
Bryan mencoba menelpon Shinta untuk meminta maaf.Mungkin benar kata Adel,tak seharusnya dia bersikap kasar pada istri sirinya itu.Karena sekarang wanita itu sedang mengandung anaknya.
Beberapa kali ditelpon,tapi Shinta tak mau mengangkatnya.Padahal nomornya sedang aktif.Dia mencoba mengirim chat,namun hanya sekedar dibaca doang oleh wanita itu tanpa membalas sekata pun.
"Dia gak mau mengangkat telepon dari aku,Del.Di chat pun hanya dilihat doang,mungkin dia marah padaku."Ucap Bryan yang tetap berusaha untuk menghubungi Shinta melalui telepon.
"Kalau begitu,mendingan kamu kerumahnya,mas.Mungkin dia ada disana,dan bicarakan hal ini secara baik baik dengannya."Ucap Adel menyarankan.
"Del,tapi kamu gak apa apa kan ditinggal sendirian disini?aku janji,setelah bertemu dengan Shinta pasti kesini lagi buat ngejagain kamu."Ucap Bryan mengecup kening Adel.
"Gak apa apa kok mas.Aku hanya saja tak mau dia mengulangi perbuatan bodohnya tadi.Kasian janin yang diperutnya,mas."Ucap Adel lalu mencium punggung tangan suaminya.
Setelah suaminya beranjak pergi dari ruangan itu,segera dia menelpon sahabatnya.Dia ingin mengatakan sesuatu yang penting,sekaligus kabar bahagia kalau sekarang suaminya sudah berubah drastis.Saat telepon tersambung
"Hallo La,apa kabar kalian?"tanya Adel basa basi.
"Kabar baik sayangku,kami kangen nih.Yuk,ketemuan ditempat biasa!"ajak Lala dengan nada centilnya.
"Ketemuannya dirumah sakit aja yah?nanti kukirim lewat chat nama ruangannya."Ucap Adel membuat Lala bingung.
"Rumah sakit?siapa yang sakit Del?"tanya Lala kemudian.
"Nanti juga tau,sekarang siap siap deh kesini.Pokoknya,Ani harus ikut."Ucap Adel lalu mematikan telepon tanpa menunggu jawaban sahabatnya tersebut.
______________________
Bryan memutuskan untuk mencari Shinta ke apartemennya.Sesampai disana,dia membunyikan bel apartemen Shinta namun pintu tersebut tak kunjung dibuka.
Bryan kesal lalu ingat kalau dia juga punya kunci apartemen tersebut.Karena apartemen yang ditempati oleh Shinta merupakan hadiah yang diberikan oleh Bryan setahun yang lalu saat wanita itu berulang tahun.
Segera ia kembali kemobilnya,karena seingatnya kunci cadangan itu tersimpan dimobil.Saat kunci tersebut sudah ada ditangannya,dia naik kembali dan membuka pintu apartemen tersebut.
Dia masuk kedalam,ternyata apartemen itu kosong tidak berpenghuni dan terlihat sangat berantakan.Dipikirannya,mungkin Shinta sempat kesini untuk mengacak acak barang diapartemen tersebut,lalu setelah bosan pergi entah kemana.
Dia masuk kedalam kamar dan didapatinya lemari yang terbuka semuanya hingga pakaian berhamburan dilantai.Hingga matanya tertuju pada satu benda yang dikenalnya.
Dia meraih benda yang merupakan buku diary yang sama persis dengan buku diary adiknya.Hanya saja buku diary itu bersampul biru sedangkan yang punya adiknya bersampul putih,dan diary tersebut masih terkunci rapat.
Dia berusaha mencari keberadaan kunci diary tersebut,karena rasa penasarannya sekaligus aneh,mengapa Shinta mempunyai buku diary yang sama persis seperti milik adiknya.
Barang yang berantakan semakin berantakan karena lelaki itu mengutak atik semuanya untuk mencari kunci buku diary tersebut.Namun pencariannya sia sia,dan akhirnya dia menyerah.
