
Dalam keheningan malam,Adel terus memikirkan suaminya yang saat ini ada didalam penjara.Dirinya tak bisa memejamkan mata dan memutuskan untuk menelpon neneknya.Saat teleponnya tersambung,
"Hallo nek."
"Iya nak,apa kabar?"
"Kurang baik nek."Jawab Adel mulai terisak.
"Ada apa sayang?coba ceritakan pada nenek,jangan bikin nenek khawatir dong."Ucap neneknya yang kaget mendengar tangisan cucunya itu.
"Mas Bryan masuk penjara nek."Ucap Adel sesenggukan.
"Kok bisa nak?"
"Nenek besok kesini yah!nanti Adel jelaskan semuanya pada nenek.Saat ini,Adel nginap dirumah mertua.Jadi nenek gak perlu bingung buat nyari alamat rumah Adel dan mas Bryan.Kalau rumah ibu dan bapak disini kan nenek sudah tau jalannya."
"Ya udah,besok nenek dan Dimas akan kesitu.Nenek mohon,kamu jangan sedih yah.Kita doakan saja semoga ada jalan keluar dan suamimu bisa dibebaskan."Ucap nenek menenangkan Adel.
"Baiklah.Sampai ketemu besok yah nek.Bye."Telepon pun terputus.
Keesokan harinya dikantor polisi..
"Sayang,kamu tenang aja! aku akan segera membebaskanmu dari sini."Ucap Shinta saat membesuk Bryan didalam sel.
"Gimana caranya?gak perlu ngasih harapan deh."Ucap Bryan mengacak-acak rambutnya.
"Kita lihat saja nanti.Kalau aku bisa membebaskan kamu,pokoknya aku minta nikahi aku.Setuju gak?"bisik Shinta ketelinga Bryan.
"Jangan macem-macem deh.Belum tentu juga kamu bisa bebasin aku dari tempat ini."Ucap Bryan mendongakan wajahnya menatap langit-langit.
"Pegang kata-kataku ini sayang. Besok aku akan kesini lagi. Dan jangan lupa untuk berterima kasih padaku. "Ucap Shinta lalu beranjak pergi karena jam besuk sudah selesai.
Saat diparkiran,Shinta melihat pak Hadi dan istrinya turun dari mobil.Tanpa ragu,Shinta pun mendekati keduanya dengan tersenyum ramah.Yang kemudian terjadilah obrolan diantara mereka,
"Om,tante..Mau membesuk Bryan yah?Shinta baru aja selesai dari sana."Ucap Shinta menebarkan senyum seramah mungkin.
"Masih berani yah kamu menemui Bryan? kamu kan tau sendiri Bryan itu sudah punya istri.Kayak gak ada laki-laki lain saja.Jangan jadi pelakor yah."Ucap bu Astuti dengan nada kesal.
"Sudahlah bu,malu diliatin orang.Ayo kita masuk kedalam."Ajak suaminya menarik lengan istrinya dan melangkahkan kaki meninggalkan Shinta.
__ADS_1
"Om,tante,tunggu!" Ucap Shinta menghentikan langkah Pak Hadi dan istrinya tersebut.
"Ada perlu apa lagi?"tanya bu Astuti ketus.
Shinta mendekati mereka lagi dan mengatakan bahwa dirinya bisa membantu untuk membebaskan Bryan dari penjara.Kedua orangtua Bryan tak mau mempedulikan omongan Shinta,sehingga wanita itu mengucapkan sesuatu yang membuat mereka terperangah,
"Aku yang melaporkan Bryan kepolisi."Ucap Shinta tanpa ragu.
"Apa?"jawab keduanya serentak.
"Aku yang dipercayakan oleh keluarga anak itu untuk menjebloskan Bryan kepenjara.Dan bisa saja aku membebaskan Bryan namun ada syaratnya."
"Berapa yang kamu minta,sebutkan.Itu tak masalah bagi kami.Tapi kami mohon kalau memang bisa kamu membebaskan Bryan,uang berapapun tak masalah bagi kami."Ucap bu Astuti memohon.
Shinta mendekatkan dirinya pada kedua orang tua itu dan berbisik dengan lembut,
"Nikahkan aku dengan Bryan!" ucapnya lalu meletakan secarik kertas ditangan bu Astuti.
"Gila kamu,jangan harap yah.Bryan sudah mempunyai istri dan mereka hidup bahagia."Ucap bu Astuti mendorong Shinta dari hadapannya.
"Hah bahagia?kalau hidup bahagia,gak mungkin dong tiap malamnya Bryan memilih tidur bersamaku? "jawab Shinta memiringkan bibirnya.
Plaaaak.
Sebuah tamparan dilemparkan kepipi Shinta.Sehingga membuat wanita itu meringis kesakitan.
"Tamparan ini tak akan pernah kulupakan."Ucap Shinta dalam hati lalu pergi dari hadapan kedua orangtua Bryan.
_____
Saat itu Adel tak ikut mertuanya untuk membesuk Bryan,suaminya.Karena sedang menunggu kedatangan nenek dan sepupunya.Walau hatinya ingin bertemu dengan suaminya karena kerinduan yang ia rasakan,namun ia berpikir ada hari esok untuk menemui suaminya dan sudah merencanakan akan membawakan makanan kesukaan suaminya pada esok hari.Tak lama kemudian yang ditunggu pun tiba dengan selamat.Namun bukan cuma nenek dan dimas,tapi ada Ani dan Lala juga.
