
Untungnya semua berjalan dengan lancar. Aku berhasil menaruh identitas Bimo kesaku celana yang digunakan oleh korban kecelakaan yang sudah meninggal itu. Aku meminta dokter untuk memberi surat rujukan karena rencanaku akan membawa Bimo kerumah sakit yang lainnya.
Waktu itu Bimo masih dalam keadaan kritis, jadi dokter menyarankan untuk tetap mendapat perawatan intensif. Kebetulan salah satu dokter yang menangani Bimo adalah kerabatku dari pihak ibu. Jadi dia memberikan ruangan khusus untuk Bimo. Kalau masalah biaya, aku menyuruh Shinta untuk memintanya kepada Bryan.
Shinta menyetujuinya,dan dia memberikan alasan kepada Bryan meminta uang untuk membayar perawatan ibu yang sedang sakit kanker. Walaupun kuakui perbuatan nya salah karena membawa-bawa nama ibu yang sudah meninggal, tapi hanya itu jalan yang bisa ditempuh. Maafin kami, bu.
Karena rasa cintanya besar kepada adikku, Bryan rela mengeluarkan uang banyak untuk biaya pengobatan yang dipikirnya adalah untuk ibuku. Tapi yah, gak ada salahnya juga aku menyuruh Shinta memoroti kekasihnya itu, toh itu kan termasuk uangnya Bimo juga.
Seminggu kemudian, Bimo telah sadar dari komanya. Aku sangat bahagia kala melihat matanya terbuka secara perlahan. Namun, dokter mengatakan kalau suamiku tersebut mengalami geger otak. Dan mungkin akan sulit untuk kembali normal seperti dulu. Akibatnya dia tak mengenal dirinya sendiri ataupun orang lain.
Saat mata Bimo melihat kearahku, dia tersenyum sumringah, apakah dia masih mengingatku?
"Adel.. Adel.. Adeeeeel... " Bimo menyebut nama Adel, yang aku tak tau siapa wanita yang disebutnya itu.
Saat menyebutkan nama Adel, dirinya selalu memberontak. Hingga alat suntik yang menempel di pergelangan tangannya pun dicabutnya dengan paksa membuatku sangat panik. Dokter yang melihat tingkah suamiku itu, lalu memberikannya obat penenang. Sehingga dirinya kembali terbaring tak sadarkan diri.
Seorang suster kembali memasang selang infus yang tercabut tadi dengan yang baru. Lalu juga mengikat tangan Bimo agar nanti saat sadar tidak memberontak dan menyakiti dirinya sendiri lagi. Dan dokter mengajakku untuk ke ruangannya.
"Sepertinya pasien harus dibawa kerumah sakit kejiwaan. Karena melihat kondisinya yang suka memberontak dan mudah melukai dirinya sendiri. Mungkin disana pasien akan mendapat penanganan mental dan kejiwaan. " Ucap dokter memberi saran.
"Apa tak ada cara lain selain kerumah sakit jiwa? " tanyaku penuh harap, karena kasian juga kalau Bimo harus berakhir dirumah sakit jiwa.
"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, namun sulit bagi kami untuk menangani pasien seperti suami anda. Jalan satu-satunya dia harus mendapat penanganan dari rumah sakit kejiwaan. " Ucap dokter lalu mempersilahkan aku untuk keluar dari ruangannya.
Sejak hari itu, Bimo dirujuk kerumah sakit jiwa. Semoga disana keadaannya cepat membaik. Untuk mendapatkan biaya rumah sakit tempat Bimo dirawat, aku memaksa Shinta untuk segera menikah dengan Bryan. Namun ternyata dia mempunyai rencana lain.
Katanya walaupun belum menikah, dipastikan Bryan akan selalu memberikan uang kepadanya dan diriku tak perlu khawatir. Terus, mau tau rencananya? dia akan memaksa kekasihnya untuk menikahi wanita kampung yang sudah membuat ibu kami meninggal. Dan akan membalas dendam pada wanita itu.
__ADS_1
"Maksud kamu gimana?aku tak mengerti. " Tanyaku saat dia memberitahukan rencananya tersebut.
"Aku akan mengatakan kepada Bryan kalau wanita itu yang membunuh Bimo. Jadi aku menyuruh dia untuk menikahinya agar bisa balas dendam. Dan kupastikan wanita kampung itu akan hidup menderita ditanganku dan juga ditangan Bryan. Biar double penderitaannya. "
"Emang Bryan akan percaya begitu saja dengan omonganmu? kan kamu gak punya bukti kalau wanita itu yang membuat Bimo kecelakaan. " Ucapku tak yakin.
"Kakak tenang aja, aku sudah atur semuanya. Kemarin, aku berhasil mengambil gambar mereka saat berboncengan memakai motor matic nya Bimo. Terus, tadi aku ke kontrakan Bimo dikampung itu dan menemui temannya yang bernama Mario. Dari Mario lah aku menemukan buku diary Bimo. " Ucap Shinta meyakinkanku.
"Apa, buku diary? jangan gila kamu. Yang ada dia malah melihat fotoku didalam. Karena dihalaman awal buku diary itu ada foto kami berdua. " Ucapku menolak rencananya itu.
