
Dua hari kemudian,Adel sudah diperbolehkan untuk pulang.Bryan lalu mengajaknya untuk pulang kerumah orangtuanya agar istrinya itu terhindar dari ancaman Shinta.
Adel menuruti perintah suaminya,karena memang saat ini dirinya belum sepenuhnya pulih untuk melakukan semua syarat yang diberikan oleh wanita itu.
Ketika sudah sampai dirumah,Bryan mengantar istrinya itu untuk istirahat dikamar.Lalu menyuruh bibi untuk membuatkan bubur,agar istrinya itu makan dan minum obat.
Saat tengah ngobrol,Bryan pun mempunyai ide lalu berkata pada istrinya itu.
"Gimana kalau kamu pulang aja dulu dikampung Del?untuk saat ini kamu harus memulihkan keadaanmu.Masalah Shinta,nanti aku yang mengurusnya."Ucap Bryan memberi saran kepada istrinya.
"Aku gak mau nenek tau keadaanku yang seperti ini,mas.Biarkan saja aku ikut kamu kerumah kita,aku siap kok menjalankan semua syarat itu."Ucap Adel menolak.
"Tapi Del,aku gak tega kalau melihat kamu menderita lagi.Selama ini aku memang bodoh telah melukai perasaanmu.Tapi aku tak akan mau lagi mebuatmu menderita,Del."Ucap Bryan menggenggam tangan istrinya itu.
"Iya mas,aku tau kamu sudah berubah.Tapi,syarat itu telah kutanda tangani diatas meterai.Dan aku tak mau Shinta berbuat nekat lagi seperti kemarin."Ucap Adel menatap wajah suaminya.
"Untuk sementara,gak apa apa kan kamu mengikuti kemauan Shinta?aku janji,setelah anakku lahir,semuanya akan berakhir dan kita berdua hidup bahagia."Ucap Bryan memberi janji.
Adel menganggukan kepalanya tanda setuju,lalu tak lama bibi datang mengantarkan makanan untuk Adel sehingga dia bangun dan memakan bubur itu sambil disuapi oleh Bryan.
Ada raut kebahagiaan diwajah Adel karena suaminya itu sudah tak seperti dulu lagi.Disaat Adel sedang memandangi suaminya tersebut, Bryan mendekatkan wajahnya dan menciumi bibir istrinya itu.Tiba tiba saja Shinta datang membuka pintu kamar.
"Wow,pemandangan luar biasa."Ucap Shinta bertepuk tangan membuat keduanya kaget.
"Shinta,bisakan kalau masuk ketuk pintu dulu?"ucap Bryan menatap wajah wanita itu dengan kesal.
"Ini kan kamar aku,ngapain harus permisi.Harusnya wanita itu yang minta izin masuk dikamar ini."Ucap Shinta menghampiri keduanya.
"Sudah,mas.Ini memang salahku,tak seharusnya aku istirahat dikamar kalian."Ucap Adel lalu berdiri untuk pindah kekamar tamu.
Bryan menuntun Adel keluar dari kamar itu,tapi Shinta tak terima dan menarik tangan Bryan agar tak membantu Adel.
"Sekarang perjanjian itu sudah berlaku.Bisa kan masuk kekamar kamu sendirian tanpa harus dituntun suamiku?"ucap Shinta dengan lantang.
"Lihat kondisinya dong,bisa kan semuanya dilakukan nanti setelah keadaannya pulih?"ucap Bryan membentak Shinta.
"Alaaaaaaah,palingan juga udah sembuh tapi pengen aja dapat perhatian dari kamu.Pokoknya hari ini juga,istri pertama kamu itu melakukan semua syarat yang kuberikan."Ucap Shinta melirik kearah Adel.
__ADS_1
"Aku gak apa apa kok,mas.Mulai sekarang,aku siap bekerja melayani tuan dan nyonya."Ucap Adel menundukkan kepalanya memberi hormat kepada Shinta dan suaminya.
