Merindukan Malam Pertama

Merindukan Malam Pertama
Tamu istimewa nenek


__ADS_3

Saat dikampung, Adel berusaha menutupi semua kesedihannya didepan neneknya. Walaupun neneknya sedikit curiga karena melihat perubahan sikap cucunya itu yang tak ceria seperti biasanya, tapi Adel menampiknya dan mengatakan kalau dia sedang baik-baik saja.


" Nak, kamu baik-baik saja kan? nenek hanya khawatir kamu punya masalah dalam rumah tanggamu."Ucap bu Ida karena tau betul dengan sikap cucunya tersebut.


"Adel baik-baik saja kok, nek. Adel kesini karena kangen banget pada nenek. Namun sayangnya,mas Bryan tak bisa ikut kesini karena sekarang dirinya lagi tugas diluar kota. " Ucap Adel berbohong.


"Oh nenek ngerti sekarang. Kamu tak seceria biasanya karena suamimu lagi diluar kota yah?" ucap bu Ida sambil menggelitiki cucunya tersebut.


Saat mereka asyik tertawa, Lala datang menghampiri dan mengatakan kalau hari ini dia akan balik ke kota karena pekerjaan sedang menunggunya. Adel sebenarnya ingin ikut bersama sahabatnya itu, tapi berhubung karena masih kangen dengan neneknya, maka dia memilih untuk tetap tinggal beberapa hari lagi.


Setelah kepergian Lala, bu Ida kedatangan tamu dan ternyata adalah teman dimasa mudanya yang saat ini tinggal di kota yang sama dengan Adel. Namun teman lama bu Ida tidak datang sendiri, ada seorang pemuda yang turut mendampinginya.


"Wah, kupikir kamu udah lupa padaku. " Ucap bu Ida sambil cipika cipiki dengan teman lamanya tersebut.


"Ya gak mungkin lupa lah.Memang hari ini awal pertemuan kita semenjak lulus sekolah dulu, karena tau sendiri kan diriku lagi sibuk ngurusin bisnis. Makanya sekarang sudah ada waktu, jadi bisa nyempetin diri buat bertemu kamu. "


"Oh, Terima kasih karena kamu masih ingat denganku. terus yang bersama kamu ini, siapa? " tanya bu Ida lagi.


" Eh iya, kenalin ini cucuku satu-satunya. Kalau kamu pasti udah banyak dong, secara yang kutau kamu mempunyai tiga orang anak."


"Alhamdulilah, sekarang ada setengah lusin sih. " Ucap bu Ida membuat keduanya terbahak mendengar kata lusin.


"Disangkanya barang mungkin yah, nyebut jumlah cucu pake lusin."


Disela pembicaraan mereka, Adel datang membawa nampan berisi teh dan beberapa camilan untuk di suguhkan buat tamu neneknya tersebut. Entah mengapa, melihat tamu neneknya tersebut yang membawa seorang lelaki muda, mengingatkan nya pada momen suaminya yang datang untuk melamarnya.

__ADS_1


Setelah menata teh dan camilan diatas meja, dia hendak kembali kedapur, namun neneknya meminta untuk duduk sebentar sekedar untuk mengobrol dengan tamu istimewa nya itu. Adel pun menuruti dan memilih duduk bersebelahan dengan pemuda itu karena kebetulan hanya tersisa disamping pemuda itu yang kosong.


"Kenalin, Del.. ini teman lama nenek, bu Salma namanya. Kalau yang disampingmu, nanti boleh kenalan sendirilah. Karena nenek juga belum tau namanya. " Ucap bu Ida mengenalkan tamunya tersebut kepada cucunya.


"Dia ini cucu kamu yang pertama yah? soalnya kelihatan seumuran dengan cucuku. Kan dulu pas kita berdua lahiran anak pertama, beda dua bulan doang. " Ucap bu Salma menebak.


"Iya, tebakanmu benar. Adel cucuku yang pertama. " Ucap bu Ida membenarkan.


"Oh, jadi namanya Adel. Nama yang indah. Apa dia sudah menikah? kalau belum, boleh tuh dijodohkan dengan Fabian. " Ucap bu Salma berharap.


Adel dan pemuda itu saling pandang dan merasa kaget dengan ucapan bu Salma barusan. Lalu tak lama Adel melirik kearah neneknya sebagai pertanda meminta tolong untuk mengatakan kalau dirinya sudah menikah. Namun neneknya itu seakan tidak peka dan terus tertawa lepas bersama teman lamanya tersebut.


"Adel belum menikah, semoga aja ada jodohnya dengan cucumu ini. " Ucap bu Ida berbohong membuat Adel sedikit kesal dengan ucapan neneknya tersebut.


"Ehmm, maafkan cucuku, mungkin dia malu saat kita berbicara tentang hal ini. Harap maklum yah! oya, kalau Fabian sendiri mungkin sudah punya pacar?" tanya bu Ida lagi.


"A-aku?" tanya Fabian gugup.


