Merindukan Malam Pertama

Merindukan Malam Pertama
POV Rania part akhir


__ADS_3

Seminggu kemudian, Shinta memutuskan untuk pindah dari kontrakan ku. Karena, Bryan memberikannya sebuah apartemen. Sebenarnya dia mengajak ku serta, tapi aku menolak karena diriku tak ingin terlihat oleh kekasihnya tersebut. Akhirnya, tersisa aku dan anakku yang tetap tinggal dikontrakan sederhana ini.


"Shinta, apakah kamu juga memacari Mario? apa kamu tak takut kehilangan Bryan? " tanyaku kala dirinya sedang membereskan pakaiannya di sebuah koper miliknya.


"Aku hanya memanfaatkan Mario kok. Karena dia sudah banyak membantu. Kemarin aja, dia berhasil membuat Adel dimarahi oleh Bryan. " Ucapnya membuatku bingung.


"Ceritanya gini loh, kemarin itu aku membuntuti Adel, nah kebetulan dia mampir di restoran milik Mario. Yah udah aku suruh aja Mario mendekati wanita kampung itu dengan berpura-pura menabrak dirinya hingga tercipta adegan romantis. Saat Adel mau jatuh, tangan Mario langsung menarik dan memeluknya. Kesempatan itu yang ku gunakan untuk mengambil gambarnya. " Ucapnya lagi membuatku paham.


"Oh, jadi setelah melihat foto mereka berdua, Bryan menyangka kalau istrinya itu selingkuh dengan Mario? haha udah kubayangkan yang terjadi selanjutnya, pasti wanita itu disiksa oleh Bryan. "


Shinta hanya mengangguk menanggapi ucapanku. Semenjak saat itu, ada banyak yang diceritakan oleh Shinta mengenai perkembangan yang terjadi antara Bryan dan istrinya tersebut. Sebenarnya aku tak terlalu mempedulikannya sih, biarin aja itu jadi urusan Shinta. Kan dia yang mempunyai dendam, bukan aku. Kalau Shinta tau yang sebenarnya pasti dia akan marah besar padaku.


sepuluh bulan kemudian, aku harus menerima kenyataan bahwa adik perempuanku menderita penyakit serius. Mungkin ini karma, karena selama ini dia telah berbohong kepada Bryan meminta uang untuk berobat ibu yang sedang dirawat dirumah sakit karena kanker.


Sungguh malang nasibmu, dek. Aku juga tak bisa menolongmu. Hingga dokter meminta untuk memutuskan siapa yang akan diselamatkan antara Shinta atau bayinya. Sebenarnya aku ingin Shinta yang diselamatkan, namun karena mengingat Ali, anakku juga butuh kasih sayang seorang ayah, aku jadi mempunyai rencana.


"Dek, lebih baik kamu mengalah, dan biarkan anakmu yang diselamatkan. Lagipula, walaupun nanti kamu yang diselamatkan oleh dokter, tapi itu tak akan berlangsung lama. Kamu ingat kan kata dokter, bahwa penyakitmu sudah masuk stadium akhir."


" Tapi kak, aku masih ingin menikmati hidup didunia ini. "Tangisnya pecah mendengar penuturan ku.


" Menikmati hidup tapi merasakan sakit yang luar biasa, emang kamu sanggup? berpikirlah secara jernih, biarkan anakmu yang menggantikanmu menikmati dunia ini. "


"Kak, kalau nanti dia lahir, tolong rawatlah dia yah? dan aku mohon lanjutkan dendam kita kepada wanita kampung itu. Setelah terbalas, tolong antarkan bayiku pada Mario. Karena dia adalah ayah biologisnya. " Ucap Shinta membuatku kaget.

__ADS_1


Ternyata Shinta belum mau memaafkan wanita itu. Aku turuti saja keinginannya, dan meminta kepadanya untuk menikahkan Bryan denganku. Mungkin dengan cara itu, Ali bisa dekat dengan ayah kandungnya. Aku melakukan ini hanya untuk kebahagiaan Ali.


Dan aku juga tak menyangka, ternyata bukan Bryan yang menghamili adik perempuan ku itu melainkan Mario. Mengetahui hal itu, akupun berkata jujur kepadanya,


"Ali itu sebenarnya anaknya Bryan, dek. Maafkan kakak selama ini tak mengatakan nya padamu karena takut kamu marah dan tak mau menganggap kakak lagi. " Ucapku membuatnya terkejut.


"Bagaimana mungkin, kak? Bryan tak pernah menceritakan hal itu kepadaku. "


"Itu terjadi karena sebuah kesalahan. Karena kehamilanku, Bimo pergi meninggalkan ku. Dia mandul, dan sangat yakin kalau aku berselingkuh. "


Shinta menangis mendengar pengakuan ku. Tapi sekarang dia tak bisa lagi melakukan apa-apa karena kondisinya yang semakin parah. Kemudian datanglah Bryan menjenguk adik perempuan ku. Awalnya aku mengira dia akan mengenali ku,untungnya tidak sama sekali.


