Merindukan Malam Pertama

Merindukan Malam Pertama
Menemui sahabat direstoran


__ADS_3

Keesokan paginya,Shinta sudah kelihatan rapi.Saat sarapan,wanita itu meminta izin kepada Bryan untuk menjenguk ibunya dirumah sakit.Bryan mengizinkan dan hendak ikut untuk menjenguk ibu dari wanita itu.


Wanita itu terlihat gugup,lalu mengatakan satu alasan agar Bryan tak mengikutinya kerumah sakit.Bryan pun mengerti dengan alasan itu,dan menganggukan kepalanya.


"Emang kamu gak apa apa pergi sendirian?ingat kondisi kamu dong."Ucap Bryan mengingatkan.


"Gak apa apa kok sayang.Lagian kan nanti aku kesananya sama adik aku."Ucap Shinta lalu memakan roti.


"Oh,baguslah kalau begitu.Sebenarnya aku ingin bertemu dengan keluargamu,biar mereka tau kalau aku ini adalah bapak dari anak yang dikandunganmu."Ucap Bryan menatap wanita itu.


"Nanti ada waktunya kok,untuk sekarang belum bisa karena keluargaku lagi fokus merawat ibuku dirumah sakit.Kamu yang sabar yah?"ucap Shinta mengusap tangan Bryan.


"Okelah,kalau begitu aku berangkat kekantor dulu.Kamu cepat pulang kerumah nantinya biar banyak istirahat."Ucap Bryan lalu menuju kedapur menemui Adel.


" Makasih yah,transferannya sudah masuk.Dan mungkin nanti malam aku baru bisa pulang."Ucap Shinta mendekati Bryan dan menarik tangannya agar tak menyentuh Adel.


Ponsel Shinta berdering lalu dia buru buru meninggalkan ruang dapur untuk mengangkat telepon dari seseorang.Kesempatan itu digunakan Bryan untuk mendekati Adel dan langsung melayangkan ciuman di kening istrinya tersebut.


Adel lalu mencium punggung tangan suaminya dan segera menyuruh suaminya itu pergi dari hadapannya agar Shinta tak curiga dengan kesempatan yang mereka ambil secara diam diam.


Bryan kembali memeluk istrinya tersebut karena merasa belum puas,lalu mengatakan sesuatu yang membuat Adel berbunga bunga.


"Del,boleh gak aku panggil kamu,'cintaku'?biar romantis gitu loh."Tanya Bryan yang masih memeluk istrinya tersebut.


" Tapi,disaat gak ada Shinta yah mas!nanti dia marah besar kalau tau aku melanggar janji."Ucap Adel melepas pelukannya.


"Aku kan gak buat perjanjian sama dia.Jadi terserah aku dong,kamu gak boleh menolak."Ucap Bryan menyubit pipi istrinya itu.


"Terserah deh,lebih baik sekarang kamu berangkat sana.Nanti kalau lama lama disini,nyonya besar darah tinggi jadinya.Dan aku nanti siang mau ke restoran buat makan siang bersama sahabatku."Ucap Adel mendorong suaminya itu agar bergegas pergi.


" Oke,nanti kita telponan lagi yah?aku masih kangen sama kamu.Walaupun tinggal seatap,tapi kayak berjauhan rasanya."Ucap Bryan lalu melangkahkan kakinya keluar.

__ADS_1


Adel mengangguk saat suaminya mengatakan akan menelponnya lagi.Lalu melambaikan tangan saat suaminya tersebut meninggalkan ruang dapur.Setelah suaminya berangkat,Shinta datang menemui Adel yang tengah menyetrika baju.


Wanita itu memberi tugas kepada Adel untuk membersihkan seluruh isi ruangan rumah itu.Dan berharap sudah bersih dan wangi saat dia pulang nanti.


Adel menganggukan kepalanya mengiyakan semua perintah wanita itu.Meskipun sebenarnya lelah,dia berusaha untuk membuat wanita itu diam dan tak mengoceh karena akan membuat kepalanya pusing tujuh keliling.


Jam sepuluh pagi,akhirnya wanita itu pergi meninggalkan rumah sehingga membuat Adel bisa sedikit bebas dari ocehan yang tiada hentinya.Setelah semuanya hampir rampung,dia bergegas kekamar dan bersiap untuk bertemu dengan kedua sahabatnya.


Dia berpikir,nanti sore pekerjaannya baru dilanjutkan setelah pulang dari restoran.Dia pun bergegas dan memesan taxi online.


___________________________


Direstoran,Adel menuju ke meja yang sudah dipesan oleh Lala.Dirinya selalu datang tepat waktu dan harus siap menunggu kedatangan kedua sahabatnya yang datangnya selalu terlambat.


Karena bosan menunggu,dia pun memanggil pelayan dan memesan minuman.Tanpa sengaja,dirinya melihat kearah jendela sehingga melihat Shinta yang sedang duduk dibangku memanjang diluar restoran.


Dia merasa heran,mengapa wanita itu ada ditempat yang sama dengannya.Sehingga membuatnya khawatir apakah Shinta sengaja membuntutinya kayak waktu itu.


