Merindukan Malam Pertama

Merindukan Malam Pertama
POV Rania part03 [Mandul]


__ADS_3

Sebulan setelah kejadian itu, masih aman-aman saja. Semoga saja kakak angkatnya Bimo tak sadar dengan kejadian di apartemen nya saat itu. Kalau sampai dia mengenal diriku, bisa gawat, semuanya akan terbongkar dan sudah bisa dipastikan, aku akan kehilangan Bimo dan seluruh hartanya.


"Ngapain bengong? kamu lagi ada masalah? tanya Bimo mengagetkan ku.


" Oh, gak ada kok sayang." Ucapku lalu mendekati dirinya.


Entah mengapa saat mencium aroma parfum di tubuh Bimo membuatku pusing dan mual. Padahal biasanya, aku sangat suka mencium aroma parfum suamiku tersebut.


Uweeek..


Uweeek...


Diriku berlari kearah kamar mandi, dan merasa aneh dengan perubahan diriku. Apakah aku hamil?


Tok.. tok.. tok..


"Sayang, apakah kamu baik-baik saja? lebih baik, ayo kita kerumah sakit sekarang! aku khawatir loh. " Ucap Bimo sambil menggedor pintu kamar mandi.


"Aku baik-baik saja, sayang. Jadi gak perlu khawatir, palingan hanya masuk angin doang. " Ucap ku agar Bimo tak merasa cemas.


Kalau aku beneran hamil, apakah ini anak dari lelaki itu? ah, semoga saja bukan. Daripada penasaran, lebih baik diriku membeli tes urine di apotik terdekat. Seandainya positif hamil, pasti Bimo akan merasa bahagia.


____________________


Aku melompat kegirangan setelah mengetahui bahwa diriku positif hamil. Dan berencana akan memberi surprise pada Bimo saat dia pulang nanti dari tempat kerjanya. Aku sudah tidak sabar melihat ekspresi bahagia yang terpancar dari wajahnya.


Setelah sore harinya, seperti biasa aku sudah menyiapkan makan malam seadanya. Dan sudah tidak sabar menanti kepulangan suamiku itu.


"Aku pulang, sayang. Hari ini kita makan diluar aja yuk! kebetulan aku dapat bonus dari bos. " Ucap Bimo dengan sumringah.

__ADS_1


"Wah, ide bagus tuh. Tapi, aku udah nyiapin makan malam ini untuk kita berdua. Gimana dong? " tanyaku karena sudah terlanjur memasak dan takut jadi mubazir kalau gak dimakan.


"Hmmm, yah udah deh untuk malam ini kita makan yang udah kamu siapin deh. Besok aja berarti kita makan malam diluar. " Ucap Bimo lalu mencium puncuk kepalaku.


Hati ini deg-degan, gimana yah cara ngasih tau kehamilan ku pada suamiku itu? apa sekarang aja yah?


"Nah, kan, melamun lagi. Ada apa hayo, cerita dong sayang! siapa tau aku bisa bantu. " Ucap Bimo menatapku dalam-dalam.


Aku pun beranjak masuk kedalam kamar untuk mengambil tes urine yang menunjukan tanda positif tersebut. Hingga dengan satu kali tarikan nafas, akupun menyerahkan tes urine itu kepada Bimo. Aku memejamkan mata, sambil menunggu reaksinya yang mungkin akan langsung memeluk dan mencium ku karena kebahagiaan.


"Kamu hamil anak siapa? " tanyanya dengan lantang membuatku terperanjat.


Apa maksud ucapannya itu? mengapa dia tak bahagia saat mengetahui aku positif hamil?


"Sayang, harusnya kamu bahagia saat mengetahui hal ini. Mengapa kamu malah kelihatan marah kepadaku? " tanyaku karena bingung melihat reaksinya.


"Kamu tega bermadu kasih dengan lelaki lain dibelakangku? aku kecewa padamu, dan tak akan pernah mau memaafkan perbuatanmu ini. " Ucapnya membanting pintu kamar dengan keras membuatku syok.


Melihat kemarahannya tadi, apakah dia mengetahui perbuatanku sewaktu di apartemen itu? apakah kakaknya langsung yang memberitahu kan hal ini pada Bimo? tapi kan, kakaknya Bimo yang bernama Bryan itu belum mengenalku. Jadi tak mungkin dong, dia yang membocorkan semuanya?


Aku pun mencoba mengejar Bimo yang terlihat sudah menaiki sepeda motornya. Dengan langkah yang cepat, aku berhasil menghadang motor tersebut,


"Sayang, coba jelaskan mengapa kamu menuduhku seperti ini? aku adalah istrimu, dan setiap malam aku yang melayani mu. Apakah kamu tidar sadar, yang ada didalam rahim ku ini adalah anakmu? hanya kamu yang selalu bermadu kasih denganku. " Ucapku sambil terisak.


