Merindukan Malam Pertama

Merindukan Malam Pertama
Percaya pada takdir


__ADS_3

Bryan tak bisa memejamkan matanya,pikirannya tertuju pada istrinya.Apakah dia baik baik saja disana?apakah dia kedinginan?apakah sudah makan?aghh..kepalanya terasa berat memikirkan nasib Adel dipenjara.


Dia merasa bersalah karena telah menyeret istrinya itu kekantor polisi.Namun hatinya juga merasa benci saat mengingat adiknya yang mati ditangan wanita yang sudah jadi istrinya itu.


Ingin rasanya mencabut tuntutan kepada istrinya tersebut,dan memaafkan semua yang telah terjadi.Mungkin benar kata bapaknya yang mengatakan kalau itu semua adalah takdir Bimo dan yang menimpanya adalah murni kecelakaan.


Dalam kebingungannya untuk memilih keputusan,tiba tiba saja Shinta datang menghampirinya dan lamunannya buyar seketika saat Shinta mengucapkan satu kalimat.


"Sayang,besok kamu bujuk istri kampungmu itu untuk menyetujui syarat yang kuberikan padanya."Ucap Shinta memeluk Bryan dari belakang.


"Gak perlu pake syarat deh.Besok aku akan mencabut tuntutannya,mumpung belum sampai kepengadilan.Kasian dia kalau harus mendekam dipenjara."Ucap Bryan membuat Shinta emosi.


"Maksud kamu,Adel bebas begitu saja?apa kamu menyerah untuk membuatnya menderita?"tanya Shinta lantang.


"Aku akan mengikhlaskan semuanya,dan membiarkan dia hidup dengan bahagia.Aku tidak boleh egois,adikku meninggal karena memang sudah takdirnya."Ucap Bryan lalu mengambil kunci mobilnya diatas nakas dan siap untuk pergi.


"Apa karena kamu sudah mencintai gadis kampung itu?"ucap Shinta menghentikan langkah kaki Bryan.


Bryan menoleh kearah wanita itu lalu dengan tersenyum dia berkata


"Sejak aku bertemu dengannya,aku memang sudah mencintainya.Hanya saja,dulu rasa benciku menghapus rasa cinta itu.Dan sekarang,aku belum tau pasti dengan perasaanku terhadapnya."Ucap Bryan lalu melangkahkan kakinya kembali.


Saat pintu kamar itu tertutup,Shinta membanting semua barang yang ada didekatnya.Emosinya meluap luap karena mendengar omongan Bryan barusan.Dia tak terima itu semua,lalu mencari cara agar rencananya tidak gagal.


Segera diraihnya ponselnya didalam tas,lalu buru buru menelpon seseorang.Namun beberapa kali ditelepon,namun nomor yang ditujunya diluar jangkauan.Membuatnya semakin darah tinggi.


"Sial,berani beraninya yah sekarang..gak boleh,Kamu tak boleh memberikan kebahagiaan pada wanita kampung itu.Lihat saja,aku tak akan tinggal diam.Jika kamu tak mau membuatnya menderita,aku yang akan melakukannya."Ucap Shinta dalam hati lalu menghempaskan dirinya dikasur


Bryan melajukan mobilnya dan memilih untuk pergi kerestoran Rio.Dia ingin bertanya tentang satu hal yang kemungkinan Rio tau tentang itu.Saat tiba direstoran,dia langsung menghampiri resepsionis dan bertanya tentang keberadaan Rio.


"Maaf,dengan siapa yah?terus,apakah sudah buat janji dengan pak Mario sebelumnya?"tanya resepsionis restoran itu.


"Saya belum membuat janji dengannya,namun dia mengenalku.Tolong sampaikan kepadanya,kalau Bryan ingin menemuinya."Ucap Bryan memohon.

__ADS_1


"Tunggu sebentar,saya akan menelpon bos dulu untuk memberitaunya."Ucap resepsionis tadi lalu menghubungi bos restoran itu.


Bryan masih menunggu jawaban,dan dia berharap Rio mau menemuinya untuk berbicara empat mata dengannya.Lalu tak berapa lama,resepsionis tadi memanggilnya dan berkata kalau pak Mario bersedia menemuinya.


Bryan merasa senang mendengar itu,dia lalu memilih duduk dibangku paling pojok dan memesan sebuah minuman sambil menunggu Rio datang menemuinya.Sepuluh menit kemudian,Rio datang menghampirinya.


"Hei bro,ada perlu apa ingin bertemu denganku?"ucap Rio lalu duduk berhadapan dengan Bryan.


"Apa kabar bro?senang bisa bertemu denganmu lagi."Ucap Bryan basa basi.


"to the point aja bro,ada hal penting apa sampai mau menemuiku disini?"tanya Rio menyipitkan matanya.


"Maaf sebelumnya,kalau aku mengganggu waktumu.Begini bro,kamu kan sahabat Bimo yang paling akrab semasa hidupnya dulu,pasti tau dong semua tentang dia."Ucap Bryan dengan nada pelan.


"Tapi gak semuanya aku tau loh.Buktinya,aku gak pernah tau kalau Bimo memiliki keluarga."Ucap Rio mengangkat bahunya.


"Aku mau nanyain tentang yang kamu tau aja. Misalnya,mungkin saja kamu bisa membocorkan satu hal padaku tentang wanita yang pernah dekat dengan Bimo selain istriku."Ucap Bryan dengan nada serius.


