
Adel menundukan kepalanya karena kesedihan yang dia rasakan.Dia berpikir,mengapa bapak mertuanya jadi seperti itu.Apakah mungkin karena tak terima dirinya dikurung oleh suaminya digudang?
Tapi gak mungkin hanya gara gara itu.Pasti ada sesuatu yang membuat bapak mertuanya itu kena serangan jantung dan membuatnya kritis dirumah sakit ini.Adel mengacak acak rambutnya karena merasa bersalah atas kejadian yang menimpa bapak mertuanya.
Karena perut sudah keroncongan,dia memutuskan untuk kekantin rumah sakit mencari makan.Sekalian mengisi daya ponselnya yang sudah mati sedari tadi.Saat melangkahkan kakinya tiba tiba ada seorang suster memakai masker yang hendak masuk kedalam ruangan Icu.
Adel menyapa suster tersebut,lalu minta izin sebentar untuk mencari makan dikantin.Suster tersebut hanya mengangguk dan tak bicara sekata pun padanya.Adel pun langsung berlalu saat melihat suster itu sudah masuk kedalam ruangan itu.
Saat perutnya sudah kenyang,dia pun meraih ponselnya yang sudah setengah terisi.Segera diaktifkannya ponselnya tersebut,lalu buru buru menelpon kedua sahabatnya.Saat teleponnya tersambung..
"Hallo Del,ada apa nelpon malam malam gini..mau curhat yah?"ucap Lala dari seberang telepon
"La,bisa gak datang kerumah sakit sekarang?"tanya Adel dengan nada sendu.
"Siapa yang sakit Del?"
"Bapak mertuaku La."Ucap Adel mulai terisak.
"Ok.Sekarang kamu katakan,dirumah sakit mana dan diruangan apa biar langsung segera kesana."Ucap Lala tergesa gesa.
"Udah kukirim lewat sms,cepat kesini yah.."Ucap Adel lalu mematikan teleponnya.
Setelah membayar kepada ibu kantin,dia pun beranjak kembali ketempat bapak mertuanya dirawat.Dia kaget saat melihat dokter dan suster yang berlarian keruangan Icu.Dia setengah berlari dan bertanya kepada salah satu suster..
"Apa yang terjadi Suster?"tanya Adel gemetar karena takut terjadi sesuatu pada bapak mertuanya.
"Ada yang sengaja melepas ventilator pasien.Sehingga pasien sulit untuk bernafas."Ucap suster itu lalu masuk kembali kedalam ruangan.
Adel terduduk lesu saat mendengar pernyataan suster itu.Kemudian dia teringat pada suster yang masuk saat dirinya hendak kekantin.Dia tak bisa mengenali wajah suster itu karena menggunakan masker mulut.
__ADS_1
Tak lama dokter pun keluar dan menyatakan bahwa bapak mertuanya masih bisa diselamatkan,walaupun masih dalam keadaan koma.Dan dokter mengizinkan Adel untuk menemui bapak mertuanya tapi harus ditemani oleh suster.
Adel pun langsung masuk kedalam dan memeluk bapak mertuanya yang tak bergerak sedikitpun.Tapi suster segera menyuruhnya agar tak terlalu mengguncang pasien.Dia pun menurut dan kemudian hanya memegang tangan beliau sambil menangis sedih.
"Pak,kumohon cepat sadar.Adel ingin bersenda gurau bersama bapak seperti biasanya.Hanya bapak satu satunya yang percaya pada Adel.Mengapa bapak harus jadi seperti ini?"ucap Adel dengan airmata yang terus membasahi pipinya.
Suster kembali mengajaknya keluar ruangan karena waktu yang diberikan sudah habis.Adel keluar sambil tak henti hentinya menangis.Tapi sedikit lega karena bapak mertuanya masih bisa terselamatkan dari tindakan seseorang yang sengaja telah melepas alat bantu pernapasan yang terpasang.
Saat keluar,dia langsung memeluk sahabatnya yang sudah menunggu didepan ruangan Icu.Kedua sahabatnya mengajaknya duduk dan menenangkan hati Adel.
"Mengapa bisa jadi seperti ini Del?"tanya Ani sambil menepuk nepuk pundak Adel.
"Tadi sepulang menemui Lala,mas Bryan mengunciku digudang.Lalu,tak berapa lama bapak mertuaku yang datang mengeluarkanku dari gudang tersebut."Ucap Adel menjelaskan
"Lalu yang membuat pak Hadi kena serangan jantung siapa Del?gak mungkin dong hanya karena mengeluarkan kamu dari gudang?"ucap Lala merasa ada yang janggal.
