
Saat jam istirahat,Bryan meraih ponselnya didalam saku jasnya dan segera menelpon ibunya karena dirinya penasaran,apa sebenarnya yang akan dibicarakan oleh ibunya tersebut.
Karena dia tau persis ibunya tak pernah seperti itu sebelumnya.Mungkin ini sebuah rahasia besar sampai harus dirahasiakan dari Shinta.Saat teleponnya tersambung..
"Hallo bu,katanya mau kekantor buat ngobrol empat mata denganku?"Ucap Bryan saat terdengar suara ibunya disebrang telepon.
"Tadinya iya mau kesitu,cuma kasian bapak kalau sampai ditinggal sendirian.Bibi lagi belanja dipasar soalnya."Ucap ibunya menjelaskan.
"Panggil aja Shinta dikamar bu,biar gantian ngurusin bapak.Kan sudah jadi kewajibannya juga sebagai istri buat ngebantu ibu dirumah."Ucap Bryan menyarankan.
"Gimana mau nyuruh nak,istri kedua kamu tuh udah ngilang dari tadi pagi sejak kamu berangkat kekantor."Ucap ibunya dengan nada kesal.
"Tadi waktu Bryan nelpon,katanya lagi dikamar.Berarti dia sudah berbohong padaku.Yah udah bu,sebentar lagi aku pulang,kita bicaranya dirumah saja yah."Ucap Bryan lalu memutuskan sambungan telepon.
"Kemana kamu pergi Shinta?sudah berani yah membohongiku."Gumam Bryan lalu mencoba menelpon Shinta lagi.
Beberapa kali ditelepon,tapi Shinta tak kunjung mengangkatnya sehingga membuat Bryan menaruh curiga pada istri sirihnya itu.Lalu dia teringat pada omongan istri sirihnya semalam yang mengatakan kalau ibunya sedang dirawat dirumah sakit.
Dia berpikir istri sirihnya itu pasti lagi menemui ibunya dan memberikan uang tambahan agar ibunya tersebut segera dioperasi dirumah sakit.Dia pun mengerti dengan keadaan Shinta sekarang yang sedang mengurus ibunya.
Akhirnya dia memutuskan untuk pulang karena sudah tak sabar mendengarkan apa yang akan disampaikan ibunya kepadanya.
___________
Ditempat lain..
Ani lalu mengantar Lala menuju restoran,Saat lampu merah mereka pun berhenti.Tanpa sengaja pandangan Lala melihat kearah mobil yang dikenalnya.
"Ni..kita ikutin mobil pak Mario yah.Sepertinya dia bersama seorang wanita.Kalau soal pekerjaan,aku bisa minta tolong pada yang lain buat gantikan shiftku."Ucap Lala buru buru menaikkan kaca jendela mobil.
"Yang mana mobilnya La?kamu yakin yang bawa mobil itu Rio?"tanya Ani melihat kearah mobil yang ditunjuk oleh Lala.
"Yakin,karena setauku itu mobil pribadinya.Kita ikutin yah Ni,jangan sampai hilang jejak."Ucap Lala yang kemudian dianggukin oleh Ani.
Setelah lampu hijau,Ani pun melaju dan membuntuti mobil yang menurut Lala adalah mobil milik Rio.Dari jarak sedikit berjauhan,mereka tetap fokus agar tak kehilangan jejak mobil yang dibuntuti tersebut.
Hingga mobil tersebut masuk kesebuah apartemen mewah.Saat Ani ingin menyusul mobil itu,Namun sayangnya mereka tak diperbolehkan masuk oleh satpam.
__ADS_1
Ada rasa kecewa diraut wajah mereka,karena tak berhasil melihat wajah wanita yang bersama lelaki itu.
"Pasti wanita yang tadi itu Shinta deh.Hanya saja kurang jelas."Ucap Lala menerka nerka.
"Terus gimana nih La,apa kita pulang saja?capek tau,kalau tau gini ogah amat ikutin mobil itu."Ucap Ani sedikit kesal.
"Ini kan demi Adel,Ni.Walaupun belum berhasil nemuin bukti,jangan putus asa dong.Sekarang kita pulang aja dulu yah.Kita harus istirahat yang cukup,karena besok akan berangkat ketempat kejadian Bimo kecelakaan."Ucap Lala mengajak pulang.
"Iya deh,tapi kamu kan hari ini gak masuk,kalau besok libur lagi bisa bisa dipecat tau."Ucap Ani mengingatkan.
"Tenang saja,pak mario besok ada kepentingan diluar kota.Jadi aku bisa minta tolong ke yang lain buat gantiin posisiku."Ucap Lala membuat Ani geleng geleng kepala.
__________________
Bryan melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah.Saat membuka pintu kamarnya,memang benar kalau Shinta tak ada.Lalu dia menuju kekamar orangtuanya
tok
tok
tok..
"Bu,sebenarnya apa yang ingin ibu katakan kepadaku?"tanya Bryan dengan nada pelan.
"Begini loh nak,bapak sudah cerita semuanya kepada ibu.Katanya,kamu sudah salah menuduh Adel.Dia bukan penyebab adikmu meninggal,nak."Ucap ibunya memegangi pundak anaknya itu.