"Loh kok bisa barengan datangnya?"tanya Adel lalu memeluk semuanya satu persatu.
"Tadi ketemu didepan,sekalian aja masuk barengan."Ucap Lala.
Adel pun mengajak mereka masuk dan mengobrol diruang tengah.Tak lama Adel pun terlihat sedih,matanya mulai berkaca-kaca dan dia pun menceritakan semua kejadian yang menimpa suaminya.
"Yang sabar nak.Pasti semuanya ada jalan keluarnya kok."Ucap bu Ida menepuk-nepuk bahu cucunya itu.
__ADS_1
"Kata kamu,anak yang ditabrak suamimu gak punya keluarga.Hidup sebatang kara dijalanan,dan tak ada yang mengakui dan mau mengambil jenasahnya dirumah sakit.Lalu pemakamannya pun diurus sama kamu dan ibu mertuamu kan?terus,siapa yang menuntut suamimu yah?"tanya Ani serius.
"Gak tau juga.Kami masih mencari tau,tapi sejauh ini orang-orang yang ada disekitar tempat terjadinya kecelakaan itu membungkam mulutnya.Seakan-akan ada yang ditutup-tutupi.Padahal semuanya mengaku sudah menganggap anak itu sebagai keluarga,tapi saat kami menanyakan,siapa orang yang menuntut mas Bryan,mereka enggan untuk berbicara."Ucap Adel sedih.
"Kalau gitu besok kita ikut buat ngebantuin kamu yah.semoga ada titik terangnya."Ucap Lala menenangkan Adel.
Adel menyuruh nenek dan Dimas untuk istirahat dikamar.Dan melanjutkan obrolannya bersama kedua sahabatnya itu agar bisa menemukan jalan keluar atas permasalahan yang menimpa suaminya.
____
Saat sudah selesai membesuk anak mereka,Pak Hadi dan istrinya memutuskan untuk pulang.Didalam mobil,mereka masih terbayang dengan omongan Shinta tadi.
"Pak,mungkin benar kata Shinta,dia bisa mencabut tuntutannya dikantor polisi.Tapi,ibu takut kalau menerima tawarannya bisa membuat Adel terluka.Saat ini,ibu tak punya pilihan lain.Mana ada seorang ibu yang tega melihat anaknya mendekam dipenjara.Kasian Bryan kedinginan didalam sana."Ucap bu Astuti sedih.
"Jadi ibu nyerah gitu aja dan mau melihat kebahagiaan rumahtangga anak kita berantakan?kita cari jalan lain bu jangan putus asa dulu.Yakin pasti ada jalan keluarnya.Bapak juga gak tega melihat Bryan seperti itu."Ucap suaminya lalu menghentikan mobilnya.
"Maafin ibu."Ucap Istrinya lalu mengusap-usap dada suaminya yang terlihat sakit karena dipegangi terus oleh suaminya.
"Sudahlah bu.Jangan lagi terdengar yah mau menyerah dan menerima tawaran wanita gila itu."Ucap suaminya lalu menjalankan mobilnya kembali.
"Iya pak,ayo kita pulang dulu.Mungkin Bu ida udah nyampe dirumah."
Malam harinya,bu Astuti mondar mandir didalam kamar terlihat sangat gelisah.Saat itu suaminya lagi mengobobrol bersama Adel dan neneknya diruang tamu.Dia teringat akan secarik kertas yang disodorkan Shinta padanya yang didalamnya berrtulis nomor ponsel dan sebuah kalimat,
"Kalau tante berubah pikiran,silahkan hubungi kontak saya".
Bu Astuti terduduk lesu dilantai setelah membaca kertas itu.Dia ingin membebaskan anaknya dari penjara tapi hatinya tak rela kalau sampai harus mengorbankan pernikahan anaknya.Tak berpikir panjang,bu Astuti pun langsung menelpon Shinta dan setelah sambungannya diterima,
"Hallo,ini dengan siapa yah?"tanya Shinta lantang diseberang telepon.
"Ini nomor telepon tante.Besok kita bertemu untuk berbicara empat mata."Ucap bu Astuti tanpa basa basi
"Oh tante.Yah udah besok siang kita bertemu sambil makan siang direstoran.Nanti Shinta kirim alamatnya yah."
"Baiklah."Ucap bu Astuti singkat lalu memutuskan sambungan dan beranjak keruang tamu untuk bergabung bersama yang lainnya.
____
"Gak sopan amat sih,baru juga mau ngomong udah main tutup aja obrolannya.Lihat saja nanti,kalian akan bertekuk lutut dihadapanku.Rencanaku berjalan dengan mulus.Besok pasti bu Astuti akan menyetujui syarat yang kuberikan.Dengan begitu,diriku bisa menguasai semua harta Bryan saat sudah menikah dengannya nanti.Dan diriku bisa dengan mudah membuat wanita kampung itu menderita. "Gumam Shinta mengumbar senyum kemenangan.
__ADS_1