Merindukan Malam Pertama

Merindukan Malam Pertama
Pov Fabian


__ADS_3

Saat pertama kali aku membuka mataku, aku sama sekali tak mengenal tempat ini. Di ruangan besar serba putih ini, tercium olehku bau obat-obatan. Tidak salah lagi, saat ini diriku sedang berada dirumah sakit. Entah apa yang terjadi padaku hingga berakhir di tempat ini, sungguh aku tidak mengingat apapun.


Aku menoleh kesamping kiri, disana ada dua orang wanita, salah satunya adalah nenek. Wanita yang disamping nenek itu aku sama sekali tidak mengenalnya. Mungkin saja dia adalah pembantu nenek yang baru? entahlah. Disamping kanan ada seorang lelaki yang memakai baju serba putih dan kuyakin itu adalah seorang dokter.


"Dia sudah sadar, syukurlah akhirnya cucuku bisa sadar dari masa kritisnya. " Ucap nenek membuatku bingung.


"Aku akan memeriksanya dulu. " Ucap dokter itu lau mulai memeriksa keadaanku.


Aku menoleh kearah wanita yang sedang bersama nenek, sungguh aku penasaran siapa gerangan dirinya. Sepertinya aku pernah bertemu dengannya, namun sejauh aku memikirkannya, kepalaku terasa sakit. Mungkin itu hanya perasaanku saja, aku yakin sebelumnya tak pernah melihatnya.


Dia tersenyum kepadaku saat mata kami saling bersitatap. Namun aku hanya menatapnya datar. Karena jujur aku tak tau harus berekspresi seperti apa kepadanya. Akhirnya doker tadi telah selesai memeriksa keadaanku, lalu mengatakan kepada nenek bahwa keadaanku kini sudah normal kembali.


"Sebentar lagi, perawat akan datang untuk membawakan hasil diagnosa. Tapi kalau menurut pemeriksaan ku, keadaannya sudah membaik, hanya perlu istirahat saja. " Ucap dokter tadi membuat nenek dan wanita itu tampak bahagia mendengarnya.


Ingin bertanya kepada mereka, mengapa diriku bisa berada ditempat ini, namun sulit bagiku untuk mengeluarkan suara. Mungkin lebih baik aku tanyakan langsung saja pada istriku nanti. Mungkin dia lebih tau semuanya. Tapi, entah mengapa, aku tak melihat keberadaan nya yah?


"Nak, untunglah kamu sekarang sudah sadarkan diri. Nenek sangat senang sekali. " Ucap nenek terlihat bahagia.


"Nenek, mengapa aku bisa berada disini?dan dimana keberadaan istriku? " tanyaku lalu terlihat wanita itu datang menghampiri ku.


"Aku disini sayang. Syukurlah, sekarang kamu sudah sadarkan diri. " Ucapnya berlinang airmata membuatku bingung.


Loh, kenapa wanita itu memanggilku dengan sebutan sayang? karena kebingungan, aku pun bertanya kepadanya,


"Kamu siapa? hmm perasaan aku tak mengenal dirimu. Mengapa kamu mengaku sebagai istriku? " ucapku membuat wanita itu dan juga nenek saling pandang.

__ADS_1


"Nak, wanita ini istrimu. Kamu jangan bercanda deh, ngomong seperti itu. Gak lucu tau. " Ucap nenek kemudian sambil tertawa kecil.


"Kebiasaan deh, Mas. Kalau lagi begini, jangan bercanda dong. " Ucap wanita itu lalu ikut tertawa kecil membuatku makin bingung saja.


"Siapa yang bercanda? aku sungguh tak mengenalmu. " Ucapku lagi sambil memegangi kepalaku yang tiba-tiba terasa sakit.


Tak lama kemudian masuklah seorang perawat lalu memberikan sesuatu kepada dokter. Setelah membaca yang diberikan oleh perawat tadi, dokter mengatakan hasil diagnosa bahwa diriku mengalami amnesia.


Agh dokter ada-ada saja, masa aku dibilang terkena amnesia? jelas-jelas aku masih mengingat siapa diriku, dan juga masih mengingat tentang nenek, keluargaku, dan juga masih mengingat betul dengan istriku. Kalau amnesia kan, gak bakalan ingat apa-apa. Iya kan?


"Dokter ini gimana sih? jelas-jelas aku mengingat semuanya, kok hasil diagnosa mengalami amnesia sih? " ucapku sambil tertawa kecil karena merasa lucu dengan ucapan dokter itu.


"Iya, memang kamu mengingat sebagian dari masa lalumu. Tapi sebagiannya kamu tak mengingatnya. Namun tenang saja, lambat laun ingatanmu yang hilang akan segera pulih karena itu hanya bersifat sementara. " Ucap dokter menjelaskan lagi.


