
Saat Adel tersadar, dia mendapatkan dirinya berada di sebuah ruangan yang begitu asing. Dia kembali mengingat peristiwa yang menimpanya sampai bisa berakhir ditempat tersebut. Lama dia berpikir, sehingga akhirnya dia pun mengingat kejadian saat seseorang membekap mulutnya dari belakang, saat dirinya hendak menemui Viona di sebuah taman.
Dia beringsut turun dari kasur, dan mencoba untuk mencari jalan keluar agar bisa bebas dari tempat itu. Namun ternyata, pintunya terkunci dengan rapat. Anehnya di ruangan itu tak memiliki jendela, hanya ada lubang angin saja. Dia bingung bagaimana caranya bisa bebas dari tempat tersebut karena dirinya yakin kalau saat ini dirinya adalah korban penculikan.
Namun dirinya bingung, siapa yang tega menculiknya? dan untuk apa dia harus diculik segala? terbesit dipikirannya, apakah ini perbuatan Rania? karena hanya wanita itu yang jadi musuh bebuyutan nya. Saat tengah memikirkan jalan keluar, tiba-tiba saja ada yang membuka pintu dan membuat hati Adel penasaran siapa gerangan orang yang menyekapnya ditempat tersebut.
"Rupanya kamu sudah sadar, sekarang makanlah dulu! nanti aku akan memberikan kejutan untukmu. " Ucap seorang wanita yang belum pernah ditemui oleh Adel.
"Kamu siapa? dan apa tujuanmu membawaku ditempat ini? " tanya Adel merasa heran.
"Tenang sayang, aku tidak akan menyakitimu. Sekarang turuti keinginanku untuk menghabiskan makanan yang enak ini. Nanti setelahnya, baru kita memulai obrolan serius. " Ucap wanita itu lagi menyodorkan nampan yang berisikan makanan dan minuman kepada Adel.
Setelah nampan tersebut berpindah ke tangan Adel, wanita tadi meninggalkan ruangan itu dan memberi kesempatan kepada Adel untuk makan. Dia berjanji, lima belas menit kemudian akan kembali datang untuk menemuinya dan ingin mengajaknya mengobrol serius.
Karena perutnya yang juga sudah terasa lapar, diapun segera melahap makanan itu hingga tak bersisa. Setelah selesai, dia mencoba untuk mencari tas pribadinya, namun rupanya tak ditemukannya. Sehingga dia pasrah saja menerima keadaan. Dan dia juga berharap, dirinya bisa segera bebas dari tempat asing itu.
Lima belas menit berlalu, sesuai janji wanita tadi, akhirnya keduanya bertemu lagi. Kali ini wanita itu datang bersama seorang anak kecil membuat Adel menjadi bingung saja. Apa sebenarnya maksud wanita itu menculiknya?
"Bagaimana pernikahan mu dengan Fabian, apa kalian hidup bahagia? " tanya wanita itu membuat Adel mengerutkan keningnya karena tak mengerti arah obrolan wanita itu.
"Yah, kami hidup bahagia. Memangnya apa maksudmu menanyakan tentang hubungan rumah tangga kami? apa kamu dan suamiku saling mengenal? " tanya Adel membuat wanita itu terlihat cemberut.
"Benarkah kalian hidup bahagia? oh, sungguh tega dia mengkhianati ku. Padahal anaknya membutuhkan kasih sayangnya, tapi semenjak kehadiranmu, semua rencanaku jadi berantakan. " Ucap wanita itu lalu menarik rambut Adel dengan kasar.
Mendapat perlakuan seperti itu membuat Adel memberikan perlawanan. Dia memelintir tangan wanita itu, hingga meringis kesakitan. Lalu dia pun memilih kabur dari ruangan tersebut, karena kebetulan pintunya terbuka dengan lebar. Dia tak mempedulikan tangisan anak kecil yang sedang bersama wanita itu, dalam pikirannya saat ini hanya ingin bisa bebas dari tempat tersebut.
__ADS_1
Namun tak semudah yang ia bayangkan. Ternyata, diruang tamu sudah banyak lelaki berbadan kekar yang menghadangnya sehingga akhirnya dia kembali dibawa ke ruang penyekapan tadi.
"Nyonya Selena.. apakah kita perlu mengikat tubuh wanita ini agar tak berusaha kabur lagi dari tempat ini? " tanya salah satu anak buah wanita tersebut.
"Ide yang bagus. Sekarang ikatlah tangan dan kakinya, agar wanita pelakor ini tak bisa ke mana-mana lagi. Aku akan memberikan pelajaran kepadanya, karena sudah berani-beraninya melawan ku. " Ucap Selena dengan raut penuh amarah.
Tanpa memakan waktu yang lama, akhirnya tubuh Adel sudah terikat dan tak bisa bergerak lagi. Melihat hal itu membuat Selena puas dan tertawa bahagia melihat ketakutan diwajah Adel. Namun, seorang anak kecil yang bersama Selena itu merasa heran dengan apa yang terlihat didepan matanya.
"Ma.. mengapa tante cantik itu diikat seperti itu? kasian loh, ma.. nanti tante cantik itu kesakitan. " Ucap anak kecil itu merasa iba melihat keadaan Adel yang terikat tersebut.
