Merindukan Malam Pertama

Merindukan Malam Pertama
Jebakan wanita pshikopat


__ADS_3

Saat terjaga,Adel melirik ponselnya untuk melihat jam.Ternyata sudah menunjukan pukul tujuh pagi.Dia menengok bapak mertuanya dari jendela ruangan,disana sudah ada suster dan dokter yang sedang memeriksa keadaan pak Hadi.Namun kesedihan kembali menghinggapinya karena sampai saat ini kondisi bapak mertuanya masih kritis.


Dia segera menuju toilet untuk mencuci mukanya agar menghilangkan kantuk.Semalaman dia tidak bisa tidur,sesekali matanya terpejam tapi tak berlangsung lama karena banyak nyamuk yang mengganggunya.


Setelah selesai dari toilet,dia menuju kantin untuk mencari sarapan.Lalu kemudian dia memutuskan untuk nenelpon suaminya agar dibawakan baju ganti.Saat teleponnya tersambung..


"Hallo mas,selamat pagi..Bisa gak aku minta tolong?"ucap Adel dengan nada lembut.


"Mau apa lu pake minta tolong segala ke gue?"ucap Bryan jutek.


"Kalau mas mau kerumah sakit,bawain baju ganti untuk Adel yah?"


"Ogah amat..Sekarang,gue lagi dijalan nganter ibu dan Shinta kesitu.Dan Lu ikut gue pulang nantinya."Ucap Bryan lalu mematikan teleponnya.


Adel merasa lega,akhirnya dirinya bisa pulang untuk membersihkan badannya.Karena dari kemarin,dirinya belum mandi.Ada ibu dan juga wanita itu yang akan menggantikannya menjaga bapak mertuanya.


Dia takut,kalau tak ada yang berjaga jaga didepan ruangan itu akan kejadian seperti kemarin lagi.Setelah sarapan,diapun kembali untuk menunggu suami dan ibu mertuanya datang.Sambil menunggu,dia pun meminta izin kepada dokter untuk masuk kedalam ruangan.


Dokter mengizinkannya masuk tapi tak boleh berlama lama.Adel segera masuk,dan berbisik ketelinga bapak mertuanya yang belum sadarkan diri dari komanya.


"Pak,Adel mau pulang dulu yah sebentar dirumah untuk ambil baju ganti.Bapak yang kuat yah..Semoga setelah Adel kembali lagi kesini,bapak sudah sadarkan diri."Ucap Adel mengeluarkan air mata.


Saat Adel meninggalkan ruangan,pak Hadi meneteskan air matanya dan tangannya sedikit bergerak.Mungkin karena beliau mendengarkan suara menantunya itu.


Adel berusaha untuk menghapus kesedihannya,dan merasa yakin kalau bapak mertuanya akan melalui masa kritisnya dan bisa kembali sehat seperti biasanya.Saat menghapus airmatanya,tiba tiba saja ibu mertuanya meneriakinya.


"He pembawa sial,kamu tak akan pernah kumaafkan.Kamu sudah membunuh anakku dan sekarang mau membunuh suamiku juga hah?"ucap bu Astuti melototi menantunya itu.


"Apa maksud ibu?"ucap Adel menahan tangis.


"Sudahlah jangan berlagak tak tau.Sekarang,bawa wanita ini pulang dan balaskanlah dendam mu nak."Pintah bu Astuti kepada anaknya.


"Lebih baik aku saja yang menemani Adel pulang kerumah.Lagipula nanti kan dia mau kesini lagi kan?kasian Bryan kalau bolak balik jadi sopir wanita pembawa sial itu."Ucap Shinta menawarkan diri.


Bu Astuti dan Bryan mengangguk tanda setuju.Shinta pun menarik tangan Adel dan menyeretnya keluar dari rumah sakit menuju ketempat parkiran.Adel merasa kesakitan karena Shinta memegangi tangannya dengan kencang.

