Merindukan Malam Pertama

Merindukan Malam Pertama
Dua garis merah


__ADS_3

Sebulan kemudian, ingatan Mas Fabian belum juga pulih. Adel hampir putus asa karena belum berhasil mengembalikan ingatan suaminya tersebut. Setiap Adel mengajak suaminya untuk kontrol kedokter, selalu saja ditolak dengan alasan bahwa dirinya tak mengalami amnesia.


Bu Rahma juga selalu membujuk cucunya itu, namun hasilnya sama saja, selalu ditolak. Itu semua karena Fabian sudah dipengaruhi oleh Viona agar tak menuruti semua yang diucapkan oleh Bu Rahma atau pun Adel. Hingga disuatu pagi, saat dimeja makan, tiba-tiba Viona berlari kearah kamar mandi dan terdengar sedang muntah-muntah.


Adel curiga bahwa wanita itu sedang hamil muda. Karena tadi saat memakan nasi goreng buatannya, wanita itu langsung mual sehingga berlari kearah kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya. Padahal selama ini, yang Adel ketahui, wanita itu sangat doyan dengan nasi goreng.


"Kok muka kamu pucat, Vi? " tanya Adel saat Viona kembali kemeja makan.


"Kayaknya masuk angin, Mbak. " Ucapnya sambil menutup hidungnya.


"Biasanya kamu doyan loh makan nasi goreng." Tanya Adel lagi dengan tatapan heran.


"Sayang, aku masuk kamar dulu yah? kamu lanjutkan aja sarapannya. " Ucap Viona mengalihkan pembicaraan.


Fabian pun mengangguk, sehingga Viona pun melangkah masuk kearah kamarnya. Adel hanya diam saja namun pikirannya tak tenang karena takutnya kalau dugaannya itu benar, sudah pasti Viona akan mengatakan kalau dia dihamili oleh Fabian.


"Del, nanti kamu buatin bubur yah untuk istriku. Dan hari ini, kamu tak perlu masuk untuk bekerja. Fokus saja untuk merawat istri ku. " Ucap Fabian membuat Adel protes.


"Tapi kan, dia bisa mengurus dirinya sendiri." Ucap Adel lalu bangkit dari duduknya.


"Kamu harus menuruti perintah ku, karena kamu disini hanya seorang asisten rumah tangga. " Ucap Fabian dengan lantang.


Langkah kaki Adel terhenti mendengar ucapan suaminya. Dia pun kembali menoleh kearah suaminya itu dengan tatapan tajam. Ingin sekali rasanya dia memberontak dan mengatakan kalau dirinya yang merupakan istri sesungguhnya.


"Mas, kapan sih kamu mengingat tentang kita? aku udah capek harus melihat kemesraan kamu dengan wanita yang bukan mukhrim mu. Harus dengan cara apa aku akan mengembalikan ingatanmu itu? " ucap Adel sambil terisak.


"Jangan ngawur kamu. Siapa bilang aku dan Viona bukan mukhrim? aku dan dia sudah menikah. " Ucap Fabian sambil tersenyum sinis.

__ADS_1


"Oya? kapan tanggal pernikahan kalian? tentu kamu ingat kan? " tanya Adel membuat Fabian terdiam.


"Coba katakan, kalau memang dia istrimu, mana bukti pernikahan kalian? " tanya Adel lagi.


Lelaki itu berpikir dengan keras kapan hari pernikahannya dengan Viona. Namun sejauh dia berpikir, dia tak ingat tanggal pernikahannya itu. Adel merasa percuma menunjukkan foto-foto pernikahan mereka bahkan saat foto mereka saat berbulan madu pun ditunjukkannya kepada Fabian. Namun suaminya itu tetap bersikeras mengatakan kalau foto tersebut adalah hasil editan semata.


"Sudahlah, jangan membuatku marah yah? sekarang kamu laksanakan perintah ku atau silahkan pergi dari sini. " Ucap Fabian membuat Adel melongo.


"Kamu tega, Mas." Ucap Adel lalu pergi menuju ke kamarnya.


__________________________


Setelah kepergian Fabian ke kantor, Viona beringsut bangun dari tidurnya lalu menuju kearah toilet untuk mengecek apakah benar dia sedang hamil? untungnya kemarin dia sempat mampir di apotik untuk membeli tespek,karena dia sudah merasakan tanda-tanda kehamilan pada dirinya.


Setelah mencelupkan tespek tersebut ke air seninya, dia menunggu hasilnya dengan perasaan deg-degan. Dalam pikirannya, seandainya dia beneran hamil,hal itu akan dijadikan senjata ampuh disaat Fabian kembali pulih dari amnesia nya. sudah dipastikan lelaki pujaan hatinya itu tak akan bisa melepaskan nya begitu saja karena kehamilannya tersebut.


Setelah beberapa menit menunggu, dia mengangkat tespek itu dan melihatnya. Ternyata benar garis dua berwarna merah, menandakan dirinya sedang hamil. Walaupun sebenarnya dia sadar telah dihamili oleh pria yang memperkosanya tempo itu, tapi dia tak mempedulikannya. Yang penting baginya, dia bisa membuat Fabian selalu bersamanya sampai nantinya lelaki itu pulih dari amnesia nya.


