
Beberapa hari kemudian, dia tak semangat dalam bekerja. Hari ini, dia mendengar kabar bahwa neneknya harus segera dioperasi karena penyakit tumor yang diidap oleh neneknya sudah merambat. Kalau tidak segera mendapatkan tindakan, bisa membahayakan kondisi neneknya.
Namun dirinya belum mempunyai uang yang banyak, apalagi dirinya belum ada sebulan bekerja di tempat Fabian. Ingin meminta gaji lebih awal, hanya akan membuatnya malu. Saat tengah melamun, seperti biasa Fabian akan menelponnya untuk dibuatkan secangkir kopi istimewa.
Dengan langkah gontai, Adel menuju kepantri untuk membuatkan bosnya secangkir kopi hitam seperti biasanya. Saat masuk kedalam ruangan bosnya itu, dia meletakkan kopi hitam tersebut diatas meja kerja Fabian.
"Mengapa pagi-pagi begini, dirimu tidak bersemangat seperti itu? apakah sudah bosan bekerja disini? " ucap Fabian membuat Adel langsung menggelengkan kepalanya.
"Saya betah kok, pak kerja disini. Tolong jangan pecat diriku! karena, pekerjaan ini sangat kubutuhkan. " Ucap Adel memohon dengan sangat kepada bosnya tersebut.
"Kalau gitu belajar untuk tersenyum saat bekerja denganku. Kuperhatikan kamu sering melamun, apa ada masalah? " ucap Fabian sambil menyeruput kopi hitam dengan nikmat.
Adel pun menunjukan senyumnya semanis mungkin, agar Fabian tak memecat dirinya. Sehingga, tak berapa lama Fabian mengatakan sesuatu yang membuat Adel syok.
"Adel, maukah kamu menjadi istriku? " ucap Fabian tanpa ba bi bu. Tidak ada angin dan tidak ada hujan. Semuanya serba mendadak.
Mata Adel membelalak, hingga dia lupa untuk mengedipkan matanya.Dalam pikirannya, mengapa bosnya tersebut secara tiba-tiba mengatakan hal itu? dia berpikir bosnya itu hanya bercanda semata.
"Adel, apakah kamu tak mau menerima lamaran ku? " tanya Fabian lagi membuat Adel meneguk air liur nya yang tercekat ditenggorokan nya.
Adel semakin bingung dengan ucapan bosnya tersebut. Dia merasa kalau bosnya itu hanya menguji dirinya saja.
"Bapak jangan bercanda denganku." Ucap Adel kikuk.
"Apa aku kelihatan seperti orang yang sedang bercanda? aku selalu serius dengan kata-kata ku. Aku tau kamu butuh uang kan untuk biaya berobat nenekmu? aku akan membayar semua pengobatan nenekmu, tapi dengan syarat kita harus menikah. " Ucap Fabian menatap wajah Adel dalam-dalam.
__ADS_1
"Mengapa bapak memilih saya? kan bisa saja melamar gadis pujaan bapak sendiri. Lagipula saya tidak ada niat untuk menikah lagi. " Ucap Adel berterus terang.
Saat ini, Adel hanya fokus untuk bekerja dan tak ada pemikirannya untuk mencari pendamping hidup. Saat ini, dia masih trauma dengan rumah tangganya bersama Bryan dulu. Yang ada dalam benaknya, menikah itu harus murni dari dua hati yang saling mencintai.
Dia juga berharap, semisal kan Tuhan masih memberikannya jodoh, harus berpacaran dulu untuk mengetahui karakter masing-masing dan jangan menikah secara terburu-buru. Akibatnya bisa seperti kisahnya dulu yang cintanya bertepuk sebelah tangan.
"Kamu ingat kan waktu aku dan nenek berkunjung kerumahmu? sebenarnya nenekku ingin menjodohkan aku dengan salah satu cucu bu Ida dan itu adalah kamu. Tapi semenjak tau kalau kamu sudah menikah, kini beliau malah menjodohkan diriku dengan wanita yang tak kucintai. " Ucap Fabian menjelaskan semuanya kepada sekretaris nya itu.
"Sama aja denganku dong, mengapa bapak memilihku padahal kita tak saling mencintai. " Ucap Adel protes kepada bosnya tersebut.
" Karena aku tak suka pada wanita. "Ucap Fabian membuat Adel kebingungan.
" Maksud bapak gimana? jujur saya tak mengerti. "Ucap Adel karena tak paham dengan penuturan bosnya tersebut.
" Gak perlu banyak tanya, to the poin aja, apakah kamu mau menikah denganku secara kontrak? pokoknya berapapun yang kamu minta akan aku penuhin. Aku hanya ingin bebas dari tekanan nenek yang selalu menjodohkanku dengan wanita yang sama sekali tak kucintai. "Ucap Fabian tak sabar menunggu jawaban Adel.