__ADS_1


"Kamu apa apaan sih.Lepasin tanganku gak?kamu bukan siapa siapa yah seenaknya main kasar sama aku."Ucap Adel melepaskan tangannya dari cengkraman Shinta.


Mereka pun naik kedalam mobil dan pulang kerumah Bryan.Terlihat Adel sedang memegangi ponselnya dan seperti mengirimkan sms kepada seseorang.Adel merasa ada hal buruk yang direncanakan oleh Shinta.Hal itu tak disadari oleh Shinta karena dirinya sedang fokus menyetir.


Saat sampai dirumah,mereka pun turun dari mobil.Shinta kembali menyeret Adel masuk kedalam dan mendorongnya kedalam kamar.Disana ternyata ada seorang pria yang sedang berbaring diatas ranjang kamar itu.


Shinta mendorong Adel lagi sehingga jatuh didalam dipelukan lelaki tersebut.Adel buru buru bangun namun lelaki tersebut menahannya dengan kencang,sehingga dirinya tidak bisa melepaskan diri.


"Apa yang akan kamu lakukan padaku Shinta?dan mengapa laki laki ini ada dikamarku?"ucap Adel sambil berusaha melepaskan diri dari lelaki yang memeluknya.


"Ini kan yang kamu inginkan.Mungkin punyamu sudah gatal,jadi lelaki itu sudah kubayar untuk memuaskan dirimu."Ucap Shinta berkacak pinggang.


Dengan sekuat tenaga,Adel pun bisa bebas dari lelaki tadi lalu menghampiri wanita itu dan melayangkan sebuah tamparan.Shinta tak terima dan kembali menampar Adel berkali kali hingga pipinya terlihat berwarna merah.


"Lakukanlah sepuasmu.Biarkan wanita ini menikmati sentuhan darimu."Ucap Shinta kepada lelaki itu.


"Siap bos..Aku siap menikmati keindahan tubuh wanita ini."Ucap lelaki tadi menatap Adel penuh n**su.


"Kamu jahat Shinta.Kenapa kamu tega melakukan ini padaku?"ucap Adel terduduk lesu dilantai.


"Ini semua salah lu sendiri.Mengapa?yang pertama,lu yang buat Bimo meninggal.Kedua,lu yang buat Bryan masuk penjara.Dan terakhir,lu yang nyebabin bapak mertuamu kritis dirumah sakit."Ucap Shinta memegangi dagu Adel dengan kencang.


"Emang benar sih.Tapi kan kamu gak punya bukti.Gak akan ada yang percaya sama kamu Del."Ucap Shinta lalu melangkahkan kakinya keluar.


"Dasar kamu wanita jahat.Aku akan balas semuanya,ingat itu."Ucap Adel sambil menangis.


"Gak perlu nangis Del.Terima saja nasib lu sekarang.Lagipula lu sangat ingin disentuh kan?inilah waktunya terima kenikmatan malam pertama yang selalu lu rindukan."Ucap Shinta lalu mengunci pintu kamar.


"Dia bukan suamiku.Dan pria itu gak ada hak menyentuhku.Lepaskan aku Shinta..aku mohon,buka pintunya."Ucap Adel memohon.


"Nikmatilah bersama pria itu.Aku yakin suamimu ikhlas kok kalau lelaki itu yang mewakilinya untuk mencicipi tubuhmu."Ucap Shinta dari balik pintu.


Adel berteriak memanggil nama wanita itu untuk membebaskannya dari lelaki yang ada dikamar itu.Namun percuma saja,pintu itu masih tetap terkunci.Lalu lelaki bayaran Shinta itu memeluk Adel dari belakang sehingga Adel berontak melepaskan diri dari pria itu.


Pria itu makin agresif.Dia mengangkat tubuh Adel dan menghempaskannya diatas kasur.Lelaki itu sudah membuka bajunya dan siap untuk menyerang.Pertama tama dia memegangi pipi Adel dan menciumi lehernya.

