tak akan pernah Nala maafkan. Ingat itu" sehabis mengatakan itu, Nala beranjak untuk keluar dari ruangan itu.


"Sampai kapanpun kamu tidak akan bisa lepas dari kak Rain Nala, kamu juga harus ingat itu" teriak Rain yang masih di dengar Nala namun langkah Nala tidak berhenti. Ia mengumpat sepanjang jalan.


Ia masih merasa dirinya selama ini begitu bodoh hingga terlena dengan tampang polosnya Rain selama ini.


Nala sudah berada di loby. Ia memesan Taxi sambil melihat lagi pesan-pesan yang masuk ke handphonenya. Ia berencana sampai di rumah dulu baru membalas semua pesan-pesan itu.


Tak kemudian, Taxi yang Nala pesan akhirnya datang juga. Nala memasuki Taxi itu dan berlalu dari Perusahaan Rain.


Nala tidak tahu bahwa semenjak tadi sepasang mata tengah mengintainya hingga mobilnya tak terlihat lagi. Lelaki tampan itu keluar dari mobilnya dan memasuki gedung bertingkat itu. Tujuannya hanya satu menemui lelaki brengsek pemilik perusahaan yang sementara ia pijaki ini yaitu Rain.


Di dalam ruangan itu, mereka bersitegang. Tanpa berbasa-basi. Dua pukulan bertubi-tubi mendarat di wajah sang CEO. Rain yang mendapat pukulan di wajahnya menjadi murka, ia membalas memukul lelaki itu, hanya saja sang lawan dapat menghindar dengan cepat.


"Brengsek. Sudah ku bilang jauhin Nala, loe seakan-akan nantangin gue ya Rain" ucap lelaki itu yang adalah Axel.


"Siapa loe nyuruh-nyuruh gue jauhin dia hah? Dia tunangan gue kalo Loe lupa" marah Rain


"Ck.. cih Tunangan? Dasar gila. Mantan tunangan maksud loe" balas Axel tak kalah sinis.


"Dengar ya, Nala masih tetap tunangan gue. Dia saja yang memutuskan pertunangan kita secara sepihak, dari keluarga kita berdua masih oke-oke aja tuh. Kenapa loe yang sewot?" Sindir Rain.

__ADS_1


"Tak lama lagi semua kelakuan loe bakalan Nala bongkar di depan keluarganya maupun keluarga loe. Kalopun bukan Nala yang bongkar, gue yang akan lakuinnya. Camkan itu" emosi Axel sudah di ubun-ubun. Rasanya Axel ingin sekali meninju wajah Rain hingga terkapar di Ranjang Rumah Sakit.


"Hahahaha. Ngebongkar? Dalam mimpimu Bro. Itu tidak akan terjadi. Loe tau kenapa?" Rain menjeda kata-katanya, membuat Axel penasaran "Karna Ayahnya Nala sekarang sedang sakit jantungnya, mana mungkin Nala tega kasih tau mereka, yang ada malah penyakit Ayah Nala tambah parah." Lanjut Rain


Deg


Kalimat terakhir yang Rain ucapkan menghantam betul-betul Axel. Ia berdiri kaku, kondisi seperti apa lagi ini pikirnya. Kenapa semuanya bertambah rumit sekarang.


"Kenapa diam saja hah. Ngomong dong loe, asal loe tau Nala akan tetap jadi milik Gue" pancing Rain. Rain terus mengoceh hingga membuat telinga Axel panas. Detik berikutnya, Rain sudah terkapar di lantai dengan hidung yang berdarah akibat pukulan bertubi-tubi yang Axel layangkan.


"Anj*ng loe" maki Rain


"Itu hukuman buat Loe yang udah khianatin Nala. dan Loe harus ingat, seandainya Nala nantinya berhasil loe bikin dia balik sama loe, mungkin raganya saja yang dapat loe milikin, tidak dengan hatinya." Setelah mengatakan itu, Axel pun berlalu dari ruangan Rain. Tak lupa ia melemparkan beberapa lembar uang merah ke wajah Rain sambil berpesan ini bayaran untuk wajahnya yang sudah ia buat babak belur.


Betapa marahnya Rain saat di permalukan oleh Axel. Rain menyesal, kenapa dulu ia tidak tekun berlatih beladiri seperti Axel, Rio dan teman mereka yang satu lagi yang sudah lama tak berjumpa yaitu Leon. Mereka memang sama-sama berlatih beladiri dan menguasai cara melindungi diri dari musuh, hanya saja Rain tak selihai teman-temannya yang lain. Jadi jika beradu jotos dengan Axel, Rain pasti kalah telak.


Rain memandang benci ke arah uang berwarna merah yang Axel lemparkan tadi. Ia masih terngiang-ngiang suara Axel yang mengatakan tidak akan lagi miliki hatinya Nala.


Rain geram, tidak. Perkataan Axel hanya omong kosong belaka. Rain yakin, dia akan berhasil merebut hati Nala kembali. Ia berpikir dulu Nala sangat mencintainya, jadi akan lebih mudah membuatnya memaafkan dan memberikan hatinya kembali pada Rain. Itu yang ada dalam pikiran Rain, dan itu satu-satunya tujuan yang akan ia lakukan. Tujuan merebut kembali hati Nala.


Sementara sibuk dengan pikirannya, tanpa menghiraukan rasa sakit pada wajahnya, tiba-tiba ponsel yang ada di atas meja kerjanya berbunyi. Awalnya Rain tidak menggubris panggilan yang masuk ke handphonenya, namun lagi-lagi handphonenya berbunyi, Rain sangat marah, bunyi di ponselnya itu mengganggu fokusnya memikirkan Nala. Rain mendekati meja kerjanya melihat siapa yang tengah menelponnya. Nama Bunga tertera pada layar Handphonenya. Pikirannya yang sekarang sedang kalut memikirkan Nala, sekarang malah Bunga yang menghubunginya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2