"Sayang, biarkan dia merasakan rasa sakit itu. Karena dia, kamu tak bisa bertemu dengan papa lagi. Dia yang sudah merebut papa dari kita berdua. " Ucap Selena mencuci otak anak berusia tujuh tahun tersebut.
Mendengar ucapan Selena, akhirnya Adel paham sekarang, bahwa maksud wanita itu menculiknya karena perkara Fabian. Akhirnya, Adel pun menanyakan satu hal pada wanita itu,
"Ya, Putri adalah anak kandung dari Fabian. Kedatangan aku ke Indonesia untuk membawakan dia kepada Fabian dan aku berharap agar bisa kembali membina rumah tangga dengannya. Namun semuanya gagal, karena kehadiranmu itu. " Ucap Selena dengan raut kesedihan.
"Tapi mas Fabian tak pernah mengungkit kalau dirinya mempunyai seorang anak. Mungkin saja kamu yang berbohong. " Ucap Adel dengan berani.
"Maksud kamu, aku berkata bohong? haha, justru aku kasian padamu, selama ini telah dibohongi oleh Fabian. Kamu pikir aku tak tau tentang pernikahan kontrak kalian? Viona sudah menjelaskan semuanya kepadaku. Aku pastikan, dengan segera kamu akan pergi dari kehidupan Fabian. Dia hanyalah milikku seorang. " Ucap Selena memegang dagu Adel dengan kasar.
Tiba-tiba datanglah salah satu anak buah Selena lalu berbisik ketelinga wanita itu bahwa diluar ada yang datang bertamu. Selena menyunggingkan senyumnya karena merasa yakin kalau itu adalah Fabian. Dia pun menyuruh anak buahnya itu untuk mengawasi Adel, sedangkan dirinya akan membukakan pintu bagi pangerannya tersebut.
_____________________
Fabian sudah menemukan alamat yang diberikan oleh Viona. Segera dia memencet bel rumah tersebut dan berharap alamat yang diberikan oleh Viona bukanlah alamat palsu. Setelah lama menunggu, akhirnya ada yang membukakan pintu untuknya. Dia pun terkejut saat melihat penampakan Selena yang menyambutnya dengan penuh nafsu. Melihat hal itu membuat Fabian merasa jijik.
__ADS_1
"Oh, pangeranku.. akhirnya kamu datang juga. Sekarang ayo masuk, dan aku akan mengenalkan kamu pada putri kita. " Ucap Selena menarik tangan Fabian hingga mereka pun masuk kedalam rumah itu.
"Kedatangan ku kesini untuk menjemput istriku. Aku tak punya waktu untuk meladeni wanita yang tak waras sepertimu. " Ucap Fabian membuat wanita itu emosi.
"Pokoknya kamu hanya milikku dan selamanya akan menjadi milikku. Kalau kamu menolak ku, kupastikan istrimu itu akan mati di tanganku! " Ucap wanita itu mengancam Fabian.
"Kamu cocoknya mendekam dirumah sakit jiwa, Selena. Sekarang, cepat tunjukan padaku dimana kamu menyekap istriku? " ucap Fabian mulai emosi.
Selena terduduk lemas sambil menangis histeris. Lalu datanglah anaknya yang tadi lalu ikut menangis bersama ibunya itu. Melihat adegan itu, membuat Fabian muak saja dengan drama Selena tersebut. Tanpa mempedulikan wanita itu, dia pun segera mencari keberadaan istrinya di setiap sudut rumah tersebut.
Namun dia merasa kesulitan karena dirinya dihadang oleh anak buah Selena. Ingin melawan, namun dia sadar kekuatannya tidaklah kuat. Karena jumlah anak buah Selena sekitaran sepuluh orang. Dalam keadaan terdesak, diapun berpura-pura mendekati wanita itu dan mencoba menenangkannya.
"Sayang, aku akan terus bersamamu,asalkan kamu lepaskan Adel yah? " ucap Fabian membuat wanita itu menyunggingkan senyuman.
"Sungguh, kamu akan kembali bersamaku? " tanya Selena dengan mata berbinar-binar.
"Ya, tapi dengan satu syarat bebaskan wanita itu! karena dia tak salah apa-apa. " Ucap Fabian mencoba mengambil hati wanita itu.
Selena terlihat mengangguk pelan lalu memeluk erat tubuh Fabian. Lalu dengan pelan wanita itupun membisikan sesuatu ketelinga Fabian,
"Aku tidak percaya dengan kata-kata mu, kamu pasti berbohong padaku. Aku tidak bodoh, sayang. " bisik Selena lalu tertawa dengan kencang.
"Kalian semua, cepat habisi nyawa wanita yang telah merebut kebahagiaan ku. Mungkin kalau dia mati, pangeranku bisa kembali kepadaku. Hahahahaha... " Ucap Selena dengan tawa menggelegar membuat Fabian ketakutan.
Sungguh,Fabian tak tau harus dengan cara apa lagi untuk membebaskan istrinya dari wanita yang sudah tidak waras itu lagi. Saat ini sepertinya dia sudah terjebak dan tak bisa menemukan jalan keluar lagi.
__ADS_1