"Aku tau bapak gak suka sama Shinta,tapi tolong jangan menuduh Shinta untuk membela wanita pembawa sial itu."Ucap Bryan sedikit emosi.
"Dengarkan dulu penjelasan bapakmu yah.Tolong,jangan dulu emosi agar bisa bicara dengan baik baik."Ucap ibunya memohon.
"Mendingan gak perlu diteruskan omongannya,aku sudah tau maksud ibu dan bapak.Buku diary itu sudah kuat bagiku dijadikan bukti,aku mohon jangan memihak kepada wanita pembawa sial itu."Ucap Bryan menutup telinganya.
"Tolong kali ini saja,kamu dengerin penjelasan dari bapak."Kali ini bapaknya yang angkat bicara memohon.
"Pak,wanita yang bapak bela itu adalah pembawa sial.Pertama,dia penyebab meninggalnya Bimo..kedua,dia juga yang membuat Bryan masuk penjara waktu itu..dan terakhir,bapak kritis di rumahsakit gara gara dia juga.Mengapa sih bapak terus membelanya?"Ucap Bryan terkesan membentak bapaknya.
Pak Hadi meneteskan airmata karena merasa percuma menjelaskan kepada anaknya itu.Lalu ibunya mendekati kembali anaknya itu dan menepuk nepuk pundaknya untuk menenangkannya.
__ADS_1
"Terserah kamu nak kalau tak percaya omongan bapak.Satu hal yang perlu kamu ingat,yang menyebabkan ketiga hal yang tadi kamu sebutkan,itu bukan kesalahan Adel."Ucap bapaknya lalu memalingkan wajah.
"Terus maksud bapak,Shinta penyebab itu semua?bapak boleh gak suka pada Shinta,tapi jangan sampai menuduhkan kesalahan Adel padanya."Ucap Bryan lalu keluar dari kamar itu.
Bu Astuti ingin mengejar anaknya itu,namun dicegah oleh suaminya.Dan memberikan waktu buat anaknya untuk berpikir dengan jernih.
"Biarkan saja dulu,bu.Pelan pelan saja menjelaskan kepada anak itu.Bapak yakin,cepat atau lambat matanya akan terbuka setelah mengetahui akal licik Shinta."Ucap pak Hadi lalu dianggukin oleh istrinya.
Bu Astuti mulai terisak karena merasa bersalah pada menantunya.Selama ini dia termakan oleh omongan Shinta sehingga menaruh benci kepada Adel.Ditambah lagi ancaman yang diberi oleh wanita itu,sehingga kedekatannya yang dulu bersama Adel kini terasa hilang.
Lalu bu Astuti berniat untuk pergi kekantor polisi buat membesuk menantunya itu.Namun dia mencari cara agar tak ketahuan oleh Shinta dan juga anaknya.Sehingga terpikirlah sesuatu dibenak bu Astuti.
"Pak,besok kita kekantor polisi yah?ibu ingin masakin makanan kesukaan Adel.Kasian dia,selama ini sudah tersiksa atas ulah licik Shinta."Ucap bu Astuti sambil memijit kaki suaminya.
"Emang gak takut pada Shinta bu?bapak takut wanita itu nekat untuk menghancurkan keluarga kita.Dia wanita licik bu."Ucap pak Hadi khawatir.
"Besok bapak kan waktunya buat kontrol dirumah sakit.Kita pake alasan itu saja biar wanita itu gak curiga.Lagian mana mau dia ikutan nganter kita,iya kan?"ucap bu Astuti memberi saran.
"Iya benar bu.Besok kita besuk menantu kita.Sekarang,ayo kita makan dulu.Perut bapak sudah lapar dari tadi."Ucap pak Hadi memegangi perutnya.
Tak lama terdengar bunyi bel rumah dibunyikan..
Ting tong..
ting tong..
"Tunggu yah pak,ibu mau membuka pintu depan dulu."Ucap bu Astuti lalu melangkahkan kaki menuju pintu depan.
Saat pintu dibuka,bu Astuti terlonjak kaget,karena yang datang adalah bu Ida.Dia tak tau harus berkata apa kalau sampai menanyakan keberadaan cucunya.
"Ibu..ayo silakan masuk,sebentar saya panggil suamiku dulu."Ucap bu Astuti mempersilakan bu Ida untuk duduk lalu beranjak kedalam kamar.
"siapa bu?"tanya pak Hadi saat melihat istrinya masuk.
"Gawat pak,diluar ada bu Ida.Apa yang harus kita lakukan sekarang?gak mungkin dong kita mengatakan kalau cucunya masuk penjara."Ucap bu Astuti panik.
"Bapak juga bingung bu.Sekarang lebih baik kita temui bu Ida dulu.Gak baik kalau beliau menunggu terlalu lama diluar."Ucap pak Hadi lalu menenangkan istrinya agar tak terlihat panik dihadapan bu Ida.
__ADS_1
Lalu keduanya menarik nafas panjang dan segera melangkahkan kakinya keluar menuju ruang tamu.