
Setelah mengetahui hasil pemeriksaan, Bryan merasa lega. Ternyata istrinya belum pernah disentuh oleh siapapun. Ada rasa bersalah dihatinya karena tak mau percaya dengan ucapan istrinya. Hanya saja dia merasa heran, mengapa Adel bisa berada di hotel itu dalam keadaan yang sadar?
Dalam perjalanan pulang, tiba-tiba Bryan menepikan mobilnya karena hatinya tak tenang untuk menanyakan kejadian sebenarnya yang terjadi di hotel waktu itu. Namun, sebelum Bryan berucap satu kata pun, Adel dengan lantangnya berkata,
"Sekarang terbukti kan, kalau aku itu belum pernah memadu kasih dengan lelaki satu pun? jadi aku bukan wanita murahan seperti dugaanmu, mas. " Ucap Adel saat mobil berhenti berjalan.
"Terus, waktu itu bagaimana bisa kamu berada di hotel dengan lelaki itu? " tanya Bryan penuh selidik.
"Aku dijebak oleh Shinta. Ingat kan, saat kamu ditelpon untuk kerumah sakit waktu itu? nah setelah kamu pergi, Shinta menelpon ku. Namun yang berbicara bukan Shinta, tapi dia mengaku sebagai kakaknya Shinta pada waktu itu.
Dia memintaku untuk mengambil barang Shinta yang ketinggalan di hotel. Karena aku baik, ya sudah aku tolongin dong, apalagi saat itu kan dia sedang sakit. Terus, barang-barang itu kan sudah tersimpan di dalam tas, dan aku berniat meninggalkan kamar hotel tersebut, tapi ada orang bertopeng keluar dari kamar mandi dan membekap mulutku. Sehingga aku tidak sadarkan diri.
Waktu kamu datang, aku baru siuman dari pingsan ku dan entah siapa yang mengganti pakaianku saat itu. Tapi untungnya, tidak terjadi hal-hal yang mengerikan. "Ucap Adel menjelaskan semuanya kepada suaminya tersebut.
" Kakaknya Shinta? berarti kamu dijebak oleh Rania? tapi apa tujuannya melakukan semua itu? "tanya Bryan penasaran.
" Entahlah. Mungkin mereka sudah merencanakan sesuatu yang buruk. Tapi, atas dasar apa mereka ingin menghancurkan rumah tangga kita berdua? aku hanya takut, Rania akan melakukan sesuatu yang buruk terhadap kita, mas. "Ucap Adel merasa khawatir.
" Tapi aku ingat sesuatu ucapan Shinta sebelum dia meninggal. Katanya, ibunya meninggal gara-gara kamu. Terus meninggalnya itu karena depresi hingga akhirnya bunuh diri. Aku bingung loh, kan kamu gak kenal sama mereka? kenapa dia bilangnya kematian ibunya disebabkan olehmu yah? "
__ADS_1
"Benarkah dia berkata seperti itu?" tanya Adel karena merasa bingung.
"Iya benar, aku ingat betul ucapan terakhirnya itu. Apa mungkin permintaan Shinta untuk menikahi kakaknya karena ingin melanjutkan dendamnya padamu? kan kamu istriku, jadi dia bisa lebih mudah menuntaskan dendam karena sekarang tinggal seatap. "
Keduanya terdiam sejenak, karena masih merasa bingung dengan semuanya. Adel memijiti keningnya karena merasa pusing dengan apa sebenarnya tujuan Rania hadir didalam rumah tangganya. Dia berpikir berarti selama ini, Shinta berbuat jahat kepadanya karena mengira dirinya yang membuat ibu wanita itu meninggal? tapi masalahnya, Adel merasa tak mengenal Shinta dan keluarga nya, tapi mengapa dia yang dituduh?
" Dia juga yang menyuruhku untuk menikahimu! aku sudah terhasut dengan ucapannya waktu itu. Seandainya, aku tau dari awal kalau dialah wanita yang membuat Bimo kecelakaan, pasti semua tak akan seperti ini. Maafkan aku, karena telah merenggut kebahagiaanmu. Seharusnya aku tak hadir dalam kehidupanmu. "Ucap Bryan tertunduk lesu.
