
Setelah sadar dari pingsannya, Adel kembali mengeluarkan air matanya mengingat kondisi suaminya yang kini belum sadar dari komanya. Untungnya, Ani selalu setia mendampingi untuk menguatkan hati Adel agar selalu sabar dalam menghadapi semuanya.
Tak lama kemudian, Adel meraih ponselnya yang ada didalam tas pribadinya dan mencoba untuk menghubungi Bu Rahma, nenek dari suaminya. Walaupun dirinya ragu untuk mengatakan musibah itu, namun dia harus memberi kabar kepada keluarga suaminya. Saat telepon tersambung,
"Nek..Maafin Adel yah? " ucap Adel sambil terisak.
"Ada apa, Nak? kok kamu nangis, apa Fabian membuatmu bersedih? " tanya Bu Rahma diseberang telepon dengan nada khawatir.
"Sekarang Mas Fabian dinyatakan kritis oleh Dokter. Nenek datang yah dirumah sakit untuk melihat keadaanya! " ucap Adel berderai airmata.
"Bukannya kalian lagi diluar negeri? ah, Nak jangan bercanda seperti ini dong. " Ucap Bu Rahma menyangka kalau Adel hanya mengerjai saja.
"Aku serius,Nek. Ceritanya panjang, saat ini lebih baik nenek kesini saja dulu, nanti Adel jelaskan semuanya. " Ucap Adel lalu mematikan telepon setelah mengucap salam.
Kembali Adel menggenggam tangan suaminya itu yang tak sadarkan diri, sambil air matanya tak henti-hentinya jatuh membasahi pipi nya. Dia berharap suaminya segera sadar dan bisa kembali sehat seperti sedia kala. Lama dirinya menatapi wajah suaminya tersebut dengan perasaan sedih.
Tak lama kemudian, Bu Rahma memasuki ruangan tempat Fabian dirawat. Beliau sangat terkejut melihat bahwa apa yang dikatakan Adel benar adanya. Cucu kesayangannya kini terbaring tak sadarkan diri.
"Nak, apa yang terjadi? mengapa cucuku jadi seperti ini? " tanya Bu Rahma lalu menangis dengan histeris.
"Aku juga tak tau kejadian pastinya, Nek. Tapi menurut info, Mas Fabian terkena hantaman benda tumpul di bagian kepalanya. " Ucap Adel lalu berlari memeluk Bu Rahma dengan raut kesedihan.
"Siapa yang berani melakukan hal itu pada cucuku? "
Setelah keadaan cukup tenang, Adel mencoba menjelaskan awal cerita sebelum kejadian itu menimpa suaminya. Bu Rahma menjadi paham sehingga beliau yakin bahwa ini semua pasti ulah cucu perempuannya sendiri yaitu Viona.
"Nenek akan memberikan pelajaran pada gadis itu. " Ucap Bu Rahma lalu beliau meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.
Setelah selesai, karena mengetahui bahwa Bu Ida juga dirawat di rumah sakit itu, Bu Rahma memutuskan untuk menjenguk sahabatnya tersebut. Adel pun mengajak beliau keruang inap neneknya.
_________________________
__ADS_1
Disuatu tempat, terlihat Viona sedang memarahi anggota geng motor yang menjalankan misi diluar rencana. Dia mengatakan seharusnya mereka hanya menakut-nakuti saja dan bukan membuat target mereka terluka parah hingga dinyatakan kritis dirumah sakit.
Hal itu diketahui oleh Viona karena orang tuanya menelpon dan memberitahu tentang keadaan Fabian sekarang. wanita itu memarahi habis-habisan karena orang suruhannya sudah melakukan kesalahan yang fatal.
"Kami tak peduli apa omonganmu. Yang penting sekarang tugas kami sudah selesai dan berhasil. Waktunya kamu memberikan bayaran sesuai perjanjian kita kemarin. " Ucap ketua geng motor itu.
"Jangan mimpi mendapat bayaran, karena kalian menjalankan misi diluar rencana. " Ucap Viona lalu hendak melangkah pergi.
Para anggota geng motor itu merasa tertipu sehingga salah satu diantara mereka menarik rambutnya dan membawa wanita itu kesalah satu ruangan yang ada ditempat itu.
"Apa yang akan kalian lakukan? " tanya Viona terus memberontak untuk terlepas dari tangan yang memeganginya.
"Kalau kamu tak membayar kami sesuai perjanjian, maka bersiaplah tubuhmu akan di cicipi oleh seluruh anggota geng ku. " Ucap ketua geng motor itu mengancam.
"Ok, aku akan memberikan uang itu secepatnya. Sekarang lepaskan aku! " ucap Viona terus berusaha melepaskan diri.
"Kalian semua keluar, karena dia akan membayarnya, kalian tak diperbolehkan menyentuh gadis cantik ini. Hanya aku yang boleh." Ucap lelaki tadi membuat Viona terperangah.
Seperti mengerti dengan ucapan bosnya, semua anggota geng motor itu keluar meninggalkan bos dan wanita itu diruangan tersebut. Viona berusaha untuk melarikan diri, namun kekuatan lelaki itu sangatlah kuat dan dia tak mampu untuk melawannya.