"Waktu mengeluarkanku dari gudang,bapak mertuaku selalu memegangi dadanya menahan sakit.Dan jalannya tergopoh gopoh sehingga dituntun olehku.Lalu segera kusuruh mas Bryan buat nelpon dokter.Tapi akhirnya berujung seperti ini."Ucap Adel tertunduk lesu.
Adel pun menceritakan semuanya kepada kedua sahabatnya.Sehingga keduanya geram dan ingin membalas perbuatan Bryan dan Shinta terhadap sahabatnya itu.
"Pasti,gara gara kedua orang itu yang membuat pak Hadi kritis.Bisa bisanya yah kamu yang dituduh."ucap Lala emosi.
"Ini gak bisa dibiarkan.Mereka berdua sudah keterlaluan menyiksa kamu Del.Mending kamu minta cerai saja.Buat apa bertahan dengan lelaki seperti Bryan?"ucap Ani mengepalkan tangannya.
"Aku gak bisa.Kasian nenek kalau harus menahan malu dengan omongan orang orang."Ucap Adel menolak permintaan sahabatnya itu.
"Ngapain harus malu?lagipula ini demi kebaikan kamu.Perbuatan suamimu itu tak patut dimaafkan."
"Aku gak mau masuk penjara.Untuk sementara aku akan terus menjadi istri yang patuh kepada suaminya.Sambil mengumpulkan bukti agar bebas dari ancaman mas Bryan."
__ADS_1
"Del..kamu yang sabar yah.Kami janji akan membantumu menyelesaikan ini.Tapi kami gak tega kalau kamu hidup menderita ditangan suamimu dan wanita itu."Ucap Lala sambil menangis.
"Aku kuat kok.Kalian jangan khawatir,aku bisa melalui semua ini.Dan yakin suatu saat bisa terbebas dari ancaman mas Bryan dan membuka kedok Shinta."Ucap Adel yakin.
Mereka pun lama megobrol,lalu pamit untuk pulang karena esok hari mau masuk kerja.Mereka juga menyuruh Adel untuk ikut serta agar istirahat,namun ditolaknya karena tak ingin meninggalkan ruangan bapak mertuanya.Dan mereka pun berpisah.
_________________
"Sayang,jangan sedih dong.Kita doakan sama sama agar bapak cepat sadar dari komanya."Ucap Shinta mengelus elus kepala Bryan.
"Gara gara kita,penyakit bapak kumat bahkan lebih parah sampai harus dinyatakan kritis dirumahsakit."Ucap Bryan merasa bersalah.
"Ini gara gara istri kamu.Coba saja dia gak keluyuran bersama pria lain,mungkin saja gak kejadian seperti ini kan?"ucap Shinta memberikan tuduhan pada Adel.
"Kamu benar juga.Perempuan itu memang pembawa sial.Tunggu saja Del,kamu akan lebih menderita ditanganku."Ucap Bryan mengepalkan tangannya.
"Besok,biar saya yang menemani ibu kerumah sakit.Lalu kamu ajak istrimu yang pembawa sial itu pulang kerumah.Dan kasih pelajaran buat dia karena telah menyebabkan bapak gak sadarkan diri dirumah sakit."Ucap Shinta mengompori suasana hati Bryan.
"Lihat saja besok.Kali ini dia bisa mengelak,tapi biarkan saja demi menjaga bapak dirumah sakit.Tapi besok,tunggu saja bagiannya."Ucap Bryan dengan emosi.
"Semoga saja besok,terdengar kabar kalau bapakmu sudah meninggal dunia.muda mudahan suster itu menjalankan perintahku."Ucap Shinta dalam hati.
Saat hendak tidur,tiba tiba ponsel Shinta berdering.Dia keluar dari kamar dan mengangkat telepon tersebut.
"Hallo,gimana berhasil gak tugas yang kuberikan padamu?"tanya Shinta sambil melirik kekiri dan kanan takut kedengaran orang lain.
"Maaf Shin,gagal.Dokter segera menangani kondisi pak Hadi sehingga masih bisa terselamatkan."Ucap wanita yang menelpon.
"Apa?tapi masih koma kan?"tanya Shinta panik.
__ADS_1
"Tenang saja,pasien masih kritis.Tapi maaf,aku tidak akan mengulangi tindakan bodoh yang kamu perintahkan kepadaku."Ucap wanita itu lalu mematikan telepon.
"Sial..aku yang akan melakukannya sendiri.Lihat saja besok,saat ada kesempatan aku akan menghabisi nyawa orangtua itu."Ucap Shinta dalam hati lalu masuk kembali kedalam kamar.