Merindukan Malam Pertama

Merindukan Malam Pertama
POV Rania part 04 [ Menukar identitas]


__ADS_3

Malam harinya, adik perempuan ku datang untuk menemuiku dirumah kontrakan ku ini. Untunglah, dia datang sendiri dan tak ditemani oleh Bryan lagi. Aku hanya takut lelaki itu masih mengingatku. Saat di ruang tamu, terciptalah obrolan di antara kami berdua.


"Kakak ngapain sih pake ngontrak rumah segala? kan kita punya rumah sendiri, dan pas aku nyampe kemarin, kosong melompong gak ada yang nempatin. Ternyata kakak pindah kesini. "


"Kakak udah menikah secara siri,dek.Jadi itulah alasannya mengapa sekarang ngontrak rumah disini. Karena tempat kerja suami kakak, arahnya lebih dekat dari sini. "Ucapku menjelaskan kepadanya.


" Sudah menikah? terus kemana suami kakak sekarang? "


Mendengar pertanyaan nya tersebut, aku pun tak sanggup menahan airmataku sehingga membuat adik perempuan ku itu merasa bingung. Aku pun menjelaskan semuanya dari awal, tapi soal kesalahan yang terjadi bersama kekasih adikku itu, kututup rapat-rapat.


Mendengar curahan hatiku tersebut, Shinta turut merasa prihatin dengan apa yang menimpa ku saat ini. Sehingga dia berjanji padaku akan berusaha mencari keberadaan Bimo. Namun aku juga mengatakan, tak perlu merepotkan kekasihnya itu, dan jangan sampai membicarakan hal ini dengan pria tersebut.


"Ini jadi rahasia kita berdua yah? jangan sampai kamu mengungkit masalah kakak ini pada kekasihmu. Aku tak mau merepotkan orang lain. " Ucapku memberi alasan dan untungnya dia mau menurutinya.


Sejak hari itu aku ditemani oleh adik perempuan ku,untuk mencari keberadaan Bimo. Aku yakin, dia gak kembali ke rumah orangtuanya. Tujuanku pertama,akan mencarinya di kampus. Mungkin saja dia masih melanjutkan kuliahnya. Ah, semoga ada titik terang untuk bisa menemui suamiku itu.


"Kak, yakin dia ada di kampus ini? "


"Iya, dia kuliah disini dan mungkin saja saat ini dia berada didalam. Hmmm tunggu dulu, aku mau nelpon teman kuliahnya Bimo. Aku baru ingat, Bimo pernah minjam ponselku untuk menelpon temannya itu. Semoga saja masih bisa dihubungi. "


Untung saja nomor tersebut masih bisa dihubungi. Sehingga dari teman kampus Bimo itulah aku mengetahui kalau saat ini suamiku itu ditempatkan untuk magang disebuah kampung tak jauh dari kota ini. Tak lupa pula temannya itu memberi alamat kampung tersebut,jadi aku memutuskan untuk pergi mencarinya kesana.


Namun baru saja setengah perjalanan, perutku terasa sakit sekali. Shinta yang melihatku sedang menahan rasa sakit pun, langsung membawaku kerumah sakit. Hasil pemeriksaan dokter, katanya aku kelelahan, dan diharuskan untuk memperbanyak istirahat. Tapi aku bersikeras untuk pergi menemui suamiku, karena aku ingin dia kembali disisiku.


"Kakak dengar sendiri kan apa kata dokter tadi? jangan memaksakan keadaan kak, aku tak mau kalau kakak kenapa-kenapa nantinya. " Ucap Shinta melarang ku untuk pergi.


"Tapi, aku ingin suamiku ada disampingku. Tolong aku, jemput dia untukku yah?" ucapku memohon.


"Gimana caranya? aku aja gak kenal yang mana orangnya. Nanti aja kalau kakak udah sehat, baru kita menjemputnya yah? "


"Shinta, tolong kakak bisa yah? aku akan menunjukkan fotonya padamu, nanti sesampai dikampung tempatnya magang, kamu tanya aja pada pak RT, pasti ketemu deh. plisss dong! " ucapku terus memohon.

__ADS_1


"Iya deh, aku coba dulu. Kalau gak ketemu, jangan marah yah? " ucapnya lalu aku mengangguk pelan.


Ah, semoga saja adik perempuan ku itu berhasil menemui Bimo dan bisa membujuk nya agar cepat pulang kembali padaku. Aku juga sudah mengatakan kepada adikku untuk memberi alasan yang tepat, biar Bimo mau menemuiku lagi dan kembali memulai semuanya dari awal.


______________


Keesokan harinya, aku sudah tak sabar menunggu kabar dari adik perempuan ku. Apakah dia berhasil menemui Bimo? kalau iya, mungkinkah juga dia berhasil membujuk Bimo untuk kembali padaku?


Tiba-tiba saja, ponselku berdering, lalu tanpa melihat kearah layar, aku pun langsung mengangkatnya,


"Hallo, kak.. sekarang kakak datang kerumah sakit MEDICA yah! " ucap adikku membuatku langsung panik.


"Siapa yang sakit? jangan bilang Bimo sedang sakit dan dirawat disana yah? "


"Datang aja dulu kesini, biar kakak bisa melihatnya langsung. Tapi kakak tenang aja, dia gak apa-apa kok. "


Setelah telepon terputus, aku pun buru-buru menuju kerumah sakit tempat Bimo dirawat. Semoga aja hanya penyakit biasa dan bukan yang serius. Ah, Bimo.. mengapa kamu tak memberitahu ku kalau saat ini sedang sakit?


