Merindukan Malam Pertama

Merindukan Malam Pertama
Bertemu dengan Bimo lagi


__ADS_3

Dengan terpaksa, Fabian kembali memakai pakaiannya, lalu meminta izin kepada Adel untuk pergi menemui rekan bisnisnya malam itu juga. Dirinya sampai harus membohongi istrinya tersebut walau sebenarnya terasa berat. Dengan tersenyum,Adel mengiyakan permintaan suaminya tersebut, walau sebenarnya ada sedikit rasa kekesalan diraut wajahnya.


"Untuk malam ini, kamu tidur sendiri dulu yah? gak perlu menunggu ku pulang. Dan maafkan aku karena tadi hampir melanggar perjanjian kita. " Ucap Fabian mengelus pipi istrinya itu dengan lembut.


"Baiklah, dan aku juga minta maaf karena tadi hilang kendali. Sekarang pergilah, jangan membuat rekan kerjamu terlalu lama menunggu. Sampai jumpa besok, dikantor. " Ucap Adel lalu mengunci pintu apartemen tersebut.


Setelah kepergian Fabian, wanita itu merasa malu dengan tindakannya tadi yang mau saja merespon aksi gila suami kontraknya tersebut. Pikirnya, mungkin Fabian akan mengira kalau dirinya itu adalah wanita murahan yang tak berpendirian memegang janji untuk tidak melakukan hubungan suami istri.


Karena merasa jenuh ditinggal sendirian di apartemen, terbesit untuk menelpon kedua sahabatnya. Namun, dia tak mau kalau sahabatnya nanti malah menanyakan keberadaan suaminya. Dia harus menunjukkan kepada semuanya, bahwa pernikahannya atas dasar cinta dan harus berpura-pura bahagia didepan keluarga dan semua yang mengenalnya.


Dirinya tak tau harus berbuat apa, akhirnya dia memutuskan untuk membuka galeri ponselnya yang mana ada banyak foto kenangan dengan suaminya yang pertama. Walau kebanyakan kenangan yang buruk, namun jauh dilubuk hatinya dia sangat mencintai suaminya yang pertama tersebut.


Seandainya Bryan masih ada didunia ini, mungkin saat ini mereka sudah hidup bahagia. Mungkin juga sudah memiliki buah hati. Namun takdir harus memisahkan mereka sebelum kebahagiaan itu dimulai.


Lalu dia pun teringat pada adik iparnya yang dulu, Bimo. Setelah pemakaman Bryan setahun yang lalu, lelaki itu dibawa oleh kedua orangtuanya keluar negeri. Sampai sekarang pun, Adel sudah tak pernah mendengar kabar dari Bimo dan mantan mertuanya.


Adel menghela nafas dengan kasar, dia baru teringat, semenjak datang lagi kekota ini dirinya tak pernah ziarah ke makam suaminya yang dulu. Sehingga dia berencana akan berkunjung sembari menitip doa untuk mantan suaminya tersebut.


___________________


Dibandara, Fabian akhirnya bertemu dengan wanita yang menelponnya. Keduanya tampak berpelukan yang sangat lama bak sepasang kekasih yang sudah lama tak berjumpa.


"Sayang, akhirnya kita berjumpa lagi. " Ucap wanita itu mengecup pipi Fabian.


"Viona.. lebih baik sekarang aku antar kamu pulang kerumahmu! pasti orang tuamu akan merasa bahagia saat melihat kedatangan mu yang mendadak ini. " Ucap Fabian menawarkan.


"Sayang.. untuk malam ini, aku ingin menginap di apartemen pribadimu. Besok aja baru pulang kerumah. Apa kamu gak kangen padaku? " tanya Viona mencubit lengan Fabian dengan lembut.


"Ja-jangan ke apartemen, soalnya lagi ada perbaikan. " Ucap Fabian tampak gugup.


"Oh, terus kita nginap dimana dong? aku ingin melepas rindu denganmu. " Ucap Viona lagi dengan manja.


