Merindukan Malam Pertama

Merindukan Malam Pertama
Apakah kamu mencintaiku, mas?


__ADS_3

Saat tengah malam, Adel terbangun karena merasa haus. Dia melihat kearah jam dinding dan ternyata sudah menunjukkan jam satu malam. Tapi suaminya itu belum juga masuk kedalam kamar untuk tidur. Dia berpikir, mungkin suaminya tersebut tertidur diruang tengah, karena tadi sempat mengatakan akan menonton siaran langsung acara sepak bola.


Adel bergegas turun dari ranjang dan melangkahkan kakinya keluar kearah dapur untuk mengambil air minum. Saat melewati ruang tengah, ternyata lampunya sudah padam dan tak ada siapa-siapa disana.Karena haus, dia tak mau mencari keberadaan suaminya dan memilih membuka kulkas untuk mengambil air minum.


Setelah meneguk minumannya, barulah dia akan mencari keberadaan suaminya tersebut. Dia berpikir, mungkin saat ini suaminya berada diruang kerjanya.Namun, saat melewati kamar yang digunakan oleh Rania, dia mendengar ada suara aneh dari dalam sana. Seperti sepasang kekasih yang sedang memadu kasih dan diiringi dengan suara wanita yang sedang merasakan kenikmatan. Adel mengenal suara itu milik Rania dan suaminya.


Karena merasa penasaran, dia ingin mengintip namun tak bisa karena pintunya terkunci rapat. dia pun mendapat ide lalu masuk kekamar bayi dan membuat bayi tersebut terbangun dengan membuka compeng yang masih melekat dimulut bayi tersebut. Sehingga saat terdengar suara tangisan bayi, segera dia bersembunyi dibalik hordeng. Dia sangat yakin, kedua insan yang memadu kasih tadi akan menghampiri bayi itu untuk menenangkannya.


"Oh, pantesan aja nangis, empengnya lepas yah? uhhh, kasiannya anak mama dan papa. Nih ngempeng lagi yah, mama dan papa akan melanjutkan untuk bermesraan dulu. Jangan nangis lagi yah? cup.. cup.. cup.. " Ucap Rania menenangkan bayi itu agar tidur kembali.


'Haa, mama dan papa katanya? sungguh tak waras otaknya baby sitter itu. apa jangan-jangan dia beranggapan itu anaknya dengan mas Bryan? sungguh keterlaluan. 'batin Adel dibalik hordeng saat mendengar ucapan wanita itu kepada bayi di hadapannya.


Terdengar suara langkah kaki seseorang masuk, lalu menyuruh Rania untuk bergegas,


"Cepatlah sedikit, ayo kita tuntaskan permainannya dulu. Udah gak tahan nih, keburu Adel bangun nantinya. " Ucap Bryan menarik lengan wanita itu.


"Uhh, sabar dong sayang," ucap Rania menahan geli karena lelaki itu menciumi bagian lehernya. "


Mereka sangat menikmati adegan itu, bahkan dikamar bayi pun mereka bermadu kasih. Sungguh membuat Adel jijik dan membuatnya tak tahan lagi,

__ADS_1


"Dasar kalian manusia tak tau diri. Inikah alasanmu tak mau nginap dirumah ibu dan bapak? oh, sungguh luar biasa. Seorang bos bermadu kasih dengan baby sitter nya. Murahan amat sih mbak jadi perempuan! "


Plaaaak...


Wanita itu menampar pipi Adel dan menyimpan bekas kemerahan di pipinya tersebut. Adel tak membalas dan hanya mencebikkan bibirnya atas perlakuan kasar wanita itu.


" Baru kali ini, aku melihat seorang pembantu menampar majikannya. Upss, bukan melihat tapi merasakannya sendiri. Gak punya malu mbak?"


"Cukup, Adel.. jangan menambah permasalahan lagi yah atau kamu tau sendiri akibatnya. " Ucap Bryan membuat Adel terperangah.


" Kamu menyalahkan aku? loh, kalian berdua yang jadi permasalahannya sekarang. Kamu itu suamiku, tapi kok bermadu kasih dengan mbak Rania? sungguh seleramu aneh, mas. "Ucap Adel dengan emosi.


"Jangan-jangan kamu janda yang haus dibelai yah?" ucap Adel lagi memandang nyalang kearah wanita itu.


"Haha, bersyukur amat diriku karena mas Bryan gak pernah menyentuhku.Jadi kalo nanti aku jadi janda, boleh dikata janda perawan.. daripada kamu, janda kegatelan haus belaian. " Ucap Adel lalu pergi meninggalkan mereka yang terlihat menahan emosi.


