Merindukan Malam Pertama

Merindukan Malam Pertama
Kawin lari


__ADS_3

Kita flashback dulu..


POv Rania..


Hari ini aku merayakan aniversary yang kedua tahun hubunganku dengan seorang lelaki yang umurnya jauh lebih muda dariku. Namanya Bimo Pradipta. Entah apa yang membuat kami saling jatuh cinta? sejak pertemuan yang tak disengaja, membuat kami bisa sedekat ini dan mampu mempertahankan hubungan selama dua tahun.


"Sayang, apakah kamu masih mencintaiku? " tanyaku takut dia udah bosan denganku.


"Kok pertanyaan mu aneh amat sih? yah jelas sayanglah, walaupun kamu yang lebih tua dariku, itu tak akan mengubah rasa cintaku padamu. " Ucapnya lalu memeluk diri ini dengan begitu mesra.


"Kalau begitu, ajaklah aku untuk menemui kedua orangtuamu! " ajakku sambil merengek kepadanya.


"Rencananya seperti itu. Besok kita kerumah orangtuaku dan aku akan memperkenalkan kamu sebagai calon istriku. Kamu mau kan menikah denganku? " Ucap Bimo membuatku senang sekali.


"Awas yah kalo bohong, pokoknya besok kita kerumah orangtuamu. Buktikan kalo kamu itu serius padaku! "


Dia pun berjanji akan menepati semuanya itu, dan juga mengatakan akan segera menikahiku.Walaupun sebenarnya aku ragu, pasti orangtuanya tak akan merestui hubungan kami. Tapi semoga besok semuanya berjalan sempurna.


_______________________


Sesuai janjinya, Bimo mengajak aku kerumah orangtuanya. Saat mobil memasuki halaman rumah calon mertua, upss ralat, rumah orangtua Bimo maksudnya. Rumahnya megah amat, ternyata dia anak orang kaya. Aku pikir, dia dari keluarga biasa aja. Soalnya penampilannya yang selalu sederhana.


Terlihat, kedua orangtuanya menghampiri anaknya tersebut dan memeluk seakan lama sudah tak bertemu. Sedangkan diriku masih betah didalam mobil, karena gerogi.


"Pak, bu.. Bimo akan mengenalkan calon istri nih, kepada kalian. " Ucap Bimo membuatku gugup mendengarnya.


"Calon istri? mana? " tanya ibunya melihat kearah mobil, mungkin sedang mencariku.


"Apa kalian seumuran? terus keluarganya dari kalangan apa? " tanya ibunya membuatku sungkan untuk turun dari mobil tersebut.

__ADS_1


Apa mungkin, kalo mereka tau aku yang lebih tua dari anaknya, masih akan menerima aku? kenapa aku jadi khawatir gini yah, takut tak dapat restu dari orangtua Bimo.


"Dia lebih tua dariku. Umur kami terpaut lima tahun. Dan dia juga dari kalangan biasa aja kok, bu. Tapi dia sangat baik, dan kami saling mencintai. " Ucap Bimo membuatku tersanjung.


"Bimo, jangan lanjutkan hubungan kalian. Kamu mau membuat keluarga kita malu? antar wanita itu pulang dan segera akhiri hubungan kalian itu! " ucap bapaknya membuatku syok seketika.


Ternyata benar, orangtuanya tak merestui hubungan kami berdua. Apa aku harus merelakan untuk berpisah dengan Bimo? apa aku sanggup melakukannya? sudah pasti gak sanggup lah.


"Pak, bu.. tolong Bimo sekali ini saja, untuk merestui hubungan kami berdua. Hari ini aku membawa dia untuk bertemu kalian. Karena sebentar lagi aku memutuskan untuk menikahinya. " Terdengar Bimo memohon kepada orangtua nya.


"Gila kamu Bimo.. Kamu pikir menikah itu gampang? harusnya kamu belajar pada abangmu, Bryan..yang serius dengan pekerjaannya dan tak ada seperti kamu ini, kuliah aja tak becus, malah memprioritaskan wanita itu. Gak ada kata nikah, selesaikan kuliahmu dulu! "Ucap bapaknya tampak emosi.


" Dan kamu yang didalam mobil, jauhi anakku! bisa-bisanya membuat Bimo tak fokus pada kuliahnya, malah minta dikawini segala. Cari lelaki yang pantas denganmu. "Ucap Bapaknya menusuk relung hatiku ini.


" Pak, tolong kali ini aja, turuti permintaan Bimo. Restui hubungan kami, selama ini, aku tak pernah meminta apapun pada kalian, tapi sekarang aku mohon kabulkanlah permintaan Bimo ini. Kalau tidak aku nekat untuk kawin lari dengannya. "


"Bimo, jangan lakukan itu, nak. Sana antar wanita itu pulang, lalu akhiri hubungan kalian, biar bapak gak mengusir kamu dari rumah ini. " Kali ini ibunya yang menasehati Bimo.


"Biarkan aku diusir, bu. Selama ini kalian juga tak mempedulikan aku dan hanya memprioritaskan bang Bryan doang kan? " ucap Bimo lalu masuk kedalam mobil.


"Kamu tak boleh berpikiran seperti itu, nak. Kami juga sangat menyayangimu. Kalian berdua sama-sama anak ibu dan bapak, gak ada yang dibeda-bedakan. Ibu tunggu kamu pulang, nak! " Ucap ibunya lalu Bimo menancap gas meninggalkan halaman rumah orangtuanya dengan perasaan yang sedih.


