
Saat mobil memasuki area parkir perusahaan, Fabian turun disusul oleh Adel. Keduanya masuk secara bersamaan membuat semua karyawan tampak terkejut melihat Adel yang kembali masuk bekerja. Karena kan setelah menikah dengan Fabian dulu, Adel resign dari pekerjaan nya sebagai sekretaris.
Mereka juga tampak bingung, karena setahu mereka pasangan sejoli itu sedang berbulan madu diluar negeri. Mereka yang melihat tatapan Fabian yang tak ramah seperti biasanya, merasa takut untuk menyapanya. Mereka berpura-pura sibuk mengerjakan tugas mereka masing-masing.
Barulah ketika Fabian masuk kedalam ruangannya, mereka menyerbu Adel dengan beberapa pertanyaan. Sehingga membuat Adel bingung mau menjawab pertanyaan yang mana dulu. Hingga tak lama datanglah Ani, sahabatnya yang kemudian menyelamatkan Adel dari kerumunan para karyawan tersebut.
"Hei, jangan ganggu nyonya Adel dong! kalau dulu tak apa-apa jika kalian mengerumuninya seperti ini. Sekarang dia sudah jadi nyonya, jadi harus bersikap sopan. " Ucap Ani membuat semuanya sadar dan kembali duduk di kursinya masing-masing.
Merasa terselamatkan, Adel pun menyuruh Ani untuk mengobrol sebentar diruang pantry sambil minum kopi, dan juga nanti bisa membuatkan kopi untuk suaminya. Ani pun setuju hingga keduanya secara bersamaan menuju ke ruang Pantry.
"Hei, kalian merasa aneh gak sih pada bos? kok sekarang sikapnya seperti dulu lagi sebelum menikah dengan Nyonya Adel? " ucap salah satu karyawan pada yang lainnya.
"Iya, kayaknya bos kembali bersikap killer deh. Waduh harus ekstra hati-hati kalau begini. " Ucap yang lainnya.
Mereka kembali fokus pada komputernya saat mendengar Fabian membuka pintu ruangannya. Dengan nada tinggi, dia menanyakan tentang keberadaan sekretarisnya. Itu jelas membuat para karyawan ketakutan karena kini bos mereka kembali bersikap arrogant. Kalau sampai salah bicara, siap-siap aja kehilangan pekerjaan.
"Nyonya Adel lagi di pantry,Pak." Ucap salah satu wanita memberanikan diri untuk bicara.
"Apa katamu, nyonya Adel? sejak kapan dia menjadi nyonya kalian hah? " teriak Fabian membuat semuanya tertunduk ketakutan.
"Hei, kamu siapa namamu? " tanya Fabian lagi pada wanita tadi.
"Lena, Pak. " Ucapnya sambil tetap menundukkan kepalanya.
"Ok, Lena.. sekarang juga kamu bereskan barangmu dan keluar dari sini. Kamu saya pecat karena omonganmu membuatku muak saja. "Ucap Fabian membuat semuanya terkejut terlebih wanita itu.
__ADS_1
" Tapi, Pak? "
"Gak ada tapi-tapian, sekarang kamu masuk ke ruang HRD untuk meminta uang gaji bulan ini sekalian uang pesangon. " Ucap Fabian lalu masuk kedalam ruangannya kembali.
Setelah Fabian masuk keruangan nya, tampak wanita itu menangis atas apa yang menimpanya. Hanya karena menyebut Adel sebagai nyonya, dia harus kehilangan pekerjaan. Yang lainnya tak dapat membantunya, hanya bisa menguatkan hati temannya itu yang baru saja di pecat.
Di ruang pantry, Ani bertanya mengapa Adel kembali untuk bekerja? padahal yang dia ketahui, Fabian yang melarang istrinya itu untuk kembali bekerja. Dan juga tak lupa pula Ani menanyakan tentang sikap Fabian yang tak seperti biasanya. Mendengar pertanyaan itu, membuat Adel menarik nafas panjang lalu menghela nya.
"Suamiku mengalami amnesia ringan, Ni. Dia hanya ingat tentang masa lalunya saja. Dan itu berpengaruh padaku juga, Mas Fabian tak ingat padaku. Lebih sakitnya lagi, dia malah menyangka kalau Viona lah yang menjadi istrinya. " Ucap Adel dengan raut kesedihan.
"Pantesan sikapnya juga kembali seperti dulu lagi. Hmm, pasti Viona akan menggunakan kesempatan ini, Del. Jangan biarkan wanita itu mendekati suamimu. " Ucap Ani mengingatkan sahabatnya itu.
"Oya, bagaimana keadaan nenek? gara-gara kejadian ini, aku sampai lupa menanyakan keadaan nenek." tanya Adel mengalihkan pembicaraan.
"Nenek baik-baik saja kok. Sekarang ada sepupu kamu yang datang untuk membantu merawat nenek selagi aku dan Lala bekerja. Kata nenek, kamu tak perlu mengkhawatirkan beliau, saat ini fokuslah dulu untuk kesembuhan suamimu. Kami pikir kecelakaan yang menimpa suamimu tak membuat dirinya amnesia.Padahal aku dan Lala baru saja berniat untuk menjenguknya dirumah sakit. Eh taunya, hari ini sudah masuk untuk bekerja. "Ucap Ani panjang lebar.
