Merindukan Malam Pertama

Merindukan Malam Pertama
Ikut keacara party


__ADS_3

Seminggu kemudian, Fabian harus bertemu dengan rekan bisnisnya diluar kota. Kali ini dia tak mengajak istrinya untuk ikut serta karena mengingat dirinya akan berangkat dengan Mario yang sekarang sudah menjadi partner bisnisnya.


Bisa-bisa perjalanan mereka akan terganggu kalau Adel ikut serta. Karena kan istrinya tersebut sangat membenci keluarga Mario. Daripada hanya menciptakan perdebatan, lebih baik berangkat sendiri saja. Begitu isi pemikiran Fabian.


Karena ditinggal sendirian, Adel pun memutuskan untuk tinggal bersama bu Rahma dirumah utama. Karena suaminya akan berada diluar kota selama lima hari. Daripada kesepian tinggal sendirian di apartemen lebih bagus mengungsi sementara kan?


Dirumah bu Rahma, dia bertemu dengan sepupu suaminya yaitu Viona. Sehingga terjadilah obrolan diantara mereka berdua yang terlihat sangat serius.


"Hai, mbak Adel.. bukannya sekarang lagi ikut mas Fabian keluar kota? " tanya Viona saat membukakan pintu untuk Adel tersebut.


"Bolehkah kita masuk dulu kedalam? " tanya Adel membuat Viona membuka lebar pintu itu dan menyuruh Adel untuk masuk.


Ternyata dirumah tersebut hanya ada Viona saja. Sedangkan bu Rahma katanya lagi ada urusan diluar sana bersama geng sosialita nya. Saat sudah duduk disofa ruang keluarga, datanglah seorang ART membawakan minuman dan juga beberapa camilan untuk Adel dan juga Viona.


"Aku juga baru datang dirumah ini, tapi ternyata nenek lagi ada urusan diluar. Pas mau pulang, eh kamunya malah kesini. " Ucap Viona lalu meneguk jus yang dibawakan oleh ART tadi.


"Hehe, iya Vi. Aku kesini untuk menginap dirumah nenek. Soalnya diriku kesepian tinggal sendirian di apartemen. Kamu tau sendiri kan, mas Fabian sekarang lagi keluar kota. " Ucap Adel sambil tersenyum.


"Hmm, gimana kalau kamu ikut aku keacara party temanku malam ini? pasti seru loh, daripada bosan berdiam diri dirumah terus. " Ajak Viona penuh harap agar Adel mau ikut dengannya.


"Boleh juga, tapi aku minta izin dulu pada mas Fabian yah? " Ucap Adel lalu meraih ponselnya dari dalam tas pribadinya.


"Gak perlu minta izin segala, kan kamu udah gede, mbak. Sekali-sekali lah, ikut denganku. Lagian mas Fabian kan gak ada disini, gak perlu takut, acara partynya diadakan dirumah temanku kok. Nanti jam sepuluh malam, aku antar lagi kamu kerumah ini. " Rayu Viona agar Adel mau menuruti ajakannya tersebut.


Akhirnya, Adel pun mengiyakan permintaan Viona tersebut. Sambil menunggu waktu itu tiba, mereka berdua memilih gaun untuk dipakai pada acara party tersebut.


Lalu Viona pamit sebentar untuk membeli sesuatu di supermarket sehingga hanya Adel yang tengah sibuk memilih gaun yang cocok untuknya. Karena dia menghargai Fabian sebagai suaminya, dia pun memilih untuk menelponnya dan memberitahu tentang rencananya yang akan ikut bersama Viona kesebuah party.

__ADS_1


Namun sayangnya, nomor Fabian diluar jangkauan. Sehingga dia hanya mengirimkan sebuah chat ke nomor suaminya tersebut.


[ Mas, malam ini aku ikut Viona untuk merayakan party salah satu temannya. Mau menolak ajakannya, takutnya aku dibilang sombong olehnya. Gak apa-apa yah? ]


Tiap menit Adel selalu memeriksa isi chat yang dikirim kepada suaminya tersebut, namun tetap saja masih centang satu yang berarti belum dibaca oleh Fabian. Dia kembali menaruh ponselnya tersebut lalu membaringkan tubuhnya diatas kasur.


______________________


Mereka berdua pun telah tiba di sebuah rumah tempat party tersebut diadakan. Terlihat ada banyak yang sudah hadir dan tak ada satupun yang dikenal oleh Adel. Hingga tak berapa lama, muncullah salah satu pria yang membuat para wanita yang ada di tempat itu terpesona kecuali Adel. Dia hanya merasa kaget saja, karena rupanya ada Bimo juga.


"Hallo, sayang.. maaf yah tak bisa menjemputmu! aku aja datangnya nebeng pada Romi. Mobilku mogok ditengah jalan saat ingin menjemputmu tadi ." Ucap Bimo lalu menatap kearah Adel,


"Loh, mbak Adel hadir juga? Fabian nya kemana? " tanya Bimo lagi celingukan mencari ke sekitar.


"Mas Fabian lagi keluar kota. Aku yang ajak mbak Adel kesini biar dia tak kesepian sendirian dirumah. " Ucap Viona lalu lelaki itu mengangguk tanda paham.


"Ya udah ayo kita masuk! " ajak Bimo lalu mereka pun turut bergabung memeriahkan party tersebut.


