Merindukan Malam Pertama

Merindukan Malam Pertama
Klepek-klepek


__ADS_3

"Apakah ini jawaban kalau kamu masih mencintaiku?" tanya Fabian melepaskan ciuman istrinya itu.


Baru saja Adel ingin mengucapkan satu kalimat, tiba-tiba ponsel milik suaminya berdering tanda ada yang menelpon. Sejenak Fabian melirik kearah layar ponselnya, lalu dia pun mengangkat telepon tersebut yang ternyata dari bagian administrasi perusahaan nya.


Terlihat raut wajahnya yang murung setelah menerima telepon tersebut. Adel yakin pasti terjadi hal buruk yang menimpa perusahaan milik suaminya itu.


"Ada apa, mas? " tanya Adel menghampiri suaminya yang terlihat sedang duduk termenung diatas kasur.


"Semua client membatalkan kerja samanya karena kasus yang menimpaku kemarin. Padahal mereka membawa pengaruh besar buat perusahaan kita. Aku bingung, gimana caranya untuk mendapatkan kembali client seperti mereka. " Ucap Fabian membekap wajahnya dengan kedua tangannya.


"Mas, percaya deh, kamu akan kembali mendapatkan kepercayaan mereka. Tenang saja, aku akan mencoba membantumu. Sekarang, buanglah kecemasanmu dan kita jalan-jalan aja yuk! " ajak Adel agar suaminya tersebut tidak stress memikirkan masalah perusahaan.


Fabian mengangguk pelan. Lalu Adel pun mengatakan ingin mandi dan bersiap dulu. Namun seperti sudah hafal kebiasaan suaminya saat sedang pusing memikirkan sesuatu, Adel bergegas menuju kearah dapur dan membuat secangkir kopi hitam untuk suaminya.


"Ini aku buatin secangkir kopi hitam kesukaan mu! aku taruh disini yah, jangan lupa diminum. Aku mau bersiap-siap dulu. " Ucap Adel lalu menaruh kopi tersebut diatas meja yang ada dikamar.


"Iya, makasih yah sudah repot-repot membuatkan kopi untuk ku! " ucap Fabian lalu menyeruput kopi tersebut.


Adel pun berlari kecil kearah kamar mandi sedangkan Fabian terus menyeruput kopi itu hingga hanya bersisa ampasnya saja. Saat dia hendak membawa cangkir itu kearah dapur, matanya malah fokus kearah kamar mandi yang pintunya sedikit terbuka. Dia menyunggingkan senyumnya, dan dalam pikirannya ada dua hal mengenai pintu kamar mandi yang terbuka tersebut.Antara lupa menguncinya atau sengaja memancingnya?


Fabian mengendap-endap menghampiri kamar mandi untuk mengintip istrinya yang sedang mandi. Melihat penampakan istrinya membuat Fabian merasa syok. Padahal Adel itu istrinya, tapi masih saja mengintip, kalau lelaki lain sudah pasti langsung menyerobot masuk untuk ikut mandi bareng.


Tapi beda dengan Fabian, dia tak ingin menyentuh istrinya tanpa persetujuan dari yang bersangkutan. Jadi karena belum ada kode dari istrinya, maka untuk sementara dia mengintip saja dulu mumpung ada kesempatan.


Itu pertama kali Fabian melihat tubuh bagian atas istrinya yang tidak terlapisi apapun. Walaupun posisi istrinya itu membelakangi nya, namun punggung putih mulus itu berhasil membuat sesuatu yang ditubuh Fabian bangkit. Fabian menelan air liurnya berkali-kali melihat pemandangan itu.


Sebagai lelaki normal sudah sewajarnya jika hasrat Fabian bergelora. Ingin sekali dia masuk dan memberi kenikmatan kepada istrinya, namun hati kecilnya berkata untuk bersabar dulu. Dia akan melakukannya saat istrinya tersebut yang memintanya.


Hingga akhirnya agar imannya tetap terjaga, Fabian memilih menuju kearah dapur untuk menaruh gelas bekas kopi yang diminum nya tadi. Saat masuk, istrinya ternyata sudah keluar dari kamar mandi, lalu diapun bergantian masuk untuk membersihkan dirinya.


__________________


"Wah, ramai amat yah? "


"Kan malam minggu, jadi pengunjungnya lebih banyak dari hari biasanya. Kenapa, kamu gak nyaman, mas? "

__ADS_1


"Nyaman kok, aku suka kalau ramai seperti ini malahan. "


Fabian memarkirkan mobilnya ditempat yang sudah disediakan ditempat itu. Kali ini Adel mengajak suaminya itu jalan-jalan di alun-alun kota yang menyediakan berbagai aneka makanan, jajanan dan lainnya. Sebelum menikah dengan Fabian dulu, dia dan kedua sahabatnya sering menghabiskan malam minggunya ditempat tersebut.


"Ayo, mau makan dimana?" tanya Fabian saat turun dari mobil.


"Makan bakso yuk! " ucap Adel menarik tangan suaminya agar mengikuti langkahnya.


Adel menggenggam tangan suaminya itu membuat jantung Fabian berdebar lebih cepat dari biasanya. Agh, batinnya meronta entah mengapa dirinya begitu deg-degan saat istrinya menggenggam tangannya di tempat umum.


Rupanya Adel membawa suaminya itu makan bakso ditempat langganan nya. Dia pun mengajak suaminya untuk duduk lalu memesan bakso kepada pedagang nya sebanyak tiga mangkok. Membuat Fabian merasa heran mengapa istrinya itu memesan sebanyak tiga mangkok kerena mereka hanya datang berdua saja.


"Eh, neng Adel baru nongol lagi." Ucap pedagang bakso yang sudah mengenal Adel.