__ADS_1
Lalu memutuskan untuk membawa buku diary tersebut dan berencana untuk menemui Rio.Dia sangat yakin,Rio bisa membantunya memecahkan misteri itu.
"Apakah benar,Shinta yang dimaksud oleh Rio?pokoknya,aku harus minta penjelasan pada lelaki itu."Gumam Bryan lalu beranjak meninggalkan apartemen.
Dirumah sakit,kedua sahabat Adel masuk kedalam ruangan sesuai arahan Adel lewat chat.Mereka terlonjak kaget,saat mendapati Adel yang ditangannya terpasang cairan infus.
"Del,kamu sakit apa?ihh,kok gak ngasih tau dari tadi sih.Kirain bapak mertua kamu kumat lagi penyakitnya."Ucap Lala menyubit lengan Adel.
"Auugh,kebiasaan deh."Ucap Adel mengusap usap lengannya karena sakit dicubitin.
"hehe..sorry deh,tapi kok gak ada yang nemanin kamu disini?"
"Iya,nenek udah pulang kampung dan mertuaku juga ikut kesana sekalian liburan kata mereka.Terus,tadi mas Bryan ada disini kok hanya saja sekarang lagi nyari Shinta dulu."Ucap Adel menjelaskan.
"Wanita itu lagi?emang dasar yah punya suami kayak gitu,gak ada rasa pedulinya sama sekali pada istrinya sendiri."Ucap Ani dengan nada emosi.
"Isssh,kalian berdua gak boleh suudzon deh.Justru,aku yang nyuruh mas Bryan buat mencari keberadaan Shinta.Kasian dia kalau sampai nekat lagi."Ucap Adel menatap wajah sahabatnya bergantian.
"Untuk apa kamu nyuruh suamimu nyari wanita itu.Biarin aja dia menghilang ditelan bumi,agar tak mengganggu rumah tanggamu."Ucap Lala tak senang mendengar ucapan Adel.
Mereka sedikit berdebat karena kebodohan Adel yang membiarkan wanita itu masuk kedalam rumah tangganya.Lalu Adel pun menceritakan semua kejadiannya dari awal sampai dia berada dirumah sakit.
"Del,segitunya kamu membela wanita itu.Padahal kami mati matian buat ngebongkar kebusukannya walaupun sampai saat ini belum dapat bukti yang cukup."Ucap Lala menghela nafas panjang.
Kedua sahabatnya hanya bisa terdiam saat mendengar bahwa Shinta hamil bersama Bryan.Lalu Ani buka suara dan mengatakan tidak setuju dengan keputusan yang diambil Adel.
"Apa kamu yakin,dia hamil dengan suamimu?"tanya Ani membuat Adel menatapnya serius.
"Maksud kamu Shinta hamil dengan pria lain?gak mungkin Ni.Aku yakin dia mengandung anaknya mas Bryan,karena setiap hari kan mereka selalu bersama."Ucap Adel yakin.
"Soalnya kami pernah memergokinya bersama pak Mario disebuah apartemen."Ucap Lala kemudian dianggukin oleh Ani.
"Benarkah?mungkin kalian salah lihat kali.Emang kalian melihat secara jelas?"tanya Adel tidak percaya pada omongan sahabatnya.
"Kurang jelas sih,tapi kami yakin kok itu Shinta dan Mario."Ucap Ani meyakinkan Adel.
"Sudahlah kalian berdua nih suudzon terus menilai orang lain.Intinya,aku tak akan rela anak itu lahir tanpa seorang ayah.Jadi aku sudah yakin dengan keputusanku."Ucap Adel menatap mereka bergantian.
"Terserah kamu Del,kami tak bisa memaksa.Hanya saja,kamu harus tetap waspada pada wanita itu."Ucap Lala mengingatkan.
"Kalian tenang aja,aku pasti bisa melewati ini semua.Apalagi sekarang,mas Bryan sudah memaafkan diriku dan tak akan pernah menyakitiku lagi."Ucap Adel sambil tersenyum bahagia.
