
Adel terbangun saat mendengar dering ponselnya berbunyi. Saat dia membuka matanya perlahan, ada sensasi dingin yang menyelimuti tubuhnya. Segera dia keluar dari bathtub itu, dan melilitkan handuk ditubuhnya. Saat keluar dari kamar mandi, sensasi dingin itu semakin menyiksa dirinya, karena memasang AC dalam suhu maksimal.
Segera dia mematikan AC itu lalu mencari pakaiannya yang lumayan tebal agar bisa menghilangkan rasa dingin tersebut. Saat melihat kearah jam dinding, ternyata sudah pukul 09.21 pagi. Karena badannya menggigil, akhirnya dia memutuskan untuk membaringkan tubuhnya diatas kasur.
Lalu segera menghubungi kedua sahabatnya untuk datang menjenguk nya sekalian ingin dibelikan sarapan dari luar. Kalau masak sendiri, badannya saat ini terasa tidak baik-baik saja.
Saat sambungan telepon tersambung,
"Hallo, La.. bisa gak kamu dan Ani datang melihat keadaanku di sini? sumpah, aku sedang merasa tidak enak badan. Mungkin masuk angin akibat terlalu lama berendam di bathtub. Sekalian bawain makanan untuk sarapan juga yah? pliss.. " Ucap Adel memohon kepada sahabatnya itu.
"Ya udah, kamu serlok alamatmu sekarang juga! karena kami berdua tak tau tempat tinggalmu sekarang. Kami akan segera menemuimu, bye. " Ucap Lala lalu mematikan telepon secara sepihak.
Dengan cepat, Adel mengirimkan alamatnya kepada Lala. Saat ini dia membutuhkan bantuan kedua sahabatnya itu untuk membawanya berobat kerumah sakit. Sungguh, kali ini seluruh badannya seperti mati rasa, membeku seperti es.
Sambil menunggu, dia membungkus badannya menggunakan selimut tebal dan membuka tirai hordeng agar sinar matahari masuk dan membantu untuk menghangatkan tubuhnya tersebut.
Tiga puluh menit kemudian terdengar ada yang membunyikan bel pintu depan apartemennya. Dengan perlahan, Adel berjalan kedepan untuk membukakan pintu bagi kedua sahabatnya itu. Dia sangat yakin kalau yang datang itu adalah Lala Dan Ani.
"Del.. apa yang terjadi padamu? mengapa kamu kelihatan lemas begini? " tanya Ani saat melihat penampakan Adel yang terlihat lemas sekali.
Kembali mereka berdua menuntun Adel kearah kamarnya, lalu membaringkan nya dikasur. Lalu Ani menuju kearah dapur untuk menaruh makanan yang dibelinya tadi keatas piring. Setelah itu mengambilkan minum dan menaruhnya diatas nampan. Segera dia masuk kembali kekamar dan menyuapi Adel untuk makan.
"Ni.. bolehkah aku minta dikerokin ama kamu? setahuku kamu sangat ahli dalam bidang pengerokan. Sepertinya diriku masuk angin karena semalaman berendam di bathtub. " Ucap Adel meminta tolong pada sahabatnya.
"Ya udah, tapi kamu makan dulu! setelah itu baru aku kerokin belakang kamu. " Ucap Ani lalu dianggukin oleh Adel.
"Del.. sekarang katakan, siapa yang sudah berani-berani menjebak mu sehingga berakhir seperti ini? " tanya Lala ingin tahu.
__ADS_1
Akhirnya, Adel pun menceritakan semuanya kepada kedua Sahabatnya itu. Termasuk pertemuannya kembali bersama Bimo pun diungkit nya. Keduanya terlihat terkejut saat mendengar ucapan Adel tersebut. Mereka merasa bahwa pertemuan kembali Adel dengan lelaki itu pasti akan membawa dampak buruk bagi rumah tangga Adel.
Secara, dulu Bimo pernah mencintai sahabatnya itu. Bisa saja kan lelaki itu nantinya akan merebut kembali Adel dari pelukan suaminya yang sekarang? apalagi Lala sangat ingat betul, ketika Bimo dulu berada dirumah sakit jiwa. Dalam keadaan Bimo yang boleh dikatakan jiwanya sedang terganggu, tapi dimulutnya selalu menyebutkan nama Adel saja. Itu berarti bahwa Bimo sangat mencintai Adel.
