Merindukan Malam Pertama

Merindukan Malam Pertama
Pulang kampung


__ADS_3

Setelah pemakaman selesai, Bryan menyuruh Rania untuk membawa sejumlah barang yang dibutuhkan saja karena dia akan membawa wanita itu dan memperkenalkannya kepada orangtuanya.


Dan berharap, kedua orangtuanya mau menerima kehadiran anak dan istri barunya tersebut. Walau sebenarnya hati Bryan terasa berat untuk membawa serta wanita itu, namun dia sudah terlanjur menikahinya dan dia juga tak mau mengingkari janjinya kepada Shinta untuk selalu menjaga Rania.


Saat Bryan menunggu Rania yang tengah mempersiapkan segala sesuatunya untuk dibawa, tiba-tiba saja seorang anak kecil datang menghampiri lelaki itu dan memanggilnya dengan sebutan papa. Membuat Bryan kaget lalu menghindari anak tersebut yang ternyata adalah Ali, anak dari Rania.


"Papa, akhirnya kita bertemu juga. Pasti tante Shinta yang menelpon papa yah biar pulang menjemput Ali dan mama? " ucap Ali lalu berusaha untuk memeluk Bryan yang disangka adalah ayahnya.


"Papa? pergi sana! aku bukan papa kamu. Mungkin kamu salah orang. " Ucap Bryan terus menghindari anak tersebut.


Mendengar keributan diluar, Rania berhenti sejenak membereskan barangnya dan menghampiri arah suara yang tak enak didengar ditelinga. Dirinya langsung memeluk Ali dan membujuknya agar tidak menangis lagi.


Dia berkata kalau ayahnya capek baru pulang dari tempat yang jauh. Jadi jangan merengek kepada ayahnya dulu. Untungnya, anak tersebut mau mengerti dan memilih masuk kembali kedalam kamarnya.


"Apa maksud kamu berkata seperti itu? dia bukan anak aku, jadi tolong jangan bercanda denganku. " Ucap Bryan yang tak terima saat Rania membujuk anak kecil tadi.


"Tolong aku kali ini, mas! dia itu anak dari saudara tiriku. Aku dan Shinta yang mengurusnya semenjak saudaraku tersebut meninggal. Ali namanya, anak itu taunya aku adalah ibunya. dan dia selalu menanyakan keberadaan Ayahnya, sehingga Shinta membohonginya dan mengatakan bahwa ayahnya lagi ditempat yang jauh.


Saat melihat kamu bersamaku, mungkin dia berpikir kalau dirimu adalah ayahnya. Jadi tolong kamu mau yah,berpura-pura sebagai ayahnya? "ucap Rania memohon dengan sangat.


" Ok, aku terima alasanmu. Tapi, dia gak boleh ikut bersama kita! "ucap Bryan membuat Rania kaget.


" Setelah kepergian Shinta, aku sudah tak punya keluarga lagi. Kalau anak itu ditinggal, siapa yang akan merawatnya? dia masih kanak-kanak dan belum tau apa-apa. Tolong, bantu aku kali ini demi Shinta. Ajaklah juga Ali bersama kita yah? "ucap Rania lalu bersimpuh dikaki Bryan.

__ADS_1


" Baiklah, tapi tolong bangunlah jangan bersimpuh seperti itu. Nanti orang-orang mengira aku jahat lagi ama kalian. "Ucap Bryan melihat ke sekelilingnya takut ada orang yang lewat.


" Terima kasih, mas. Sekarang, ayo kita berangkat karena semuanya sudah dibereskan. Tapi ingat, didepan Ali kamu berpura-pura sebagai ayahnya yah? "ucap Rania lalu masuk kedalam kamar.


Rania masuk kedalam kamar, dan mengajak Ali untuk keluar dan bersiap untuk pulang kerumah ayahnya. Awalnya Ali menolak karena terlanjur takut dengan kekasaran Bryan tadi kepadanya. Rania terus membujuknya dan mengatakan kalau ayahnya sayang kepadanya.


"Ibu bohong, ayah tidak sayang padaku. Buktinya, dia memarahiku dan mengatakan kalau Ali bukan anaknya. " Ucap Ali dengan sedih.


"Ayah sayang kamu kok,nak.Buktinya sekarang ayah mau menjemput mama dan kamu untuk pulang kerumah kita yang dulu.Untuk masalah yang tadi, itu karena ayah sedang capek. Jadi Ali harus ngerti yah? " ucap Rania mengusap pipi anaknya tersebut.


Setelah keduanya keluar dari kamar, Rania kemudian menggendong bayi sedangkan Bryan mengangkut barang-barang yang akan dibawanya pulang. Setelah dirasanya sudah tak ada yang kelupaan, akhirnya mereka pun masuk kedalam mobil dan berangkat menuju kerumah orangtua Bryan.


