Merindukan Malam Pertama

Merindukan Malam Pertama
dianggap sebagai baby sitter


__ADS_3

Saat hampir dekat dengan rumah orangtua nya , Bryan menepikan mobilnya dan berpikir sejenak. Rupanya dia belum menemukan alasan untuk menjelaskan semua kepada ibu dan bapaknya kalau seandainya mereka bertanya tentang Rania nanti. Sehingga muncul satu ide dibenakknya.


Bryan pun mengungkapkan kepada wanita itu untuk tinggal sementara di apartemen miliknya yang dulu pernah ditempati oleh Shinta. Karena saat ini bukan waktu yang tepat untuk membawa wanita itu kerumah orangtuanya.


Rania menolak dan menginginkan agar saat itu juga harus diperkenalkan kepada orangtua lelaki tersebut.


" Kamu harus ngerti keadaan dong! sekarang mungkin istriku lagi dirumah orangtuaku. Aku harus mencari cara untuk memberi pelajaran kepadanya karena sudah berani bermain api dibelakangku. Hanya saja pasti dia akan dilindungi oleh ibu dan bapak.


Jadi aku minta, biarkan aku menyelesaikan masalahku dengan Adel terlebih dahulu, baru memikirkan jalan keluar untuk kita. "Ucap Bryan meminta pengertian wanita itu.


" Kamu kan punya rumah, mengapa harus di apartemen? lagipula aku gak suka tinggal di apartemen. "


" Aku hanya takut orangtuaku tau kalau aku menikah lagi secara diam-diam. Nanti, mereka pasti akan kecewa. Jadi kumohon padamu ikuti saran dariku! "


Mendengar pernyataan itu, Rania tetap mencari cara agar lelaki tersebut mau mengajaknya serta kerumah orangtuanya. Dia melakukan itu agar bisa segera menjalankan misinya untuk balas dendam kepada Adel dan juga kepada orangtua lelaki tersebut.


"Mas, orangtuamu tau kan kalau Shinta sedang hamil anakmu? gimana kita pulang kerumah orangtuamu dulu dan kamu bilang pada mereka kalau Shinta sudah melahirkan dan dirinya tidak dapat tertolong. Sehingga untuk merawat bayinya, kamu terpaksa menggunakan baby sitter. " Ucap Rania memberi saran.


"Maksudmu, kamu mau diperkenalkan sebagai baby sitter? terus kamu pikir mereka akan percaya begitu saja dengan melihat anakmu yang ikut serta? " ucap Bryan mencebikkan bibirnya.


" Kamu tenang aja, kita kan kerumah orangtuamu hanya ingin memberitahu tentang bayi ini dan kematian Shinta. Setelah itu, barulah pulang kerumah kita. Jadi saat dirumah orangtua mu, Ali nunggu aja didalam mobil. Gimana? "


"Rumah kita? oh aku lupa sudah menikahimu. Tapi maaf, aku tidak akan pernah mencintaimu. "

__ADS_1


"Terserah apapun itu tentang perasaanmu. Yang paling penting sekarang, ayo kita kerumah orangtuamu dan kemudian pulang kerumah mu! biar semuanya selesai dan diriku bisa hidup tenang. "


Bryan kembali memikirkan saran dari Rania tadi. Mungkin itu memang jalan yang tepat untuk ditempuh. Walaupun Bryan sudah tau reaksi orangtuanya nanti saat mendengar kabar kematian Shinta, tapi dia yakin hati orangtuanya akan luluh dan pasti akan merasa iba pada bayi yang baru lahir itu.


Dia pun kembali menjalankan mobilnya sambil sesekali melihat kearah bayi mungilnya. Hingga tak memakan waktu yang lama,mereka pun telah masuk ke halaman rumah orangtuanya.


Mungkin karena mendengar suara mobil, pak Hadi dan istrinya terlihat membuka pintu dan menghampiri mobil tersebut dengan wajah yang tampak khawatir. Mereka menanti Bryan untuk turun dari mobil tersebut, mungkin sudah tak sabar ingin membicarakan hal penting.


Keduanya tampak kaget karena melihat anaknya membawa seorang wanita yang menggendong seorang bayi dan disampingnya berdiri juga seorang anak kecil.


"Siapa yang kau bawa ini, nak? " tanya bu Astuti saat melihat mereka turun dari mobil.


"Ayo masuk kedalam, nanti kita tanyakan semuanya kepada Bryan mengenai hal ini. Gak enak kelihatan tetangga. " Ucap pak Hadi lalu secara bersama masuk kedalam rumah.


Setelah duduk diruang tamu, pak Hadi dan istrinya saling memandang karena tak tau harus memulai darimana. Sehingga pada akhirnya karena suasana terasa hening, bu Astuti membuka suara,


"Bayi ini adalah anakku bersama Shinta. Jadi Bryan meminta agar ibu dan bapak mau mengakuinya sebagai cucu. " Ucap Bryan agak ragu.


