
Tiga hari kemudian,nenek pamit untuk pulang kekampung.Beliau tak ingin berlama lama bersama Adel karena mengingat cucunya,Dimas yang ditinggal sendirian dirumah.
Walaupun belum rela melepas kepergian nenek,namun Adel juga memikirkan adik sepupunya itu yang mungkin saat ini sedang menunggu kepulangan neneknya.
Kali ini mertua Adel ikut serta pulang kekampung bersama nenek.Mereka ingin merasakan suasana kampung,sekalian liburan disana untuk menenangkan pikiran.Ada raut kebahagiaan diwajah Shinta seperti sedang merencanakan sesuatu yang tidak baik.
"Nak,kalian baik baik disini yah!ibu dan bapak hanya seminggu kok disana.Bryan,jaga istri kamu baik baik dan jangan ingkari janjimu."Ucap bapaknya lalu menyusul yang lainnya masuk kedalam mobil.
"Tenang aja pak,Bryan gak akan ingkar janji kok.Kalian hati hati yah,selamat sampai tujuan."Teriak Bryan lalu melambaikan tangan.
Shinta yang melihat Bryan sedang merangkul istrinya itu pun sangat kesal lalu dia mendekati mereka.Dengan nada emosi,dia menarik tangan Adel,hingga meringis kesakitan.
"Aughhh..apa apaan sih kamu Shinta,main tarik tangan segala.Sakit tau,jangan seenaknya yah."Ucap Adel memijiti tangannya yang sakit.
"Kamu lupa pada perjanjian kita hah?sekarang nenek mu udah pulang kan,akting kita berakhir dan sesuai perjanjian,kamu harus menuruti perintahku mulai dari sekarang."Ucap Shinta lalu menyeret Adel masuk kedalam rumah.
Bryan yang melihat itu,menghampiri keduanya dan langsung melemparkan tamparan kepipi Shinta.Kedua wanita itu sama sama kaget,Shinta tak menyangka Bryan menamparnya didepan istri pertamanya.
Sedangkan Adel tak percaya suaminya melakukan hal itu.Karena biasanya suaminya itu senang kalau melihat wanita itu menyiksa dirinya.Tapi kali ini,entah kenapa suaminya malah memihaknya.
"Shinta,aku kan sudah bilang jangan sakiti istriku.Dan perjanjian itu tak berlaku karena bukan aku yang menandatanganinya."Bentak Bryan membuat Adel terperangah.
"Sudah kuduga,kamu pasti akan jatuh cinta pada wanita kampung ini.Oh iya lupa,emang udah jatuh cinta sejak pandangan pertama kan?bodohnya aku telah ditipu oleh kepalsuan cintamu."Ucap Shinta tak terima lalu menarik rambut Adel hingga wajahnya mendongak keatas.
"Lepaskan kataku,sekarang kamu pergi dari kehidupanku."Ucap Bryan membuat Shinta melepaskan tangannya dari rambut Adel.
"Pergi katamu,segampang itu kamu mengusirku?"ucap Shinta lalu masuk kedalam kamar.
Bryan pun mendekati istrinya dan memeluknya untuk menenangkannya.Adel tak menghindarinya,namun hanya saja dia seakan belum percaya bahwa suaminya sudah berubah.
Sebelumnya terlintas dipikirannya kalau itu hanya akting belaka didepan mertua dan neneknya.Namun sekarang dia percaya kalau itu bukanlah akting tapi kenyataan kalau suaminya tak seperti dulu lagi.
"Mas,apakah benar kamu sudah memaafkanku?"tanya Adel sedikit ragu.
"Sudahlah,nanti kita bahas ini lain kali yah.Sekarang aku akan menyelesaikan masalah ku dengan Shinta terlebih dahulu."Ucap Bryan lalu masuk kedalam kamar mengikuti Shinta.
__ADS_1
Adel hanya mengangguk lalu memilih masuk kedalam kamar tamu yang selama ini jadi tempat istirahatnya.Dia sangat bersyukur melihat perubahan suaminya dan berharap bisa memulai rumah tangga mereka dari awal.
Walaupun sebenarnya,telah terniat untuk mengakhiri rumah tangganya namun tak dapat dipungkiri dia tak bisa melakukan itu karena terlanjur jatuh cinta pada suaminya tersebut.
Apalagi setelah melihat suaminya seperti tadi,dalam pikirannya sangat yakin kalau suaminya tersebut sudah memaafkannya walaupun sebenarnya bukan dirinya yang menyebabkan semua tuduhan itu.
Didalam kamar tampak Shinta memegangi gunting dan mengancam Bryan.Melihat itu,Bryan pun panik dan menyuruh Shinta untuk membuang gunting tersebut dari tangannya.
Namun wanita itu tidak menuruti perintah Bryan,lalu diangkatnya gunting tersebut siap untuk menancapkannya diperutnya kalau Bryan tak mau menuruti permintaannya.
"Shinta..tolong jangan seperti ini,kita bisa bicarakan baik baik.Buang gunting itu sekarang juga."Perintah Bryan lalu pelan pelan mendekati wanita itu.
"Jangan mendekat,aku tidak main main.Gak ada lagi gunanya aku hidup,silakan kamu memulai hidup baru bersama wanita kampung itu."Ucap Shinta sambil menangis.
Adel yang mendengar keributan itu,segera menghampiri keduanya didalam kamar.Dirinya terkejut saat melihat Shinta telah mengangkat gunting ditangannya.