Mungkin karena Shinta mengerti posisiku, dia pun meminta Bryan untuk menikahi ku, dan rela mati untuk menyelamatkan bayinya. Namun Bryan menolak permintaan itu, dan hendak melangkahkan kakinya keluar. Namun, Shinta mengucapkan sesuatu sehingga langkah kakinya terhenti diambang pintu,


Namun lelaki itu tetap melangkah pergi sehingga membuat ku emosi.


" Mereka berdua sudah masuk dalam perangkap. Dan orang suruhan ku sudah mengirimkan beberapa foto yang terlihat romantis. " Ucapku lalu mengambil ponsel Shinta untuk menyalin foto tersebut dan mengirimkan kepada Bryan.


"Gimana caranya kakak menjebak Adel dan Mario? " tanya Shinta penasaran.


"Kamu gak perlu tau, sekarang persiapkan dirimu untuk melakukan operasi. Setelah anak itu lahir, kakak janji akan meneruskan dendam kita yang belum tuntas kepada wanita itu. " Ucapku terus meyakinkannya.


Semuanya berjalan dengan lancar, Bryan kembali dan menerima permintaan terakhir Shinta tersebut. Hatiku sangat bahagia karena sebentar lagi Ali bisa merasakan kasih sayang dari ayah kandungnya.

__ADS_1


Setelah Shinta dimakamkan, aku diajak oleh Bryan untuk tinggal dirumah orangtuanya. Namun aku juga masih sering mengontrol keadaan Bimo dirumah sakit. Sebenarnya ada rasa penyesalan dihatiku, yang tak berkata jujur kepada adik perempuan ku tentang kronologi kematian ibu kami. Tapi biarlah, semuanya sudah terlambat. Mungkin sekarang dia sudah bertemu dengan ibu dialam lain.


Tentang Mario, sampai saat ini dia belum tau tentang kematian wanita yang dicintainya. Aku membohonginya dan mengatakan kalau Shinta saat ini sedang berada diluar negeri, karena keinginannya untuk melahirkan dinegeri paman Sam tersebut.


Hingga pada hari ini, dirinya datang menemuiku untuk menanyakan tentang kabar Shinta, namun masih sangat sulit bagiku untuk berkata jujur kepadanya. Karena saat ini kami berada dirumah sakit,jadi kami memilih untuk berjemur ditaman rumah sakit tersebut untuk mengobrol,serta tak lupa membawa Bimo juga biar dia bisa menghirup udara segar.


Namun tanpa disangka, Bryan dan istrinya serta salah seorang wanita menghampiri kami yang membuatku terkejut bukan main. Bagaimana bisa mereka mengetahui kalau aku ada disini? aku melihat kearah Mario, dan dia mengangkat bahunya tanda tak tahu menau dengan semuanya.


Bryan marah kepadaku dan mengatakan akan menuntut diriku. Yah, mungkin aku harus menyerah dan melupakan semua tentang harta Bimo yang ingin ku kuasai. Melihat keadaannya sekarang yang tak ada perubahan, lebih baik kuakhiri saja.


Tapi aku meminta kepada Bryan saat aku dijebloskan kedalam penjara, dia mau merawat Ali dan mengakuinya sebagai anaknya sendiri. Karena memang dialah ayah kandungnya. Walau dia tak percaya, namun setelah mendengar ceritaku barulah dia sadar dan mengingat kejadian waktu dulu saat pertama kali dia mabuk ditempat karaokean.


Karena hidupku yang mungkin akan berakhir dipenjara, aku lantas mendekati Ali dan memeluknya seraya mengeluarkan air mata kesedihan. Kali ini aku yang menerima karma atas perbuatanku.


"Mama.. jangan tinggalkan Ali, ma. " Ucapan anakku membuat air mataku tumpah membasahi pipi ini.


"Sekarang, Ali tinggal bersama ayah, yah? kan selama ini Ali ingin bertemu dengan ayah. Mama hanya pergi sebentar kok, dan janji suatu saat nanti pasti akan menemui Ali dan tinggal bersama lagi seperti dulu. Gak boleh nakal yah? " Ucapku sambil terus memeluknya dengan erat.


Sebelum dibawa oleh Bryan kekantor polisi, aku meminta waktu untuk menemui Bimo, dan untungnya Bryan mau memberikan kesempatan itu.


"Bimo, maafkan aku kalau selama ini tidak memberitahu kepada keluargamu tentang keberadaan mu ditempat ini. Aku akui ini memang salah karena telah memalsukan kematianmu. Tapi, ini kulakukan karena tak ingin jauh darimu dan berharap bisa memulai rumah tangga kita dari awal lagi setelah kamu kembali normal nanti. Maafkan aku, Bim.. aku mencintaimu. "Ucapku sambil menangis memeluk tubuhnya untuk yang terakhir kalinya.


Sehingga pada akhirnya, aku pun sudah siap dibawa ke kantor polisi sekarang juga, dan menerima kenyataan untuk mendekam didalam penjara.

__ADS_1


__ADS_2