Dalam perjalanan, suasana terasa hening. Kami enggan untuk berbicara, karena masih merasa kecewa dengan keadaan yang terjadi barusan. Niat hati ingin mendapat restu dari orangtua Bimo, eh taunya, ditolak. Bahkan aku sampai tak jadi turun untuk berkenalan dengan mereka.


"Maafin aku yah, telah gagal untuk memperkenalkan mu kepada orangtuaku.Tapi aku janji akan segera menikahimu apapun resikonya. " Ucapnya namun tak ku tanggapi.


Hingga akhirnya,


"Sudahlah, Bim.. mungkin memang kita tidak berjodoh. Akhiri saja hubungan ini, dan carilah kebahagiaan dengan wanita yang sepadan denganmu. " Ucapku menahan air mata.

__ADS_1


"Apa kamu menyerah begitu saja? sayang, kita sudah lama menjalin hubungan ini,kumohon jangan pernah berpikiran untuk mengakhiri hubungan yang indah ini! "


"Tapi kamu dengar sendiri kan ucapan orangtuamu barusan? kalau kamu memilihku, nanti mereka akan mengusirmu dari rumah. " Tangisku pecah.


Melihat diriku yang sedang menangis, Bimo pun menepikan mobilnya lalu memelukku agar diriku ini tak merasakan kesedihan. Aku tau, dia sangat mencintaiku, begitupun denganku. Tapi, kalau orangtuanya tak merestui hubungan kami, apakah pantas aku mempertahankan hubungan ini? aku hanya tak ingin membuat Bimo jadi durhaka pada orangtuanya.


"Aku tak peduli bila harus diusir dari rumah mereka. Bagaimana kalau kita kawin lari saja? " ucapnya membuatku kaget.


"Apa kamu tidak takut kehilangan orangtua dan harta? pikirkan lagi, Bim. Aku hanya tak ingin kamu melawan kehendak orangtuamu. "


"Pokoknya kita menikah sekarang juga. Sekarang kita kesuatu tempat untuk melangsungkan pernikahan ini. Nanti setelah menikah, kita coba kembali ke rumah orangtuaku untuk mengatakan semuanya. Kalau mereka mengusirku, aku siap keuar dari rumah itu dan kehilangan semuanya. Aku hanya ingin kebahagiaanku, yaitu kamu. " Ucapnya membuatku terharu. Segitu besarnya rasa cintanya padaku.


Jujur saat ini aku bingung untuk memutuskan semuanya. Namun agar tak membuat Bimo kecewa, kuikuti saja maunya. Sehingga hari itu juga, kami menikah secara siri. Ada rasa bahagia karena akhirnya kami bisa menikah juga. Walaupun ada ketakutan dihati ini saat nanti melihat reaksi orangtua Bimo yang mengetahui kenekatan anaknya menikahiku secara diam-diam.


Untung saja aku dan Bimo punya tabungan, sehingga bisa mengontrak sebuah rumah yang lumayan luas untuk kami berdua tempati.Seminggu setelah pernikahan kami, Bimo kembali mengajakku untuk menemui kedua orangtuanya.


Namun sama seperti pertama kali datang, belum juga turun dari mobil, kedua orangtuanya tak mau bertemu denganku.


"Gak perlu dikenalin ke kami. Terserah kamu entah udah menikahinya, tapi kami tak sudi. Lebih baik sekarang kamu angkat kaki, dan tinggalkan mobil itu disini. Itu bukan mobil pribadi kamu, dan jangan pernah menunjukkan mukamu lagi dirumah ini. " Ucap bapak mertua mengusir anaknya sendiri.


"Bimo, tolong ibu, nak! akhiri hubungan kamu dengan wanita itu, agar bapak tak mengusirmu dari rumah ini. " Ucap Ibu mertua memohon kepada anaknya.


"Gak akan pernah aku meninggalkan istriku, bu. Baiklah aku akan angkat kaki dari rumah ini. Prioritaskan saja anak pungut kalian itu! " Ucap Bimo lalu mengajakku keluar dari mobil karena mobil itu sudah disita oleh bapaknya.


Saat melangkahkan kaki keluar dari halaman rumah kedua orangtuanya, tiba-tiba terdengar ibu mertua menangis histeris meminta tolong pada Bimo. Saat aku menoleh kebelakang, ternyata bapak mertua jatuh pingsan. Namun Bimo tak mau menghiraukan nya.


Sehingga sebuah mobil melewati kami masuk ke halaman rumah itu, rupanya dia seorang lelaki tampan dan bisa ku tebak dia adalah kakak angkatnya Bimo. Lelaki itu terlihat membopong bapaknya masuk kedalam rumah disusul oleh ibunya juga. Lalu aku dan Bimo tetap meneruskan langkah untuk pulang kerumah kami.


Sejak saat itu, Bimo putus hubungan dengan keluarganya, dan sangat membenci keluarganya tersebut. Selama ini dia merasa kurang kasih sayang dari orangtuanya. Mereka hanya fokus kepada anak angkatnya dan tak mempedulikan perasaannya. Begitu curhatannya padaku sehingga kami larut dalam tangisan meratapi nasib ini.

__ADS_1


__ADS_2