"Hehe iya mang.Baru ada waktu lagi kesininya. " Ucap Adel cengengesan.


"Kedua sahabatmu sudah cerita kalau sekarang kamu sudah berumah tangga. " Ucap pedagang bakso lalu menyuguhkan bakso didepan mereka.


"Makasih mang.. hehe iya sekarang sibuk mengurus suami soalnya, jadi jarang kesininya. " Ucap Adel lagi membuat Fabian memutar bola mata malas.


Namun mendengar kalimat Adel membuat dirinya berbunga-bunga. Ternyata istrinya itu mau mengakuinya sebagai suami didepan orang lain. Agh, kali ini malah Fabian yang dibuat klepek-klepek dengan ucapan Adel yang mengatakan bahwa dirinya berstatus sebagai suami.


"Alhamdulillah.. Semoga langgeng terus, selalu rukun dan harmonis menjalani rumah tangga kalian yah!" Ucap pedagang bakso itu memberi doa yang baik buat hubungan keduanya.


"Terima kasih mang, atas ucapan do'anya. " Ucap Adel lalu mengulas senyum dibibirnya.


Adel menatap bakso yang ada didepan matanya. Sungguh menggugah selera. Hingga akhirnya, dia pun memakan bakso tersebut dengan lahapnya membuat Fabian memperhatikannya sambil tertawa kecil. Baginya tingkah Adel saat makan bakso itu sangatlah lucu. Seperti orang yang tak makan selama seminggu saja.


"Pelan-pelan dong, makannya."


"Enak loh, mas. Ayo coba dicicipi, jangan hanya dipelototin dong baksonya! " ucap Adel lalu Fabian pun mulai memasukan bakso itu ke mulutnya.


Ternyata benar perkataan istrinya bahwa bakso tersebut sangatlah enak. Hingga saat Fabian menghabiskan semangkok bakso, dia pun terkejut saat melihat istrinya telah menghabiskan dua mangkok bakso.


"Kamu menghabiskan semuanya? " tanya Fabian merasa heran.

__ADS_1


"Hehe, aku biasanya emang kayak gitu, mas. Setiap datang kesini pasti mesan dua mangkok untuk diriku sendiri. " Ucap Adel cengengesan.


Fabian tepuk jidat, lalu setelah kenyang mereka pun membayar bakso tersebut lalu pamit untuk berjalan berkeliling di tempat itu. Saat Adel kembali menggandeng tangannya, membuatnya merasakan seperti ada kupu-kupu yang berterbangan di perutnya. Sekuat mungkin dirinya menahan diri agar istrinya tidak mengetahui bahwa dirinya sedang salah tingkah.


Setelah puas berkeliling ditempat itu, akhirnya mereka memilih untuk pulang ke apartemen. Kali ini entah mengapa Adel memintanya untuk balik ke apartemen saja. Fabian curiga, mungkin saja istrinya itu akan meminta jatah malam pertama yang selama ini belum mereka gapai. Fabian merasa bersemangat, ketika istrinya meminta pulang ke apartemen. Dia sudah tak sabar ingin bermadu kasih dengan istrinya tersebut.


_____________________


"Mas.. kita berobat saja yah? " ucap Adel dengan rasa panik melihat suaminya yang dari tadi bolak balik ke toilet.


"Gak perlu kerumah sakit, sekarang ambil obat diare yang tersimpan di p3k. Sepertinya disana ada obat untuk mengatasi diare. " Ucap Fabian sambil memegang perutnya yang sakit.


Adel bergegas menuju ke kotak p3k untuk mencari obat tersebut. Setelah dapat, diapun mengambil air minum lalu menyuruh suaminya untuk meminum obat tersebut.


"Masih sakit perutnya, mas? "


"Udah mendingan. "


Dengan perlahan Adel menuntun suaminya itu menuju ketempat tidur. Lalu menyerahkan wedang jahe yang telah dibuatnya tadi.


"Diminum mas, biar perutnya enakan. "


Fabian hanya menurut saja lalu meminum wedang jahe buatan istrinya.Kali ini tubuhnya benar-benar lemas ditambah kepalanya yang ikut sakit.


Karena makan bakso yang sangat pedas membuat Fabian lemas tak berdaya. Untung saja setelah meminum wedang jahe ditambah minum obat diare, Fabian kini sudah tak bolak balik toilet lagi. Hanya saja bagian perut dan kepalanya masih terasa sakit.


"Padahal tadi, aku ingin mengajak mas menikmati malam pertama kita. Tapi yah sudahlah, masih ada hari esok. Semoga cepat sembuh yah, mas! " Ucap Adel lalu mencium kening suaminya itu dengan mesra.


"Maafin aku yah, Del.. malam ini aku belum bisa memberimu kenikmatan itu! " Ucap Fabian penuh sesal.


"Dan terima kasih juga untuk jalan-jalan nya malam ini. Walaupun harus berakhir diare seperti ini, setidaknya aku melupakan sejenak tentang permasalahan perusahaan yang berantakan. " Ucap Fabian lagi lalu mencoba untuk memejamkan matanya.


Sebenarnya Fabian ingin sekali menyentuh istrinya itu. Walau dalam keadaan sakit, entah mengapa bagian tubuhnya ada yang bangkit dan ingin merasakan kenikmatan itu. Apalagi mendengar omongan istrinya, yang mengatakan menginginkan hal yang sama. Namun kondisi tubuhnya yang lemah, harus memaksanya mengubur keinginannya itu.


'Ah, Adel.. disaat sudah ada kesempatan emas, selalu saja gagal untuk mewujudkan malam pertama kita. 'Batin Fabian meronta.

__ADS_1


__ADS_2