"Tenang dong, aku sudah menyobek halaman pertamanya. Dan menaruh fotonya bersama wanita kampung itu sebagai sampulnya. Dan juga, buku diary itu gak akan bisa dibuka oleh Bryan kok. Sudah terkunci rapat, dan ini kuncinya kakak deh yang megang kalau gak percaya padaku. "
"Terus ngapain kamu kasih ke Bryan kalau dia gak bisa membuka diary itu? " tanyaku masih bingung.
"Kan cuma untuk menunjukkan sampul diary yang berisikan foto Bimo dan wanita kampung itu. Biar dia percaya dengan ucapanku, dan bisa dengan mudah aku mencuci otaknya. Kalau dia menikahi wanita itu, kan dendam kita bisa terbalaskan. Jadi aku minta bantuan kekasihku biar lebih gampang. "
Namun rencana adikku itu gagal, karena kekasihnya melanjutkan studinya diluar negeri. Walau begitu, mereka masih pacaran jarak jauh dan uang pun tetap dikirimkan kepada adik perempuan ku tersebut.
Tiga tahun kemudian, Bimo masih saja belum bisa kembali normal seperti dulu lagi. Tapi aku tak gampang menyerah, aku yakin dia akan kembali sembuh dan bisa memulai kehidupan rumah tangga kami dari awal. Setiap minggu aku pergi untuk sekedar melihat perkembangan mentalnya dirumah sakit.
Karena sekarang sudah ada Ali, anakku bersama Bryan, jadi sangat sulit untuk menjenguknya setiap hari. Yah, kini anakku sudah besar, dan aku harus kuat menjalani hidup ini demi dia.
"Kak, aku sudah berhasil membujuk Bryan untuk menikahi gadis kampung itu. Ah, gak sabar diriku untuk membuatnya menderita. " Ucap Shinta lewat telepon.
"Hah, iya kah? terus apakah nanti kamu gak akan cemburu kalau dia menikahi wanita lain? "
"Yah gak lah, kak. Bryan kan terpaksa menikahinya karena termakan hasutanku. Dia marah besar setelah mengetahui kalau wanita itu yang membuat adiknya meninggal. Sekarang aja, dia dan orangtuanya pergi ke kampung wanita itu untuk melamarnya. " Ucap Shinta membuatku geleng-geleng kepala dengan kekonyolan nya.
__ADS_1
"Apa kamu gak takut suatu hari nanti kekasihmu itu jatuh cinta kepada wanita kampung itu? " tanyaku menanti jawabannya.
"Aku yakin, gak akan pernah dia mencintai wanita itu. Sudah yah Kak, nanti kita tunggu kelanjutannya. Bye. " Telepon pun terputus.
Adikku itu ternyata masih ingat saja pada rencananya tiga tahun yang lalu. Maafkan aku, dek.. sebenarnya bukan wanita itu yang menyebabkan ibu meninggal. Kematian ibu tak ada sangkut pautnya dengan keluarga wanita itu.
Semuanya terjadi karena kesalahanku yang tak sengaja menikam ibu dengan pisau dapur. Aku hanya emosi karena beliau selalu melarang ku untuk bertemu dengan bapak. Ah sudahlah, sama aja ini karena wanita itu yang membuat ibu dan bapak berpisah.
________________
Hari demi hari berganti, terbesit dipikiran ini untuk menyerah dan meninggalkan Bimo sehingga diriku bisa mencari lelaki lain. Namun tak bisa kulakukan. Aku tetap bertahan dan menanti mukjizat.
Kalau Bimo sembuh nantinya kan, aku dan anakku bisa menikmati harta suamiku juga. Palingan kalau mereka tau Bimo masih hidup, pasti mereka akan berterima kasih padaku karena sudah merawatnya selama ini.
Dan ketika melihat anakku, mungkin mereka akan menerima diriku sebagai menantunya. Pokonya aku akan menunggu kesembuhan Bimo, biar rencanaku berbuah manis. Saat tengah menyuapi Bimo di taman rumah sakit, datanglah Shinta dan seorang lelaki yang belum kukenal.
"Hallo, kak.. nih aku bawa seseorang buat dikenalin ke kakak. " Ucap Shinta sumringah.
"Siapa dia, dek? " tanyaku singkat.
"Ini teman Bimo yang satu kontrakan dengannya dulu. Nah, dia ingin menjenguk Bimo katanya. Selama ini dia pikir Bimo sudah meninggal. Jadi aku sudah menceritakan semuanya. Kakak gak perlu khawatir, Mario ada dipihak kita dan mungkin akan membantu kakak untuk merebut harta yang harusnya milik Bimo. "
"Kalau Bryan jatuh miskin, emangnya kamu mau? masa iya nyuruh orang lain untuk merebut harta dari kekasihmu sendiri sih? "
"Tenang aja kok, kalau dia jatuh miskin, kan ada Mario. " Ucapnya membuatku melongo.
Hadu, ternyata dia mempunyai hubungan khusus dengan lelaki yang bernama Mario itu. Terserahlah gimana maumu, yang penting ucapannya membuahkan hasil memuaskan.
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Hay readers.. kasih kritik dan sarannya dong mengenai tulisanku yang ini... Terima kasih....