Karena kopi mereka sudah habis, Adel lalu membuatkan secangkir kopi special untuk suaminya. Dia berharap, semoga saja suaminya itu segera ingat kembali pada dirinya. Didepan ruangan suaminya, diapun mengetuk pintu dan terdengar dari dalam kalau suaminya mempersilahkan dirinya untuk masuk.
"Pak, ini kopinya silakan diminum! " ucap Adel seramah mungkin kepada Fabian.
"Kenapa lama amat membuat kopinya? apa kamu bergosip dulu di ruang pantry? ini nih, yang aku tak suka mempunyai sekretaris yang lelet kayak kamu. Kalau bukan karena nenek, sudah lama kupecat dirimu. Sekarang, cepat bacakan apa saja jadwal ku untuk hari ini? " ucap Fabian membuat Adel gelagapan.
"Nanti Pak, aku akan mengambil jadwalnya di ruangan saya. " Ucap Adel lalu buru-buru berlari kearah ruangannya.
Melihat itu, Fabian geleng-geleng kepala dan menyalahkan neneknya karena telah salah merekomendasikan wanita itu sebagai sekretaris. Baru pertama kerja saja, menurut Fabian wanita itu sangatlah tidak pantas menjadi sekretaris.
__ADS_1
__________________________
Akhirnya pekerjaannya selesai juga dan waktunya bagi semua karyawan untuk pulang ke rumah masing-masing. Kecuali kalau ada yang lembur, berarti masih tetap stay di perusahaan. Untung saja, Adel sudah minta izin untuk pulang sendiri karena dirinya hendak mampir menjenguk neneknya yang kini tinggal dikontrakan sahabatnya.
"Jangan Ge-er dong, kamu pikir karena tadi pagi aku memberikan tumpangan gratis, akan seterusnya seperti itu?" begitulah jawaban Fabian saat Adel meminta izin untuk pulang sendiri.
Ani yang mendengar ucapan Fabian sebenarnya merasa geram karena berbicara seperti itu kepada istrinya sendiri. Namun sebelum Ani mengeluarkan amarahnya, dengan cepat Adel menarik tangan sahabatnya itu untuk segera pergi meninggalkan Fabian.
"Dia tak sopan loh sama kamu, Del. Walaupun dia adalah bos besar, kalau berani menyakiti hatimu aku akan melawannya, tak peduli kalau sampai pekerjaan ku sebagai taruhannya. " Ucap Ani emosi.
"Sabar, Ni. Kan aku sudah bilang, dia seperti itu karena tak ingat denganku. Sekarang lebih baik kita pulang, aku sudah tak sabar ingin menemui nenek dan Dimas. Oya, aku mohon jangan katakan kepada nenek tentang keadaan suamiku yang sekarang yah? " ucap Adel lalu dianggukin oleh sahabatnya tersebut.
Mobil Ani memasuki pekarangan kontrakan tempat tinggalnya. Diteras kontrakan itu, tampak Lala, nenek dan juga sepupu Adel sedang duduk santai sambil menikmati teh hangat. Mereka lantas menoleh kearah mobil Ani yang terparkir. Saat Adel turun, dia langsung berlari kearah neneknya dengan airmata yang membasahi pipinya.
Melihat itu Lala dan Dimas ikut senang karena pada akhirnya Adel mempunyai waktu untuk melihat kondisi Sang nenek.
"Maafin aku, Nek baru datang untuk menjenguk keadaan nenek disini. " Ucap Adel memeluk erat tubuh Bu Ida.
"Nenek mengerti kok, kamu kan juga sedang merawat suamimu yang sedang sakit. Bagaimana kabar suamimu sekarang, Nak? " tanya Bu Ida membelai rambut cucunya tersebut.
"Mas Fabian sekarang sudah mendingan kok, Nek. Nanti kalau nenek sudah pulih betul, Adel akan ajak untuk bertemu dengannya. Untuk saat ini, nenek harus sehat dulu. " Ucap Adel kembali memeluk tubuh neneknya.
Karena hari sudah menjelang sore, mereka pun masuk kedalam rumah dan melanjutkan untuk melepaskan rindu. Sebenarnya, ingin sekali Adel menceritakan keadaan sebenarnya kepada Sang nenek. Namun ia sadar, hal itu akan membuat kesehatan neneknya akan menurun kembali karena mengkhawatirkan nya.
"Loh, Nak.. apa kamu kembali bekerja? " tanya Bu Ida karena melihat tampilan cucunya yang masih menggunakan pakaian ala-ala sekretaris.
__ADS_1
Adel melirik kearah Ani untuk meminta bantuan mencari alasan yang tepat agar neneknya tak mengetahui kalau dirinya kembali bekerja di perusahaan suaminya. Karena suaminya dulu pernah berjanji kepada Bu Ida tak akan mengizinkan Adel untuk bekerja lagi.