Merindukan Malam Pertama

Merindukan Malam Pertama
Lembaran baru_ berkelahi seperti preman


__ADS_3

Adel tak menghiraukan para tetangga yang datang menonton aksinya tersebut. Karena saking kesalnya mendengar omongan Rania yang menyinggung soal ibunya membuatnya tak terima.


Plaaak..


Adel melayangkan tamparan keras beberapa kali kewajah Rania karena merasa kesal dengan omongan wanita itu yang sungguh kelewatan.


Brughhh..


Saat dirinya lengah, Rania dengan bebas melayangkan bogem mentah hingga membuat ujung bibir Adel berdarah. Sehingga membuat amarahnya makin mendidih. Dia pun menyeka darah diujung bibirnya tersebut, lalu meludahi muka Rania dan kembali melayangkan bogem mentah kewajah wanita itu. Biar impas.


Adel melangkahkan kakinya untuk keluar, namun tanpa disangka, Rania kembali menarik rambutnya dengan kuat sehingga keduanya kembali saling menjambak.


Ayah mereka berusaha untuk melerai pertikaian antara kedua anaknya tersebut, namun sia-sia karena sekarang posisi Adel telah menindih tubuh Rania dan tangan mereka saling menarik rambut dengan keras.


Para tetangga tak ada yang berusaha melerai tapi malah asyik menonton bahkan ada juga yang merekam aksi kedua wanita itu yang sama-sama dikuasai oleh amarah yang membara.


"Apa yang kalian berdua lakukan ini? tolong hentikan, dan jangan bersikap seperti anak kecil dong! malu dilihatin para tetangga. "Ucap Ayahnya namun mereka tetap melakukan aksinya.


Adegan jambak menjambak masih berlangsung sengit. Hingga akhirnya Adel mencakar lengan Rania dengan kuku panjangnya. Rania pun tak mau kalah, dia mencakar wajah Adel namun untungnya tidak kena karena Adel berhasil menghindar.


Rania meringis kesakitan dan sudah tak mampu melawan sehingga membuat Adel tersenyum penuh kemenangan. Karena merasa puas, diapun berdiri dan melangkahkan kakinya keluar.


"Jangan sekali lagi kudengar kamu menghina ibuku! ibuku bukan pelakor, tapi salahin saja ayahmu yang dulunya mengaku bujang kepada ibuku. " Ucapan Adel membuat ayahnya terkejut.


"Pergi kamu dari rumah ini, dan jangan pernah menunjukkan mukamu lagi. " Usir ayahnya lalu mengangkat tubuh Rania yang terduduk lesu dilantai.


"Tanpa diminta pun, aku akan pergi dari sini. Lagipula selama ini, kamu gak pernah kan menganggap aku sebagai anak? kedatangan ku disini, hanya ingin meminta kamu untuk mengurus anakmu yang itu agar tak mengusik kehidupan keluargaku. " Ucap Adel lalu melangkah pergi tanpa menghiraukan makian dari semuanya.


Adel kembali pulang kerumah neneknya. Saat sampai, dia merasa terkejut karena melihat mobil bosnya terparkir dihalaman rumah nenek nya tersebut. Dia pun bergegas masuk kedalam rumah lalu terlihat bahwa bosnya tersebut sedang mengobrol dengan ibu dan juga neneknya.


Akhirnya, dia pun mengucapkan salam sehingga semua mata tertuju padanya.

__ADS_1


"Adel, apakah kamu habis berkelahi? " tanya bu Ida karena melihat ujung bibir cucunya yang lecet.


"Maafin, Adel nek. Tadi dirumah Ayah ketemu dengan wanita yang telah mengacak-acak rumah nenek. Aku tersulut emosi karena tingkahnya yang keterlaluan. " Ucap Adel tertunduk lesu.


"Terus, bapak bukannya udah pulang dari tadi? "tanya Adel dengan nada bergetar. Karena bosnya tersebut tau kalau dirinya habis berkelahi seperti preman.


" Nih, aku ingin mengembalikan tasmu yang ketinggalan di mobil. Karena kamu lagi keluar, jadinya aku nungguin kamu deh. "Ucap Fabian lalu meminta izin untuk membawa Adel jalan-jalan kesuatu tempat.


Saat ini Adel tak punya pilihan selain mengikuti perintah bosnya. Kebetulan dirinya ingin menenangkan diri, jadi dia menuruti saja kemana pun bosnya membawanya pergi. Namun sebelum pergi, dia menghampiri neneknya dan mengatakan tak perlu mengkhawatirkan kondisinya.


______________________


Ternyata Fabian membawa Adel di sebuah taman. Dia hanya ingin membuat pikiran sekretaris nya itu kembali normal. Karena menurutnya pikiran wanita itu sedang korslet yang menghadapi masalahnya dengan otot.Baru kali ini dia melihat wanita babak belur karena bergulat. Selama ini disangka nya Adel wanita berhati lembut, padahal berotot.


"Siapa yang akhirnya jadi pemenang? " tanya Fabian membuat Adel melongo.


"Menang apa maksud bapak? " Adel balik bertanya karena tak mengerti arah pembicaraan bosnya tersebut.


"Bukannya kamu habis berkelahi? kayak preman pasar saja kamu ini. " Ucap Fabian tersenyum meledek.


Terdengar Fabian bertepuk tangan dan menyebutkan kata Bravo atas kemenangan sekretarisnya itu.