" Jadi kamu menikahiku,atas permintaan Shinta? yah, sudahlah semua telah terjadi.Jadi tak perlu disesali.Dan walaupun seandainya kamu tak hadir dalam kehidupan ku, tetap sama aja kedua wanita itu akan terus mengincar ku untuk membalaskan dendam kematian ibunya. Walaupun aku tak mengerti mengapa aku? karena kan jujur aku tak mengenal mereka. "Ucap Adel mengelus bahu suaminya itu dengan lembut.
"Kamu tak marah padaku? kan selama ini aku sudah banyak berbuat jahat padamu. Untuk menebus kesalahan ku, aku berjanji akan menuruti keinginanmu untuk bercerai tanpa harus mengancam lagi. Kejarlah kebahagiaanmu. " Ucap Bryan berkaca-kaca.
"Daripada bingung sendiri, begini saja, gimana kalau kamu tanyakan hal ini pada nenek? mungkin saja beliau tau akan hal ini. "Ucap Bryan memberi saran.
" Hmmm ide bagus. Tapi nenek mungkin gak tau, mas. Buktinya udah berapa kali bertemu dengan Shinta, beliau biasa-biasa aja itu berarti kan tak mengenal nya, mas. "
"Aku punya rencana, nanti sebisa mungkin aku akan mencari tau siapa nama ibu kedua wanita tersebut. Jika ketemu, barulah ditanyakan pada nenek. Mungkin kalau nama ibunya, nenek akan mengenalnya dan bisa menjelaskan semuanya. " Ucap Bryan membuat istrinya mengangguk setuju.
"Tapi gimana caranya kamu mencari tau nama itu, mas? kalau tanya langsung pada Rania, takutnya dia malah curiga. "
__ADS_1
"Kamu tenang aja, aku bisa mendapatkannya untukmu. Sekarang ayo kita pulang dulu kerumah! dan bersikap seperti biasa aja dulu kayak biasanya biar wanita itu tak curiga. " Ucap Bryan lalu menjalankan mobilnya kembali.
__________________________
Rania menitipkan bayi kepada bu Astuti. Dia beralasan akan keluar sebentar karena ada urusan penting. Lagipula dirumah, Adel dan suaminya tidak ada. Jadi hanya bu Astuti lah yang bisa merawat bayi itu selama kepergian Rania.
Awalnya bu Astuti menolak dengan beralasan risih karena sudah lama tak memegang bayi. Takut kenapa-napa. Namun Rania tak mau tau dan mengatakan sudah seharusnya bu Astuti turut merawat bayi itu karena merupakan cucunya sendiri.
Tanpa mendengar alasan bu Astuti lagi, Rania segera beranjak pergi membawa serta Ali, anaknya. Ternyata dia menuju kearah rumah sakit kejiwaan. Saat mobilnya terparkir, dia pun turun dan menggandeng anaknya masuk kedalam rumah sakit itu.
Dia menemui seorang dokter, lalu bertanya mengenai perkembangan daya ingat suaminya.
"Untuk saat ini masih sulit, bu. Karena mengingat akibat benturan dikepala saat kecelakaan itu yang mengakibatkan geger otak. Dan perlu banyak waktu untuk memulihkan ingatannya. Sampai detik ini, pasien hanya mengingat satu nama saja. Hal itu diketahui karena kami sering mendengar pasien menyebut nama tersebut." Ucap dokter memberi penjelasan.
"Apa ada kemungkinan suami saya bisa kembali normal? " tanya Rania penuh harap.
"Kita do'akan saja semoga pasien cepat normal kembali. Tapi mungkin memerlukan waktu yang lama. Apalagi, saat ini pasien sering ngamuk dan hendak melukai dirinya sendiri. Jadi masih sulit bagi kami untuk memulihkannya dalam waktu yang singkat. " Ucap dokter itu lagi lalu mempersilahkan untuk menemui pasien.
Rania menangis saat melihat kondisi suaminya yang seperti itu. Pandangan yang kosong, dan perban yang meliliti kepalanya.
__ADS_1
"Sayang, kapan kamu akan sembuh? ayo kita segera pulang dan membuat anak pungut itu ditendang dari keluarga yang harusnya hanya milikmu seorang. Hanya kamu anak dari keluarga itu, dan semua harta itu milik keluarga kecil kita." Ucap Rania mengelus tangan suaminya tersebut.