Bryan tak terima dengan ucapan Adel,lalu membentak Shinta karena menyuruh istrinya itu menjadi babu dirumahnya sendiri.Shinta dengan santainya berkata,
"Sesuai perjanjian dong,kalau gak mau yah sudah biar aku angkat kaki dari rumah ini."Ucap Shinta melangkahkan kakinya keluar.
"Shinta,jangan lakukan itu!aku siap melayanimu sesuai perjanjian kita."Ucap Adel membuat Shinta tersenyum licik.
"Silahkan kamu pergi,aku tak peduli.Pokoknya,mulai detik ini istriku harus hidup bahagia."Ucap Bryan membuat Shinta membalikkan badannya.
"Benarkah?apa kamu tak menginginkan bayi dalam perutku ini?oh,sungguh kejam dirimu."Ucap Shinta menatap Bryan dengan sinis.
Adel lalu menengahi keduanya agar tak terjadi sesuatu yang tak diinginkan.Lalu dia berkata kepada suaminya agar menurut saja pada kemauan wanita itu.
Bryan akhirnya diam karena berpikir mungkin memang sudah tak ada jalan lain selain mengikuti kemauan istri sirinya itu.
"Baiklah,tapi hanya kamu saja yang dilayani dan aku turut membantu untuk melayanimu,nyonya besar."Ucap Bryan lalu menghampiri Adel dan menuntunnya untuk masuk kekamarnya.
"Siapa yang suruh kamu menuntun wanita itu hah?aku gak mau tau,sekarang kita pulang kerumah dan Adel harus siap melayani kita berdua."Ucap Shinta menghentikan langkah keduanya.
Bryan ingin meluapkan emosinya pada wanita itu,namun dengan cepat Adel menahannya.Dia tak ingin masalah ini semakin rumit.
Shinta merasa puas dengan apa yang diucapkan oleh Adel.Lalu dia melirik kearah Bryan yang sedang duduk melamun disofa.Dia pun menghampiri lelaki itu dan duduk disampingnya.
Bryan yang menyadari itu,memilih untuk diam dan memalingkan muka karena merasa kesal pada wanita itu.Dengan santainya Shinta mengucapkan satu kalimat yang membuat Bryan tampak emosi.
"Sayang,Bimo menangis melihat kamu melepaskan wanita itu begitu saja."Bisik Shinta ketelinga Bryan.
"Hentikan ucapanmu Shinta!aku tak mau dengar kamu mengungkit nama adikku lagi."Bentak Bryan lalu menyusul Adel didalam kamar.
Shinta menyunggingkan senyum sinis,dalam pikirannya biarkan saja lelaki itu mengakhiri semua dendamnya tapi dirinya tak semudah itu untuk memaafkan wanita kampung itu.
Dia teringat pada masa kecilnya dulu,dan terlihat mengepalkan tangan saat memikirkannya.Dalam benaknya,seandainya wanita kampung itu tidak hadir dalam dunia ini,mungkin kehidupan keluarganya tidak berantakan.
Lamunannya buyar ketika sepasang suami istri itu menghampirinya.Mereka sudah siap dengan tasnya masing masing.Lalu Bryan angkat bicara,
"Ayo,kita pulang kerumah.Dan aku berharap,kamu memikirkan semua ini baik baik.Ingat,Adel sudah menerima dirimu menikah denganku.Aku ingin kita hidup rukun,tanpa harus ada yang tersakiti lagi."Ucap Bryan penuh harap.
__ADS_1
"Enak saja bicaramu,kamu pikir dengan apa yang terjadi padaku dimasa lalu akan memberikan maaf begitu saja pada wanita itu?sampai mati pun tak akan kuampuni."Ucap Shinta dalam hati.
"Sudahlah,mas.Aku tak apa apa kok melakukan semua perintah Shinta,yang penting kita berdua masih berstatus suami istri."Ucap Adel menenangkan hati suaminya.