Bryan kaget mendengar ucapan Rio yang berkata familiar tersebut.Dia mulai menerka nerka,namun tak tau siapa wanita yang dimaksud oleh Rio tersebut.


"Siapa dia?tolong jawab,karena aku ingin menyelesaikan permasalahan ini."Ucap Bryan penasaran.


"Dan masalah istrimu,kamu sudah salah besar telah menuduhnya.Buku diary yang kamu baca itu palsu.Dan yang aslinya ada pada wanita yang menyebabkan adikmu meninggal."Ucap Rio lalu beranjak dari duduknya.


"Tunggu..tolong penjelasannya!siapa nama wanita itu."Tanya Bryan mencegah kepergian Rio.


"Cari tau sendiri,biar ini jadi pelajaran buatmu.Cepat atau lambat,kamu akan mengetahuinya."Ucap Rio lalu pergi dari tempat itu meninggalkan Bryan yang masih terlihat bingung.


"Siapa wanita yang dimaksud oleh Rio tersebut?katanya begitu familiar denganku.Gak mungkin wanita itu Shinta kan?dia kan tak mengenal Bimo,dan juga saat kejadian itu,dia masih berada diluarkota,dan baru pindah kesini dua tahun yang lalu."Gumam Bryan mengacak rambutnya karena bingung.


Dia pun memilih pulang kerumah orangtuanya.Namun tiba tiba ibunya menelpon,lalu segera diangkatnya telepon tersebut.


"Hallo bu,tunggu aku pulang yah.Sekarang aku sudah dalam perjalanan.Bryan pengen minta maaf pada ibu dan bapak."Ucap Bryan dengan nada pelan.

__ADS_1


"Nak,lebih baik kamu jangan dulu pulang kerumah yah!Soalnya,nenek ada disini sekarang.Dan yang beliau tau,Adel sekarang lagi diluar kota sama kamu."


"Baiklah bu.Kalau gitu Ibu tetap rahasiakan ini dari nenek yah!sekarang aku akan mencabut tuntutan Adel dikantor polisi."Ucap Bryan lalu memutuskan telepon.


Bryan melajukan mobilnya menuju kekantor polisi,dan yakin untuk mencabut tuntutan terhadap istrinya itu.Saat sampai dikantor polisi,dia pun segera meminta agar Adel dibebaskan dari tuntutannya.


Namun pihak yang berwajib,memintanya untuk mengikuti prosedur penarikan tuntutannya.Dan itu semua disetujui oleh Bryan.Dia diminta untuk datang pada esok hari untuk menyelesaikan prosedur yang berlaku.


__________________


Lala mengunjungi Adel tanpa ditemani oleh Ani,karena sahabatnya yang satu itu harus masuk kerja setelah dua hari mengambil cuti.Lala kebetulan mengambil shift siang,jadi masih ada waktu untuk datang menemui Adel dikantor polisi.


"Gimana La,apakah kalian berhasil menemukan bukti ditempat kejadian itu?"tanya Adel saat menghampiri sahabatnya itu.


Lala menggelengkan kepalanya membuat Adel menundukan kepalanya kecewa dan harus pasrah menerima kenyataan pahit mendekam didalam penjara.Ada raut kesedihan diwajahnya,membuat Lala mencoba menyemangatinya kembali.


"Maafin kami Del,karena belum bisa membantumu.Tapi kami akan mencoba untuk membuntuti pak Mario,karena menurutku dia tau tentang semuanya namun menutupi itu semua karena telah bekerja sama dengan wanita itu."Ucap Lala yakin.


"Gak perlu La,mungkin ini memang takdirku.Aku tak berharap lagi untuk mendapatkan bukti.Karena wanita itu bilang,dia sudah melenyapkan semuanya."Ucap Adel pasrah.


"Jangan bilang kamu menyerah Del.Mana Adel yang kukenal dulu,yang tak gampang menyerah dalam menghadapi masalah?pokoknya,aku akan berusaha untuk menolongmu keluar dari tempat ini."Ucap Lala meneteskan airmata.


"Terima kasih karena kamu mau membantuku saat diriku kesulitan.Tapi,kamu juga punya kehidupan sendiri La.Aku gak mau merepotkan kalian berdua.Jangan khawatirkan aku,semua akan baik baik saja.Aku punya rencana agar bebas dari sini kok."Ucap Adel ikutan menangis.


"Rencana apa Del?"tanya Lala penasaran.


"Sudah,kamu gak perlu tau.Sekarang kamu pulang dulu sana,masuk shift siang kan?jangan sampai dipecat dari pekerjaanmu yah La."Ucap Adel lalu berdiri untuk masuk kembali kedalam sel.


"Baiklah Del,besok aku usahakan untuk datang disini lagi."Ucap Lala lalu beranjak pergi keluar dari ruangan itu.


Saat Adel kembali,dia sudah meyakini untuk menerima tawaran wanita itu.Mungkin hanya itu yang bisa membuatnya keluar dari tempat itu.Dia tak mau neneknya tau kalau dirinya masuk kedalam penjara.


"Aku akan ikuti kemauanmu,namun aku percaya pada takdir yang akan merubah segalanya.Kamu akan menerima karmanya,dan hidupku bisa bahagia seperti dulu lagi.Hanya perlu untuk bersabar,waktu itu akan tiba dengan sendirinya."Gumam Adel mengumbar senyum.

__ADS_1


__ADS_2