Merindukan Malam Pertama

Merindukan Malam Pertama
Serangan jantung


__ADS_3

Siang itu Adel tidak langsung pulang kerumahnya.Dia memilih menenangkan pikirannya disebuah taman.Dia menghirup udara yang segar untuk menghilangkan semua masalahnya sejenak.


Tanpa terasa,hari sudah menjelang sore.Dia lalu memutuskan untuk pulang kerumah suaminya.Dan telah siap kembali untuk menghadapi masalahnya tersebut dengan penuh keyakinan bahwa semuanya akan terlewati.


Saat melangkahkan kakinya kedalam rumah,ada sedikit kekhawatiran.Dia yakin pasti Shinta sudah melaporkan hal-hal yang tidak baik tentangnya kepada suaminya.Namun segera ditepiskannya pikiran itu dan tetap berpikiran positif.


Langkah kakinya terhenti saat melihat suaminya dan wanita itu berdiri didepan pintu dengan wajah yang penuh emosi.Badannya gemetar melihat ekspresi wajah suaminya tersebut.


"Sudah berani yah sekarang,lu bermain gila dengan pria lain diluar sana?"bentak suaminya lalu menarik rambut istrinya itu dan menyeretnya masuk kedalam rumah.


Shinta tertawa bahagia saat melihat adegan itu.Dan terus mengompori Bryan agar menyiksa istrinya itu lebih kejam lagi.


"Ampun mas..aku tak seperti yang kamu pikirkan,tadi aku menemui Lala bukan pria seperti yang kamu tuduhkan."Ucap Adel sambil menangis karena merasa kesakitan.


"Jangan bohong.Lu tak pernah kusentuh,makanya cari pria lain untuk menyentuhmu kan?dasar perempuan murahan."Ucap Bryan lalu mendorong istrinya itu kesebuah gudang.


"Mungkin punyanya sudah gatal kali karena tak pernah disentuh olehmu,makanya main gila dengan pria lain."Ucap Shinta terus mengompori suasana.


"Mas..tolong dengarkan dulu penjelasanku.Ini tak seperti yang kamu pikirkan."Ucap Adel mengelak karena hendak ditampar oleh suaminya.


"Tutup mulutmu.Gak ada yang perlu dijelaskan lagi.Sekarang terima hukumanmu."Ucap Bryan lalu mengunci pintu gudang itu.


Adel terus berteriak memohon ampun agar dikeluarkan dari gudang itu.Tapi percuma saja karena suaminya dan wanita itu telah berlalu meninggalkannya.Dia terkulai lemas lalu menangis sejadi-jadinya.


Perutnya sudah mulai keroncongan,tapi harus ditahannya karena dirinya terkunci diruangan itu.Dia berharap suaminya mau membukakan pintu dan mau mendengarkan penjelasan darinya.


Dia berteriak memanggil nama suaminya,tapi tak ada sahutan.Sehingga dia memutuskan untuk menelpon mertuanya.Namun sayang,ponselnya mati karena lowbet.


Dia hanya bisa menangis karena merasa nasibnya begitu pahit.Tak lama,terdengar suara pintu terbuka.Adel segera menghapus airmatanya dan berdiri untuk melihat siapa yang sudah membukakan pintu untuknya.


Dirinya merasa kaget melihat bapak mertuanya yang menghampirinya sambil memegangi dadanya yang terlihat sakit.

__ADS_1


"Nak ayo keluar.Kamu gak pantas diperlakukan seperti ini."Ucap bapak mertuanya.


"Terima kasih pak,karena sudah mau menolongku.Sekarang,ayo kita kedepan."Ucap Adel lalu menuntun bapak mertuanya itu karena terlihat seperti sedang menahan sakit.


Adel menuju keruang tamu dan menyuruh bapak mertuanya itu untuk duduk.Dia takut penyakit bapaknya kumat,makanya segera menyuruh suaminya untuk menelpon dokter.


Bryan yang melihat kondisi ayahnya seperti itu pun,sejenak melupakan amarahnya terhadap istrinya itu,lalu buru-buru untuk menelpon dokter agar segera datang kerumahnya.


"Ini gara-gara kamu Del."Ucap Shinta sinis.


"Bisa gak jangan banyak bicara.Gak ngeliat apa kondisi bapak mertuaku saat ini?"ucap Adel kesal.


"Dokternya sudah dalam perjalanan.Bapak yang kuat yah.Jangan bikin Bryan khawatir pak.Maafin kesalahan Bryan.."ucap Bryan mengeluarkan airmata.


Pak Hadi hanya terdiam sambil tangannya tetap mengelus-elus dadanya.Beliau tak mengatakan satu kalimat pun,hanya airmata yang terlihat berlinang dipipinya.


Dokter pun datang dan langsung memeriksa keadaan pak Hadi.Setelah selesai,dokter menyarankan agar pak Hadi segera dibawa kerumah sakit.Pak Hadi terkena serangan jantung,dan kalau tidak segera dibawa kerumah sakit akan berakibat fatal.


