Merindukan Malam Pertama

Merindukan Malam Pertama
Depresi


__ADS_3

Saat Adel tersadar dari pingsannya, ternyata dia sudah berada dikamarnya. Lalu, dia teringat kembali dengan ucapan mbok, membuatnya menangis histeris. Lala mengusap bahu Adel secara perlahan untuk menenangkan dan berucap bahwa dirinya harus sabar dan ikhlas menerima semua kenyataan ini.


Terdengar suara sirene ambulance memasuki halaman rumah mertuanya, membuat Adel berlari untuk melihat keluar, dan berharap jenazah yang ada dimobil Ambulance itu bukan suaminya. Saat melewati ruang tamu, ternyata sudah banyak orang yang memenuhi ruangan tersebut.Namun Adel tak menghiraukan hal itu.


Setelah peti jenazah itu diturunkan dari mobil tersebut, Adel menghampiri dan meminta untuk memperlihatkan kepadanya isi peti jenazah tersebut.


"Ayo, mbak kita masuk kedalam rumah dulu! " kata petugas yang membawa peti jenazah tersebut.


"Sabar, Del.. sekarang kita masuk, jangan halangi petugas itu, nanti kita bisa melihatnya kedalam yah? " ucap Lala mengangkat tubuh Adel yang memeluk peti jenazah tersebut.


Saat dirinya sesegukan, datanglah kedua mertuanya dan langsung memeluk menantunya tersebut,


"Nak, mas mu udah gak ada.. Kamu yang kuat yah, nak. Sekarang ayo kita lihat mas mu untuk yang terakhir kalinya! " Ucap bu Astuti sambil menangis memeluk menantunya tersebut.


"Bu, itu bukan jenazah mas Bryan kan? dia kan lagi ngantar Rania ke kantor polisi, pasti dia masih ada disana untuk membuat laporan. Tunggu, aku akan mencoba menelponnya dulu. " Ucap Adel menghapus air matanya kemudian berlari kearah kamarnya untuk mengambil ponselnya.


"Biarkan saja, bu.. nanti kita memberitahukannya secara pelan-pelan saja. Bapak mengerti dengan keadaannya sekarang yang belum mempercayai semua ini. " Ucap pak Hadi saat melihat istrinya hendak menyusul Adel ke kamarnya.


Mereka pun akhirnya memilih untuk masuk dan duduk di samping peti jenazah tersebut sambil menangis sedih. Lala khawatir dengan keadaan sahabatnya sehingga ia memutuskan untuk menyusul Adel ke dalam kamarnya.


Saat masuk, terlihat Adel sedang sibuk memegang ponselnya. Lala pun menghampiri sahabatnya itu, lalu mengatakan untuk ikhlas menerima semuanya.


"Kamu jangan bohong, La. Mas Bryan itu masih hidup kok, pasti sebentar lagi akan pulang untuk menjemputku. Dia sudah janji padaku, dan kami sudah berencana untuk tinggal diluar kota agar bisa hidup bahagia tanpa ada gangguan lagi. " Ucap Adel bersemangat.


"Baiklah, Del.. tapi untuk sekarang ini, ayo kita lihat dulu siapa yang ada dipeti jenazah itu yah? kita harus menghargai mertuamu kan? sebelum dimakamkan, sebaiknya kamu turut melihat jenazah itu untuk yang terakhir kalinya. " Ucap Lala membujuk sahabatnya itu.

__ADS_1


"Ok, aku akan melihatnya sekarang juga. Itu pasti keluarga mertuaku yang lain. Tapi, kenapa nomor mas Bryan gak aktif sih, aku kan ingin menyuruhnya cepat pulang karena ada keluarganya yang meninggal. " Ucap Adel mencoba kembali menghubungi nomor suaminya tersebut.


Lala hanya bisa menangis melihat kondisi sahabatnya yang seperti ini. Namun ditahannya dan mencoba kembali membujuk Adel agar mau melihat jenazah suaminya untuk yang terakhir kali. Karena pemakamannya akan dilakukan sore itu juga.


Akhirnya Adel mau juga diajak untuk keluar. Dengan santainya dia melewati orang-orang yang sedang mendoakan jenazah suaminya tersebut, lalu setelah berhadapan dengan kedua mertuanya,


"Pak, bu.. yang sabar yah, semoga amal ibadah almarhum diterima di sisiNya. Sebentar lagi mas Bryan pulang, pasti dia juga akan merasa sangat kehilangan atas kepergian salah satu kerabatnya. " Ucap Adel memeluk kedua mertuanya secara bergantian.


Semua yang ada disitu merasa heran kepada Adel, yang berkata seperti itu. Namun kedua mertuanya mengerti dengan kondisi menantunya yang belum siap kehilangan suami tercintanya.


Saat pak Hadi membuka tutup peti jenazah tersebut, Adel terlihat kaget namun tak menunjukan kesedihan sedikitpun,


"Bu, kok wajahnya mirip mas Bryan sih? "


"Adel.. itu memang mas mu, " ucap bu Astuti dengan raut kesedihan.