Akhirnya, Fabian membawa wanita itu ke sebuah hotel bintang lima. Sebenarnya, dari hatinya yang paling dalam, dia ingin menemani istrinya. Entah mengapa kedatangan Viona kali ini membuatnya biasa saja. Apakah Fabian menaruh rasa cinta untuk istri kontraknya? ah, Fabian pun belum tahu akan hal tersebut.

__ADS_1


"Viona.. apakah hubungan kita diakhiri saja sampai disini? karena kita berdua terikat tali persaudaraan. Aku hanya tak mau, orangtua kita saling membenci atas hubungan kita yang terlarang ini. " Ucap Fabian membuat wanita itu terkejut.


"Apa aku gak salah dengar? kenapa tiba-tiba kamu mengatakan hal ini? " selidik Viona.


"Jujur, aku sangat mencintaimu. Namun aku hanya tak ingin kamu terluka nantinya. " Ucap Fabian dengan lesu.


"Tak ingin aku terluka? selama ini hubungan kita baik-baik saja. Aku janji tak akan pergi meninggalkanmu lagi. Apa kita kawin lari saja? " ucap Viona membuat Fabian terkejut.


Dulu sebelum bertemu dengan Adel, memang dia berniat untuk kawin lari dengan Viona. Namun, saat itu niatnya menjadi hancur berantakan karena Viona memilih untuk melanjutkan studinya diluar negeri.


Kini, saat wanita itu meminta sendiri untuk kawin lari, entah mengapa hati Fabian terasa berat. Dengan memantapkan hatinya, akhirnya dia mengatakan yang sejujurnya kepada wanita itu.


"Aku sudah menikah. Maafkan aku karena tak pernah berkata jujur padamu. Dan semoga kamu menemukan pria yang pantas untukmu. " Ucap Fabian berterus terang.


"Iya, aku udah tau dari nenek tentang pernikahanmu. Tapi,hal itu kamu lakukan agar nenek tak curiga dengan hubungan kita kan? aku bisa terima kamu seatap dengan wanita itu, asalkan jangan pernah kamu menyentuhnya. " Ucap Viona lalu memeluk tubuh Fabian dari belakang.


"Oh, jadi nenek sudah memberitahukan hal ini kepadamu? apakah nanti kamu tak akan cemburu melihat kemesraanku dengan wanita itu? "


"Tenang aja, aku tak akan cemburu kok. Lagian kalian menunjukkan kemesraan hanya didepan keluarga saja kan? "


Fabian merasa lega karena bisa berterus terang kepada wanita itu. Tapi entah mengapa ia seperti merasa aneh pada dirinya sendiri yang terus memikirkan istrinya yang ditinggal di apartemen sendirian. Ingin rasanya dia kembali ke apartemen, namun takut Viona akan marah padanya.


Hingga akhirnya, dia mau saja menuruti permintaan Viona untuk menginap bersamanya di hotel. Karena hasratnya tadi belum terpuaskan saat bersama Adel, terpaksa dia tuntaskan bersama Viona.


_________________


Keesokan harinya, Adel masuk kembali untuk bekerja.Ada banyak yang memberikan ucapan selamat atas pernikahannya dengan sang direktur utama. Dia pun menunjukan senyum bahagianya agar semua yang ada disitu merasa bahwa dirinya sangat bahagia menikah dengan sang direktur utama.


"Padahal baru dua minggu kamu bekerja disini, eh tau-taunya berjodoh dengan pak bos. " Ucap Liliana seakan belum percaya dengan takdir Adel yang menurutnya sangat beruntung.


"Mbak Adel.. kami semua gak menyangka kalau mbak bisa mengambil hati pak bos. Padahal selama ini sudah banyak loh, sekretaris yang mencoba mendekati pak bos, tapi mereka berakhir dipecat karena hal tersebut. " Ucap salah satu karyawan di tempat itu.


"Hehe.. begitulah perjalanan takdir. Mungkin akulah yang ditakdirkan berjodoh dengan pak bos. " Ucap Adel lalu permisi kepada semuanya untuk masuk kedalam ruangan Fabian.