Didalam kamar, Adel menangisi semua yang telah terjadi. Dia merasa bersalah, karena tak mau menuruti semua perkataan neneknya. Ini semua karena dia sangat mencintai suaminya, dan meyakini kalau suaminya tersebut akan berubah jadi lebih baik lagi apalagi setelah kepergian


Shinta untuk selamanya yang membuatnya memilih tetap bertahan dengan suaminya tersebut.

__ADS_1


Namun keputusannya salah, dan sekarang harus menelan rasa pahit dengan kehadiran wanita yang mengaku sebagai baby sitter itu. Sungguh sulit, jika parasit masih tumbuh dalam rumah tangga nya. Hilang satu, muncul lagi yang lebih ganas.


Mendengar suara langkah kaki Bryan yang masuk menghampirinya, segera ditariknya selimut hingga menutupi kepalanya. Jujur saat ini, Adel tak mau berbicara dengan lelaki itu karena hanya akan membuatnya makin sakit hati.


"Del, aku akan jujur padamu. Sebenarnya aku dan Rania sudah menikah secara diam-diam. Ini semua kulakukan karena terpaksa. Kalau aku tidak menikahinya, Shinta mengancam untuk membawa bayinya bersama dirinya. Aku tak punya pilihan lain, ini semua demi menyelamatkan bayi kami semata. " Ucap Bryan menjelaskan secara perlahan.


"Aku sudah menduganya, mas. Terus katamu terpaksa? ck jangan bohong, mas. Kalau terpaksa, gak mungkin dong kamu bermadu kasih dengannya. Mau kasih alasan apa? mau bilang terpaksa lagi karena diancam janda gatal itu? " ucap Adel dengan lantang lalu kembali menutupi wajahnya dengan selimut.


Perkataan Adel barusan membuat lelaki itu naik pitam, sehingga menarik paksa selimut yang digunakan Adel dan juga menarik lengannya agar duduk di pangkuannya. Awalnya Adel memberontak ingin melepaskan diri, namun usahanya sia-sia karena kekuatannya tidaklah kuat.


"Tatap mata aku, Del. dan dengarkan semua ucapanku. Selama ini, kamu udah tau kan tujuanku menikahimu? awalnya karena dendam atas kematian adikku. Namun, aku sudah melupakan semua itu, dan mencoba untuk memulai hidup baru denganmu. Namun terhalang oleh Shinta. Dan itu karena kesalahanmu sendiri yang mau menandatangani surat perjanjian dengan wanita itu.


Saat itu, rasa cintaku pada Shinta udah hilang dan sepenuhnya hanya mencintaimu. Tapi apa? kamu malah membuatku sakit hati. Disaat hati ini ingin membuat mu bahagia, tapi kamu malah membuat nya hancur dan memilih berselingkuh dengan lelaki lain. Inilah alasanku sebenarnya mengapa aku menerima tawaran Shinta untuk menikahi kakaknya."Ucap Bryan berkaca-kaca.


Mendengar ucapan suaminya barusan, Adel terdiam dan mencari cara untuk berbicara yang sebenarnya kepada suaminya tersebut. Namun, dia juga gak mau mengungkit kesalahan orang yang sudah meninggal. Ingin menuduh Rania, namun ia tak punya buktinya. Sehingga akhirnya,


"Maafkan aku mas, tapi aku bersumpah kejadian dihotel itu hanya salah paham. Itu tak seperti yang kamu lihat. " Ucap Adel mencoba menjelaskan namun ucapannya langsung dipotong oleh Bryan,


" Selalu saja kamu mengatakan hal itu. Jangan kamu pikir aku bodoh, gak bisa melihat mana yang hanya dijebak atau bukan. Posisi kamu dan Mario saat itu dalam keadaan sadar. Bagaimana mungkin kamu mengatakan kena jebakan? "ucap Bryan mulai emosi lalu menurunkan Adel dari pangkuannya secara kasar.

__ADS_1


" Kali ini aku memaafkan kesalahan mu, dan untuk hukumannya, aku tak akan menyentuhmu selama sebulan ini. Dan kamu harus terima Rania dirumah ini. Terserah kamu mau anggap dia sebagai madu mu kek, atau pembantu dirumah ini kek, tapi jangan sampai berantem didepanku. "Ucap Bryan lagi lalu hendak beranjak keluar dari kamar itu.


" Apakah kamu mencintaiku, mas? kalau tidak, lepaskan aku dan pulangkan aku ke rumah nenek. karena aku juga berhak untuk mendapatkan kebahagiaan."Ucap Adel meminta jawaban suaminya.


__ADS_2