"Ya, ada apa sayang kamu menelpon ku? apa Adel belum mengantarkan bubur serta obat untukmu? " tanya Fabian diseberang telepon.


"Sayang, aku punya kabar bahagia untukmu. Untuk itu, aku minta kamu cepat pulang jika ingin mengetahui kabar bahagia tersebut. " Ucap Viona tersenyum bahagia.


"Baiklah, sayang aku akan usahakan untuk pulang dengan segera. Sekarang, aku mau lanjutin meeting dulu dengan client. Bye. " Ucap Fabian lalu menutup telepon secara sepihak.


Karena merasa badannya sudah baikan, Viona pun mengganti pakaiannya, dan bersiap untuk pergi keluar. Kali ini dia hendak menemui Rania untuk merencanakan sesuatu.Namun saat Viona pergi meninggalkan rumah itu, Adel tak mengetahuinya karena dirinya sedang berada dikamar mandi.


______________________

__ADS_1


Adel pun keluar dari kamarnya, lalu menuju kearah dapur untuk menyiapkan bubur buat Viona. Daripada nantinya hanya membuat Fabian tambah marah, dia turuti saja perintah suaminya tersebut. Setelah selesai memasak bubur, dia pun mengetuk pintu kamar Viona namun tak ada jawaban.


Saat dia membuka pintu kamar itu, ternyata pintunya tak terkunci. Karena takut terjadi apa-apa kepada Viona, akhirnya Adel masuk kekamar tersebut tanpa izin. Namun dia tak menemukan keberadaan Viona. Dia pun menaruh bubur itu diatas nakas, lalu mencari Viona didalam toilet. Namun wanita itu juga tak ada.


Namun matanya tertuju pada benda yang ada di dekat wastafel. Sebuah tespek, sehingga Adel penasaran untuk melihat benda tersebut. Betapa terkejutnya saat dirinya melihat dua garis merah pada benda tersebut.Ternyata dugaannya benar kalau kini Viona tengah berbadan dua.


Adel memutuskan untuk keluar dari kamar itu dan kembali membawa bubur itu kedapur karena tak menemukan keberadaan Viona didalam kamar. Karena hari ini dia diliburkan oleh Fabian, akhirnya dia memilih untuk menemui sahabatnya. Sebelumnya dia sudah menelpon Lala dan sahabatnya itu juga sedang libur dari pekerjaannya.


Sesampai dikontrakan sahabatnya, Adel dan Lala pun mulai mengobrol tentang permasalahan kehamilan Viona.


"Loh kok bisa hamil? dia dan suamimu tak pernah melakukan hubungan terlarang kan? " Ucap Lala yang merasa terkejut dengan ucapan Adel.


"Aku juga gak tau, La. Tapi aku yakin wanita itu pasti hamil dengan pria lain. Aku hanya takut, dia menggunakan kehamilannya itu untuk merebut suamiku. " Ucap Adel dengan raut kesedihan.


"Kamu tenang aja, Del. wanita itu tak akan pernah bisa merebut suamimu. Semoga saja, ingatan suamimu cepat pulih. Masalah kehamilan wanita itu, kan nantinya bisa tes DNA ketika dia lahiran nanti." Ucap Lala membuat hati Adel sedikit tenang.


"Iya juga yah, kok aku gak kepikiran kesitu yah."


"Kamu gak perlu memikirkan tentang hal itu. Yang penting sekarang, coba kamu ajak suami mu ke tempat romantis yang pernah kalian kunjungi dulu. Siapa tau, ada tempat yang bisa membuat suamimu ingat kembali tentang kisah kalian. " Ucap Lala memberi saran.


Mendengar saran dari sahabatnya, Adel pun berencana untuk membawa suaminya kesuatu tempat yang sering mereka kunjungi diawal pernikahan mereka dulu. Adel kini tak merasa khawatir lagi dengan kehamilan Viona, dan dia juga berterimakasih kepada Lala karena sudah memberikannya beberapa saran untuknya.


Saat mereka sedang asik mengobrol, tiba-tiba ponsel milik Adel berdering tanda ada yang menelpon. Adel melihat ke layar ponselnya, ternyata itu dari Ani. Tanpa lama-lama, diapun mengangkat telepon tersebut,


"Hallo,Ni.. ada apa menelpon ku? pasti kangen yah, karena hari ini aku gak masuk? " ucap Adel sambil tertawa kecil.


"Kamu kerumah sakit sekarang! suamimu tadi jatuh pingsan saat bertemu dengan Mario. Dan kini Fabian sudah dilarikan kerumah sakit." Ucap Ani membuat Adel syok.

__ADS_1


"Ok, Ni. Makasih atas infonya, aku akan segera kesana. " Ucap Adel lalu mematikan telepon secara sepihak.


Karena panik, akhirnya Adel menuju kerumah sakit diantar oleh Lala, sahabatnya. Dia berharap semoga suaminya dalam keadaan baik-baik saja.


__ADS_2