Segera dia pindah ke sudut untuk bersembunyi agar tak ketahuan oleh keduanya.Lalu dia mengambil ponsel dari dalam tas untuk mengambil gambar keduanya yang kelihatan begitu mesra.


Namun sayangnya,mereka keburu masuk kedalam mobil dulu dan tidak sempat memotretnya.Dalam hatinya bertanya tanya,ada hubungan apa diantara keduanya sehingga kelihatan seperti sepasang kekasih.


Lamunannya buyar ketika kedua sahabatnya mengagetkannya.Adel memegangi dadanya karena sangat kaget dibuatnya.


"Kalian nih,udah datangnya telat mau bikin jantungan pula."Ucap Adel masih memegangi dadanya.


" Makanya,jangan melamun dong.Hati hati kesambet."Ucap Lala tertawa lepas.


"Lagi mikirin apa sih,Del sampai segitunya tak menyadari kedatangan kami berdua?"Ucap Ani menyubit lengan Adel.


" Tau gak,tadi aku melihat Shinta bersama Rio.Dan anehnya,mereka berdua itu kelihatan mesra banget.Sampai cium kening segala,apa mereka punya hubungan spesial yah?"tanya Adel menatap sahabatnya bergantian.

__ADS_1


Mendengar ucapan Adel tersebut,Lala pun mengutarakan semua yang ia ketahui tentang Rio.Itulah sebabnya,waktu ditelepon dirinya mengatakan hendak memberitahukan sesuatu yang penting kepada Adel.


Lala mengatakan kalau dia pernah membuntuti pak Mario saat pulang dari restoran.Dan bosnya itu ternyata menemui Shinta di sebuah rumah sakit.


"Ibunya yang sedang dirawat dirumah sakit.Karena aku dengar sendiri saat pamitan pada mas Bryan,katanya ingin menjenguk ibunya yang sedang dirawat dirumah sakit."Ucap Adel menjelaskan.


"Yang kumaksud,rumah sakit jiwa loh.Masa ibunya dirawat disana?"ucap Lala tak percaya.


" hah,rumah sakit jiwa?gak mungkin lah ibunya dirawat disana.Tapi,kenapa Rio juga bersamanya?apakah mungkin teman mereka?bukannya kata Rio dia tak mengenal Shinta dengan dekat?"tanya Adel bingung.


"Itu dia masalahnya,Del.Kata pak Mario dia hanya sekilas mengenal Shinta saat wanita itu berpacaran dengan Bimo dulu.Kenapa sekarang mereka terlihat akrab?dan siapa yang mereka jenguk di rumah sakit jiwa itu yah?"tanya Lala ikutan bingung.


" Lagipula Del,suamimu kan sudah menghapus dendamnya,lalu untuk apa wanita itu masih saja menyakitimu?apa karena dia ingin kamu berpisah dengan suamimu dulu baru mengakhiri semuanya? "kali ini Ani yang bertanya.


" Entahlah,untuk sekarang aku tak mau dulu memikirkannya.Untuk saat ini aku akan mengikuti semua keinginannya."Ucap Adel tertunduk lesu.


"Apakah kamu menyerah begitu saja?ingat,suamimu sudah kembali padamu dan langkah selanjutnya tinggal menyingkirkan wanita itu dari kehidupan rumah tangga kalian."Ucap Lala menyemangati.


Adel menghela nafas panjang dan menceritakan semua yang terjadi padanya.Pertama,dia tak ingin neneknya tau akan hal buruk yang terjadi padanya dan dia tak mau membuat neneknya khawatir karena mengingat juga kesehatan neneknya yang kurang stabil.


Kedua,dia yang meminta Shinta untuk tinggal seatap dengan mereka karena wanita itu sedang mengandung anak suaminya.Dia tak tega jika Shinta nekat untuk menggugurkan kandungannya jika dirinya tak mengikuti semua perintah wanita itu.


Terakhir,itu sudah terlanjur ditanda tangani olehnya diatas meterai karena tak ada pilihan lain untuk keluar dari penjara.Jadi,mau tidak mau dirinya harus patuh terhadap wanita itu dan menjadi pembantu dirumahnya sendiri.


"Bukannya katamu,suamimu yang menghapus tuntutannya sehingga dirimu bisa bebas,Del?"tanya Ani saat mendengar penuturan Adel.


"Wanita itu sengaja menjebak ku.Dia tau suamiku akan mencabut tuntutannya pada hari itu.Dan rencananya berhasil karena bodohnya aku yang tak mengetahui akan hal itu.Tapi,biarlah semua ikhlas kulakukan sampai wanita itu melahirkan anaknya kedunia ini."


"Maksud kamu gimana,Del?"tanya Lala bingung.


"Kalian tetap menjalankan rencana kita,kumpulkan semua kejahatan Shinta.Setelah dia melahirkan anaknya,aku ingin memberikannya pelajaran dan semoga dia mendapat hukuman yang setimpal."Ucap Adel dengan nada pelan.

__ADS_1


Setelah lama mengobrol,mereka pun menyantap makanan yang sudah dihidangkan oleh pelayan diatas meja.Mereka melupakan obrolan tentang wanita itu sejenak dan memilih untuk membicarakan keseharian mereka yang begitu menyenangkan.


__ADS_2