Lalu karena merasa memang tak mengenalnya, aku pun menggeleng sebagai jawaban tidak mengenalnya. Melihat hal itu, wanita tadi tiba-tiba menggenggam tanganku dengan lembut. Tapi secara refleks aku langsung melepaskan tanganku dari genggamannya itu. Terlihat rasa sedih di raut wajahnya atas perlakuan ku barusan.


Kuakui dia memang cantik, namun aku sadar bahwa kini diriku sudah menikah dengan Viona. Mungkinkah wanita itu yang disuruh nenek untuk menghancurkan pernikahanku dengan Viona? karena selama ini kan nenek menentang hubunganku dengan wanita yang kucintai hanya karena kami terikat tali persaudaraan.


"Sebaiknya, kalian menjelaskan secara perlahan kepada pasien yah? jangan terlalu memaksa dia untuk berpikir. " Ucap dokter lalu pamit untuk pergi dari ruangan ini.


Sepeninggal dokter, nenek kembali mengatakan bahwa wanita yang bersama beliau itu adalah istriku. Namun aku terus membantah hal itu karena jelas-jelas istriku itu adalah Viona.


"Nek, tolong hentikan semua ini! bagaimanapun nenek berusaha untuk merusak rumahtangga ku dengan Viona, itu tak akan mempan. Tolong, berilah restu untuk kami berdua! " Ucapku memohon sambil menggenggam tangan beliau.


"Nak, Viona yang menyebabkan kamu jadi seperti ini. Dan ingat, kamu itu kini sudah membenci wanita itu karena kejahatannya. Adel adalah istri sah kamu, Nak. " Ucap nenek tetap bersikukuh.

__ADS_1


"Sudahlah, Nek.. untuk saat ini, kita sabar saja menghadapi semuanya. Ingat kata dokter tadi, jangan memaksakan Mas Fabian untuk berpikir dengan keras. Kita lakukan ini secara perlahan saja, dan Adel yakin lambat laun keadaan Mas Fabian bisa kembali pulih seperti dulu lagi. " Ucap wanita itu membuat nenek mengangguk tanda setuju.


Baru saja aku ingin menanyakan tentang keberadaan Viona, tiba-tiba saja istriku itu masuk kedalam ruangan membuatku sangat bahagia menatap wajahnya. Namun entah mengapa wajahnya seperti menyimpan kesedihan. Mungkin karena terlalu memikirkan ku yang keadaannya seperti ini.


"Mau apa kamu menunjukan wajahmu disini? "ucap wanita itu berani membentak istriku.


" Diam kamu wanita asing, jangan sekali lagi kudengar kamu membentak istriku seperti itu! "ucapku dengan nada emosi.


Mendengar ucapanku, sambil menangis wanita itu keluar dari ruangan ini. Tanpa bersuara, nenek juga pergi menyusul wanita tersebut. Namun aku tak peduli karena saat ini istriku sudah datang untuk menemuiku.


" Sayang, mengapa kamu baru kelihatan sih? aku kan kangen sama kamu. "Ucapku menggenggam tangannya.


" Benarkah aku tak salah dengar ucapan mu ini? "tanya Viona seakan tak percaya.


" Memangnya selama aku jadi suamimu, tak pernah bersikap romantis seperti ini padamu? "tanyaku lalu membelai pipinya dengan lembut.


Entah apa yang dipikirkan olehnya hingga terdiam dalam waktu yang lama. Dia seperti syok mendengarkan kata-kataku barusan. Apakah akhir-akhir ini aku bersikap dingin terhadapnya? setahuku selama ini aku selalu bersikap romantis seperti ini kepadanya.


" Oya, sayang.. tadi yang bersama nenek, apakah kamu mengenalnya? dia dan nenek bersikukuh mengatakan bahwa wanita itu adalah istriku. Padahal jelas-jelas hanya kamu istriku satu-satunya."Ucapku memperlihatkan raut kebingungan.


"Wanita itu yang selalu saja berusaha untuk merebutmu dariku. Dan nenek selalu mendukungnya agar rumah tangga kita berantakan. Kamu kan tau sendiri, selama ini nenek menentang hubungan kita. "Ucap Viona membuatku paham.


" Sudah kuduga, pasti nenek ada dibalik semuanya. Kamu tenang aja yah, sayang sampai kapanpun aku tetap akan memilihmu dan tak akan berpaling pada wanita yang lain. "Ucapku penuh keyakinan.


Mendengar ucapanku, tampak jelas terlihat di wajahnya, bahwa wanitaku sangat bahagia. Aku berjanji padanya setelah keluar dari rumah sakit ini, akan selalu menjaga dan melindunginya dari orang yang hendak membuat rumah tangga kami hancur berantakan.

__ADS_1


__ADS_2