
Setelah tiga bulan pernikahan kami, aku mencoba membujuk Bimo untuk pulang kerumah orangtuanya dan meminta haknya sebagai anak kandung. Jujur, aku tak ingin hidup dalam kemiskinan. Kupikir, Bimo diusir oleh orangtuanya hanya bersifat sementara saja karena kekecewaan mereka.
Namun, sampai hari ini juga belum ada tanda-tanda orangtuanya datang menjemput anaknya tersebut, dan mengikhlaskan dia menikah denganku. Tak akan bisa kubiarkan, semenjak tau Bimo adalah anak orang kaya, diri ini selalu mencoba membujuknya agar meminta haknya tersebut kepada orangtuanya.
"Kamu kan udah dengar sendiri ucapan bapak waktu itu, jadi kita mulai dari nol aja yah! aku tak mau lagi menginjakan kaki dirumah itu. " Ucap Bimo saat diriku membujuknya untuk meminta haknya tersebut.
"Sayang.. masa kamu rela, seluruh harta kekayaan orangtuamu dinikmatin oleh anak pungut itu? ayolah, kamu berhak atas semuanya, karena kamu adalah anak kandung mereka satu-satunya. " Ucapku terus membujuknya.
"Udahlah, aku mau berangkat kerja dulu! dan aku mohon, kamu jangan lagi mengungkit tentang keluarga ku yah? ini kan sudah jadi komitmen kita berdua sejak awal. " Ucap Bimo lalu berangkat untuk bekerja.
Demi sesuap nasi untuk kami berdua dan untuk membiayai uang kuliahnya, dia rela banting tulang bekerja sebagai pelayan di sebuah kafe. Walau aku tau itu pekerjaan yang sangat tak pantas baginya, karena orangtuanya termasuk orang kaya di kota ini.
Bagaimana pun caranya, semua harta kekayaan itu harus dimiliki oleh Bimo seutuhnya. Pokoknya aku harus mengatur rencana untuk membuat Bimo kembali mendapatkan semua yang menjadi miliknya. Dengan begitu, aku juga akan bisa memenuhi kebutuhanku dan pastinya akan hidup mewah seperti yang ku impikan selama ini.
Tiba-tiba ponselku bergetar, tanda ada yang menelpon. Kulihat layar ponsel, lalu aku pun menjawab telepon tersebut,
"Hei, kamu dimana sekarang? ayo kesini di tempat biasa, aku tunggu yah! " ucap Meta, teman kerjaku di tempat karaokean.
"Emang lagi rame yah? kalo iya, otw nih. " Ucapku berharap.
"Kalo gak rame, mana mungkin aku nelpon kamu. Ada banyak bos besar loh, kayaknya mereka sedang merayakan sesuatu. Ayo sini, bantuin aku melayani mereka! " ucapnya lagi lalu segera ku iyakan.
Telepon pun terputus...
Wah, lumayan nih bisa nambah-nambah penghasilan. Saat ini aku kegirangan, akhirnya dapat job lagi dari temanku itu. Padahal, aku ingin mengakhiri pekerjaan di tempat yang seperti itu, namun karena mengingat kondisiku yang hidup pas-pasan, apa boleh buat, rejeki tak boleh ditolak.
__ADS_1
Ini harus dirahasiakan dari Bimo juga, kalau sampai dia tau istrinya ini bekerja di tempat seperti itu, bisa gawat. Yang ada dia akan meninggalkanku. Gak boleh terjadi, karena aku sangat mencintainya, dan mengincar hartanya juga sih. Pokoknya dia gak boleh tau, titik.
__________________________
"Akhirnya kamu datang juga, ayo cepat sini bantuin aku! kewalahan loh melayani mereka yang banyak maunya. " Ucap Meta menarik lenganku untuk masuk kedalam ruangan karaoke.
Saat masuk kedalam ruangan itu, seperti biasa yang terjadi, pasti semuanya terlihat berantakan. Bekas camilan berhamburan dilantai, juga botol minuman, agh sepertinya mereka semua ini yang kuhitung ada lima orang, sudah dalam keadaan mabuk.
"Wah, ada wanita cantik lagi. Ayo sini nyanyi dengan, om! " ajak salah satu pria yang sedang berjoget didepanku itu.
Walau sebenarnya hati ini ingin pergi saja, karena yang akan dilayani semuanya dalam keadaan mabuk. Takutnya, mereka akan berbuat hal-hal yang tidak senonoh.
"Say, kayaknya aku gak bisa melayani mereka yang sudah dalam keadaan mabuk berat seperti ini. " Bisikku kepada Meta dan untungnya dia mengerti.