"Sudahlah jangan tanyakan itu dulu kepada cucu-cucu kita. Jadinya kan pada gerogi. Nanti lain kali lah kita bahas tentang ini. Intinya sekarang, aku senang akhirnya bisa bertemu kamu lagi setelah sekian lama. " Ucap bu Salma merasa senang.


"Iya, aku juga senang kok dan berharap kedepannya bisa bertemu lagi untuk sekedar bernostalgia. " Ucap bu Ida lalu dianggukin oleh teman lamanya tersebut.


Setelah lama mengobrol, bu Salma dan cucunya pun pamit untuk pulang. Dan mereka menitip salam buat Adel, karena hingga mereka mau pulang, Adel tak mau keluar dari kamarnya. Tapi mereka maklum, mungkin saja dia malu atas percakapan yang mengungkit tentang perjodohan.


Bu Ida mengerti, kalau cucunya tersebut sedang marah. Segera diketok nya pintu kamar Adel dan meminta agar cucunya tersebut mau keluar dan berbicara baik-baik. Namun rupanya Adel tak kunjung membuka pintu kamarnya tersebut.

__ADS_1


Bu Ida akhirnya memilih masuk ke kamarnya dan membiarkan cucunya tersebut mengurung diri. Memang diakui, perkataannya tadi kepada bu Salma sangat salah. Namun, beliau melakukan hal itu karena sebenarnya sudah tau permasalahan rumah tangga cucunya tersebut dengan Bryan.


Bu Ida ingat betul, saat Shinta menelponnya seminggu yang lalu. Wanita itu mengatakan kalau dirinya tak lama lagi akan melahirkan. Dan anak tersebut hasil buah cintanya bersama suami Adel. Ditambah lagi makin syok saat tau kalau sebenarnya Bryan sudah menikahi wanita itu secara diam-diam.


Namun, bu Ida memilih untuk tidak mempercayai omongan wanita itu. Mungkin saja itu hanya tipuan agar membuatnya membenci Bryan dan menyuruh Adel untuk bercerai dengan suaminya tersebut. Tapi melihat sifat cucunya saat ini, apa karena tau tentang hubungan suaminya dengan wanita tersebut? entahlah.


"Nek, maafin Adel yah? " ucap Adel membuat bu Ida membuyarkan lamunannya seketika.


"Adel, bikin kaget nenek aja deh kamu tuh. Harusnya, nenek yang minta maaf, nak. Tak seharusnya berkata seperti tadi kepada bu Salma. " Ucap bu Ida lalu mengusap pipi cucunya itu dengan lembut.


"Kenapa nenek melakukan hal itu? kan nenek tau sendiri kalau Adel sudah berumah tangga. Seharusnya nenek berkata jujur kepada bu Salma, biar beliau tak berharap banyak nantinya. " Ucap Adel menggenggam tangan neneknya.


"Nenek tau kamu tak bahagia dengan suamimu, nak. Kalau memang kalian sudah tak sejalan, lebih baik lepaskan saja. Daripada bertahan hanya akan membuat batin tersiksa. " Ucap bu Ida mengeluarkan airmata.


"Nenek tak boleh berkata seperti itu. Setiap rumah tangga pasti punya masalahnya masing-masing. Memang saat ini Adel akui sedang mempunyai masalah dengan mas Bryan. Tapi, nenek gak perlu khawatir, karena Adel bisa menghadapi nya dan yakin akan kembali bahagia bersama mas Bryan akhirnya. " Ucap Adel melap airmata neneknya menggunakan jari tangannya.


"Nenek hanya ingin melihat kamu hidup bahagia, nak. Nenek tak tega melihat kamu yang seperti ini. Walau kamu menyembunyikan semua dari nenek, itu tak akan bisa. Karena nenek sudah hafal betul dengan sifat kamu. " Ucap bu Ida terisak.


"Nek, tatap mata Adel! lihatlah, cucu kesayangan nenek ini tak pantang menyerah. Permasalahan yang Adel hadapi sekarang ini tidaklah berat dan besok juga akan berakhir dan perlu nenek ingat, Adel dan mas Bryan saling mencintai. Kalau nenek tak percaya, tunggu besok yah saat mas Bryan menjemput Adel untuk kembali bersamanya! " ucap Adel meyakinkan neneknya tersebut.


"Baiklah kalau begitu. Kalau suamimu tak menjemputmu pulang, berarti nenek anggap apa yang kamu katakan barusan adalah kebohongan. " Ucap bu Ida menantang cucunya tersebut.


Adel pun mengangguk lalu tersenyum memeluk neneknya padahal dalam hatinya sedang menahan kesedihan namun sebisa mungkin dirinya untuk mencoba terlihat bahagia saat didepan neneknya.


"Untung saja, mas Bryan menelpon dan memberitahu kalau besok akan menjemputku. Semoga besok, berjalan dengan lancar dan mas Bryan juga mau mendengarkan semua penjelasan dariku agar semuanya segera berakhir. " Ucap Adel dalam hati berharap kebahagiaan menantinya.

__ADS_1


__ADS_2