"Shinta..jangan lakukan itu,kamu masih muda dan jalanmu masih panjang.Apa kamu mau mati sia sia dengan mengambil jalan pintas seperti itu?"ucap Adel menasehati Shinta agar tak melakukan hal bodoh.
"Diam kamu Del,bilang aja kalau kamu senang melihat aku mati.Jangan sok peduli terhadapku."Ucap Shinta melototi Adel dengan tajam.
"Dan kamu akan menyesal,karena aku akan mati bersama anak kita."Ucap Shinta membuat Bryan kaget mendengar kalimatnya.
"Shinta,mas Bryan tak akan meninggalkanmu.Aku ikhlas kalau kamu jadi maduku,apalagi sekarang kamu sedang mengandung anak mas Bryan kan?"ucap Adel lalu mendekati Shinta perlahan.
"Jangan bohong,kamu pikir aku tak tau akal licikmu hah?"ucap Shinta menunjuk kearah Adel.
Bryan masih terperangah saat mengetahui kalau Shinta sedang mengandung anaknya.Lalu dengan terbata dia pun berkata
"Be-benarkah yang kamu ucapkan?"tanya Bryan menatap wajah Shinta dengan serius.
"Tadinya,aku ingin kasih kejutan padamu.Tapi,mendengar kamu menyuruhku pergi,baiklah akan kuakhiri hidupku bersama janin yang ada diperutku."Ucap Shinta lalu hendak menancapkan gunting diperutnya.
Adel yang melihat hal itu langsung berlari memeluk Shinta dan pada akhirnya,gunting tersebut menancap di belakang Adel.
"Adel.."teriak Bryan lalu menghampiri Adel yang masih ada dalam pelukan Shinta.
__ADS_1
"Ma-maafkan aku,sungguh aku tidak sengaja.Lagian kenapa wanita itu datang memelukku?pokoknya ini bukan kesalahanku."Ucap Shinta lalu beranjak pergi dari rumah itu.
Adel tak sadarkan diri lalu Bryan segera membawanya kerumah sakit,agar mendapatkan bantuan medis.Dia khawatir melihat kondisi istrinya tersebut yang tak sadarkan diri.
Sesampai dirumah sakit,Adel segera ditangani oleh dokter.Untung saja luka tusukan yang dialami tidak terlalu dalam,sehingga dia masih bisa terselamatkan.
"Makasih dok,karena telah menyelamatkan istri saya."
"Itu sudah kewajiban kami,sekarang silakan temui istri anda didalam.Tapi saat ini dirinya belum siuman jadi bersabarlah menunggu beberapa saat lagi."Ucap dokter itu lalu beranjak meninggalkan ruangan tempat Adel dirawat.
Bryan menghampiri istrinya lalu tanpa terasa airmatanya berlinang karena merasa bersalah atas apa yang menimpa istrinya tersebut.Sungguh dalam hatinya sangat geram kepada Shinta yang telah membuat istrinya seperti itu.
Tanpa disadari Adel membuka matanya dan melihat suaminya itu tertunduk lesu.Lalu dengan pelan diapun memanggil nama suaminya,sehingga suaminya tersebut kaget sekaligus senang karena melihat istrinya sudah siuman.
"Syukurlah kamu sudah sadar,sekarang apakah kamu ingin makan sesuatu?"tanya Bryan memegangi tangan Adel.
"Gak mas,"jawab Adel menggelengkan kepalanya.
"Kalau kamu perlu apa apa,tinggal ngomong ke aku yah!"ucap Bryan lalu mrngambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.
"Tolong rahasiakan ini dari nenek,mas.Aku tak ingin buat beliau khawatir."Ucap Adel memohon.
Bryan menganggukan kepalanya dan memilih menyimpan kembali ponselnya tersebut disaku celananya.
"Shinta mana mas,apakah dia baik baik saja?"tanya Adel membuat Bryan emosi.
"Jangan ungkit nama wanita itu lagi didepanku.Sudah,kamu gak perlu mengkhawatirkan dia."
"Tapi mas,dia sekarang sedang mengandung anak kalian.Perlakukan dia dengan baik,karena dia juga termasuk istrimu kan?"ucap Adel menasehati suaminya.
"Kenapa kamu masih peduli pada wanita yang sudah berulang kali menyakitimu?aku ingin memulai hidup baru bersamamu tanpa ada gangguan dari wanita itu.jadi kumohon,stop ngomongin tentang wanita itu lagi."Ucap Bryan lirih.
"Seandainya dia tidak mengandung anakmu,mungkin aku akan bahagia dengan keputusanmu yang sekarang.Tapi ini beda,mas.Tolong,cari dia dan perlakukan dia sebagai istrimu."Ucap Adel memohon.
Bryan terdiam mendengar penuturan istrinya tersebut.Dia berpikir,mengapa disaat ingin merubah sikapnya dan mencoba memulai hidup baru bersama istri pertamanya harus ada cobaan yang begitu berat.
__ADS_1
Walaupun sebenarnya masih ada sedikit rasa cinta pada istri sirihnya itu,namun dia berusaha untuk membina rumah tangga pada satu wanita saja,yaitu Adel.
Tapi mendengar Shinta hamil bersamanya,posisinya jadi sulit.Dia juga gak tega kalau sampai tak mau mengakui anak yang dikandung wanita itu.