"Kamu jangan bohong padaku. Itu jelas bukan anakku. Karena menurut hasil pemeriksaan dokter, aku mandul. Tidak bisa menghasilkan keturunan. Sekarang kamu udah tau semuanya, jadi awas, jangan halangi aku! Kamu minta saja pertanggung jawaban kepada lelaki selingkuhanmu. " Ucap Bimo membuatku terjatuh lemas di tanah.


Mandul katanya? mengapa selama ini dia tak memberitahukan hal itu padaku? kalau aku tau dari awal, pasti janin ini akan segera ku musnahkan. Aku tak mau berpisah dari Bimo.


Saat diri ini menoleh, ternyata Bimo sudah tak ada lagi. Agh, karena syok, aku sampai tak mendengar kepergiannya. Apakah dia akan kembali kerumah orangtuanya? kalau begitu, aku akan menyusulnya kesana. Kalau orang tuanya marah, tak jadi masalah. Yang penting aku bisa menemui Bimo dan meminta maaf padanya.

__ADS_1


_______________


Ternyata aku tak berani kerumah orangtua Bimo. Takutnya nanti bertemu dengan Bryan. Kalau sampai Bryan masih mengingat kejadian tempo itu, akan semakin rumit masalahnya. Aku hanya tak ingin Bimo tau, yang bermadu kasih denganku adalah kakaknya sendiri.


Seminggu berlalu, Bimo tak kunjung pulang. Aku jadi khawatir dia tak mau menemuiku lagi. Saat tengah cemas, tiba-tiba ponselku berdering. Kuharap itu telepon dari Bimo, namun ternyata bukan. Ah, adik perempuan ku rupanya.


"Ada apa, dek? " tanyaku saat telepon tersambung.


"Kak, hari ini aku pulang tapi tak bertemu denganmu. Kamu dimana sekarang? ayo kita ketemuan! udah kangen banget tau. " Ucap Shinta, adik perempuan ku satu-satunya.


"Yah udah, nanti aku serlok alamatnya. Saat ini kakak ingin mencurahkan isi hati padamu. " Ucapku lalu mematikan telepon tersebut.


Setelah mengirim alamat kepada adikku, aku menyiapkan makanan untuk makan siang. Kali ini tampak berbeda, karena Bimo sudah tak tinggal serumah lagi denganku. Aku berharap ada keajaiban, dan membuat Bimo kembali kepadaku dan memulai dari awal lagi. Kuakui aku memang salah, tapi aku khilaf.


Tak berapa lama ada yang mengetuk pintu dari luar. Bisa ku tebak itu adalah adik perempuan ku. Akhirnya, dia nyampe juga tanpa ada drama kesasar segala. Untuk memastikan, aku mengintip dari balik hordeng.Emang benar adikku sih yang datang, tapi dia temani oleh seorang lelaki yang sangat familiar bagiku. Loh, kok dia bisa bersama adikku?


Buru-buru aku menutup hordeng tersebut dan mengendap-endap masuk kedalam kamar. Aku gak boleh menampakkan diri pada lelaki itu. Nanti dia bisa ingat kejadian saat di apartemen waktu itu. Tapi tunggu, berarti sewaktu dia ngigau nyebut-nyebut nama Shinta, omegat aku membekap mulutku tak percaya. Jadi dia adalah kekasih dari adik perempuan ku.


Ponselku terus bergetar, namun aku tak mempedulikannya, sebodoh amat kalau Shinta marah padaku. Aku hanya tak ingin bertemu lelaki itu lagi. Gara-gara dia, Bimo kini pergi meninggalkan ku.


Mungkin adik perempuan ku itu sudah bosan menunggu, akhirnya aku bisa bernafas lega setelah mendengarkan suara mobil yang keluar dari halaman rumahku. Segera kukirim chat kepada adiikku untuk kembali datang malam nanti.


[ Emang kakak lagi dimana sih? aku dan kekasihku udah lama nungguin ampe kaki pegel berdiri terus. Gak kasian apa pada adik sendiri? ] Shinta


[Maafin, kakak. Hanya tadi ada urusan mendadak. Nanti malam aja kamu kesini, dan nginap di rumah kakak aja. Tapi datang sendiri aja yah? ] Aku


[ Iya deh.. padahal aku tadi berniat untuk mengenalkan pacarku kepada kakak. Tapi yah sudahlah, lain kali aja. ] Shinta


[Iya nanti lain kali aja. Untuk malam ini, kamu datang sendiri aja, gak enak dong malam-malam ngajak pria ke dalam rumah kakak. Malu pada tetangga. Hehe] Aku.

__ADS_1


Setelah mengirim beberapa chat, aku pun memilih menelpon Bimo dan berharap dia masih mau memaafkanku dan kembali kerumah ini. Namun sayang seribu kali sayang, nomor ponselnya diluar jangkauan. Apa dia sudah mengganti nomornya? agh, Bimo, bagaimana caranya untuk membuatmu kembali padaku?


__ADS_2