__ADS_1


Adel berteriak meminta tolong namun percuma saja.Lelaki itu merobek baju Adel hingga terlihat pemandangan yang begitu indah.Saat hendak menelanjangi Adel secara keseluruhan,tiba tiba pintu kamar itu terbuka.


Lelaki itu kaget dan langsung melarikan diri lewat jendela karena melihat dua orang wanita dan seorang lelaki yang hendak memukulinya.Adel hanya bisa menangis karena peristiwa yang menimpanya.


"Adel kamu belum sempat diapa apain kan?"ucap Lala menutupi tubuh Adel yang setengah telanjang.


"Siapa yang menjebak kamu seperti ini Del?apa kamu kenal dengan lelaki tadi?"tanya Ani memeluk tubuh sahabatnya itu.


"Shinta..dia yang menjebakku dengan lelaki itu.Untung kalian cepat datang,kalau tidak mungkin hidupku sudah hancur."Ucap Adel sesenggukan.


"Wanita pshikopat itu lagi?"ucap Lala mengepalkan tangannya.


Kedua sahabatnya itupun memeluk Adel dan menangis bersama sama karena perbuatan Shinta yang keterlaluan.Rio pun segera datang menghampiri mereka dan mengatakan bahwa lelaki tadi berhasil meloloskan diri.


"Biarkan saja lelaki itu pergi.Aku berterima kasih karena kalian datang tepat waktu."Ucap Adel menundukkan kepalanya.


"Ini tak bisa dibiarkan.Wanita pahikopat itu semakin menggila,kita harus laporkan ini pada polisi."Ucap Lala memberi saran.


"Gak.Aku gak mau hal ini dibawa kekantor polisi.Bisa bisa aku yang kembali dituntut,karena mas Bryan lebih percaya pada wanita itu.Lagipula,tak ada bukti untuk melaporkan wanita itu."Ucap Adel lemas.


"Kami bertiga sebagai saksinya.Iya kan?"ucap Ani meyakinkan Adel.


"Maakan aku.Sebenarnya,aku ingin sekali melaporkan wanita itu kepolisi.Tapi,percuma saja kalau tidak ada bukti.Mendingan kita kumpulkan semua bukti agar kedok Shinta cepat terungkap."


"Oya Del,dulu Bimo suka nulis dibuku diary.Pernah saya membaca sedikit,saat dia menulis kisah cintanya bersama Shinta.Lalu,saat Bimo meninggal saya kan pindah kontrakan karena masa magang juga sudah berakhir.Nah,pas beres beres saya nemuin kunci buku diarynya Bimo dilemari,tapi buku diarynya gak ada.Coba tanyakan pada keluarganya,siapa tau nyimpen diary tersebut."Ucap Rio serius.


"Eh iya.Kata mas Bryan dia yang menyimpan buku diary Bimo.Dan dia juga berkata belum nemuin kunci diary tersebut."Ucap Adel menatap mereka satu persatu.


"Mumpung suamimu gak ada,gimana kalau kita cari buku diary itu."Ucap Lala menyarankan.


"Biar aku yang nyari sendiri.Gak bagus kalau kalian ikut nyari,kita kan bukan maling.Mending,kalian pulang dulu dan aku akan berusaha buat nemuin buku diary itu."Ucap Adel kepada mereka.


"Tapi kamu gak apa apa kan kalau ditinggal sendirian disini?"tanya Ani khawatir.


"Gak.Lagian sehabis mandi,aku akan kembali kerumah sakit."

__ADS_1


"Kalau gitu,kami tunggu kamu mandi biar kerumah sakitnya barengan dengan kami."Ucap Rio menawarkan.


Adel pun menerima tawaran para sahabatnya itu karena masih takut dengan kejadian tadi.Dia pun buru buru masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.Setelah itu,menyiapkan baju ganti buat dibawa kerumah sakit.


__ADS_2