
Sesampai dirumah, ternyata disana sudah ada bu Astuti yang sedang menggendong baby Aska. yah, bayi itu diberi nama Aska atas permintaan Shinta sebelum dia pergi untuk selamanya. Bryan yang merasa kasihan kepada ibunya tersebut merasa kesal pada rania yang sudah membuat ibunya berdiri diluar karena tak bisa masuk kedalam rumah yang terkunci.
"Bu, kenapa bisa baby Aska ada pada ibu? terus, kemana wanita itu pergi? " tanya Adel ikut merasa kesal pada wanita itu.
"Tadi dia mengantar bayi ini kerumah ibu. Alasan nya sih mau mengurus sesuatu yang penting. Awalnya ibu menolak, bukan karena tak mau menganggap bayi ini sebagai cucu, melainkan kamu tau sendiri kan, ibu sudah lama tak pernah memegang bayi. Jadi risih takut kenapa-napa.
Bukannya mendengarkan perkataan ibu, wanita itu malah tetap pergi begitu saja. Baby sitter kok bersikap layaknya seorang nyonya sih? " ucap bu Astuti sedikit emosi.
Adel dan suaminya saling menatap, keduanya seperti menaruh curiga kepada Rania. Pasti ada hal buruk yang direncanakannya. Namun sayang mereka telat pulang jadi gak bisa membuntuti wanita itu dan mencari tau apa yang akan dilakukannya diluar sana.
Karena kasian pada baby Aska, Adel pun membuka pintu rumah dan menyuruh segera masuk karena cuaca juga yang sedang terik. Dia juga berinisiatif mengambil bayi itu dari tangan mertuanya dan menimang nya agar tertidur.
"Wah, baby Aska terlihat anteng jika ama kamu, Del. " Puji ibu Astuti membuat Adel tersenyum paksa.
"Sebenarnya ini tugas Rania, aku kan belum tau cara merawat anak dengan benar." Ucap Adel merendah.
"Makanya, cepat kalian memberikan cucu untuk ibu. Ibu sudah pengen loh menimang cucu dari kalian berdua. " Ucap ibu Astuti membuat Adel dan suaminya hampir tersedak secara bersamaan.
"Kalian ini disuruh buat bikin cucu untuk ibu kok malah seperti itu ekspresi mukanya? jangan ditunda-tunda loh, ntar kalian keburu tua. Selagi masih muda, dan kondisi badan yang masih subur, segera lakukan program hamil, biar cepat ngisi. " Ucap Ibu Astuti membuat keduanya cengengesan.
Adel sih sebenarnya pengen merasakan punya anak yang dilahirkan dari rahimnya sendiri. Tapi gimana bisa menjalankan program hamil, jika sampai saat ini belum pernah disentuh oleh suaminya? apalagi dirinya akan segera menggugat cerai kepada suaminya tersebut.
Saat tengah asik mengobrol walaupun sempat ada ketegangan karena bu Astuti meminta cucu dari kedua insan itu, tiba-tiba saja ponsel Adel berdering. Saat melihat ke layar, ternyata Lala sahabatnya yang menelpon dirinya tersebut. Tanpa menunggu lama, Adel pun mengangkat telepon tersebut,
"Adel, sekarang kamu kesini yah? aku melihat Mario dan seorang wanita juga anak kecil. "
__ADS_1
"Ih, kamu kebiasaan kalo ngomong gak di rem, tanpa spasi. Kamu menyuruhku kemana? yang jelas dong kalo ngomong tu. "
" Di rumah sakit kejiwaan, Del. Segera kesini dan ajak serta suamimu. Aku yakin, ada rahasia besar didalam rumah sakit kejiwaan tersebut. "
"Yah udah, kirim alamatnya sekarang juga dan kami siap otw. "
Setelah sambungan terputus, segera terdengar notifikasi tanda pesan masuk dari Lala yang memberikan alamat rumah sakit kejiwaan tersebut. Dengan buru-buru, Adel meminta suaminya untuk mengantarkan dia kerumah sakit tersebut. Dan memohon kepada ibu mertuanya agar mau menemani baby Aska yang sudah tertidur lelap.
Ibu Astuti mengiyakan, lalu keduanya pun berangkat menuju ke tempat tujuan. Dalam perjalanan, Adel mengungkapkan alasannya untuk kerumah sakit tersebut.
"Emang kamu yakin yang bersama Mario itu, adalah Rania? bisa saja kan itu keluarga lelaki itu yang mungkin sedang menjenguk kerabatnya yang sedang mengalami gangguan jiwa. " Ucap Bryan setelah mendengar penuturan istrinya tersebut.
"Aku yakin, mas. Dulu kedua sahabat aku juga pernah memergoki Mario dan Shinta yang masuk kedalam rumah sakit itu. " Ucap Adel walaupun sebenarnya dirinya tak mau lagi mengungkit nama orang yang sudah meninggal tersebut.
"Shinta? untuk apa mereka kesana? " tanya Bryan tampak bingung.
"Iya kalau soal kedekatan Shinta dan Mario aku sudah mengetahuinya. Tapi mereka hanya sebatas teman doang, itu sih pengakuan Shinta padaku waktu itu. Tapi, yang aku bingung, ada keperluan apa mereka mendatangi rumah sakit jiwa ini?"