Tak lama, Bimo datang menghampirinya disusul juga oleh Viona yang sudah memegang dua gelas yang berisi minuman ditangannya. Minuman tersebut, diberikannya kepada Adel dan Bimo. Awalnya Adel menolak untuk meminum minuman bersoda tersebut, namun karena dipaksa terus oleh Viona, akhirnya dia pun meneguk minuman tersebut.


Viona tampaknya sudah mabuk berat. Namun Adel berusaha agar dirinya tidak berakhir sama dengan wanita yang sudah mabuk tersebut.


Dari kejauhan, ada lima orang yang katanya adalah sahabat Viona datang menghampiri wanita tersebut. Di tangan salah satu temannya, memegang dua gelas minuman bersoda. lalu menantang Viona dan Bimo untuk meminum segelas lagi. Dengan bayarannya, mereka akan memberikan sebuah mobil mewah, jika keduanya mau meminum minuman bersoda tersebut.


Tanpa ragu, Bimo mengambil minuman tersebut dan meneguk nya. Viona ingin mengambil minuman itu, namun Adel merebutnya.


"Viona, jangan lanjutkan! kamu sudah mabuk berat seperti ini." Ucap Adel namun Viona berusaha untuk merebut kembali minuman itu dari tangan Adel.

__ADS_1


Karena merasa kesal, akhirnya Adel meneguk minuman bersoda itu agar semua teman-teman Viona tersebut segera pergi dan tak memaksa Viona lagi.


"Yah, dia yang kena deh. Tapi gak apa-apa lah.. Besok tunggu hadiah kami yah, Vi. " Ucap salah satu teman Viona lalu mereka pun pergi dari situ.


"Gimana dong ini, kalau Viona diantar pulang kerumahnya, aku harus jelaskan apa pada keluarganya? " tanya Adel pada diri sendiri dengan panik.


"Begini saja, bisa gak minta tolong untuk antarkan kami di apartemen milik suamiku? jujur aku belum bisa menyetir mobil. " Ucap Adel memohon bantuan Bimo.


Akhirnya, Bimo pun mengangguk tanda setuju. Untung saja kekasih Viona itu tidak terlalu mabuk. Karena tadi kelihatannya dia hanya meminum sedikit alkohol. Dalam perjalanan pulang, tiba-tiba ada perasaan aneh yang menjalar ditubuh Adel begitupun dengan Bimo.


Mereka mengeluarkan suara aneh dan merasa tubuhnya sangat geli ingin mendapatkan sentuhan. Karena perasaan itu, Adel menatap kearah Bimo yang terlihat juga sama seperti dirinya. Padahal Bimo sedang menyetir, namun sepertinya dia tak konsentrasi dan terlihat meliuk-liuk kan tubuhnya.


"A-apa kamu merasakan hal yang sama denganku? " ucap Adel tak tahan dengan hasratnya.


"Sial, pasti para sahabat Viona telah menaruh obat aneh di minuman tadi." Ucap Bimo berusaha untuk meredam hasratnya yang kian menggebu itu.


Adel terperangah mendengar ucapan Bimo barusan. Dan dia sangat menyesal, mengapa dengan bodohnya mau saja meneguk minuman yang diberikan oleh teman Viona tadi. Karena merasa kan panas yang menjalar di sekujur tubuhnya, Bimo pun menuju kearah apartemen nya. Karena tak punya pilihan lain, Adel menyetujui saja kemanapun Bimo membawa dirinya dan Viona.


Dia tak ingin pulang kerumah Bu Rahma dengan kondisi yang seperti itu. Ingin pulang dan menitip Viona ke Bimo, tapi dia takut nantinya sopir taxi malah tergoda melihat tingkahnya yang mengeluarkan suara aneh. Akhirnya mau tak mau dia pun ikut saja bersama Bimo. Lalu mereka berdua membopong tubuh Viona yang sudah tak sadarkan diri itu menuju ke apartemen Bimo tersebut.


__________________


Saat Viona sudah terbaring diatas kasur, Adel meredam hasratnya dengan mencoba untuk memejamkan matanya. Namun terasa sulit baginya karena rasa panas itu semakin menjalar hebat ditubuhnya. Dia pun segera berlari kearah dapur untuk mengambil minum, dan dia terkejut saat mendapati Bimo yang minum seperti orang kerasukan dan terlihat lelaki itu sudah bertelanjang dada.


"Apa kamu mau minum juga? "


Tanpa menjawab pertanyaan Bimo, Adel langsung mengambil minuman yang ada ditangan Bimo tersebut lalu meneguk nya sampai tak bersisa. Tapi rasa panas itu semakin terasa, padahal Bimo sudah menyalahkan AC dengan suhu maksimal tapi itu tak berpengaruh sama sekali.

__ADS_1


Pada akhirnya, Adel tak bisa menahan rasa panas itu, lalu dia pun membuka gaun yang dikenakannya di depan Bimo. Kali ini entah mengapa wanita itu tak mempunyai rasa malu sedikit pun.


"Bolehkah, aku melakukannya dengan mu? sebenarnya bisa saja aku melakukannya dengan Viona, tapi aku kasihan melihat dirimu yang sama tersiksa nya dengan diriku. " Ucap Bimo mencium tengkuk leher Adel hingga wanita itu tak sanggup untuk menolaknya.


__ADS_2