
Saat pagi tiba,seperti biasanya Adel bangun dan bersiap-siap untuk menyiapkan sarapan.Dia mendengar percikan air dari dalam kamar mandi dan tau kalau itu adalah suaminya.Ia pun melangkahkan kakinya menuju kedapur.
Terlihat Shinta sudah sibuk menata nasi goreng dan segelas susu diatas meja,membuat Adel menghampiri wanita itu dan terjadilah obrolan diantara mereka,
"Semalam,kenapa gak ikut bergabung bersama kami?"tanya Adel yang membuat Shinta melototinya.
"Buat apa aku gabung bersama kalian?buat melayani tamu-tamu suamimu itu seperti pembantu?itu kan yang kamu lakukan semalam?ogah amat.."Jawab Shinta mencebikkan bibirnya.
"Itu kan sudah jadi tugasku sebagai istri.Tapi,bagus juga deh kamu gak ikut bergabung semalam.Daripada jadi buah bibir?kamu kan bukan siapa-siapa dirumah ini."Ucap Adel lalu memanggang roti.
"Kamu lihat saja,setelah aku menikah dengan suamimu,kamu akan menderita seumur hidupmu."Bisik Shinta ketelinga Adel.
"Menikah?jangan mimpi kamu.Walaupun aku tau kamu bermain gila dengan suamiku,jangan harap kamu bisa bersanding dengannya."Ucap Adel mengacungkan jari telunjuknya kearah wanita itu.
Shinta terdiam mendengar omongan Adel yang menatapnya dengan sinis.Lalu Bryan pun datang dan langsung duduk untuk sarapan.Melihat kedua wanita itu saling bertatap sinis,Bryan angkat bicara..
"Shinta,sebaiknya kamu pulang hari ini."
"Loh kok ngusir sih?atau jangan-jangan kamu mulai suka pada istrimu?"ucap Shinta tak terima.
"Untuk sementara,kamu jangan dulu tinggal seatap denganku.Nanti,setelah menikah barulah boleh.Gak enak kalo jadi buah bibir tetangga."Ucap Bryan menatap wajah wanita itu.
Shinta mengangguk dan tersenyum bahagia saat mendengar ucapan Bryan lalu melirik kearah Adel yang tarlihat kaget.
"Menikah mas?kalau gitu ceraikan aku dulu,baru boleh menikahi dia.Gak sudi aku dimadu."Ucap Adel membuang muka.
"Cerai?itu tak akan terjadi.lu akan tetap jadi istri gue."
"Gak sudi,pokoknya ceraikan dulu aku,baru boleh menikahi dia!"ucap Adel dengan nada tinggi.
Bryan geram dengan pernyataan istrinya itu.Lalu dia pun beranjak dari duduknya dan menghampiri istrinya.
"Berani yah lu?"ucap Bryan menampar pipi Adel hingga meringis kesakitan.
Shinta yang menyaksikan itu mengulum senyum bahagia lalu ikut menjambak rambut Adel hingga wajahnya mendongak keatas.
"Kamu harus merestui pernikahan suamimu dengan diriku,dan harus rela dimadu.Emangnya kamu siap menanggung malu karena jadi buah bibir dikampungmu hah?" ucap Shinta lalu mendorong Adel hingga jatuh kelantai.
"Aku tak peduli dengan perkataan orang."Ucap Adel yang masih meringis kesakitan.
Mendengar itu Shinta tetap mencari cara agar istri kekasihnya itu mau mengalah.Bryan kembali berucap,
"Kalau begitu,setelah kita resmi bercerai,siap-siap aja masuk kedalam penjara."
Adel terdiam mendengar kalimat itu.Ancaman suaminya itu membuatnya takut.Dia berpikir,mengapa suaminya tak mencaritau dulu kebenarannya.Padahal,suaminya itu mendengarkan secara langsung saat Rio menyebut nama wanita lain yang dekat dengan adiknya semasa hidupnya dulu.
Lamunannya buyar,saat Shinta menarik rambutnya lagi hingga Adel tak kuasa menahannya lalu dengan lantang mengatakan..
"Lakukan sesuka kalian.Aku tak peduli kalau kamu mau menikah lagi.Saat ini aku terima semua tuduhan kamu mas.Tapi ingat,kamu akan menyesal nantinya."Ucap Adel lalu beranjak menuju kekamarnya.