"Oh, jadi wanita itu sudah melahirkan. Terus, kenapa yang datang wanita lain? kemana wanita itu sampai gak mau datang sendiri menemui kami? " ucap pak Hadi dengan lantang.


Bryan menundukkan kepalanya lalu mengatakan kalau Shinta telah pergi untuk selamanya.Dan sambil menangis, dia juga mengatakan bahwa demi menyelamatkan bayinya wanita itu rela mengorbankan nyawanya.


Mendengar hal itu, bu Astuti menghampiri anaknya tersebut dan mengusap bahunya agar dia tidak larut dalam kesedihan yang mendalam.

__ADS_1


" Itu adalah karma karena selama ini sudah berbuat jahat kepada Adel."Ucap pak Hadi membuat Bryan sedikit kesal.


"Pak, jangan sangkut pautkan kematian Shinta dengan karma. Dia tak bersalah, justru Adel yang selalu bapak bangga-banggakan itu yang seharusnya mati. Dia lah wanita jahat yang sesungguhnya,sampai tega mengkhianati Bryan." Ucap Bryan karena tak terima penuturan bapaknya tersebut.


"Tutup mulutmu! Adel tak seperti yang kamu pikirkan. Seharusnya sebagai seorang suami, saat mendapati masalah, bicarakan baik-baik bukan dengan emosi. Coba bapak tanya, kamu mengetahui Adel ada dihotel dari siapa? apa kamu tak curiga yang memberi taukan hal itu adalah orang yang juga menjebak Adel?" ucap pak Hadi membuat Rania tampak ketakutan.


"Gak peduli siapa yang memberitahu, yang jelas Bryan telah menangkap basah Adel bermain gila dengan pria lain. Kalau posisinya dalam keadaan tidak sadar, mungkin Bryan akan percaya kalau dia dijebak. Tapi yang terlihat,Adel dan lelaki itu dalam keadaan yang sadar kok. Saat melihat aku masuk pun, Adel memilih mengunci diri dikamar mandi mungkin dirinya malu yang hanya berbalut selimut doang. Apa itu dijebak? "


Melihat ketegangan antara keduanya, bu Astuti pun mengalihkan pembicaraan dan bertanya tentang wanita dan anak kecil yang datang bersama dirinya. Saat Bryan hendak memperkenalkan nya, pak Hadi langsung memotong ucapan anaknya tersebut,


"Gak perlu ditanya lagi bu, pasti dia akan mengatakan kalau wanita itu adalah istri barunya. Udah biasa kan anak itu menikah secara diam-diam?"


"Jangan bilang itu semua benar, nak! " ucap bu Astuti berharap.


"Dia yang dibayar oleh Shinta untuk merawat bayi ini.Kebetulan masih family juga dengannya. Karena dia juga mempunyai seorang anak, jadi aku menyuruhnya dibawa aja sekalian karena ditempatnya tak ada yang menjaganya. Jadi ibu tenang saja, dia bukan siapa-siapa nya Bryan kok. " Ucap Bryan membuat bu Astuti lega.


"Maksud kamu wanita ini seorang janda? apa pantas serumah dengan pasangan muda kayak kalian berdua? bapak sih takutnya kamu malah tergoda dan kesalahan seperti yang dulu terjadi lagi. " Ucap pak Hadi dengan ketus.


"Untuk sementara, kalau dibolehkan mereka tinggal disini. Biar nanti ibu juga turut merawat anak Bryan. " Ucap Bryan membuat ibunya sumringah.


"Wah, ibu setuju tuh. Biar bagaimana pun juga, ini adalah anak Bryan. Jadi bapak buanglah ego dan mari sama-sama merawat cucu kita dengan baik. Kan bapak dari dulu sudah sangat menginginkan cucu kan? " ucap bu Astuti memohon ketulusan hati suaminya tersebut.


"Yah kalau udah kayak gini, mau gimana lagi. Lagipula wanita itu sudah tiada. Dan bapak berharap, Adel bisa jadi ibu sambung anak ini.Sekarang bapak mohon, jemputlah istrimu, dan kita bicarakan masalah kalian secara baik-baik. "

__ADS_1


"Terserah bapak lah, aku akan menuruti keinginan bapak karena yang paling penting saat ini, bapak dan juga ibu mau mengakui bayi ini sebagai cucu." Ucap Bryan terlihat bahagia.


"Haha, untung saja kalian mengizinkan aku dan anakku tinggal disini. Karena memang sudah seharusnya seperti itu,hanya saja menunggu waktu yang tepat untuk mengungkap semua dan pada akhirnya, aku akan menguasai semua harta kalian. " Ucap Rania dalam hati karena rencananya akan berjalan dengan mulus.


__ADS_2