Bryan pun segera membopong bapaknya untuk masuk kedalam mobil.Saat hendak berangkat,Adel ingin ikut serta kerumah sakit.Namun,Shinta yang lebih dulu naik kedalam mobil.


Namun Adel buru-buru naik ojek yang kebetulan lewat,dan menyuruh tukang ojek itu mengikuti mobil suaminya.


_________


Pak Hadi segera dibawa ke I C U rumah sakit.Karena harus segera mendapatkan perawatan intensif.Ada kegelisahan dihati Bryan karena yang membuat bapaknya seperti itu akibat ulahnya sendiri.


Adel setengah berlari menghampiri suaminya.Dan menanyakan keadaan bapak mertuanya.Namun Bryan menggeleng belum tau karena dokter yang mengatasinya belum keluar untuk memberitau keadaan bapaknya sekarang.


"Ibu udah diberitau mas?"tanya Adel membuat Shinta panik.


"Belum.Ini baru mau ngasih kabar."Ucap Bryan lalu meraih ponsel dari sakunya.

__ADS_1


"Kalau gitu aku pamit dulu yah?soalnya masih ada urusan sebentar."Ucap Shinta pamit dengan wajah seperti orang ketakutan.


Bryan hanya mengangguk,mengiyakan.Adel menyadari kepanikan Shinta tersebut.Dia merasa seperti ada sesuatu yang disembunyikan wanita itu.Namun ia tak mau memikirkannya.


Segera ia mendekatkan diri dan duduk disamping suaminya.Dia berusaha untuk menenangkan suaminya itu.Lalu terdengar Bryan mengucapkan sesuatu.


"Kalau terjadi apa-apa pada bapak,lu yang harus bertanggung jawab."Ucap Bryan menepiskan tangan Adel yang memeganginya.


"Kenapa aku mas?apa kamu yakin ini kesalahan aku?mungkin saja kamu dan pacarmu yang menyebabkan ini semua.Jangan menuduhkan kesalahan kalian kepadaku mas."Ucap Adel dengan nada pelan.


"Jadi lu nuduh gue dan Shinta yang menyebabkan semua ini?jangan asal bicara kamu."Ucap Bryan lagi tak terima ucapan Adel.


"Ok..kita tunggu sampai bapak pulih.Pasti bapak akan menceritakan kejadian sebenarnya.Kamu pikir,aku tak melihat kepanikan diwajah Shinta mas?"ucap Adel membuat Bryan terperangah.


"Tutup mulut lu yah..Setelah dari sini,hukuman akan kutambahkan.Jangan pikir dengan kejadian ini,lu bisa bebas."Ucap Bryan membuat istrinya itu kaget.


Selang berapa lama, bu Astuti tiba dirumah sakit itu lalu menghampiri anak dan menantunya dengan wajah yang penuh amarah.karena amarah itu,tanpa ragu langsung melemparkan tamparan kepipi Adel.Beliau tak mempedulikan kalau mereka sedang ditonton oleh sebagian orang yang berada diarea rumah sakit itu.


Adel kaget dan meringis kesakitan.Mengapa ibu mertuanya tega menamparnya seperti itu.Bryan yang melihat itu semua hanya bisa tertawa kecil karena puas melihat istrinya tersakiti.


"Gara-gara kamu,suami saya masuk ketempat ini."Ucap bu Astuti menunjuk-nunjuk muka Adel dengan amarahnya.


"Bu,bisakah kita bicarakan ini baik-baik?Jangan meluapkan amarah tanpa tau penyebab apa yang sebenarnya terjadi sampai bapak berada ditempat ini."Ucap Adel memegangi pipinya yang masih terasa sakit.


"Shinta sudah menjelaskan semuanya kepada ibu.Jadi tak ada yang perlu dijelaskan lagi.Kalau sampai terjadi apa-apa pada suamiku,kamu yang akan tanggung jawab."Ucap bu Astuti geram.


"Wanita itu lagi?mengapa dia selalu memfitnahku?tunggu aja Shinta..aku gak akan tinggal diam.Kamu akan membayar semua ini.."ucap Adel dalam hati.


Tak lama dokter pun keluar dari ruangan Icu dan memberitau kalau pasien masih dalam keadaan kritis.Dan saat ini belum boleh dijenguk.Mereka hanya boleh melihat kondisi pak hadi dari jendela ruangan itu.


Adel mengeluarkan airmata kesedihan saat melihat kondisi bapaknya dibalik tirai ruangan itu.Begitu juga dengan suami dan ibu mertuanya yang tampak sedih sekali.

__ADS_1


Karena belum boleh dijenguk,mereka memutuskan untuk pulang.Bryan memilih untuk pulang kerumah ibunya tapi tidak dengan Adel.


Dia memutuskan untuk tetap tinggal dirumah sakit.Dan selalu siap siaga menjaga bapak mertuanya walau hanya didepan ruangan.Walaupun suami dan ibu mertuanya tak mau berbicara dengannya,tapi dia menahan hatinya untuk tetap tegar dan yakin pasti ini semua ada hikmahnya.


__ADS_2