
"Suara tangisan itu? sepertinya aku pernah mendengar suara isakan seperti itu, dan terasa seperti aku pernah menenangkannya juga. Tapi gak mungkin dong, wanita itu? mungkin perasaan ku aja kali. " Ucap Fabian lalu bergegas menaiki anak tangga untuk masuk kedalam kamarnya.
Karena sudah pagi, dia memilih untuk membersihkan dirinya dan membiarkan Viona terlelap dalam mimpinya. Setelah selesai mandi, dia pun turun kembali kebawah untuk sarapan. Sebenarnya dia ingin membangunkan Viona agar bisa sarapan bersama, namun diurungkan niatnya tersebut karena sepertinya Viona masih ingin berada dalam alam mimpinya.
Ternyata diruang dapur sudah ada neneknya dan juga Adel yang sedang menyiapkan sarapan. Keduanya tersenyum saat melihat Fabian yang sekarang sudah duduk di meja makan. Tak pernah berubah, selalu saja sarapan tepat waktu.
"Sekarang kamu antarkan nasi goreng buatanmu ini untuk suamimu! siapa tahu setelah memakannya, suamimu itu bisa perlahan mengingat mu kembali. " Bisik Bu Rahma sehingga membuat Adel mengangguk tanda mengerti.
"Mas, ini sarapannya sudah siap. Sekarang kamu makan yah, dan semoga kamu suka dengan nasi gorengnya. " Ucap Adel namun Fabian menatapnya dengan datar.
"Aku kan sudah pernah katakan, panggil aku Fabian saja, jangan sok kenal denganku memanggil ku dengan sebutan Mas. " Ucap Fabian lalu menyendok nasi goreng itu dan memakannya.
Adel tepuk jidat karena lupa dengan omongan suaminya kemarin. Demi kesembuhan suaminya, dia pun meminta maaf dan berjanji tak akan mengulangi kesalahan nya lagi. Saat Bu Rahma mendekati keduanya untuk sarapan bersama, Tiba-tiba datanglah Viona dengan tampang lusuhnya khas orang baru bangun tidur.
Bukannya cuci muka dulu, Viona dengan santainya duduk disamping Fabian dan langsung menyendok nasi goreng di piring yang ada dihadapan Adel.
"Viona, kamu itu tak punya sopan santun sama sekali. Itu kan piring Adel, kenapa main rebut aja sih? ini nih ciri-ciri wanita pemalas. " Ucap Bu Rahma namun wanita itu memutar bola mata nya malas.
'Ini mah bukan ciri-ciri lagi, tapi emang udah kelihatan banget malasnya ditambah joroknya pun kebangetan, aneh yah kenapa dulu suamiku malah kepincut padanya. 'Ucap Adel dalam hati.
" Udahlah, Nek. Hanya masalah sepele aja kok sampai ngatain istriku seperti itu. Lagipula Adel bisa mengambil piring untuknya sendiri kan? "ucap Fabian membela Viona sehingga wanita itu terlihat senang.
Karena Adel tak ingin menciptakan perdebatan antara nenek dan suaminya, akhirnya dia bangkit berdiri untuk mengambil piring untuknya sendiri. Namun saat hendak mengambil nasi goreng, ternyata sudah habis dituang Viona ke piringnya. Namun, Adel tetap sabar sehingga dia memilih untuk memanggang roti saja, karena dirinya sedang malas jika harus membuat nasi goreng lagi.
__ADS_1
"Upss, maaf yah nasi gorengnya habis. Udah tau banyak orang, bukannya masak yang banyak,tuh akibatnya jadi gak kebagian deh. " Ucap Viona membuat Bu Rahma geram.
"Viona.. cukup yah! harusnya kamu bisa menyiapkan sarapan untuk dirimu sendiri. Adel loh yang masakin ini semua, kamu tau enaknya aja. "Ucap Bu Rahma dengan lantang.
" Nek, udah yah, jangan marah-marah lagi. Adel gak apa-apa kok. "Ucap Adel selembut mungkin.
" Oh jadi dia yang bikin nasi goreng ini? pantesan gak enak. "Ucap Viona lalu meminum air yang ada didepan Fabian. Namun lelaki itu tidak marah sedikitpun melihat sikap Viona.
'Gak enak apanya? buktinya bersih tuh piring tak bersisa. " Ucap Adel dalam hati.
Setelah sarapannya habis, Viona langsung bangkit berdiri dan kembali masuk kedalam kamarnya. Hal itu membuat Bu Rahma geleng-geleng kepala melihat tingkah cucu perempuannya yang menurutnya kurang ajar. Namun kembali Adel menenangkan hati Bu Rahma agar selalu sabar dalam menghadapi wanita itu.
