
"Sayang, apakah kita melakukan ronde pertama di bathtub ini? " tanya Fabian sambil menahan hasratnya.
"Sepertinya begitu,mas! " Ucap Adel lalu mencium kembali bibir suaminya dengan beringas.
"Aku ingin melakukannya diatas kasur yang empuk. Ronde kedua baru kita lakukan disini, bagaimana? " tanya Fabian membuat Adel bangkit dari bathtub dan menarik tangan suaminya tersebut untuk keluar.
Fabian pun menurut saja dan mengikuti langkah kaki istrinya keluar dari kamar mandi. Mereka pun melanjutkan ritual percintaan dengan penuh hasrat yang telah lama terpendam. Fabian tak henti-hentinya berdecak kagum melihat pemandangan tubuh istrinya yang begitu sempurna dimatanya. Melihat tatapan suaminya yang seperti itu membuat Adel malu sehingga dirinya segera menutup tubuhnya tersebut menggunakan selimut.
Fabian terkekeh melihat tingkah istrinya, lalu dia pun menindih tubuh istrinya tersebut dan menatapnya dengan lekat. Kembali dikecupnya kening istrinya itu dengan mesra lalu membisikan sesuatu ke telinga istrinya tersebut sesuatu kalimat,
"Sayang, apakah kamu ikhlas memberikannya untukku? "
"Aku yakin untuk menyerahkan semuanya kepadamu, Mas! dan kuharap setelah ini, rumah tangga kita akan semakin harmonis. " Ucap Adel sambil kedua tangannya memegangi pipi suaminya tersebut.
Mendengar ucapan istrinya, Fabian menghujani kecupan diseluruh wajah istrinya tersebut. Adel yang mendapatkan perlakuan mesra dari suaminya itu merespon lalu membalas kecupan tersebut. Sehingga keduanya tak tahan lagi untuk menahan hasrat yang semakin menggebu.
Baru saja keduanya akan merasakan nikmatnya malam pertama yang selama ini terpendam, tiba-tiba saja ponsel Adel berdering tanda panggilan masuk. Awalnya, Adel tak menghiraukan panggilan tersebut, dan memilih untuk melanjutkan ritual percintaan bersama suaminya.
Namun, ponselnya tak henti berdering sehingga dengan kesal Adel meraih ponselnya yang berada diatas nakas dan melihat kearah layar ponselnya tersebut, ternyata itu panggilan dari neneknya. Adel mengerutkan keningnya karena tak seperti biasanya neneknya menghubunginya saat dirinya sedang sibuk. Apalagi neneknya tau kalau cucunya tersebut saat ini sedang bulan madu. Dia tau betul sikap neneknya yang tak akan menggangu bulan madu cucunya.
"Maaf yah, mas sepertinya aku akan mengangkat panggilan dari nenek dulu! sepertinya ada sesuatu penting yang akan disampaikan oleh nenek, karena tak seperti biasanya nenek menelpon terus menerus seperti ini. " Ucap Adel meminta pengertian suaminya.
__ADS_1
"Iya sayang, sekarang kamu angkat dulu telepon tersebut! takutnya ada sesuatu yang penting, aku sabar menunggu kok. " Ucap Fabian menciumi tengkuk istrinya tersebut.
Bu Ida kembali menelpon lalu dengan segera Adel mengangkatnya. Namun bukan suara neneknya yang terdengar melainkan suara seorang wanita yang sangat familiar baginya. Sehingga firasat buruk singgah di benaknya dan dia memohon kepada wanita itu untuk melepaskan neneknya.
"Wah, yang lagi bulan madu. Semoga sukses yah, dan cepat dapat momongan, hahaha. " Ucap wanita diseberang telepon.
"Aku mohon, tolong lepaskan nenekku! apa kamu tega menyakiti seorang Lansia? apa kamu tak punya hati nurani? " ucap Adel memohon dengan sangat.
"Kalau mau membebaskan nenekmu tersayang, pulanglah sekarang juga! " Ucap wanita itu lagi.
"Nak.. tak perlu mengkhawatirkan nenek! tetaplah disitu untuk menjalankan bulan madumu dengan suamimu. Nenek bisa mengatasi wanita ini, tenang saja! " terdengar suara bu Ida yang berteriak agar kedengaran oleh Adel diseberang telepon.
"Aku akan melepaskan nenekmu dengan satu syarat, sekarang juga kamu kembali dan temui diriku." Ucap wanita itu lagi lalu mematikan telepon secara sepihak.