"Adel... mau sampai kapan kamu begini? kamu harus terima kenyataan kalau suamimu sudah tiada. Harus ikhlas, jangan seperti ini. " Ucap pak Hadi dengan lantang membuat langkah kaki Adel terhenti.


"Itu bukan suamiku, kalian semua bohong. " Ucap Adel berlari keluar meninggalkan rumah itu.


Lala tak tinggal diam saja, diapun langsung mengejar Adel, karena takut akan terjadi hal buruk jika sahabatnya itu dibiarkan sendirian. Dia pun menaiki mobil dan mengejar Adel yang tetap berlari dijalanan. Lala sangat takut Adel berbuat nekat, melihat cara pandang sahabatnya yang kosong, tak menggunakan alas kaki, bahkan sampai memegang batu dikedua tangannya.


Untung saja keadaan jalan sepi pengendara, takutnya Adel akan berbuat hal nekat karena sekarang pikirannya sedang kalang kabut. Lala pun turun dari mobilnya dan berusaha mendekati sahabatnya itu, agar mau ikut bersamanya.


Tapi sulit dilakukan karena Adel memegangi batu berukuran besar di kedua tangannya. Orang-orang yang melihat keadaan Adel, ingin membantu untuk menenangkan pikiran wanita itu agar kembali sadar, namun mereka juga takut setelah wanita itu mengancam akan melempari mereka dengan batu.

__ADS_1


"Mbak, lebih baik panggil petugas aja untuk menangkap wanita ini. Takutnya dia berbuat hal nekat dan membuat warga ditempat ini ketakutan." Ucap salah satu warga kepada Lala.


"Mengapa orang seperti ini dibiarkan keluar sih? bawa aja tuh dirumah sakit jiwa. Takut ngeliatnya, apalagi bawa-bawa batu segala, nanti ada yang terluka kalau dibiarkan berkeliaran disini. " Ucap Ibu-ibu membuat Lala meminta maaf.


Adel semakin jauh berlari, membuat warga ditempat itu menyerah dan pada akhirnya Lala kembali mengejar sahabatnya tersebut sambil menelpon petugas untuk membantunya. Ada rasa cemas menyelimuti hatinya, dan dia sangat berharap semoga Adel baik-baik saja dan tak membuat hal yang fatal.


Untungnya, petugas ditempat itu berhasil menangkap Adel sehingga dia memarkirkan mobilnya dipinggir jalan dan segera menemui sahabatnya itu yang sekarang tangannya sudah terikat. Kasihan sebenarnya melihat keadaanya yang seperti itu, namun untuk kebaikannya mungkin itu jalan terbaik yang harus dilakukan.


"Terima kasih, pak atas bantuannya. Ini sahabat saya yang baru kehilangan suaminya. Namun karena depresi dan tak terima dengan kenyataan, membuatnya seperti ini. " Ucap Lala menjelaskan semuanya kepada petugas tersebut.


"Baiklah, lebih baik sekarang wanita ini dibawa ke rumah sakit untuk mendapat perawatan. Biar disana bisa menemui psikiater dan keadaannya bisa kembali membaik. " Ucap petugas itu memberi saran.


"Iya Pak, memang seperti itu rencananya. Karena kalau dibiarkan seperti ini, takut kejiwaannya terganggu. " Ucap Lala setuju dengan saran tersebut.


"Apa perlu bantuan kami untuk membawanya kerumah sakit? " tanya petugas itu lagi kemudian ditanggapi oleh Lala dengan sebuah anggukan kecil tanda setuju.


Lala mengikuti mobil petugas itu yang membawa Adel kerumah sakit terdekat. Dan tak lupa pula memberi kabar kepada mertua Adel tentang keadaan menantu mereka tersebut. Lala pun teringat kepada bu Ida lalu memutuskan untuk menelpon beliau dan memberitahu kabar ini.


Ternyata bu Ida sudah mengetahui tentang kabar Bryan dan sekarang sudah ada dirumah duka.


"Jadi nenek sudah ada dirumah duka sekarang? "


"Iya, nak.. bagaimana keadaan Adel sekarang? kata bu Astuti, tadi dia ingin kekantor polisi untuk menemui Bryan karena belum percaya kalau suaminya tersebut sudah meninggal. " tanya bu Ida was-was.


"Setelah pemakaman nanti, kalian datang dirumah sakit yah. Tapi tenang, Adel tidak apa-apa kok hanya pemikiran nya sekarang sedang kalang kabut. "

__ADS_1


"Baiklah, nak. Nenek mengerti dengan keadaan Adel sekarang. Baguslah kalau kamu membawanya kerumah sakit, nanti nenek dan mertua Adel akan menyusul kesana. " Ucap bu Ida lalu memutuskan sambungan telepon.


'Kasian kamu, Del.. tak bisa melihat wajah suamimu untuk yang terakhir kalinya. Malah sekarang kamu harus menjadi seperti ini, semoga keadaanmu segera membaik. 'Batin lala penuh harap.


__ADS_2