"Itu cuma masa lalu, La. Lagipula sekarang, dia sudah mempunyai kekasih dan mereka saling mencintai. Aku bisa melihat dari tatapan matanya, bahwa sekarang dia tak mempunyai rasa apa-apa lagi kepadaku.
Lagipula semalam itu dia merayuku untuk melakukan hubungan terlarang karena terpaksa saja. Itu merupakan reaksi obat yang kami minum. " Ucap Adel menampik tuduhan yang ditujukan kepada Bimo.
"Kita kan tak tau isi hati orang, Del. Hanya saja aku sebagai sahabatmu, ingin mengingatkan mu agar jangan dekat-dekat dengan Bimo. Takutnya, dia bisa melakukan hal nekat. Karena kalau seseorang sangat mencintai kita, apa saja akan dilakukan untuk mendapatkan cinta kita tersebut. "Ucap Lala mewanti-wanti sahabatnya itu.
Sejenak hening, lalu Ani menyuruh Adel untuk membuka bajunya. Karena dirinya sudah menyiapkan minyak dan koin untuk mengerok belakangnya. Adel menuruti perintah Ani, lalu dia pun segera membuka bajunya itu, lalu mrnyanggul rambutnya agar Ani dengan muda mengerok belakangnya tersebut.
" Del.. apa semalam kamu sempat melakukan adegan panas dengan Bimo? atau ini bekas kecupan suamimu sebelum ia berangkat keluar kota? tapi, kayaknya ini masih baru deh, soalnya warnanya masih sangat menyala. "Ucap Ani membuat Adel dan Lala bingung.
" Warna menyala? apa sih, Ni.. kalau ngomong itu yang jelas biar dimengerti. "Ucap Lala sambil terkekeh.
" Iya kuakui semalam, dia sempat memelukku dan mengecup beberapa bagian tubuhku. Posisinya juga diriku hanya memakai dalaman saja karena hawanya sangat lah panas kurasakan akibat pengaruh obat yang ku minum.
Tapi, kecupan yang lama kurasakan memang di tengkuk leherku saja. Hingga akhirnya, karena merasa yang kulakukan itu salah, aku memilih pulang ke apartemen suamiku ini. "Ucap Adel merasa menyesal mengingat peristiwa semalam.
Setelah mendengar penjelasan dari Adel, akhirnya Ani mempunyai ide untuk mengerok bagian tengkuk lehernya juga agar tak ketahuan kalau bekas merah itu adalah kecupan panas bibir Bimo. Takutnya saja, suami Adel pulang dan mempertanyakan hal itu kepada Adel. Bisa-bisa akan terjadi perang Dunia ketiga kalau suaminya mengetahui hal tersebut.
Untungnya, bekas merah tersebut bisa tersamarkan dan terlihat seperti bekas kerokan. Jadi membuat ketiganya merasa lega. Kedua sahabat Adel hanya tak ingin hubungannya bersama suaminya akan mengalami hal yang sama seperti yang dulu. Mendengar kata hati kedua sahabatnya yang sangat perhatian kepadanya, dia pun mengucapkan terima kasih lalu akhirnya mereka pun berpelukan dengan hangat.
Saat ketiganya sedang mengobrol serius, tiba-tiba saja bel pintu apartemen berbunyi lagi. Membuat ketiganya saling pandang. Lalu Adel berpikir kalau itu bukan suaminya. Karena kan, kepergian suaminya itu belum genap lima hari. Baru juga kemarin pagi berangkatnya.
Dengan menarik nafas panjang, akhirnya dia mencoba untuk bangkit berdiri dan membukakan pintu bagi tamu yang datang bertandang tersebut. Dalam pikirannya, pasti itu Viona yang mungkin akan marah, karena semalam meninggalkannya di apartemen Bimo.
__ADS_1
Saat pintu itu terbuka, benar saja kalau itu adalah Viona. Dia tak datang sendiri, melainkan datang bersama suaminya. Pastinya dia sangat terkejut, karena melihat kedatangan suaminya tersebut.