Mendengar alasan yang disebutkan oleh Adel, membuat Fabian menganggukkan kepalanya tanda setuju untuk pulang saat itu juga. Mungkin memang ritual malam pertama itu belum berpihak kepada mereka berdua.
"Apakah kita melakukannya dulu sebelum pergi? " tanya Adel karena dia melihat raut kekecewaan suaminya.
"Kita lakukan itu nanti saja, sayang. Saat ini yang paling penting adalah melepaskan nenek dari wanita si***n itu. " Ucap Fabian mengepalkan tangannya karena terlampau emosi.
"Maafkan aku yah, Mas.. Karena bulan madu kita jadi berantakan seperti ini. Padahal baru juga sampai disini, tapi keadaan memaksa kita untuk kembali pulang. " Ucap Adel merasa bersalah.
__ADS_1
Fabian yang melihat raut kesedihan istrinya, mencoba untuk menenangkan hati istrinya tersebut, dan mengatakan bahwa masih banyak waktu untuk mereka bisa membuat bulan madu yang romantis. Untuk saat ini, lebih penting untuk menyelesaikan semua masalah agar tak ada lagi pengganggu dalam keluarga mereka.
Setelah berkemas, akhirnya keduanya menuju ke bandara. Fabian terus menerus menenangkan hati istrinya dan berkata bahwa wanita itu tak akan berani untuk melukai Bu Ida. Jika itu terjadi, dia berjanji akan menjebloskan wanita tersebut kedalam penjara dan akan mendapatkan hukuman yang berat.
Adel berharap neneknya dalam keadaan baik-baik saja. Mengingat, perjalanan yang ditempuh lumayan jauh dan tak mungkin bisa sampai secepat itu ke Indonesia. Adel memotret dirinya saat dibandara dan mengirimkan keponsel neneknya agar wanita itu tau kalau saat ini dirinya sudah dalam perjalanan pulang. Karena dia yakin, saat ini ponsel neneknya ada ditangan wanita jahat itu.
______________________________
"Bagaimana, apakah kamu berhasil membuat bulan madu mereka berantakan? " tanya seseorang kepada Rania.
"Jangan panggil aku Rania kalau tak berhasil membuat mereka menuruti perintahku." Ucap Rania dengan bangganya kepada wanita itu.
"Kerja yang sangat bagus. Sesuai perjanjian kita, sekarang kamu temui saja Bimo di apartemennya, pasti dia akan terkejut melihat dirimu nantinya. " Ucap wanita itu yang ternyata adalah Viona.
Viona tertawa bahagia karena bisa menggagalkan bulan madu Fabian dan Adel. Saat ini dia sudah menyusun rencana untuk bisa kembali merebut hati Fabian. Sungguh sulit baginya untuk bisa melupakan lelaki itu apalagi mengikhlaskan pujaan hatinya bersama wanita lain. Dengan bantuan Rania, dia berharap semua rencananya bisa sukses sehingga pada akhirnya impiannya selama ini untuk menikah dengan Fabian bisa tercapai.
Untung saja dia bisa bertemu dengan Rania saat dirinya bertamu kerumah Bu Ida. Saat itu dia bertamu ke rumah Bu Ida karena diajak oleh neneknya. Saat dia kewarung untuk membeli minuman, disitulah awal pertemuan nya dengan Rania. Dirinya tak sengaja mendengar Rania menyebutkan nama Adel, jadi karena penasaran diapun mencoba mendekati Rania lalu akhirnya mereka bersepakat untuk membuat Adel menderita.
"Nih, aku kasih alamatnya dan segeralah temui dia sebelum dirinya berangkat keluar negeri. " Ucap Viona menyodorkan kartu alamat kepada Rania.
"Makasih yah, Vi. Untung aku ketemu kamu sehingga pada akhirnya diriku bisa dipertemukan lagi dengan Bimo. Aku terpisah dari Bimo karena Adel, dan sekarang itu terjadi kepadamu. Dia merebut Fabian darimu, maka dari itu ayo kita buat dia merasakan penderitaan seumur hidupnya. " Ucap Rania membuat Viona setuju.
__ADS_1
"Terus nenek tua itu apa baik-baik saja? " tanya Viona lalu mendekati Bu Ida yang terikat disebuah kursi dan mulutnya tersumpal kain.
"Hallo nenek, apa anda baik-baik saja? bersabarlah, sebentar lagi cucu kesayanganmu akan datang untuk menyelamatkan mu. " Ucap Rania mengelus pipi Bu Ida dengan lembut, lalu dia dan Viona tertawa terbahak-bahak tanpa rasa kasihan kepada Bu Ida yang terkulai lemas.