
Adel mengurung diri dikamar dan menangisi semua yang telah terjadi. Dirinya bingung entah memulai darimana dia akan menjelaskan kejadian sebenarnya kepada suaminya. Pak Hadi dan istrinya merasa iba atas apa yang menimpa menantunya tersebut.
Kedua sahabat Adel sudah menceritakan semuanya kepada mertua Adel dan meminta mereka untuk terus memperhatikannya. Takutnya, Bryan datang dan memarahinya karena suaminya tersebut sadang dirasuki amarah yang membara.
"Om, tante, kami mohon untuk terus menjaga Adel! kami rasa, disini dia akan aman. Semoga saja, suaminya tidak akan berani main tangan jika om dan tante melindungi nya. " Ucap Ani sebelum pamit untuk pulang.
"Kalian tenang saja, Adel akan aman bersama kami. Nanti kalau Bryan datang mencari istrinya kesini, kami akan membujuknya dan menceritakan kejadian sebenarnya seperti yang kalian katakan tadi. " Ucap pak Hadi dengan tenang.
"Semoga saja, Bryan mau mengerti dan bisa kembali hidup bahagia dengan Adel. " Ucap Ani lagi lalu permisi untuk pulang.
" Terima kasih karena kalian telah mengantarkan Adel pulang kesini. Dan kalian juga hati-hati dijalan. "Ucap bu Astuti lalu melambaikan tangan kepada kedua sahabat Adel tersebut.
Pak Hadi dan istrinya pun masuk kedalam rumah lalu keduanya mengobrol sejenak hingga memutuskan mengetok pintu kamar Adel dan berharap menantunya tersebut mau keluar dan tak memendam kesedihannya seorang diri.
" Nak, bolehkah kita bicara sebentar?"tanya bu Astuti tapi tak ada balasan.
"Ya sudah, kalau kamu belum siap untuk berbagi. Tapi ibu berharap kamu jangan berlarut-larut dalam kesedihan yah? Ingat, semua masalah pasti ada jalan keluarnya. Ibu dan bapak serta kedua sahabatmu akan selalu setia menemanimu untuk mencari solusinya. " Ucap bu Astuti lagi lalu akhirnya memutuskan untuk membiarkan Adel sendiri dulu.
Tampak pak Hadi memegangi ponselnya, lalu menelpon anaknya untuk menyuruhnya pulang segera. Namun nomor tujuannya tidak aktif sehingga membuat pak Hadi sedikit kesal dengan perlakuan anaknya tersebut.
"Pak, sebaiknya kita tidur dulu! kita pikirkan jalan keluarnya besok pagi lagi yah?" ajak bu Astuti kepada suaminya tersebut.
"Ibu silahkan masuk duluan! bapak mau disini saja sambil jaga-jaga. Takutnya Adel keluar dari rumah ini dan nantinya terjadi hal yang tak diinginkan. " Ucap pak Hadi lalu dianggukin oleh bu Astuti.
"Yah udah, ibu ambilkan bantal dan selimut buat bapak dulu kalau begitu. "
__ADS_1
Didalam kamar, tampak Adel yang terus menangis sedih atas semua yang telah terjadi. Sehingga dirinya teringat akan diary Bimo yang disimpannya didalam tas. Segera diambilnya buku tersebut, dan untungnya diary tersebut bisa terbuka, pikirnya mungkin Shinta lupa untuk menguncinya.
Ada banyak coretan tangan di diary tersebut, sehingga Adel menarik nafas panjang dan memulai membaca diary tersebut secara maraton.
Hingga dihalaman terakhir, yang tertulis hanya kisah cintanya bersama Rania hingga pertemuan Bimo dengannya untuk yang pertama kalinya. Namun ada juga yang aneh dalam diary tersebut, Bimo menuliskan bahwa dia membenci keluarganya yang selalu menomorsatukan anak pungut.
"Anak pungut? siapa yang dimaksud oleh Bimo? " tanya Adel dalam hati saat membaca isi diary itu.
Dia memutuskan untuk menutup kembali diary itu dan mencoba menerka maksud dari tulisan tangan adik iparnya tersebut. Berarti, sebelum dekat dengan Adel, wanita yang bernama Rania adalah kekasih yang sesungguhnya. Namun Adel gak habis pikir, mengapa yang dulu datang melabrak Bimo dengannya adalah Shinta?
Apa mungkin, Bimo dulunya mempunyai banyak kekasih? tapi dirinya yakin kalau Shinta saling mengenal dengan Rania. Apakah sebenarnya dulu dia melabrak Bimo karena ketahuan selingkuh dengan Rania? kalau misalkan benar, mengapa Bimo tak pernah menuliskan nama Shinta di diary pribadinya?
Sungguh ada banyak pertanyaan yang menumpuk di kepala Adel. Namun, karena masalah yang sedang dihadapinya sekarang, membuatnya melupakan sejenak tentang diary tersebut dan mencari cara untuk memberikan penjelasan kepada suaminya bahwa yang terlihat dihotel tadi adalah kesalahpahaman.
______________
Rania yang melihat lelaki itu sudah tak sabar ingin bertemu anaknya itu pun mendekatinya dan mengatakan agar ikhlas melepas kepergian Shinta.