"Loh, mas.. bukannya pertemuan diluar kota berlangsung lima hari yah? apa karena pekerjaannya sudah selesai makanya sekarang sudah bisa pulang dengan cepat? " tanya Adel dengan suara yang sedikit parau.
"Apa kamu sakit? ayo kita kerumah sakit sekarang! " Ucap Fabian namun Adel menolaknya.
"Gak perlu, mas. Tadi emang iya aku lagi demam tinggi. Tapi kedua sahabat ku ku suruh kesini untuk menolongku sekalian menyuruh salah satu dari antara mereka mengeroki belakangku. Jadi udah agak mendingan. " Ucap Adel lalu duduk secara perlahan disofa ruang tamu.
Fabian pun mengucapkan terimakasih nya kepada kedua sahabat Adel karena telah meluangkan waktu mereka untuk merawat istrinya tersebut. Dia juga mengatakan, kedatangannya yang harusnya masih empat hari lagi, hanya demi melihat kondisi istrinya. Ternyata dia mendapat telepon dari Viona.
"Untungnya, Viona menelpon ku jadi aku langsung buru-buru untuk melihat keadaanmu." Ucap Fabian sambil mengusap tangan Adel dengan lembut.
"Iya, karena suamimu sudah datang.. sekarang aku dan Lala pamit pulang yah, Del? nanti kalau semisal kan kamu perlu bantuan kami lagi, tinggal telepon saja. Kami pasti akan segera datang untuk membantumu. " Ucap Ani lalu mereka pun pergi meninggalkan apartemen itu.
Setelah kepergian kedua sahabat Adel, maka kesempatan itu digunakan oleh Viona untuk menghasut Fabian dengan mengatakan bahwa semalam istrinya telah bermain gila dengan Bimo. Namun usahanya itu sia-sia karena sebelum mengatakan hal itu, Adel telah berkata jujur kepada Fabian dan menceritakan semua kejadiannya dari awal.
"Lain kali, jangan mengajak istriku pergi ke acara party seperti itu. Untung saja, istriku tak melakukan hal terlarang dengan kekasihmu itu. Dan cepat kasih padaku nomor kelima temanmu itu yang telah bersikap keterlaluan itu! aku akan memberikan pelajaran kepada mereka. " Ucap Fabian memarahi Viona.
"Sudahlah, mas.. yang penting kan aku sekarang dalam keadaan baik-baik saja. Hanya sekarang aku harus sakit seperti ini karena terlalu lama berendam di bathtub agar menghilangkan pengaruh obat tersebut. " Ucap Adel kemudian.
Mendengar penuturan Adel tersebut membuat Viona merasa bingung. Bukannya semalam kata Bimo mereka melakukan hal terlarang tersebut? pikiran Viona kalang kabut. Hingga dia ingat sesuatu, lalu meminta Adel untuk memperlihatkan tengkuk lehernya.
"Adel.. kata Bimo, semalam kalian telah melakukan hubungan terlarang itu atas dasar suka sama suka. Awalnya aku tak percaya dengan omongan Bimo tersebut. Lalu dia mengatakan, kalau memberi tanda merah sebagai bukti nyata kalau kalian semalam itu memang melakukannya. " Ucap Viona membuat Adel tampak gugup.
"Coba deh, kita buktikan pada Viona kalau perkataannya itu tak ada benarnya. Gak mungkin dong, Vi kalau istriku ini melakukannya dengan Bimo. Kamu kan dengar sendiri penjelasan nya tadi, kalau semalam itu setelah mengantar kamu ke apartemen Bimo, dia langsung balik kesini. " Ucap Fabian masih membela istrinya tersebut.
Hingga Adel pun memperlihatkan tengkuk lehernya kepada Fabian dan wanita itu. Sebenarnya ada rasa was-was, takut suaminya akan kecewa padanya kalau sampai mengetahui bekas merah itu benar adanya. Dalam hatinya dia berdoa agar bekas merah tersebut sudah berbaur dengan bekas kerokan Ani tadi.
__ADS_1