"Kamu yakin hanya sebatas teman? tapi gak perlu dibahas lagi. Pamali membahas aib orang yang sudah tiada. " Ucap Adel tak mau meneruskan obrolan tentang Shinta.
"Terus katamu, kali ini Mario dan Rania yang datang kerumah sakit itu. Kalau benar wanita yang bersama lelaki itu adalah Rania, jadi penasaran siapa yang mereka jenguk disana? " ucap Bryan merasa penasaran.
"Daripada penasaran, kita lihat secara langsung saja yah? " ucap Adel lalu menyuruh suaminya itu untuk fokus menyetir dan tak banyak bertanya lagi.
Keduanya memarkirkan mobil diluar area rumah sakit tersebut, biar Mario tak mengetahui keberadaan mereka. Di sebuah warung pecel lele, terlihat Lala yang keluar dan menghampiri mereka. Awalnya Lala mengajak mereka untuk makan dulu, karena katanya pecel lele nya sangat enak sekali.
__ADS_1
Namun Adel dan suaminya menolak dan mengatakan nanti bisa mampir lagi untuk mencicipi pecel lele tersebut setelah mengetahui apa yang dilakukan oleh Mario dan wanita itu didalam sana. Lala pun sambil memutar bola mata malas, mengajak keduanya untuk masuk.
Namun tak semudah yang mereka bayangkan, untuk masuk saja harus ditahan oleh security dulu dan bertanya akan mengunjungi siapa dirumah sakit tersebut. Mereka pun bingung, karena memang tak tau siapa yang akan mereka jenguk karena kan tak ada teman atau sodara yang mengalami gangguan kejiwaan.
Mereka pun mencari ide agar bisa masuk kedalam sana, tanpa gangguan dari security. Kebetulan, seorang dokter yang hendak masuk kedalam pun, dipanggil oleh Adel dan meminta waktu untuk berbicara sebentar dan beruntung dokter cantik itu mau menyempatkan waktu berbicara dengannya.
"Bu dokter, kami kesini mau menemui teman kami yang sudah menunggu kami didalam. Namanya Mario dan Rania. Kami berjanji untuk bertemu disini karena ingin menjenguk salah satu pasien yang dirawat disini. Namun kami telat datang, sehingga mereka berdua memutuskan untuk masuk duluan kedalam.
Sekarang ini kami hendak masuk, tapi ditahan oleh security. " Ucap Adel mencoba menjelaskan agar dokter tesebut bisa membantu mereka masuk kedalam rumah sakit itu.
"Oh kebetulan saya yang menangani suami ibu Rania disini. Dari pagi dia datang bersama anaknya kemudian tak berapa lama ada juga seorang lelaki yang menemuinya. Tapi benar kan kalian kerabat dari ibu Rania? " tanya dokter itu ingin memastikan.
"Iya, kalau dokter gak percaya, ini foto-foto kebersamaan kami, aku dan dia kakak beradik. " Ucap Bryan berbohong lalu menunjukkan fotonya bersama Rania untuk meyakinkan dokter itu.
Dokter cantik itu pun mengangguk dan percaya dengan apa yang mereka katakan. Sehingga, dia berkata kepada security untuk memberi izin kepada mereka masuk kedalam karena mereka ada hubungan keluarga dengan Rania.
"Tapi selama ini, saya tak pernah melihat kalian menjenguk suami dari ibu Rania. Padahal kan suaminya tersebut sudah dirawat selama tiga tahun disini karena mengalami geger otak setelah kecelakaan yang menimpanya dulu. " Ucap dokter itu seperti masih curiga kepada mereka.
"Iya, karena selama ini Rania menyembunyikan hal itu dari kami. Tapi mungkin dia sudah sadar dan akhirnya memilih untuk memberitahu yang sebenarnya tentang kondisi suaminya tersebut. Makanya hari ini perdana kami menjenguk suami dari Rania tersebut. " Ucap Adel berbohong dan dokter tersebut percaya aja dengan omongan tersebut.
Tibalah mereka di suatu ruangan tempat suami Rania dirawat. Disana tampak sosok Mario dan Rania yang sangat terkejut melihat kedatangan mereka. Posisinya saat itu, suami Rania yang mengalami geger otak itu membelakangi mereka sehingga belum tampak wajah dari suami wanita itu.
"Rania, mengapa kamu berbohong padaku? katamu suamimu sudah lama meninggal karena kecelakaan. Rupanya memang benar bahwa suamimu itu kecelakaan, tapi dia masih hidup dan dirawat dirumah sakit ini karena kejiwaannya yang terganggu akibat kecelakaan tersebut.
Dan juga apa hubungan lelaki ini dengan kalian? mengingat waktu itu pernah sahabat Adel melihat Mario yang datang bersama Shinta kesini. Apakah kalian punya hubungan keluarga? "tanya Bryan meminta penjelasan pada Rania.
__ADS_1
Belum juga Rania menjawab pertanyaan itu, tiba-tiba saja suami dari wanita tersebut menyebut dan memanggil satu nama yang membuat semuanya terperanjat,
" Adeeel.. Adeeel.. " teriak suami Rania tersebut sambil teriak histeris sehingga dua orang suster segera membawanya untuk diberikan obat penenang.