
Adel segera melepaskan pelukan dari suaminya tersebut. Memang dirinya merasa nyaman saat berada di dekat Fabian, tapi dia sadar tak seharusnya mereka melakukan hubungan suami istri, karena pernikahan mereka hanya sementara. Dia hanya tak ingin kesuciannya direnggut oleh lelaki yang salah.
Sebagai wanita normal, dia menginginkan pernikahan yang sesungguhnya. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri akan menyerahkan mahkotanya yang masih terjaga itu kepada suami yang benar-benar mencintainya dengan setulus hati. Bukan lelaki seperti Fabian yang menurutnya mempermainkan pernikahan hanya demi mendapatkan harta warisan keluarganya.
"Apa kamu merasa keberatan jika aku memeluk mu? kamu kan sekarang sudah sah sebagai istriku. Bukankah aku bebas melakukan apa saja kepadamu? " ucap Fabian lalu menghempaskan dirinya disofa.
"Maaf, mas.. Aku melakukan ini sesuai perjanjian yang telah kita sepakati bersama. Harusnya kamu tidak boleh melanggar perjanjian itu. " Ucap Adel menundukkan kepalanya.
"Makanya, kalau berdua denganku jangan memakai baju kurang bahan seperti itu! Sekarang pergi ganti pakaianmu sekarang juga! " Ucap Fabian dengan nada kesal.
Adel menurut saja lalu segera dia masuk kedalam kamar dan mengganti pakaiannya itu dengan baju setelan panjang. Mungkin kalau begitu, Fabian tak akan tergoda imannya. Dirinya malu untuk keluar lagi menemui suaminya tersebut. Hingga dia memutuskan untuk memainkan ponselnya.
Karena tak ada tanda-tanda Fabian masuk kedalam kamar, akhirnya Adel tertidur pulas. Tak lama kemudian Fabian pun masuk dan melihat kearah istrinya itu yang sudah terlelap. Dia memandangi wajah Adel sangat lama dan berdecak kagum dengan kecantikan istrinya itu.
"Wah, sungguh ciptaan Tuhan yang sangat indah. Bahkan dalam keadaan terlelap pun, kecantikannya tidak berubah. " Gumam Fabian lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh Adel.
Dirinya pun mematikan lampu lalu tidur beralaskan kasur dilantai. Namun tiba-tiba saja ada yang membunyikan bel pintu. Fabian merasa kesal karena ada yang datang mengganggunya disaat dirinya sudah mengantuk. Dengan terpaksa dia bangkit berdiri lalu keluar untuk membukakan pintu bagi tamu yang tak diundang itu.
Saat pintu terbuka ternyata yang datang adalah Viona. Dengan memasang wajah yang cemberut, Viona langsung menerobos masuk kedalam.
"Mengapa kamu tidak datang menemuiku? berani sekarang kamu yah, tak menepati janjimu? " ucap Viona membuat Fabian langsung membekap mulut wanita itu.
"Tolong pelankan suaramu! aku tak ingin istriku terbangun mendengar suaramu yang berisik itu. " Ucap Fabian dengan suara berbisik.
"Aku tak peduli, dan aku juga akan mengatakan padanya kalau kita berdua itu sebenarnya adalah sepasang kekasih. " Ucap Viona berhasil melepaskan diri dari Fabian.
"Sekarang, ayo kita keluar sebentar! " Ucap Fabian lalu menarik tangan wanita itu agar segera pergi dari tempat itu. Dia hanya tak ingin, Adel terbangun dan mendengar semua ocehan Viona.
__ADS_1
Fabian mengajak wanita itu di sebuah kafe yang berada di sekitar apartemen nya. Dia pun mengutarakan isi hatinya kepada Viona agar sekarang lebih baik berpisah secara baik-baik. Dan dia juga berkata jujur dengan perasaannya yang kini sudah mencintai istrinya.
"Aku tau kamu menikahi wanita itu hanya untuk mendapatkan hak perusahaan kan? kamu itu hanya mencintaiku." Ucap Viona tak percaya dengan omongan lelaki itu.
"Awalnya memang ia, aku meminta Adel menikah denganku secara kontrak. Tapi kini aku menginginkannya jadi milikku selamanya. " Ucap Fabian berterus terang.
"Kamu gak boleh ninggalin aku, plis, jangan sakiti hatiku! " ucap Viona memohon sambil mengeluarkan air mata.
"Maafkan aku, Vi. Kita sudah seharusnya tak menjalin hubungan terlarang ini." Ucap Fabian lalu pergi meninggalkan Viona yang tengah menangis sedih.
Lama Viona berdiam diri di kafe tersebut, lalu dia meraih ponselnya dari dalam tasnya. Rupanya panggilannya masih tersambung dengan Bimo. Segera dia menghapus air matanya dan merasa khawatir, kekasihnya itu sudah mendengar semua obrolannya dengan Fabian.
Dia pun memastikan dan memanggil nama kekasihnya itu melaui telepon tersebut. Saat dia menempelkan ponselnya ditelinga, terdengar suara dengkuran kekasihnya tersebut. Akhirnya dia bisa lega karena Bimo tak mendengar semua obrolan tadi. Rupanya kekasihnya itu ketiduran sampai lupa mematikan sambungan telepon.