"Memang sih,tapi cuma status doang kan?emang kamu lupa diperjanjian kita,kamu tak boleh melakukan hubungan intim dengan Bryan."Ucap Shinta membuat keduanya terperangah.
"Shinta,pernikahan kami sah dan kamu tidak berhak untuk melarang kami melakukan hubungan intim karena itu wajib."Ucap Bryan tak terima.
"Wajib katamu?lalu,kemarin itu mengapa kamu tak menyentuh istri kamu itu hah?ingat Bryan,kamu sendiri kan yang berucap tak akan pernah menyentuh istrimu itu seumur hidupmu?jangan sok lupa deh."Ucap Shinta berkacak pinggang.
"Stooooop..jangan bertengkar lagi.Sekarang ayo kita pulang dan aku akan menjalankan semua perintahmu termasuk tidak melakukan hubungan intim bersama suamiku sendiri."Ucap Adel lalu melangkahkan kakinya keluar rumah.
Bryan terdiam membisu mendengar kalimat istrinya.Lalu menyusul istrinya itu keluar,hanya saja Shinta menarik tangan lelaki itu sehingga langkahnya terhenti.
"Sayang,kamu kok jadi begini sih sekarang?ingat,hubungan kita sudah lama loh.Walaupun kamu cinta pada istri pertamamu,tapi sebagian besarnya harus pada istri kedua kamu ini dong.Apalagi,aku lagi mengandung anak kamu kan?"Ucap Shinta dengan nada lembut.
"Aku muak sama kamu,karena kelakuan kamu yang egois seperti ini.Seharusnya,kamu mengakhiri menyiksa istriku karena aku sudah tak lagi berniat membuatnya menderita.Tapi,kenapa kamu meneruskan semua ini?"Ucap Bryan menepiskan tangan Shinta yang memegangnya.
"Terserah apa katamu,tapi semua sudah terlanjur kan?Adel sudah menyetujui semua persyaratan dariku dan itu tak bisa diganggu gugat.Mengerti,sayangku?"ucap Shinta lalu menarik tangan Bryan untuk keluar.
Bryan hanya menurut ketika istri sirinya itu menarik tangannya untuk keluar dari rumah menuju kemobilnya.Dalam pikirannya berusaha mencari jalan keluar agar istrinya terlepas dari wanita itu.
Saat naik kemobil,Shinta menyuruh Adel untuk pindah kebelakang.Karena dirinya yang akan duduk didepan bersama suaminya.Adel menurut saja dengan omongan wanita itu sehingga membuat Bryan merasa iba,tapi tak bisa menolongnya.
"Kita mampir disupermarket dulu yah untuk belanja bulanan."Ucap Shinta yang hanya dianggukin oleh Bryan.
Shinta melihat dari kaca spion kearah Adel yang sedang memegangi ponselnya.Lalu tak lama dia pun berkata sambil tersenyum,
"Nanti saat mulai kerja dirumah kami,jangan main ponsel aja yah!takutnya pekerjaannya tidak cepat beres."
"Itu kan gak ada diperjanjian kita?gak bisa gitu dong."Ucap Adel tak terima ucapan wanita itu.
"Benar kata Adel,kamu jangan egois.Masih untung Adel mau menuruti keinginanmu,sekarang malah ditambahi lagi.Kalau bukan karena anak itu,aku tak sudi bersamamu."Ucap Bryan membuat Shinta berteriak meminta mobil dihentikan.
Bryan kemudian menepikan mobilnya dan membentak Shinta,membuat keduanya adu mulut.Adel berusaha menghentikan mereka,namun percuma saja karena kedua insan itu sama sama egois.
Saat Shinta mengencangkan suaranya,tiba tiba saja dia histeris kesakitan sambil memegangi perutnya.Lalu wanita itu pingsan tak sadarkan diri.
__ADS_1
Adel terlihat panik lalu menyuruh suaminya untuk membawa wanita itu kerumah sakit.Bryan yang melihat Shinta yang sudah tak sadarkan diri,buru buru menjalankan mobilnya menuju kerumah sakit terdekat.