Merindukan Malam Pertama

Merindukan Malam Pertama
Akhirnya bisa ikhlas


__ADS_3

Pov Lala


____________________


Melihat keadaan Adel membuatku turut merasakan kesedihan. Setelah banyak melalui masalah-masalah yang silih berganti menghampirinya, kini diterpa masalah yang lebih berat lagi. Semoga saja semuanya kembali normal, dan Adel bisa kembali bangkit untuk menjalani hidup kedepannya.


Kini dia terbaring lemah setelah diberi obat penenang. Sungguh, aku sangat takut jika kejiwaannya terganggu. Karena menurut dokter memang sudah mengarah kesitu. Tapi semoga itu hanya perkiraan dokter saja, aku yakin Adel adalah wanita yang kuat dan pemikirannya akan kembali normal.


Tak berapa lama bu Ida dan kedua mertua Adel datang menghampiri dan menanyakan tentang kondisi Adel kepadaku,


"Kita do'akan yang terbaik aja yah buat Adel. Saat ini dia hanya memerlukan perhatian dari kita semua, dan nanti kita mencoba untuk menjelaskan semuanya secara perlahan aja yah, agar dirinya tak merasa syok. " Ucapku sambil menggenggam tangan Adel yang terbaring lemas.


"Iya, sebaiknya kita tunggu Adel tenang dulu, baru kita jelaskan secara perlahan kepadanya. Bapak yakin, walaupun berat, Adel pasti bisa melewati ini semua dan mengikhlaskan kepergian suaminya. " Ucap pak Hadi membuat kami semua mengangguk setuju.


Bu Ida lalu menghampiri cucu kesayangannya itu dengan berlinangan airmata. Sambil menangis, beliau mengatakan setelah Adel sadar nanti, akan langsung membawanya pulang ke kampung. Mendengar penuturan bu Ida, aku pun setuju.


"Iya, setelah dia sadar nanti, lebih baik diajak pulang ke kampung dulu. Mungkin disana pemikirannya bisa tenang, sehingga lambat laun dia bisa menerima semua kenyataan ini. Yang paling terpenting saat ini adalah kesehatan jiwanya. " Ucapku memberi solusi.


Akhirnya kami bersepakat untuk membawa Adel kekampung halaman agar kondisi kejiwaannya kembali normal. Karena Adel belum siuman, aku pun pamit untuk membayar administrasi.


Saat tiba di tempat pembayaran, aku teringat dengan kecelakaan yang menimpa suami Adel. Mungkin saja sempat dilarikan dirumah sakit ini? jadi aku pun bertanya kepada petugas dibagian administrasi tersebut,


"Suster.. apakah tadi siang ada korban kecelakaan yang dirawat dirumah sakit ini? "


"Oh, tunggu yah aku lihat dulu! " ucap suster tersebut sambil mengecek buku yang ada di depannya.


"Siang tadi, ada korban kecelakaan yang dialami oleh dua orang. Yang satunya dalam keadaan tak bernyawa, dan satunya lagi mengalami luka ringan. " Ucap suster itu lagi membuatku yakin kalau yang dimaksud itu adalah Bryan dan Rania.


"Terus yang korban mengalami luka ringan itu, apakah masih dirawat di tempat ini? " tanyaku penasaran.

__ADS_1


"Barusan dijemput oleh suaminya, karena sudah diperbolehkan pulang oleh dokter yang menanganinya. "


Dijemput oleh suaminya? perasaan suami Rania kan berada dirumah sakit jiwa, bagaimana mungkin bisa menjemput Rania di tempat ini? apa jangan-jangan, lelaki itu adalah Mario? untuk menghilangkan rasa penasaran ku, kembali aku bertanya kepada suster itu sambil menunjukkan foto Mario yang tersimpan di ponselku.


Agh, jangan tanya mengapa foto Mario bisa ada di ponselku. Sebenarnya aku adalah pengagum rahasia nya dan selama ini mengambil gambarnya secara diam-diam. Tapi itu dulu sebelum aku tau kebusukannya. Untunglah masih ada yang tersimpan, jadi bisa kutunjukkan kepada suster tersebut.


"Ah, iya benar.. lelaki itu yang datang menjemputnya disini. " Ucap Suster itu saat melihat foto yang kutunjukkan.


"Makasih yah, Sus atas informasinya. Sekarang aku ingin membayar biaya pengobatan pasien atas nama Adel Larasati. " Ucapku lalu Suster tersebut memberi perincian nya.


Setelah beres membayar administrasi, tinggal menunggu Adel pulih, lalu bersiap untuk mengantarkan nya kekampung. Dan tugasku saat ini adalah memberitahu kepada kedua mertua Adel tentang keberadaan Bimo. Pasti mereka senang atau mungkin juga akan syok saat tau kebenarannya.


Saat masuk kembali kedalam ruangan tempat Adel dirawat, ternyata dia belum sadar juga. Sambil menunggu, aku pun mencoba untuk memberitahukan semuanya kepada mereka.


"Om, tante, aku ingin mewakili Adel dan Bryan untuk mengatakan kabar bahagia. Mengingat Bryan yang sudah tiada, dan Adel yang keadaannya belum stabil, jadi aku yang harus mengatakan hal ini pada kalian. " Ucapku gugup karena takut mereka syok mendengarnya.