____________________
Keesokan harinya, Adel menemani suaminya untuk menemui rekan bisnisnya. Dan rekan bisnisnya tersebut meminta untuk bertemu langsung dirumahnya. Adel merasa kaget, karena ternyata rumah yang mereka tuju adalah bekas rumahnya dulu bersama Bryan.
Tak lama datanglah seorang lelaki yang datang menghampiri kami. Aku terkejut saat melihat lelaki tersebut begitu pun sebaliknya. Ternyata Mario yang sudah membeli rumah Bryan tersebut.
"Hai, Adel.. apa kabarmu? sudah lama yah kita tak berjumpa. " Ucap Mario mengembangkan senyum dibibirnya.
"Apa kalian saling mengenal? " tanya Fabian menatap kearah Adel dan lelaki itu secara bergantian.
"Yah, begitulah. Rumah aku yang ini, dulunya adalah milik suaminya. Setelah dia meninggal,akhirnya jadi milikku. " Ucap Mario menjelaskan.
Fabian hanya mengangguk saja dan tak mengajukan pertanyaan lagi.Dia hanya tak ingin membuat hati istrinya kembali bersedih mengenang kebersamaan dengan mantan suaminya saat masih tinggal dirumah itu.
__ADS_1
"Papa.. kami pulang.. " terdengar suara seorang wanita yang datang dari arah depan.
"Oh, rupanya ada tamu istimewa. Hallo adikku sayang, kita berjumpa lagi! " ucap wanita itu yang ternyata adalah Rania.
Rania terlihat bersama dua orang anak kecil. Adel sangat yakin kalau itu adalah Ali dan juga anaknya Shinta. Ternyata mereka sudah besar, dan terlihat sehat. Dan yang lebih mengejutkan lagi, ternyata Mario dan Rania adalah sepasang suami istri.
Sebenarnya Adel ingin pergi dari rumah itu karena merasa muak melihat wajah sepasang suami-istri itu. Namun karena mengingat posisinya sebagai sekretaris, dia bersikap profesional. Dan tetap melemparkan senyum ramahnya kepada rekan kerja suaminya tersebut.
"Hei, Adel.. gimana rasanya jadi janda perawan? pasti dulu sewaktu dengan Bryan udah kepengen disentuh, tapi sayang, nyawanya harus melayang duluan. " Ucap Rania membuat Adel terpancing emosi.
"Tutup mulutmu! seharusnya kamu tidak mengungkit orang yang sudah meninggal. Dan kamu perlu bersyukur karena Tuhan masih memberikan kesempatan kepadamu untuk menikmati hidup. " Ucap Adel lalu bangkit berdiri untuk pergi dari tempat itu.
"Nasibnya aja yang buruk harus meninggal di usia yang muda. Dan lihatlah sekarang semua hartanya sudah menjadi milikku. Untung saja Orangtuanya percaya kalau anak yang dilahirkan oleh Shinta adalah anak Bryan. Sehingga tak perlu repot-repot lagi merawat Bimo yang sakit jiwa itu. "Ucap Rania tertawa puas.
" Maksud kamu, Bimo adik dari mantan suami Adel? "tanya Fabian menoleh kearahku.
" Pertemuan nya sudah selesai kan? ayo kita pulang saja, kalau lama-lama disini bisa membuatku naik darah saja. "Ucap Adel lalu Fabian mengangguk setuju.
" Maaf, tuan.. apa kamu mengenal Bimo juga? "tanya Rania penasaran.
" Iya, malahan aku kenal dengan dekat dengannya. Dia itu kekasih dari adik sepupuku. "Ucap Fabian lalu masuk kedalam mobil dan segera pergi meninggalkan Rania yang terlihat bingung.
Dalam perjalanan pulang, Adel menasehati Fabian agar lain kali tak perlu meladeni omongan Rania. Biarkan saja wanita itu tau kalau Bimo masih berada dirumah sakit jiwa. Dia hanya tak ingin Rania nantinya memanipulasi Bimo untuk merebut harta mantan adik iparnya tersebut.
Karena pasti saat Rania mengetahui kalau Bimo sudah sembuh, dia akan menyusun rencana dan nantinya juga akan memanfaatkan anaknya untuk mendapatkan keinginannya itu. Menurut Adel, Rania itu sangat gila harta.
Mengingat, hal itu sudah berhasil dilakukannya sehingga dia berhasil mendapatkan harta Bryan seluruhnya.
__ADS_1
"Waduh, berarti aku sudah salah ngomong dong? harusnya aku diam saja tadi. Maafkan keteledoran ku yah? " ucap Fabian meminta maaf.
"Semuanya sudah terjadi, jadi tak perlu disesali. Semoga saja, Rania tak mengerti dengan omonganmu tadi. Tapi walaupun kita tak memberi tau pun, pasti suatu saat wanita itu akan mengetahuinya sendiri. " Ucap Adel lalu suasana pun terasa hening.