Merindukan Malam Pertama

Merindukan Malam Pertama
Kunci buku diary didalam tas


__ADS_3

Saat sedang makan malam,Shinta menyuruh Adel untuk makan didapur.Bukan hanya itu saja,Adel harus menunggu mereka selesai makan dulu lalu sisa makanan itu yang harus dihabiskan oleh Adel.


Bryan sempat protes terhadap istri sirinya itu,dan mengatakan tak seharusnya Adel memakan bekas mereka.Sudah cukup Adel bekerja untuk melayaninya,dan Bryan memohon agar Adel bisa makan,makanan yang layak.


"Semua itu dibeli pake uang,masih untung dikasih makan kan daripada tidak sama sekali."Ucap Shinta sinis.


"Kalau begitu kamu makan saja sendiri.Nanti sisanya kumakan bersama istriku."Ucap Bryan lalu menghampiri Adel.


"Pokoknya kamu makan bersamaku,kalau tidak aku akan pergi dari rumah ini."Ucap Shinta mengancam.


"Selalu saja kata kata itu keluar dari mulutmu.Andai saja kamu tak hamil..'Ucapan Bryan terpotong oleh Adel,


"Stop kalian berdua!tolong jangan bertengkar lagi.Sekarang kalian berdua makan dulu sampai kenyang,nanti aku akan memakan sisanya didapur."Ucap Adel menenangkan suasana.


Mereka berdua pun terdiam mendengar kalimat Adel.Shinta tersenyum sinis karena akhirnya Adel mau mengalah dan mengikuti semua perintahnya.Beda dengan Bryan yang tak bisa berbuat apa apa karena mengingat janin yang ada diperut Shinta.


Adel melayani keduanya hingga selesai menyantap makanan masing masing.Lalu,membawa piring bekas makan untuk dicuci.Bryan hendak membantunya,namun Shinta menyuruhnya untuk masuk kedalam kamar.


Saat kedua insan itu sudah masuk kedalam kamar,Adel pun terpikir kepada kedua sahabatnya.Lalu buru buru meraih ponselnya yang ada dikamar dekat dapur.Karena kebetulan dirinya sekarang tidur dikamar yang dikhususkan untuk pembantu.


Tak berapa lama,teleponnya tersambung.Adel memelankan suaranya saat sahabatnya itu menanyakan kabarnya.


"Hallo,Del..kamu baik baik saja kan?"tanya Lala khawatir.


"Aku baik baik saja,La.Oya,besok kita ketemuan yuk direstoran Rio saat makan siang!"ucap Adel mengajak sahabatnya itu.


"Ok,kami sudah kangen banget sama kamu,Del.Sekalian ada hal yang ingin kuceritakan pada kamu."Ucap Lala kemudian.


"Baiklah,sampai ketemu besok.Aku tutup dulu teleponnya,takut ketahuan nyonya besar."Ucap Adel terkekeh lalu memutuskan obrolan.


Satelah selesai menelpon sahabatnya,dia pun kembali kearah dapur untuk makan.Kemudian,dia mencuci semua piring kotor dan mengelap meja makan yang masih kotor.


Akhirnya semua rampung dibereskan olehnya.Dengan wajah yang kelelahan,dia pun menghempaskan dirinya kekasur.Dia pun menyusun rencana agar besok bisa bertemu dengan kedua sahabatnya.

__ADS_1


Dia pun teringat,kalau Shinta besok akan pergi menemui ibunya yang sedang dirawat dirumah sakit.Jadi kesempatan itu yang akan diambilnya,lalu dia pun memutuskan untuk tidur karena matanya sudah terasa berat.


Dikamar utama,Shinta masih saja merengek meminta uang kepada Bryan.Namun lelaki itu tak bisa memenuhi permintaannya karena merasa Shinta terlalu boros.


"Aku gak mau tau,sayang.Pokoknya kamu harus memberikan aku uang."Ucap Shinta ngambek.


"Aku sudah tak punya uang sebanyak itu.Tolong,kamu jangan terlalu boros!Lihat Adel,dia tak pernah meminta uang sebesar seperti yang kamu minta."Ucap Bryan terus membandingkan.


"Kalau kamu gak berikan kepadaku,aku akan membocorkan kehamilanku ini kepada neneknya Adel.Aku sudah gak sabar melihat reaksi neneknya itu kalau tau tentang hubungan kita yang sebenarnya."Ucap Shinta mengancam.


"Kamu tuh bisanya mengancam melulu.Aku menyesal pernah mencintai kamu,Shin."Ucap Bryan terduduk lesu dikasur.


"Harusnya kata kata itu kamu berikan kepada wanita kampung itu.Awalnya,kamu nikahi dia karena hanya dendam semata.Namun sekarang,malah belain dia dan mencampakanku.Aku gak nyangka kamu melakukan ini semua."Ucap Shinta sambil menangis.


Bryan yang melihat tangisan wanita itu tiba tiba mengingat ucapan dokter kandungan tadi siang.Dia pun mendekati wanita itu dan meminta maaf,lalu mengatakan akan memberikan uang yang diminta oleh wanita tersebut.


