Menyesal Pernah MencintaiMu

Menyesal Pernah MencintaiMu
Tamparan II


__ADS_3

"Apa yang kamu lakukan Bella?"marah Rain. Nala yang melihat Rain membela Bunga, sontak menampar lagi pipi Bunga.


Plakk


Plakk


Bunga langsung jatuh ke lantai. Bibirnya berdarah. Rain kaget. Selama ini ia belum pernah melihat Nala melakukan kekerasan pada orang lain, saat Rain ingin membuka mulutnya, Nala menatap Tajam Rain.


Plakk


Tamparan keras melayang juga di pipi Rain. Rain kaget.


"Kenapa? Gak trima aku tampar? Kalo gitu jelasin ada apa ini." Nala menangis dan duduk di lantai. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Rain yang melihat Nala menangis. Hatinya ikut merintih. Ia memegang pundak Nala dan mengajaknya duduk. Rain lupa dengan keadaan Bunga yang dari tadi meringkuk pura-pura kesakitan.


Rain menghapus air mata Nala sambil Ia berpikir mencari alasan.


"Sayang. Dengarin aku yah. Ini salah paham. Tadi Bunga hendak jatuh, kak Rain refleks menarik tubuhnya, tapi karena tidak seimbang makanya kami jatuh ke sofa, saat itu kamu masuk dan melihat semuanya."


Nala diam saja. Dalam hati ia merasa sakit. Entah kenapa saat Rain berbohong padanya. Ada rasa perih di dadanya. Nala tidak bisa memungkiri bahwa ia masih sangat mencintai Rain. Di lubuk hati yang terdalam, Nama Rain masih terpatri indah di sana. Tapi dia tidak boleh lemah dengan perasaannya.


Sedangkan di samping mereka Bunga menatap Nala dengan penuh kebencian. Bunga berdiri dari tempatnya tadi dan mendekati Mereka.


"Na. Maafin gue yah. Semua ini tidak seperti yang loe pikirkan Na. Gue sama kak Rain gak ada hubungan apa-apa" Bunga mulai menunjukkan sisi lemahnya. Dan Nala menyambut permainan Bunga dengan senang hati.


"Duduk sini Bunga. Maafin gue yah. Uda salah paham sama loe dan kak Rain. Sakit yah."


"Sedikit perih. Ntar aja beli obat di apotik."


"Oh ia. Katanya loe mau ke Bandara, kok loe ada di kantor kak Rain sih?" Tanya Nala. Bunga gelagapan.


"Oh itu sayang. Tadi Bunga hubungi kak Rain, bilang kalo kamu Uda balik. Terus Bunga bilang, mau menjemput orang tuanya ke Bandara. Kak Rain nawarin ke bunga buat ngantarin, Bunga sempat MenoLak. Tapi kak Rain maksa, jadi deh dia sekarang di sini. Nunggu kak Rain biar kita sama-sama ke bandara." Jelas Rain. Raut wajah Bunga terlihat lega. Ia tersenyum sedikit memandang Rain. Rain pun begitu. Rain bohong sama Nala. Nala tersenyum.


"Kalian ini. Kalo dari awal Bunga gak nolak ajakin aku. Kita bertiga bisa sama-sama menjemput keluarga Bunga" kata Nala


Bella yang di samping diam saja ia merasa seperti penonton yang sedang menonton drama romantis plus dramatis.

__ADS_1


"Gini aja. Kita berempat ke Bandara yah. Sama-sama menjemput orang tua Bunga" Bunga dan Rain saling berpandangan. Rain pun mengangguk.


"Maafin Nala yah kak. Sakit yah."Nala mengusap pipi Rain mesra. Itu membuat darah Bunga mendidih.


"Gak kok. Kamu harus percaya sama kak Rain yah. Gak mungkin kak Rain khianatin kamu. Kamu tau kamu satu-satunya perempuan selain Mama dan Nita yang kak Rain cintai." Kata Rain lembut. Soal perasaannya memang benar. Rain sangat mencintai Nala.


Mungkin DuLu Nala akan sangat senang mendengar ungkapan itu. Namun sekarang walaupun hatinya masih berdebar kencang saat Rain mengucapkan itu, ia tidak senang. Hatinya sakit. Karena ungkapan cinta Rain hanya demi menutupi segala pengkhianatannya terhadap Nala.


Nala, Rain, Bunga dan Bella keluar dari ruangan Rain. Sesampainya di luar, Bunga dan Rain menatap tajam pada Rina sang Sekretaris. Rina menelan salivanya. Tanpa mereka sadari, Bella dan Nala melihat tingkah mereka.


"Mba Rina. Belum pulang yah. Uda jam pulang kantor kan?" Tanya Nala. Nala tau Sekretaris itu sedang panik, makanya ia membuka suara agar Mba Rina rileks sedikit.


"Ini sebentar lagi pulang kok Dek" Rina tersenyum tulus menanggapi Nala. Rina tau Nala sementara menyelamatkannya dari tatapan maut Rain dan Bunga.