"Tadi nenek sudah cerita tentang permasalahannya. Tindakanmu pantas diacungi dua jempol. Demi harga diri keluarga, kamu harus sampai berkelahi seperti ini. " Ucap Fabian membuat Adel memutar bola mata malas.


"Walau wajahmu terlihat lecet, tapi kuakui kecantikanmu tidak berkurang. Hehe. " Ucap Fabian terkekeh.


Pujian yang diucapkan Fabian terdengar seperti sebuah ejekan ditelinga Adel. Hingga dirinya membuang muka karena kekesalannya yang mendapat ejekan dari bosnya tersebut.


"Ayo sini, ku oleskan dengan salep, bagian tubuhmu yang lecet akibat perkelahian tadi! " Ucap Fabian mengambil salep dari kantong jasnya.


Rupanya lelaki itu sudah menyiapkan salep untuk mengobati luka memar di beberapa bagian tubuh Adel seperti wajah dan lengannya. Seperti terhipnotis, Adel menurut saja sehingga dengan lihai tangan lelaki itu mengoleskan salep tersebut dibagian yang lecet.

__ADS_1


"Tadi, nenekku sudah melakukan video call dengan nenek dan juga ibumu. Dan keputusannya, minggu depan kita melangsungkan pernikahan. Kamu tak boleh menolaknya, dan aku mengajak mu kesini untuk menandatangani surat kontrak perjanjian kita. " Ucap Fabian membuat Adel menganggukkan kepalanya.


Fabian jadi heran, karena Adel tidak terkejut sama sekali dengan ucapannya. Disatu sisi, dia juga bahagia karena sebentar lagi setelah menikahi Adel, dia bisa terbebas dari rengek kan neneknya yang selalu menyuruhnya untuk segera menikah.


Sebenarnya Fabian juga mempunyai seorang kekasih. Namun saat ini kekasihnya tersebut sedang melanjutkan studinya diluar negeri. Sedangkan neneknya tak merestui hubungannya dengan wanita itu. Alasannya karena dia dan wanita itu mempunyai hubungan keluarga.


"Kalau kamu tetap nekat untuk menikah dengan sepupumu itu, jangan salahkan nenek jika mencabut ahli waris sehingga kamu hidup melarat. " ucapan neneknya itu selalu terngiang-ngiang dipikirannya.


Sehingga pikirnya, kalau dia menikah dengan Adel nanti, mungkin neneknya gak bakal curiga tentang hubungannya dengan adik sepupunya yang masih berlanjut sampai saat ini walaupun berpacaran jarak jauh. Apalagi sebentar lagi, wanitanya itu akan pulang ke Indonesia.


Setelah semuanya telah ditandatangani oleh Adel, akhirnya mereka pun pulang. Sepanjang perjalanan, tak ada obrolan diantara mereka. Keduanya terhanyut dalam pikirannya masing-masing.


Setelah Adel turun dari mobil, tanpa masuk kerumah dulu, Fabian langsung menjalankan mobilnya dan berlalu dari pekarangan rumah bu Ida tersebut. Lagipula, ini sudah sore hari. Mungkin saja Fabian tak ingin kemalaman nyampe di kota.


__________


Saat makan malam bersama, bu Ida memandang wajah Adel penuh tanya. Sepertinya bu Ida belum sepenuhnya percaya dengan keputusan cucunya itu untuk menikah lagi.


"Del, benarkah keputusan mu itu dari hatimu yang paling dalam?" tanya bu Ida menginterogasi cucunya tersebut.


"Iya, nek.. Ini keinginan Adel sendiri tanpa ada paksaan dari siapapun. " Ucap Adel dengan santai.


"Nenek khawatir saja kamu nantinya tak hidup bahagia lagi seperti yang dulu. Apalagi kan kalian baru saling mengenal, apa kamu tak ada rasa trauma akan hal tersebut? " ucapan bu Ida kali ini membuat Adel berhenti mengunyah makanannya.


"Bukannya dulu, sewaktu Adel masih berstatus istrinya mas Bryan, nenek menjodoh-jodohkan aku dengan cucu bu Salma tersebut? " ucap Adel membuat bu Ida terdiam.


"Maafin nenek yah? baiklah, kalau ini sudah keputusanmu, nenek hanya bisa berdoa agar rumahtangga mu harmonis selamanya. " Ucap bu Ida karena merasa bersalah.


"Maafin Adel juga, nek. Sekarang, nenek minum obat terus langsung istirahat saja yah?" ucap Adel lalu membawa piring bekas kearah dapur untuk dicuci.


Dalam hatinya ingin sekali memberitahukan yang sebenarnya kepada neneknya tersebut. Namun dia tak ingin nantinya hanya akan membuat neneknya kembali jatuh sakit. Saat ini dia harus menyiapkan hati untuk menjalani tugas barunya sebagai seorang istri kontrak.

__ADS_1


Tugas yang sangat menguntungkan baginya. Setelah jadi nyonya besar Amazoni, mungkin dia bisa memboyong nenek dan ibunya untuk ikut tinggal di kota. Agar terbebas dari gangguan wanita psikopat yang merupakan kakak tirinya.


Dia sudah membayangkan, ingin membeli rumah mewah agar nenek dan ibunya bisa hidup dengan tentram. Dalam pikirannya, semoga saja pernikahan kontrak itu berjalan dengan lancar tanpa ada gangguan.


__ADS_2