Fabian terlihat diam saja, tak mau berkomentar. Hingga setelah dia melap mulutnya menggunakan tisu, dia pun membuka suara dan mengatakan bahwa hari ini dirinya akan kembali masuk untuk bekerja. Awalnya Bu Rahma menolak dengan alasan kondisi cucunya itu belum sepenuh nya pulih. Namun Fabian bersikeras sehingga Bu Rahma tak bisa melarangnya lagi.
"Sekretaris? emangnya wanita ini pernah jadi sekretaris ku sebelumnya? kok aku gak ingat yah, Jangan-jangan ini rencana nenek lagi untuk memata-matai diriku. " Ucap Fabian memicingkan matanya.
"Gak perlu nanya, intinya sekarang nenek memilih Adel untuk menjadi sekretaris mu. Kamu gak boleh nolak keputusan dari nenek. " Ucap Bu Rahma mengacungkan telunjuknya dihadapan Fabian.
Karena itu merupakan keputusan sangat nenek, akhirnya Fabian pun setuju dan berharap Adel bisa diandalkan dalam bekerja bersamanya nanti. Adel mengacungkan dua jempol tanda setuju dan berjanji akan menjadi sekretaris yang dapat diandalkan.
Hal itu membuat Viona protes dan mengatakan dia tak mau kalau Fabian dekat-dekat dengan wanita lain. Dia juga sempat berbisik ditelinga Fabian bahwa Adel mempunyai rencana licik untuk memisahkan mereka berdua.
"Kamu tenang aja, sayang aku tak akan kepincut dengan wanita lain kok. Hanya kamu wanita satu-satunya yang paling kusayangi. " Ucap Fabian mengelus pipi Viona dengan lembut membuat hati Adel terasa perih melihatnya.
__ADS_1
Saat Fabian menaiki anak tangga untuk bersiap-siap, dan Adel juga masuk kedalam kamarnya,Bu Rahma langsung menghardik Viona dan berkata agar wanita itu pergi jauh-jauh dari kehidupan Fabian. Namun Viona tak gentar malah menantang neneknya sendiri dan mengatakan bahwa kini dirinyalah yang menjadi pemenangnya.
"Jangan mimpi kamu yah. Fabian seperti ini juga karena sedang amnesia. Bisa dipastikan setelah ingatannya kembali tentang Adel, kamu akan menerima hukuman karena telah melakukan tindak penipuan. Ngaku-ngaku sebagai istri dari cucuku. " Ucap Bu Rahma sambil berbisik ditelinga wanita itu.
"Oya, kita lihat saja nanti, Nek. Kenapa sih dari dulu kayaknya nenek itu gak suka banget sama aku. Bahkan dari aku kecil nenek tak pernah memberi ku kasih sayang. " Ucap Viona menuangkan rasa penasarannya atas sikap sang nenek selama ini.
"Kamu nanya? kamu bertanya-tanya? ok nenek kasih tau yah, kamu itu bukan cucu kandung nenek. " Ucap Bu Rahma berterus terang.
"Maksud nenek? " tanya Viona belum paham maksud ucapan Bu Rahma tadi.
"Kamu boleh tanyakan langsung pada orangtuamu tentang asal usul mu yang sebenarnya! " ucap Bu Rahma lalu beranjak meninggalkan Viona yang masih berdiri mematung.
Fabian kembali menuruni anak tangga dan dia terlihat sangat tampan dan berwibawa saat menggunakan baju ala-ala CEO. Begitu juga dengan Adel yang keluar dari kamarnya dan terlihat cantik saat menggunakan baju ala sekretaris pada umumnya.
"Sayang, aku tak mau yah kalian berangkat bersama. Mbak Adel bisa berangkat sendiri, kalau dibiarkan bersama, nantinya dia kegenitan sama kamu. " Ucap Viona bergelayut manja kepada Fabian.
"Gak apa-apa kok berangkat bareng biar nanti dia juga bisa langsung bekerja. Kamu tenang aja, aku gak akan macem-macem kok. " Ucap Fabian lalu mengecup kening Viona dengan lembut.
Tentu saja hal itu membuat hati Adel teriris. Viona juga sengaja bermanja pada Fabian untuk membuat hati Adel terbakar cemburu, dan itu berhasil. Namun sebisa mungkin Adel bersikap biasa saja dan beranggapan itu dilakukan Fabian karena saat ini suaminya tersebut sedang mengalami amnesia ringan.
"Awas yah, sayang kamu menggoda wanita lain! " ucap Viona saat Fabian masuk kedalam mobilnya.
"Yah gak apa-apa dong kalau dia menggoda istri sahnya sendiri. Emang kamu siapa ngelarang-larang yang bukan hakmu? dasar wanita aneh. " Bisik Adel lalu ikut masuk kedalam mobil.
__ADS_1
Mendengar hal itu membuat wajah Viona langsung berubah seperti udang yang direbus.