__ADS_1
"Kami juga ikut senang melihat kalian sudah baikan.Semoga kedepannya tetap harmonis walau masih ada pengganggu dalam hubungan rumah tangga kalian."Ucap Ani menggenggam tangan Adel.
Karena waktu sudah malam,mereka pun pamit untuk pulang.Adel mengangguk dan tidak keberatan ditinggal sendirian.Saat hendak keluar ruangan,tiba tiba Bryan masuk kedalam lalu menyapa keduanya.
"Hei,kalian apa kabar?"ucap Bryan sekedar basa basi.
"Kabar baik,kami berdua mau pamit pulang dulu.Tolong jagain sahabat kami yang bawel itu yah!"ucap Lala membuat Bryan tertawa.
"Tenang aja,aku siap menjaga sahabat kalian yang bawel itu setiap saat."Ucap Bryan melirik kearah Adel yang kelihatan malu malu kucing.
"Ihh,apaan sih kalian pada ngomongin aku."Ucap Adel malu.
"Siapa juga sih yang ngomongin kamu.Ge er amat jadi orang."Ucap Ani yang kemudian semuanya ikut tertawa.
Kini hanya tersisa mereka berdua didalam ruangan itu.Adel mengucapkan terima kasihnya karena suaminya mau menuruti permintaannya.Namun Bryan berkata kalau dirinya tak berhasil menemukan Shinta.
Adel yang mendengar itu jadi sedih karena memikirkan keadaan wanita itu.Apalagi sekarang dia sedang hamil,dan tak boleh terlalu banyak pikiran agar janinnya tetap kuat dan sehat.
Sehingga memutuskan untuk menelpon Shinta memakai ponselnya.Mungkin saja kalau dia yang menelpon,Shinta mau menjawab teleponnya.Segera dia meminta nomor kontak Shinta pada suaminya.
Awalnya Bryan tak mengizinkan istrinya itu untuk menelpon Shinta,tapi karena dipaksa terus menerus,akhirnya Bryan mengalah.
Segera ditelponnya nomor yang diberikan oleh suaminya tadi,dan tak disangka Shinta pun menjawab telepon dari Adel.
"Hallo Shinta,tolong pulang kerumah.Mas Bryan menunggumu."Ucap Adel membuat Bryan kaget mendengar penuturan istrinya tersebut.
"Jangan membohongiku."Ucap Shinta lalu memutuskan telepon.
"Sudahlah Del,biarkan saja dia.Untuk apa memaksakan jika dia tak ingin."Ucap Bryan mengelus elus wajah Adel.
"Gak mas,kamu harus bertanggung jawab.Dia istrimu juga loh dan sedang mengandung anakmu."Ucap Adel membuat emosi Bryan tak terbendung lagi.
"Apa maumu sih hah?aku sudah berusaha membuat pernikahan kita harmonis dan ingin memulainya dari awal.Kalau kamu gak mau memperbaiki hubungan ini,ngomong saja gak perlu berbelit belit seperti ini."Ucap Bryan lalu keluar ruangan dan membanting pintu karena kesal.
Adel kaget karena suaminya begitu marah dengan omongannya.Dia merasa tak bersalah karena memang sudah seharusnya suaminya itu bertanggung jawab pada istri keduanya.
[Mas,kenapa sih kamu keras kepala?maafkan aku kalau perkataanku membuatmu tersinggung.Tapi ini kulakukan semata mata hanya untuk bayi yang dikandung oleh Shinta.]
[Kasian dia gak salah apa apa,jadi tolong demi calon anakmu lakukanlah permintaanku.Gak apa apa kalau kamu marah padaku,tapi percayalah,aku sangat mencintaimu,suamiku.]
Adel mengirimkan dua pesan secara berturut turut kepada suaminya.Dan pesan itu sudah terbaca hanya saja suaminya tak mau membalas pesan singkat tersebut.
__ADS_1
Adel memaklumi itu,mungkin karena hati suaminya masih menyimpan amarah atas perkataannya.Dia pun menghela nafas panjang dan yakin semuanya bisa terlewati dengan baik.