Lagi-lagi Shinta puas mendengar keputusan Adel.Dia mendekati dan memeluk Bryan sambil senyum kemenangan mengembang dibibirnya.
Bryan melepaskan tangan Shinta yang memeluknya lalu duduk sambil merenungkan ucapan istrinya.Tiba-tiba Adel menghampiri mereka lagi dengan keadaan yang sudah rapi.
"Mas,aku minta izin kerumah Ani yah?"ucap Adel lembut seperti tak terjadi apa-apa.
__ADS_1
"Sepagi ini?jangan-jangan mau ketemu pria lain."Ucap Shinta mengompori.
"Aku tak mau berdebat lagi yah.Keinginanmu sudah terpenuhi,apa belum puas?"ucap Adel kesal.
"Sana pergi.Tapi ingat,jangan lama-lama.lu masih harus beres-beres selama bibi gak ada dirumah."Ucap Bryan mengizinkan lalu beranjak pergi masuk kekamar.
"Sayang,kamu nganter aku pulang kan?"tanya Shinta melirik kearah Adel untuk menyombongkan kemesraannya.
Bryan hanya menganggukan kepalanya.Lalu meraih kunci mobil.Saat sudah masuk kedalam mobil dan hendak berangkat,Bryan menawarkan tumpangan kepada istrinya itu.
Namun Adel menolak dengan beralasan sudah memesan taxi online.Mendengar itu,Bryan pun berlalu meninggalkan istrinya yang kelihatan menahan tangisnya.
_______________
"Apa..Menikah lagi?" tanya Lala saat Adel menelponnya dan memberitau tentang masalahnya.
"Iya La.Aku bingung menghadapi masalah ini.Kalau aku minta cerai,mas Bryan mengancamku untuk menjebloskan aku kepenjara."Ucap Adel sambil terisak.
"Gini aja Del,sekarang kamu datang kerestoran tempat aku kerja yah?"
"Kamu kan masih dalam jam kerja La.Aku gak mau mengganggu waktumu."Ucap Adel menolak.
"Aku masuk shift siang Del.Tapi ketemuannya di tempat aku kerja aja biar sekalian nunggu pergantian shift."Ucap Lala menjelaskan.
"Ya udah deh.Buruan kamu kirim alamatnya,biar kukasih tau pada supir taxi untuk mengantarkan kesana."
"Ok..Sampai bertemu yah Del..bye."
tuut..
tuut..
tuut..
Adel memberikan alamat kepada sopir taxi itu,dan segera mobil taxi itu memutar arah ketempat tujuan.Lima belas menit perjalanan yang ditempuh,akhirnya mereka pun tiba.
Adel segera turun dan membayar ongkos.Lalu ia melihat-lihat tempat yang bagus untuk duduk sambil menunggu sahabatnya itu datang.Kebetulan didepan restoran itu ada bangku memanjang yang berjejer,dia melangkahkan kakinya kearah itu.
Karena berjalan tergesa-gesa,tanpa sengaja ia pun menabrak seorang lelaki.Melihat Adel yang hendak terjatuh,dengan cepat ia menahan tubuh wanita itu hingga mereka saling bertatapan.
Adel langsung berdiri dan melepaskan tangan pria yang memegangnya.Lalu meminta maaf karena sudah tidak hati-hati.
"Maafkan aku karena kurang hati-hati saat berjalan."Ucap Adel menundukkan kepalanya.
"Adel?" ucap lelaki itu sedikit ragu karena takut salah orang.
"Eh,ternyata kamu.Maafin yah,tadi itu gak sengaja."Ucap Adel yang kemudian dianggukin oleh pria tersebut.
"Lain kali hati-hati yah.Oya kamu ngapain disini?"tanya pria itu lagi.
"Lagi ada janji dengan sahabat aku.Kalau kamu sendiri?"Adel balik bertanya sambil tersenyum ramah.
"Mau ngecek keadaan restoran ini sih,kan restoran ini punya aku."Jawab lelaki itu membalas senyuman Adel.
"Oh gitu.."ucap Adel menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.
__ADS_1
"Belum keramas yah,ngegaruk kepala kayak gitu."Ucap lelaki itu lagi lalu tertawa lepas.
"Dasar yah,gak pernah berubah dari dulu.Masih saja usil kerjaannya."Ucap Adel ikut tertawa.
