
Setelah menempuh perjalanan yang jauh, akhirnya Fabian dan Adel tiba di Indonesia dengan penuh selamat. Kali ini Adel buru-buru memesan taxi untuk menemui Rania yang telah menyekap sang nenek. Hatinya dilanda kegelisahan yang amat dalam karena takut Rania membuat sang nenek terluka.
Melihat hal itu, Fabian selalu berusaha untuk terus meyakinkan istrinya bahwa sang nenek dalam keadaan baik-baik saja. Segera Adel meraih ponselnya dari dalam tas pribadinya dan mencoba menghubungi nomor sang nenek, dan beruntung masih bisa terhubung. Saat telepon itu tersambung,
"Hallo, tolong katakan dimana kamu menyekap nenekku? sungguh kamu tega pada orang yang sudah Lansia. " Ucap Adel dengan nada emosi.
"Nak, wanita itu mengantar nenek kerumah sakit. Sekarang kamu temui nenek dirumah sakit yang dekat rumah kalian. " Ucap Bu Ida dengan suara yang lemah.
Ternyata wanita itu sudah membebaskan Bu Ida dan sekarang malah sudah mengantarkan sang nenek kerumah sakit. Hal itu membuat Adel dan Fabian bingung dengan Rania yang sangat aneh.
"Baiklah Nek, kami akan segera kesana. " Ucap Adel lalu mematikan telepon setelah mengucapkan salam.
Adel menyuruh supir taxi untuk segera menuju kearah rumah sakit tempat neneknya dirawat. Fabian yang masih merasa bingung, akhirnya bertanya kepada istrinya,
"Kalau sekarang nenek sudah dibawa oleh wanita itu kerumah sakit, untuk apa coba dia menculik beliau dan menyuruh kamu menemuinya? " tanya Fabian menautkan alisnya.
"Aku juga bingung dengan maksud wanita itu. Tapi aku senang mendengar bahwa keadaan nenek baik-baik saja. " Ucap Adel menyunggingkan senyumnya.
Sebenarnya dalam hati,Fabian merasa sedih karena acara bulan madunya bersama sang istri tertunda lagi. Padahal dia sudah mengambil cuti selama dua minggu agar bisa bermesraan dengan sang istri diluar negeri.
Dalam pikirannya, jika besok dirinya masuk kembali kekantor,hanya akan menanggung malu. Pasti semua akan mengejeknya karena bulan madu yang gagal. Namun didepan istrinya, dia berusaha untuk tidak menunjukkan kekecewaan nya itu takut hanya akan menimbulkan masalah baru saja.
Akhirnya mereka tiba dirumah sakit dan segera mencari ruang tempat Bu Ida dirawat. Saat masuk kedalam ruang inap, airmata Adel jatuh membasahi pipi melihat sang nenek yang terbaring lemah diatas brankar. Wajah keriput itu tampak pucat, membuat hati Adel sangat sedih.
__ADS_1
"Nak, akhirnya kamu datang juga. Maafkan nenek yah karena telah membuat bulan madu kalian berantakan. " Ucap Bu Ida penuh penyesalan.
"Ini bukan salah nenek kok, tapi wanita jahat itu yang patut dipersalahkan. Tapi nenek gak terluka kan? " tanya Adel memeriksa keadaan neneknya.
"Nenek gak apa-apa kok. Rania melakukan ini untuk membuat bulan madu kalian berantakan. Dia juga bekerja sama dengan Viona, dan wanita itu yang menyuruh Rania untuk mengganggu acara kalian berdua. " Ucap Bu Ida membuat Fabian terkejut.
"Maksud nenek, Viona ada dibalik ini semua? " kali ini Fabian yang bertanya.
Bu Ida mengangguk lalu secara perlahan menjelaskan semuanya kepada Adel dan Fabian. Tampak jelas raut amarah terpancar dari wajah Fabian setelah mendengar penjelasan tersebut, hingga dirinya pergi begitu saja dari ruang inap itu tanpa pamit lagi kepada Bu Ida dan istrinya.
Adel tak berkata apa pun dan membiarkan suaminya pergi begitu saja, karena dia yakin pasti suaminya akan menemui Viona untuk meminta pertanggung jawaban atas semua masalah yang terjadi sekarang.
Karena masih lemah, dokter menyarankan agar Bu Ida dirawat inap sementara waktu sampai keadaannya pulih kembali. Adel menyetujui saran itu, hingga karena ingin membersihkan dirinya sembari juga ingin mengambil baju ganti untuk neneknya, dia pun mencoba menelpon kedua sahabatnya untuk meminta bantuan mereka.
"Hallo,Ni apakah kamu sedang sibuk? "
"Hei yang sedang bulan madu, gimana apakah bukan madunya lancar? semoga saja setelah pulang dari bulan madu langsung hamil. Oh iya, sekarang lagi jam istirahat,emang perlu bantuan apa? " tanya Ani diseberang telepon.