"Semoga saja, keduanya selamat. Jadi tolong, kamu jauh-jauh dariku! " ucap Bryan mengusir wanita itu dari hadapannya.
"Ok, tapi kamu harus ingat Bryan, kamu sudah sah jadi suamiku. Tidak seharusnya kamu memperlakukan aku seperti ini. Kamu harus sadar, Shinta tidak dapat tertolong lagi. " Ucap Rania lalu menjauh dari lelaki itu.
Bryan hanya terdiam dan tak mau mengucapkan satu kata pun. Dia hanya berharap, agar diberikan keajaiban. Dia menginginkan keduanya selamat dan berjanji akan hidup bahagia seperti biasanya, apalagi sekarang sudah mempunyai anak. Dan nanti akan segera menceraikan Adel dan menjatuhkan talak kepada Rania.
Tak lama kemudian, dokter keluar dari ruangan dan segera Bryan mendekatinya untuk bertanya keadaan istri dan anaknya. Dia pun berkata,semoga dokter memberikan kabar bahagia untuknya.
__ADS_1
Namun dokter menggelengkan kepala dan mengatakan bahwa istrinya tidak dapat tertolong. Dan hanyalah anaknya yang lahir dengan selamat.
"Kami sudah berupaya semaksimal mungkin, namun kami hanya bisa menyelamatkan bayinya saja. Dan nanti, suster yang akan memberikan bayi itu kepada anda namun bersabarlah dulu." Ucap dokter itu lagi lalu pamit untuk pergi.
Bryan yang mendengar penjelasan dari dokter tersebut, hanya bisa menangisi kepergian Shinta, wanita yang pernah dicintainya. Memang, akhir-akhir ini rasa cintanya kepada wanita itu sudah berkurang karena perlakuan buruknya terhadap Adel.
Namun mengingat kejadian istrinya yang berselingkuh dengan Mario, membuat rasa cinta itu kembali tumbuh sepenuhnya untuk Shinta. Namun sayang, takdir berkata lain. Dia harus menerima kenyataan bahwa wanita yang dicintainya itu kini telah pergi untuk selamanya.
Suster keluar membawa bayi mungil dan menyerahkannya kepada Bryan. Namun, tangan Rania yang lebih dulu mengambil bayi tersebut. Wanita itu mengatakan kepada suster bahwa mulai hari ini, dia yang akan merawat bayi adiknya tersebut.
Suster pun mengangguk setuju, lalu pergi meninggalkan ruangan itu. Bryan menatapi wajah istri keduanya itu untuk yang terakhir kalinya. Dia terlihat sedih dan terpukul dengan semua yang terjadi.
"Sekarang, gendong lah anakmu, mas! dia sangat cantik, mirip ibunya. Semoga anak ini bisa membuatmu lupa kepada Shinta. Kamu harus ikhlas, dan ingat masih ada aku yang akan selalu menemanimu. " Ucap Rania mencoba menenangkan hati lelaki itu.
"Melupakan Shinta katamu? itu tidak akan pernah terjadi. Dia akan selalu ada di ingatanku. Jadi jangan sok perhatian padaku. Walaupun sekarang kamu itu istriku, tapi aku tidak mencintaimu. Diriku hanya menghargai permintaan Shinta agar dirimu tidak hidup sebatang kara." Ucap Bryan dengan ketus.
" Terserah kamu mau anggap aku ini apa. Yang jelas, sekarang kita sudah sah menikah. Dan aku berharap, kamu mau bekerja sama untuk merawat anak ini hingga dia tumbuh besar nanti. Kalaupun kamu masih mencintai Adel, tapi aku meminta, diriku dan anak ini tinggal seatap juga denganmu. "Ucap Rania lalu menyerahkan bayi itu ketangan Bryan.
Bryan menatap wajah bayi itu, dan hatinya sedikit bahagia karena pada akhirnya dia menjadi seorang ayah. Dia menimang bayi tersebut dan memutuskan untuk membawa bayi itu ke rumah orangtuanya. Namun lelaki itu masih sedikit bingung untuk membawa Rania beserta dirinya, dia belum tau bagaimana cara menjelaskan semuanya kepada orangtuanya nanti.
"Rania, Setelah pemakaman nanti, kamu ikutlah denganku kerumah orangtuaku. Nanti aku pikirkan cara menjelaskan semuanya kepada mereka. " Ucap Bryan tanpa menoleh kearah Rania.
"Baiklah mas, dengan senang hati. " Ucap Rania bersemangat.
"Tapi ingat, aku membawamu serta bukan karena cinta. Itu semua karena aku sudah terlanjur menikah denganmu atas permintaan Shinta, dan dia mempercayakan kamu untuk merawat bayinya." Ucap Bryan lalu dianggukin oleh Rania.
__ADS_1
"Sangkanya,aku tergila-gila kepadanya? idih, maaf saja. Lihat saja, setelah Bimo keluar dari rumah sakit jiwa, dirimu akan hidup menderita dan kembali ke panti asuhan tempatmu yang sesungguhnya. Saat ini, aku ingin menuntaskan dendam kepada wanita kampung itu dan keluarganya terlebih dahulu."Ucap Rania dalam hati lalu berpura-pura patuh terhadap ucapan Bryan.