_______________


"La, sekarang ayo kita menjenguk keadaan Adel! aku takut dia jatuh sakit karena memikirkan masalahnya sehingga tak mau makan. Kamu tau sendiri kan sifat anak itu?" ucap Ani merasa khawatir.


Sesampainya mereka disana, terlihat ibu mertua Adel yang membukakan pintu lalu mereka pun masuk dan menanyakan keadaan Adel. Ibunya tersenyum senang lalu mengajak mereka menuju ke ruang dapur dan menyaksikan Adel yang sedang melahap makanannya.


Melihat hal itu, keduanya turut senang karena Adel mau mengalahkan egonya dengan tidak mengurung diri dikamar dan menahan lapar seperti biasa yang dilakukannya saat dirinya tertimpa masalah seperti sekarang.


"Nah gini dong, perbanyaklah makan biar kuat menghadapi masalah. Dan harus meyakini diri sendiri bahwa semuanya akan selesai dengan baik. Ingat, kamu tidak sendirian. " Ucap Lala yang ikut menyendok nasi goreng untuk dimakan.


"Ye, dasar ya. Bilang aja kalo lu laper, pake menasehati gue segala. " Ucap Adel menggelengkan kepala melihat tingkah sahabatnya itu.

__ADS_1


"Idih, sok-sok an pake gue elu segala. " Ucap Ani yang membuat ibu mertua Adel ikut tertawa bahagia yang melihat menantunya tersebut sudah riang kembali.


Setelah sarapan, mereka memutuskan untuk mengobrol diruang tamu. Terlihat pak Hadi dan istrinya yang juga tengah menunggu untuk ikut serta mendengarkan curahan hati Adel. Saat semuanya sudah berkumpul, Adel pun menceritakan bagaimna sampai dia bisa berada di hotel itu tadi malam.


"Jadi semua karena ulah Shinta? kapan sih dia akan berhenti mengganggumu?" ucap pak Hadi kesal setelah mendengar penjelasan dari Adel.


"Tenang pak, ingat kesehatan bapak! aku tak mau, karena permasalahan rumah tangga Adel, penyakit bapak kambuh lagi. " Ucap Adel menenangkan bapak mertuanya tersebut.


"Bapak tak habis pikir dengan Bryan. Seharusnya dia bersikap bijaksana,jangan langsung meluapkan emosi tanpa menanyakan dulu penyebabnya. " Ucap pak Hadi lagi.


"Sekarang, kita tunggu Bryan pulang dulu. Nanti, kita semua yang harus menjelaskannya agar dia bisa mengerti bahwa ini semua hanya jebakan wanita gilanya itu. " Ucap bu Astuti karena merasa kesal kepada Shinta.


Saat tengah mengobrol, Adel kepikiran pada isi diary Bimo. Dia ingin menanyakan kepada kedua mertuanya tentang maksud Bimo yang menyatakan bahwa 'dirinya terlantar karena anak pungut'. Sebenarnya dia penasaran, apakah mungkin Bryan bukan anak kandung mereka.


Namun ditepisnya jauh-jauh rasa penasaran itu karena dirinya takut kedua mertuanya merasa tersinggung dan menimbulkan masalah yang baru lagi. Akhirnya dia bertekad untuk menyelesaikan masalahnya dengan suaminya dulu, baru menanyakan hal itu setelahnya.


Lala menyadari, kalau Adel sedang melamun. Dia berpikir mungkin masalah ini menjadi beban pikiran sahabatnya itu. Sehingga dia mencoba untuk membuatnya santai dengan mengajaknya pulang kampung sekalian menjenguk neneknya disana.


Ide itu disetujui oleh Ani dan kedua mertua Adel. Mereka menyarankan Adel untuk liburan ke kampung sekalian melepas rindu pada neneknya. Untuk masalah ini, kedua mertuanya yang meminta untuk menyelesaikannya.


"Kamu perlu merilekskan pikiranmu, nak. Biar nanti ibu dan bapak yang akan berbicara dengan suamimu. Nanti setelah, amarah suamimu redah barulah kamu menemuinya dan kembali menjelaskan secara baik-baik kepadanya. " Ucap bu Astuti memberi saran.


"Baiklah bu, pak. Mungkin benar, saat ini bukan waktu yang tepat untuk menemui Bryan. Semoga nanti ibu dan bapak bisa membuat mas Bryan tersadar. Sekarang, aku memutuskan untuk pulang kampung dan menemui nenek.

__ADS_1


Tapi, Adel mohon jangan ada yang memberitahukan tentang hal ini kepada nenek yah! aku tidak mau nenek turut khawatir dengan Permasalahan yang menimpaku. "Ucap Adel lalu dianggukin oleh semuanya.


Setelah bersiap-siap, Adel pun berangkat dan hanya ditemani oleh Lala. Karena sahabatnya yang satunya lagi tidak bisa meninggalkan pekerjaannya. Tapi itu dimaklumi oleh Adel dan dia hanya meminta do'anya saja agar semuanya bisa berakhir bahagia kedepannya.


__ADS_2