"Ceritanya panjang, kalau kamu ada kesempatan sekarang juga tolong datang kerumah sakit yang berada tak jauh dari rumah Fabian. " Ucap Adel membuat Ani kebingungan.
"Rumah sakit? siapa yang sakit, Del? " tanyanya lagi penasaran.
"Nanti kamu lihat sendiri secara langsung. Aku tunggu kamu diruang Melati nomor 12." Ucap Adel lalu mematikan telepon setelah memberi salam.
__ADS_1
_____________________
Fabian mendatangi Viona dirumah orangtuanya, ternyata wanita itu gak ada disana. Dia mencoba menelpon sang nenek untuk menanyakan keberadaan Viona, siapa tau ada dirumah utama ternyata gak ada juga. Fabian berpikir keras, tempat-tempat yang sering dikunjungi oleh wanita itu, sehingga terbesit suatu tempat dan dia sangat yakin kalau Viona ada disana.
Segera dirinya melajukan mobilnya menuju ke apartemen pribadinya, karena Viona mempunyai kartu untuk masuk kedalam apartemennya tersebut, yang membuatnya yakin bahwa wanita itu berada di apartemen itu. Tak membutuhkan waktu lama Fabian tiba di depan apartemennya.
Saat pintu terbuka, benar saja kalau Viona terlihat sedang meminum alkohol sambil duduk disofa dan hanya menggunakan lingerie tipis. Namun Fabian sama sekali tak tertarik melihat hal tersebut bahkan dirinya merasa muak melihat wajah wanita itu yang telah merusak acara bulan madunya.
"Aku tau, kamu akan datang menemuiku disini. Bagaimana acara bulan madunya, apakah lancar? " ucap Viona menghampiri lelaki yang terlihat sedang menahan amarahnya.
"Kamu keterlaluan, Vi. Karena ingin merusak bulan madu ku, kamu dan wanita itu tega menyekap seorang Lansia. Apa kamu tak punya hati nurani? " Ucap Fabian menepis tangan Viona yang hendak memeluknya.
"Harusnya kamu jadi milikku, sayang. Aku benci melihat wanita itu hidup bahagia denganmu. Dulu kamu pernah berjanji untuk menikahiku,apa kamu lupa tentang impian kita dulu? " ucap Viona mulai menangis histeris.
"Kamu harusnya sadar bahwa kita berdua memang tak sepatutnya menjalin hubungan yang lebih. Kita terikat tali persaudaraan yang takkan mungkin bisa dipersatukan dalam pernikahan. Tolong Viona jangan pernah mengganggu rumah tangga ku lagi! Kamu pasti bisa menemukan lelaki yang lebih baik dariku." Ucap Fabian berusaha untuk menyadarkan wanita itu.
Sejenak hening, Viona menatap kearah Fabian dengan tatapan kosong. Hingga wanita itu tertawa terbahak-bahak lalu menangis histeris seperti orang yang sedang kerasukan arwah. Fabian paham kalau saat ini wanita itu sedang mabuk berat jadi dia menahan amarahnya karena menurutnya percuma saja membuang tenaga untuk memarahi wanita itu atas kesalahannya.
"Aku akan kembali besok, silahkan bersenang-senang dan anggap saja rumah sendiri. Nanti setelah kamu sadar, aku akan kembali untuk memberimu pelajaran agar tak lagi membuat kekacauan. " Ucap Fabian lalu hendak melangkahkan kakinya keluar dari apartemen tersebut.
"Kalau kamu berani keluar, aku akan menancapkan pisau ini ke tubuhku. Kalau aku mati, kamu pasti yang jadi tersangkanya. Karena aku dan Rania sudah mengatur semuanya agar kamu masuk dalam penjara. Aku mati, kamu dipenjara dan Adel akan hidup menderita ditangan Rania. CCTV yang akan jadi bukti nantinya. "Ucap Viona membuat langkah kaki Fabian terhenti.
" Apa kamu mengancamku,Vi? maaf saja aku tak akan terpengaruh sama sekali. Kalau kamu mati bunuh diri, siap-siap saja masuk neraka. Dan aku tak takut jika namaku terbawa-bawa atas kematianmu. Aku siap menghadapinya dan kupastikan aku akan terbebas dari tuduhan. Karena apa? dipisau itu tak ada sedikitpun tanda sidik jariku. "Ucap Fabian lalu pergi meninggalkan wanita itu.
__ADS_1
Mendengar itu, Viona merasa gagal membuat Fabian masuk kedalam perangkap. Namun dia tak menyerah begitu saja, sehingga dengan cepat menghubungi Rania untuk menjalankan misi selanjutnya. Karena misi pertama telah gagal total.