Saat ingin melangkah keluar, tiba-tiba mata ini malah fokus kearah pria yang duduk sendirian disofa. Karena yang lainnya pada asyik joget-joget mendengarkan Meta yang sedang menyanyikan sebuah lagu dangdut.
"Kamu ngapain di tempat seperti ini? " tanyaku mungkin saja dia masih setengah sadar dan masih nyambung diajak ngobrol.
Lelaki itu malah menatapku dalam-dalam lalu berkata,
"Aku mencintaimu.. jangan tinggalkan aku sayang.. " ucapnya lalu seenaknya memelukku.
Aku mencoba melepaskan pelukannya itu dan menepuk-nepuk pipinya itu dengan keras agar dia tersadar. Namun tanpa aba-aba dia menarik ku dan mencium ku. Aku kaget loh, namun aku mengerti dia sekarang dalam pengaruh alkohol jadi tak sadar dengan apa yang dilakukannya ini.
"Mereka awalnya membuat permainan seru, yang salah menjawab akan menghabiskan segelas alkohol. Nah, lelaki itu jadi korban alkohol karena selalu salah menjawab pertanyaan lawannya. Padahal, tadi dia sudah mengatakan tak akan meminum minuman keras, eh malah kena jebakan batman deh. " Ucap Meta yang datang menghampiri ku.
__ADS_1
"Hey, kamu.. tolong antarkan saja dia di apartemen nya. Nanti aku bayar full deh, soalnya aku masih ingin disini bersama gadis itu. " Ucap salah satu pria itu lalu kembali berjoget bersama teman-teman nya.
Mungkin aku harus mengantarkan dia pulang. Kasian juga karena sudah mabuk berat seperti ini. Dengan alamat yang diberikan oleh salah satu pria tadi, aku pun memutuskan untuk mengantarnya pulang menggunakan taksi. Karena aku tak tau mobilnya yang mana, sebodoh amat kalau besoknya dia mencari keberadaan mobilnya tersebut.
Sesampai dilobi apartemen, aku membopong lelaki itu dan tak peduli dengan mata yang memandang aneh kepada kami. Mungkin ada yang mengira kami sepasang kekasih, atau bisa juga mereka mengira aku wanita bayaran. Ah, terserah lah apa pendapat orang itu.
Akhirnya tiba juga di apartemen lelaki ini. Akupun menempelkan tangan lelaki itu, agar pintunya bisa terbuka. Karena memakai sidik jari miliknya untuk bisa masuk kedalam.
Enak banget yah, sekarang pake punya apartemen pribadi segala. Sedangkan adiknya harus banting tulang bekerja sebagai pelayan di sebuah kafe. Mengingat hal itu, ada rasa benci menjalar dihati ini.
Saat dirinya sudah terbaring dikasur empuknya, niat hati ingin pulang ke rumah. Namun, tangan lelaki itu menarik tanganku dengan keras sehingga aku jatuh menindih tubuhnya. Aroma khas alkohol tercium keluar dari mulutnya. Ingin rasanya aku untuk bangkit, namun tangannya sangat kuat, membuatku susah untuk terlepas dari pelukannya itu.
"Sayang, jangan tinggalkan aku. Aku sangat mencintaimu, tolong jangan pergi lagi! " ucap lelaki itu membuka matanya perlahan.
"Lepaskan aku, biarkan aku pergi dari sini.. " Ucapku saat melihat matanya terbuka.
"Shinta, Terima kasih kamu telah datang untukku. Jangan pergi lagi. " Ucapnya lalu membalikan badan sehingga posisinya yang sekarang menindih tubuhku.
Aku mencoba untuk melepaskan diri, namun tetap saja dia menciumiku sambil menyebut nama Shinta.
"Aku bukan Shinta, tolong lepaskan aku. Kamu salah orang, justru aku ini adik iparmu. Aku istrinya Bimo.. " Ucapku mencoba untuk menyadarkannya.
"Bimo? adik ipar? jangan bohong, sayang. Kamu itu pacarku. Ayolah sayang, aku kangen padamu. " Ucapnya lagi lalu makin dalam menciumku.
Sekuat apapun aku memberontak, lelaki itu semakin liar saja. Sehingga karena diriku juga ikut terlena, terpaksa ikut merasakan kenikmatan itu. Terpaksa? entahlah, sebagai seorang wanita normal, pasti hasrat ikut menggebu kalau diperlakukan seperti itu.
__ADS_1
Maafkan aku, karena sudah bermain curang dibelakang mu. Ini hanya sebuah kesalahan, dan kuakui ini salahku yang mau segala mengantarkan dia untuk pulang. Oh, Bimo.. seandainya kamu tau akan hal ini, apakah kamu mau memaafkanku?