Saat sedang asyik bersenda gurau,keduanya kaget dengan kedatangan Shinta.Wanita itu menunjukan sebuah foto yang barusan diambilnya.Dalam foto itu terlihat Adel dan pria yang bersamanya itu saling bertatapan mesra.
Itu membuat Adel marah dan kemudian menampar pipi wanita itu.
"Lancang kamu yah,membuntuti aku dari belakang?dan apa coba maksud kamu mengambil foto itu,buat nunjukin ke mas Bryan hah?"ucap Adel dengan emosi.
"Berani kamu menamparku?tunggu saja akan kulaporkan semuanya kepada Bryan.Kamu akan membayar tamparan ini."Ucap Shinta lalu pergi meninggalkan mereka.
Lala tiba ditempat itu dan tak tau menau tentang keributan antara Adel dan Shinta tadi.Dia mendapati sahabatnya itu sedang ditenangkan oleh seorang pria yang ternyata adalah bos besarnya.
Bukannya sungkan saat bertemu bos besar,Lala malah meledek bosnya itu yang terlihat perhatian pada Adel.
"Cie..cie..awas loh jatuh cinta."Ucap Lala membuat keduanya kaget.
"Apaan sih kamu La."Ucap Adel merasa malu.
"Berani yah kamu berkata seperti itu pada bosmu!potong gaji ni.."ucap pria itu melototi Lala.
Ketiganya pun tertawa lepas karena ternyata masih saling mengenal.Lala juga tak menyangka kalau Adel sudah bertemu dengan bosnya itu.
Adel pun menceritakan awal pertemuannya dengan pria itu saat makan malam dirumahnya.
"Makan malam katamu?kok bisa?"ucap Lala tak percaya.
"Jangan suudzon dulu La.Dia datang atas undangan suamiku.Mungkin saja mereka ada bisnis kerja.Aku juga gak tau."Ucap Adel menjelaskan pada sahabatnya itu.
"Oh..seperti itu rupanya."Ucap Lala mengangguk-angguk.
"Kalau gitu aku masuk dulu yah.Silahkan lanjutin ngobrolnya.Ogah amat ikut ngerumpi dengan para wanita lebay kayak kalian."Ucap lelaki itu lalu beranjak masuk kedalam restoran.
"Iya bapak Mario yang terhormat."Ucap Lala lagi.
Mereka pun melanjutkan obrolan mereka.Kali ini yang diobrolin tentang pertemuannya kembali bersama pria yang pernah magang dikampungnya tiga tahun lalu.
Mereka tak menyangka kalau Mario ternyata orang sukses.Lala pun mengalihkan pembicaraan,dan menanyakan permasalahan yang dialami Adel.
Adel menceritakan semuanya kepada Lala.Dia ingin sahabatnya itu membantunya mencari bukti dan membuka kedok Shinta dihadapan suaminya.
Lala pun menyetujuinya dan akan memperbincangkan juga hal itu kepada Ani.Lalu Lala pun teringat sesuatu,
"Rio kan juga tau semuanya tentang Bimo dan wanita itu?"
"Dia gak mengenal wajah wanita itu La.Buktinya tadi wanita itu datang kesini membuntutiku.Tapi,Rio gak ngomong apa-apa.Berarti gak kenal kan?"ucap Adel lagi.
"Mana wanita itu?"
"Udah pulang setelah kuberikan sebuah tamparan."Ucap Adel mengalihkan pandangannya.
Lala yang mendengar itu pun tertawa tak percaya kalau Adel bisa sekasar itu.
"Ya sudah,karena waktu kerjaku sebentar lagi,kamu pulang aja dulu.Nanti aku akan membahas ini dengan pak Mario agar dia mengingat-ingat lagi semua kejadian tiga tahun lalu."Ucap Lala melihat kearah jamtangannya.
__ADS_1
"Iya La.Kali ini,aku sangat membutuhkan bantuan kalian.Dengan begitu,mas Bryan tak bisa mengancamku lagi.Aku capek ada diposisi ini La."Ucapnya mengeluarkan airmata.
"Sudahlah..Semua akan indah pada waktunya.Nanti juga suamimu menyesal,kalau sampai menikahi wanita pshikopat itu."Ucap Lala menenangkan suasana hati Adel.