"Sebenarnya, siang tadi Bryan menyeret Rania untuk pergi ke kantor polisi. Namun naas nya malah mengalami kecelakaan." Ucapku menjelaskan dari awal.


"Membawa wanita itu ke kantor polisi karena masalah apa? " kali ini bu Astuti yang bertanya.


"Karena Rania selama ini telah memalsukan kematian Bimo. Dia marah, lalu menyeret Rania masuk kedalam mobilnya dan hendak menjebloskan wanita itu ke penjara. " Ucapku membuat mereka terkejut.


"Maksud kamu ini apa? memalsukan kematian Bimo, sungguh membuat kami bingung. " Ucap pak Hadi mendekati ku untuk meminta penjelasan.


"Bimo masih hidup, hanya saja jiwanya terganggu. Sekarang dia ada dirumah sakit jiwa, dan selama ini Rania yang menyembunyikan nya disana. "


Jelas kulihat wajah mereka tak mempercayai ucapanku. Sehingga aku memberikan alamat rumah sakit itu biar mereka melihatnya sendiri. Aku tak mau mengantar mereka kesana karena saat ini aku hanya fokus kepada sahabatku.


Tanpa menunggu lama, mereka pun pamit untuk memastikan ucapanku. Bu Ida menatapku meminta penjelasan karena mungkin beliau belum paham dengan ucapanku. Apalagi beliau juga tak mengenal Rania, yah jelas bingung lah.

__ADS_1


"Nanti aja aku jelaskan semuanya kepada nenek. Intinya itu, Bimo masih hidup walau keadaanya sekarang sangat memprihatinkan. Untuk saat ini kita fokus dengan keadaan Adel dulu yah? " ucapku membuat bu Ida mengangguk.


Akhirnya, Adel pun sadar lalu dirinya menangis histeris. Mungkin dia sudah mulai percaya dengan kenyataan yang ada. Saat melihat kearah bu Ida, dia pun mencoba bangkit dan memeluk neneknya dengan rasa kesedihan yang begitu mendalam.


"Nenek, benarkah mas Bryan sudah pergi meninggalkanku? jawab Adel dengan jujur, nek. " Tangis Adel pecah.


"Kamu yang sabar, nak. Kamu harus kuat, dan juga harus mengikhlaskan semuanya. " Ucap bu Ida membuatku turut bersedih.


"Adel belum siap kehilangan mas Bryan, nek. Dia sudah janji akan membahagiakan Adel, dan akan membawa Adel untuk pindah keluar kota. " Ucap Adel membuat kami ikut larut dalam kesedihan yang dirasakan oleh Adel.


"Nak, kuatkan hatimu. Sekarang, ikut nenek kekampung yah? biar pikiran kamu tenang. Kalau kamu seperti ini, nenek khawatir, nak. " Ucap Bu Ida mengusap airmata Adel dengan jari tangannya.


Untungnya Adel mau menurut, dan kondisinya tidak seperti tadi lagi. Terima kasih ya Allah, karena keadaan sahabat ku sudah membaik. Dalam kesedihannya, tak lupa pula dia bertanya tentang kedua mertuanya.


"Mereka sudah tau tentang keadaan Bimo yang sebenarnya. Dan sekarang mereka sedang menuju ke rumah sakit tempat Bimo dirawat tersebut. Sekarang kamu tenang yah, dan hari ini kita akan pulang kampung. " Ucapku membuatnya mengangguk.


"Sebelum pulang ke kampung, kita mampir di makam mas Bryan dulu yah? " ucap Adel membuatku senang karena akhirnya dia bisa menerima semuanya.


"Kamu yakin gak apa-apa? " tanyaku sedikit ragu, takutnya nanti akan kejadian seperti tadi lagi.


"Kamu tenang aja, aku kuat kok. " Ucapnya lagi membuatku lega.


Sebelum keluar dari rumah sakit, dokter sempat memberitahu kepadaku untuk lebih memperhatikan kondisi mental Adel. Dan dokter juga menyarankan untuk tidak terlalu mengingatkannya pada kejadian yang bisa membuat pemikirannya stress.


Sebelum pulang kampung, seperti permintaannya, kami mampir sebentar dimakam Bryan. Sambil menangis, Adel mengucapkan kata perpisahan dengan suaminya tersebut.


"Mas, sebenarnya aku tak percaya secepat ini kamu meninggalkan ku. Namun mungkin ini memang lah takdir kita untuk berpisah. Aku mencintaimu.. maafkan aku kalau selama ini tak bisa jadi istri yang baik untukmu. Kamu yang tenang yah di alam sana, kalau kamu rindu padaku, aku menunggumu dalam mimpiku. " Ucap Adel sambil menabur bunga diatas makam tersebut.


Beruntunglah, kini Adel sudah mengikhlaskan kepergian suaminya. Tapi walaupun begitu, dirinya harus selalu diawasi agar tak larut dalam kesedihan yang mendalam. Dan mungkin jika dekat dengan keluarga dikampung, bisa menghilangkan kesedihan itu dan dirinya tak mengalami yang namanya depresi lagi.

__ADS_1


__ADS_2