"Shinta.. katakan apa yang terjadi pada suamiku? " Ucapku menggoyang-goyangkan tubuh Shinta meminta penjelasan darinya.


"Seperti yang kakak lihat, dia mengalami kecelakaan. Apakah kita harus memanggil keluarganya agar mereka tahu keadaanya yang seperti ini?" tanya Shinta membuatku menggeleng.


Keluarganya gak boleh tau dengan kejadian yang menimpa Bimo. Nanti aku pasti akan dituntut oleh mereka dan hidupku akan berakhir dipenjara. Lagipula mereka tidak mengenalku, tapi kalau nanti Bimo sadar gimana? terus kalau aku memilih untuk kabur, apa aku siap kehilangan Bimo dan juga hartanya?


Gak mau, aku harus cari cara agar Bimo selalu bersamaku.Soal harta, nanti aku pikirkan kembali setelah Bimo kembali pulih.


"Shinta bagaiman kronologi suamiku bisa jadi seperti ini? dan apakah ada yang melihat atau mengenal Bimo saat dia mengalami kecelakaan? " tanyaku saat kami duduk di ruang tunggu.


"Awalnya, aku melihat dia berboncengan dengan wanita. Tapi masih ragu apakah benar yang kulihat itu adalah suami kakak? kalau melihat foto yang diberi oleh kakak sih sama persis. Tapi untuk meyakinkan, aku lalu menghadang motornya tersebut dan langsung bertanya padanya.


Ternyata benar, dia bernama Bimo Pradipta. Terus aku mengungkit nama kakak dan memintanya untuk kembali karena mengingat keadaan kakak yang sedang hamil. Aku juga memarahinya karena telah berselingkuh dengan wanita lain.

__ADS_1


Aku berhasil membujuknya, dan dia mau ikut denganku karena kataku kakak sedang dirawat dirumah sakit. Tapi dalam perjalanan aku mampir beli minum, dan bodohnya aku malah lupa membawa ponsel. Mungkin dia membuka chat yang kakak kirimkan. Sehingga dia marah besar, dan nyebrang tak melihat kiri kanan. Sehingga terjadilah peristiwa itu.


Oh iya, Kakak mau tau siapa wanita selingkuhannya itu? dia yang telah menghancurkan keluarga kita sampai ibu harus mengakhiri hidupnya sendiri.. "Ucap Shinta membuatku terkejut.


" Yang kamu maksud adalah anak tante Sarah, pelakor itu? "tanyaku kurang yakin.


" Iya, kak.. anak dari pelakor itu. Andai saja wanita itu tidak lahir didunia ini, mungkin saja keluarga kita masih utuh. "


"Kita bahas wanita kampung itu nanti saja. Yang paling penting, kamu harus tau, Bimo itu adalah adik dari kekasihmu, Bryan. " Ucapku membuatnya terperangah.


"Kok kakak bisa tau kalau pacarku itu bernama Bryan? kan kemarin belum sempat kenalan. " Tanyanya bingung.


"Sebenarnya,kemarin itu aku ada dirumah kok. Tapi karena melihat yang datang ama kamu adalah kakaknya Bimo, aku tak mau membukakan pintu buat kalian. Aku hanya tak mau bertemu dengan kekasihmu itu apalagi kedua orangtuanya. "


"Kenapa bisa gitu, kak? "


"Sekarang gak perlu bahas yang lain dulu. Kita fokus pada kondisi Bimo saat ini. Dan kakak mohon, jangan sampai kamu mengatakan kepada Bryan tentang keadaan adiknya ini." Ucapanku membuatnya mengangguk.


Aku bingung bagaimana caranya untuk menghilangkan jejak? pasti saat peristiwa kecelakaan itu terjadi, ada oknum-oknum yang sengaja merekam kejadian tersebut, dan sudah pasti keluarga Bimo akan mengetahui semua ini.


Apalagi ada dompet yang didalamnya terdapat tanda pengenal, pasti polisi akan sangat mudah untuk mencari keberadaan keluarga Bimo. Ah iya,dompet Bimo pasti masih ada disaku celananya. Saat kaki hendak melangkah menuju ke ruang UGD, tiba-tiba ada korban kecelakaan dan dalam keadaan yang mengenaskan.


Aku mengikuti dan sekilas mendengar obrolan kedua suster yang mendorong mayat itu mungkin untuk dimandikan.


"Kasihan yah korban kecelakaan ini, tak diketahui identitasnya. Mana gak punya tanda pengenal, dan wajahnya tak dapat juga dikenali." Ucap salah satu suster itu.


"Iya sungguh malang nasibnya harus berakhir seperti ini. Sekarang tugas kita memandikan mayat ini. Ayolah cepat, agar bisa bebas tugas dan bisa cepat pulang! " ucap yang satunya lagi mempercepat langkah agar cepat sampai kekamar khusus mayat.


Mendengar obrolan mereka tadi, aku jadi punya rencana. Yah, aku harus mengambil dompet Bimo dari saku celananya dan memindahkan dompet tersebut ke dalam saku celana korban kecelakaan yang sudah meninggal itu. Agar saat polisi datang untuk mengecek, mereka akan menemukan identitas Bimo pada korban kecelakaan itu.


Jadi gak sabar gimana reaksi orangtua Bimo mengetahui kalau anaknya meninggal dunia secara mengenaskan.Padahal, yang mereka tangisi nanti adalah Bimo palsu. Tapi aku suka, dan Ini wujud balas dendam ku pada mereka yang selama ini telah menghinaku.

__ADS_1


__ADS_2