Shinta tersenyum bahagia mendengar perkataan Bryan yang akhirnya memenuhi permintaannya.Tak lama,Bryan menyuruh Shinta untuk meminum obat.Dan wanita itu menyuruh Bryan mengambilkan obat didalam tasnya.


Dia hendak mengambil kunci tersebut,namun tiba tiba tas tersebut dirampas Shinta dari tangannya.


"Lama amat sih,sini biar aku aja yang ngambil obatnya."Ucap Shinta membuat Bryan kaget.


"Sekarang kamu minum obat yah,aku mau ketoilet dulu."Ucap Bryan melangkahkan kakinya ketoilet.


Bryan merasa yakin,kunci yang ada ditas Shinta itu adalah kunci buku diary yang ditemukannya diapartemen Shinta waktu itu.Dan itu sama persis dengan punya Bimo.


Dalam pikirannya,dia tak akan mengatakan kepada Shinta kalau buku diary wanita itu sudah ada ditangannya.Dia berniat untuk mengambil kunci tersebut dari wanita itu untuk membuktikan semuanya.


Kembali teringat saat istrinya pernah mengatakan kalau Shinta lah yang menyebabkan Bimo meninggal.Ditambah lagi saat Mario mengatakan wanita yang pernah dekat dengan Bimo selain Adel adalah wanita yang sangat dekat dengannya.


Walaupun belum sepenuhnya yakin kalau wanita itu adalah Shinta,dia berusaha mencari cara untuk mengambil kunci buku diary tersebut dari tangan wanita itu agar semuanya terbukti.


"Sayang,kamu kok lama amat sih ditoiletnya?"ucap Shinta membuat lamunan Bryan buyar.

__ADS_1


"Iya tunggu sebentar,perutnya mules soalnya."Ucap Bryan dibalik toilet.


Dia pun segera keluar dari toilet dan menghampiri wanita itu.Dengan wajah yang kesal,Shinta mengutarakan isi hatinnya kepada Bryan untuk dituruti.


Bryan hanya menganggukan kepalanya menyetujui semua omongan Shinta agar wanita itu menghentikan ocehannya.Lalu,menyuruh wanita itu istirahat karena dirinya juga sangat lelah.


"Tapi jangan lupa yah,besok pagi kamu transfer uangnya kerekeningku.Dan sesuai perkataanku tadi siang,besok aku akan menjenguk ibuku dirumah sakit."Ucap Shinta memeluk tubuh lelaki itu.


"Iya,tapi jangan lama lama keluarnya.Ingat kondisi kamu dan janin yang ada diperutmu itu!"ucap Bryan memberi izin.


"Baiklah,sekarang ayo kita tidur!"Ucap Shinta lalu menyuruh suaminya itu untuk mematikan lampu.


Dikamar pembantu,Adel yang sudah setengah tidur merasa kaget saat mendengar ponselnya berdering.Dia melihat kelayar ponsel,ternyata neneknya yang menelpon dan ingin mengobrol lewat video call.


Adel segera keluar dari kamar tersebut dan pindah kekamar tamu.Setelah mengatur nafas,dia pun segera mengangkat telepon dari neneknya tersebut.


"Hallo nak,apa kabar kalian?"ucap nenek dengan wajah bahagia.


"Kabar baik,nek.Oya ibu dan bapak mertua masih disitu yah?"tanya Adel kepada neneknya.


"Iya,nih ibu mertuamu ingin mengobrol denganmu,katanya."Ucap nenek lalu memberikan ponsel kepada ibu mertua Adel.


"Hallo,sayang.Kami sangat rindu pada kalian berdua.Besok,ibu dan bapak akan pulang.Dan kami berencana untuk mampir dirumah kalian."Ucap ibu mertuanya kangen.


"Wah,iya bu.Kami akan menunggu kedatangan kalian.Kalau begitu,aku akan masak banyak besok untuk menyambut kepulangan ibu dan bapak."Ucap Adel dengan raut bahagia.


"Untuk besok,kita makan malam direstoran saja nak.Jadi kamu gak perlu masak,dan beritau mas mu yah akan hal ini."Ucap ibu mertuanya lalu memberikan kembali ponsel kepada nenek.


Adel pun mengobrol bersama neneknya dan memberitaukan kepada beliau kalau dirinya dalam keadaan baik baik saja.Setelah lama mengobrol,akhirnya obrolan terputus karena Adel beralasan sangat ngantuk.


Dia pun segera pindah kekamar pembantu dan menghela nafas panjang.Walaupun pedih yang dirasakannya,dia bertekat untuk menyembunyikan semua kepedihan itu dari neneknya.


Karena mata sudah berat dan merasa lelah seharian mengurus keperluan Shinta,akhirnya dia menaruh ponselnya diatas nakas dan mematikan lampu bersiap memejamkan mata untuk tidur.

__ADS_1


__ADS_2