"Kita duluan yah mba. Mau jemput orang tuanya teman saya Bunga." Nala tersenyum ke arah Mba Rina kemudian beralih tersenyum menatap Bunga dan Rain. Tatapan mereka sontak beralih ke mode senyuman.


"Cih."batin Nala melihat senyuman palsu itu.


Sesampainya di parkiran.


"Bunga. Bareng gue aja yha. Gue bawa mobil, biarkan Nala sama kak Rain dulu, mungkin mereka ingin berduaan, lepas kangen. Tau kan hampir seminggu lebih mereka gak ketemu? Pasti saling merindukan" Usul Bella sambil menyeringai. Dalam hati Bella, dia tertawa girang. Pasti Bunga sedang menahan cemburu. Hahaha


Terlihat raut wajah Bunga sedikit berbeda. Rain menatap Bunga, tapi dia diam saja.


"Oh ia. Yah gak apapa kok. Gue sama Bella aja." Jawab Bunga sok polos


"Gue akan bikin perhitungan Sama kalian berdua nanti, Nala dan Bella" gumam Bunga dalam hati sambil meraba wajahnya.


Mereka akhirnya memasuki mobil. Nala dan Rain, sedangkan Bunga bersama Bella.


Saat sedang dalam perjalanan menuju bandara, Bella iseng-iseng mengobrol dengan Bunga.


"Bunga. Kamu kok diam aja sih. Gue minta maaf yah, Uda berprasangka buruk sama loe dan kak Rain"


"Gue Uda maafin kok Bell. Loe tau gue kan gak bisa lama-lama marah" jawab Bunga.


"Cih. Sok polos" batin Bella.

__ADS_1


"Ia. Loe emang teman baik gue sama Nala" Bella menggenggam tangan Bunga. Bunga tersenyum.


"Maafin loe sama Nala? Gak akan" batin Bunga


"Cih. Jijik banget gue megang tangannya" batin Bella juga.


Bella dan Bunga masing-masing saling mencibir dalam hati.


Sedangkan di dalam mobil lainnya. Rain dan Nala juga memulai obrolan.


"Kak masih marah yah. Kok diemin aku dari tadi? Gak biasanya deh" ucap Nala.


Rain tidak menjawab. Ia memandang Wajah Nala dan beralih menatap lagi ke depan.


"Apa kak Rain lagi mikirin Bunga yah" batin Nala


"Kak Rain." Panggil Nala


"Iya. Kak Rain gak marah kok. Tapi lain kali jangan seperti itu lagi yah." Kata Rain akhirnya.


"Maaf kak. Nala gak janji. Nala tau kak Rain emang merasa bersalah pada Bunga karena Bunga yang ingin kak Rain jaga. Tapi kak, Nala kan tunangan kak Rain Nala berhak dong cemburu ke orang lain termasuk Bunga. Apalagi perhatian kak Rain ke Bunga sudah lebih. Kalo orang lain melihat, mereka bisa menebak kalo bukan Nala tunangannya kakak, tapi Bunga" ucap Nala


Deg


Rain terkejut mendengar ucapan Nala. Apa Nala sudah tau yah hubungan gue sama Bunga. Rain ingin berbicara tetapi keduluan Bunga.


"Jadi kak, kakak harus bisa memilah mana perhatian sebatas rasa hutang Budi dengan perhatian dalam artian sayang. Kalo Nala tau kalian ada apapa. Jangan salahkan Nala kalo Nala akan membuat perhitungan ke kalian berdua" Tutur Nala Lagi. Rain menelan Salivanya. Ia berpikir. Ia akan lebih waspada lagi lain kali. Agar tidak ketahuan seperti tadi.


"Iya. Kak Rain tau dan ingat kok" kata Rain


"Ia kak. Nala dulu sempat bilang. Kalo ketahuan. Nala akan ninggalin kak Rain. Nala memang cinta, CINta banget malah sama kak Rain"Nala tidak bisa menahan air matanya, ia merasa begitu lemah jika menyangkut cintanya sama Rain."tapi, sedalam apapun cinta Nala, jika ketahuan kak Rain mendua, Nala akan pergi. Membatalkan pertunangan kita." Sambungnya.


"Dan ini udah Nala lakukan kak. Tanpa kak Rain sadari, kita bukan lagi pasangan kekasih" Nala membatin.


Rain tersentak dengan penuturan Nala, ia tidak bisa membayangkan hidup tanpa Nala. Rain menepikan mobilnya sebentar. Dan menatap dalam Nala, menggenggam tangan Nala, menghapus air matanya. Dan mencium keningnya sekilas. Nala ingin menghindar tapi terlambat, sebuah ciuman di kening sudah Rain berikan.


Momen-momen seperti ini yang dulu Nala inginkan. Jika saja Nala belum mengetahui hubungan gelap kak Rain dan Bunga, pasti ia suda luluh karena perlakuan Rain kepadanya.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2