__ADS_1


Sebelum masuk kedalam ruangan suaminya, dia menuju ke pantry untuk membuatkan kopi hitam special untuk suaminya tersebut. Setelah itu dia mengetuk pintu lalu tanpa dipersilahkan masuk pun, dia nyelonong masuk aja kedalam.


"Aku kan belum nyuruh kamu untuk masuk, kenapa tidak sopan begitu? " ucap Fabian tanpa menoleh kearah Adel.


"Maaf Pak, aku janji tak akan mengulangnya lagi. " Ucap Adel meminta maaf.


"Hehe.. biasa aja dong ekspresi nya, aku hanya bercanda. Justru aku yang minta maaf karena semalam gak pulang ke apartemen. "Ucap Fabian cengengesan.


Adel hanya mengangguk saja dan dia berkata bahwa dirinya mengerti dengan posisi suaminya yang super sibuk hingga harus bertemu client dari pagi sampai pagi. Lalu dia meminta izin kepada Fabian, saat makan siang nanti dia akan berziarah ke makam suami pertamanya.


Fabian mengiyakan dan dia juga ingin ikut mengantar istrinya itu ketempat makam tersebut. Awalnya Adel menolak, namun setelah Fabian terus memaksa untuk tetap ikut, akhirnya Adel memilih untuk mengalah.


_________________


Setelah makan siang, Adel pun berangkat ke TPU ditemani oleh Fabian. Sesampainya mereka disana, Adel pun menabur bunga lalu tak lupa memanjatkan doa agar suaminya pertamanya itu tenang dialam sana. Tanpa terasa airmatanya mengalir membasahi pipinya karena kerinduannya pada almarhum suaminya tersebut.


Fabian ikut terharu melihat kesedihan istrinya tersebut. Hingga tak berapa lama ada dua orang yang datang untuk berziarah ke makam Bryan itu, membuat Fabian terkejut. Sedangkan Adel belum menyadari kehadiran dua orang tersebut karena dirinya menangis sambil memeluk nisan suami pertamanya itu.


"Adel..apakah benar itu kamu? " ucap lelaki yang baru datang itu membuat Adel menoleh kearahnya.


"Bimo? " ucap Adel menutup mulutnya dengan kedua tangannya karena belum sepenuhnya percaya dengan yang dilihatnya.


"Ya, aku Bimo. Lelaki yang bersamamu ini, suami baru mu? " tanya Bimo menyelidik.


"Iya, aku suaminya Adel. " Ucap Fabian lalu memberikan tangan kanannya untuk berkenalan dengan lelaki tersebut.


"Oh, aku Bimo.. mantan ipar dari istrimu ini. " Ucap Bimo menyambut tangan Fabian tersebut.


"Lalu, wanita yang di sampingmu ini, siapa? " tanya Fabian pura-pura tak mengenali wanita itu.


"Dia pacarku, Viona. Dia baru tiba pagi ini dari luar negeri. " Ucap Bimo lagi sambil merangkul wanita itu.


Terlihat Adel masih syok dengan kehadiran Bimo tersebut. Apalagi dia datang dengan seorang wanita yang katanya adalah pacarnya. Apakah Rania sudah mengetahui kalau Bimo sekarang sudah sembuh? ingin sebenarnya Adel menanyakan hal itu kepada Bimo secara langsung, namun dia tak enak hati karena saat ini bukan waktu yang tepat.

__ADS_1


Sedangkan Fabian tersenyum kecut kearah Viona, karena menurutnya wanita itu telah menipunya. Baru saja semalam mereka melepas rindu, hari ini malah berduaan dengan lelaki yang mengaku sebagai pacar Viona.


'Baguslah, Vi.. Semoga lelaki ini bisa membuat mu bahagia. Dan tugasku akan membahagiakan istriku. Aku merasa telah jatuh cinta kepada Adel. ' Batin Fabian lalu menggenggam tangan Adel dengan mesra.


__ADS_2