" Del, aku hanya ingin mempekerjakan kamu sebagai seorang istri. Akan banyak keuntungan yang akan kau dapatkan jika menerima tawaran ku ini. Atau begini saja, kalau kamu bersedia aku akan menggaji kamu sepuluh kali lipat dari gaji kamu yang sekarang. Bagaimana, deal? "ucap Fabian memberi penawaran tinggi kepada Adel.
Seperti mendapat rejeki nomplok, kini uang yang berjumlah banyak sudah ada didepan mata Adel. Apalagi mengingat gajinya akan ditambahkan sepuluh kali lipat setiap bulannya membuatnya perang batin. Sungguh dia tergiur, dan dalam pikirannya jika dia jadi istri Fabian, pasti tak perlu bekerja banting tulang lagi.
Sebenarnya dia bukan type wanita yang mata duitan. Namun karena sangat membutuhkan biaya yang banyak untuk hidupnya dan juga untuk pengobatan neneknya lah sampai mudah tergiur dengan tawaran bosnya tersebut.
Lain halnya dengan Fabian, dia menatap kearah sekretaris nya itu yang saat ini sedang dilema. Dengan penuh kecemasan, dia sudah tak sabar menunggu keputusan Adel. Jika wanita itu menolak, pasti besok neneknya akan langsung menjodohkan dia dengan seorang wanita yang paling dibencinya.
"Kenapa harus saya? kan masih banyak wanita diluar sana yang lebih menarik. Sedangkan aku, hanyalah seorang janda. Lebih baik cari yang masih gadis. " Ucap Adel memberi saran.
__ADS_1
"Memang ada banyak wanita yang dekat denganku. Namun entah mengapa, aku malah tertarik padamu. Menurutku kamu wanita yang pas untuk dijadikan seorang istri olehku. " Ucap Fabian memberi alasan yang menurutnya masuk akal.
"Sekali lagi maafkan saya, pak.Kalaupun Tuhan masih memberikanku jodoh, saya mengharapkan pernikahan yang sesungguhnya bukan pernikahan kontrak seperti yang bapak tawarkan. Karena menurut saya, pernikahan itu sakral, tidak bisa dipermainkan dengan sembarangan. "Ucap Adel tetap menolak tawaran bosnya tersebut.
Memang saat ini Adel membutuhkan uang yang banyak, namun dirinya harus berpendirian untuk tidak mempermainkan yang namanya pernikahan. Karena itu bersifat sakral. Pikirnya, pasti akan ada cara lain untuk mendapatkan uang.
Ada rasa kesal dihati Fabian atas penolakan sekretarisnya itu. Dia lalu menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi kebesarannya. Lalu menghembuskan nafas secara kasar dan berkata,
"Ya sudahlah, kalau kamu menolak tawaran ku. Aku tak akan memaksa kamu lagi."Ucap Fabian dengan wajah cemberut karena rencananya gagal total.
"Kalau bapak mau, mungkin saya bisa bantu untuk carikan wanita yang mau untuk dijadikan sebagai istri kontrak? " Ucap Adel mencoba memberi solusi.
"Tidak perlu ikut campur dengan urusanku. Sekarang kamu boleh keluar dari tempat ini. " Ucap Fabian merasa frustasi.
Adel mengerti dengan posisi bosnya yang sedang kesal kepada dirinya. Karena telah diusir dari ruangan tersebut, Adel memilih untuk melangkah pergi. Takutnya nanti kalau berlama-lama di ruangan tersebut, akan mendapat siaran radio rusak.
Saat kembali duduk di ruangan pribadinya, Adel kembali teringat dengan penawaran bosnya yang menurutnya tidak masuk akal. Bagaimana mungkin dengan seenaknya mengajak untuk menikah kontrak? Adel juga berpikir, apa alasan bosnya tersebut memilih dirinya? padahal dengan wajah yang rupawan dan tajir melintir, Fabian bisa mendapatkan seorang wanita yang masih Perawan.
Terdengar helaan nafas berat berulang kali, sungguh pikiran Adel kini masih diliputi kebingungan dengan permintaan bosnya barusan.
Kling..
Terdengar notifikasi pesan masuk dari ponsel Adel membuat lamunannya buyar seketika. Dia pun meraih ponselnya tersebut lalu melihat isi chat yang ternyata dikirimkan oleh ibu kandungnya.
[Nak, kata dokter sekarang juga nenek harus ditindak lanjut. Bagaimana ini? kita kekurangan biaya. Kalau uangnya tidak terkumpul hari ini juga, takutnya nenek tak bisa bertahan lebih lama lagi. ] Ibu
__ADS_1
Membaca chat dari ibunya tersebut,membuat Adel lemas seketika. Airmatanya mengalir membasahi pipinya, karena membayangkan kondisi neneknya yang saat ini menahan rasa sakit. Apalagi sekarang, belum bisa ditindak lanjuti oleh dokter karena biaya yang masih kurang.
Apa yang harus Adel lakukan sekarang? apakah jalan satu-satunya dia harus menerima tawaran bosnya untuk menikah secara kontrak? mungkin tak ada jalan yang lain lagi. Demi kesembuhan neneknya, dia pun bertekad untuk menerima tawaran besar dari bosnya tersebut.