Berulang kali dirinya memohon dan mengatakan akan memberikan bayaran sepuluh kali lipat, namun lelaki itu tak mempedulikan nya. Yang dia inginkan saat ini adalah untuk mencicipi tubuh gadis tersebut.
"Untung saja kamu datang sendirian. Jadi aku punya kesempatan untuk bermadu kasih denganmu. Sejak kemarin aku berkeinginan untuk menyentuhmu, dan sekarang bisa terwujud. " Ucap lelaki itu lalu melayangkan ciuman dibibir Viona.
Viona terus memberontak ingin terlepas dari lelaki itu, namun selalu saja sia-sia. Dalam batinnya, seandainya lelaki itu tampan, pasti dia akan sukarela memberikannya, tapi penampilan lelaki itu sungguh dekil. Badannya agak gendut, berkulit hitam, dan tampak giginya yang berwarna kuning sepertinya jarang sikat gigi.
Saat lelaki itu mencium bibir Viona, wanita itu mencium aroma tak sedap. Rasanya wanita itu ingin muntah, tapi lelaki itu makin memperdalam ciumannya. Airmata Viona membasahi pipinya karena mendapat perlakuan seperti itu. Dalam hatinya mungkinkah itu karma untuknya?
Setelah puas mencium bibir Viona, lelaki itu melucuti pakaian yang digunakan oleh Viona hingga tubuhnya yang putih mulus itu membuat lelaki itu menelan salivanya berkali-kali. Bagi lelaki itu, yang terlihat di depan matanya adalah surga dunia yang sangat nikmat jika di cicipi.
Viona tak punya pilihan lain selain melayani hasrat lelaki yang jarang mandi tersebut.Lelaki itu menciumi seluruh tubuh wanita itu membuat Viona bergidik ngeri. Saat lelaki itu memperk**anya, dia memejamkan matanya dan berhalusinasi bahwa yang melakukannya itu adalah Fabian.
__ADS_1
Setelah puas melakukannya, lelaki itu kembali memakai bajunya dan tersenyum senang karena baru kali ini dia bermadu kasih dengan wanita cantik yang mempunyai tubuh putih mulus dan ****.
"Aku tunggu transferannya yah, kalau kamu tak segera mengirimkannya, siap-siap saja tubuhmu di cicipi oleh semua anggota geng ku. Kamu tak bisa bersembunyi dari kami, ok cantik? " ucap lelaki itu lalu mencium kening Viona.
Viona tak berkutik karena habis digempur oleh lelaki tadi. Hanya airmatanya yang terus mengalir membasahi pipinya. Sebelum pergi, lelaki itu kembali berbisik ke telinga Viona yang membuat wanita itu terkejut bukan main,
"Semoga benih yang kutanam berkembang dengan baik dirahimmu. Kalau kamu beneran hamil nantinya, tenang saja aku akan siap bertanggung jawab kok. " Ucap lelaki itu terkekeh.
"Gak sudi aku kalau mempunyai anak denganmu. Pergi sana jauh-jauh, dan jangan menampakkan wajahmu lagi didepanku. " Ucap Viona lalu segera memakai bajunya kembali.
_________________________
Setelah menjenguk Bu Ida, akhirnya Adel dan Bu Rahma permisi untuk kembali melihat keadaan Fabian.dan Adel berharap kalau suaminya tersebut sudah sadarkan diri. Untung saja Ani masih mau membantunya untuk menjaga neneknya yang masih terbaring lemah. Kali ini juga sudah ada Lala yang datang untuk membantunya.
Saat Bu Rahma dan Adel menatap sedih kearah Fabian, mereka merasa bahagia melihat pergerakan tangan Fabian dan itu tandanya sebentar lagi lelaki itu akan sadarkan diri. Adel berlari keluar ruangan untuk memanggil dokter.
Setelah dokter memeriksa, tak lama kemudian mata Fabian terbuka sempurna lalu melihat sekelilingnya. Lelaki itu merasa aneh, mengapa dirinya berada ditempat itu. Lalu juga dia memegangi bagian kepalanya yang kini terbalut kan perban.
"Nak, untunglah kamu sekarang sudah sadarkan diri. Nenek sangat senang sekali. " Ucap Bu Rahma terlihat bahagia.
"Nenek, mengapa aku bisa berada disini?dan dimana keberadaan istriku? " tanya Fabian membuat Adel langsung mendekatinya.
"Aku disini sayang. Syukurlah, sekarang kamu sudah sadarkan diri. " Ucap Adel berlinang airmata tanda kebahagiaan.
"Kamu siapa? hmm perasaan aku tak mengenal dirimu. Mengapa kamu mengaku sebagai istriku? " ucap Fabian membuat Adel dan juga Bu Rahma kebingungan.
"Nak, wanita ini istrimu. Kamu jangan bercanda deh, ngomong seperti itu. Gak lucu tau. " Ucap Bu Rahma sambil tertawa kecil.
"Kebiasaan deh, Mas. Kalau lagi begini, jangan bercanda dong. " Ucap Adel ikut tertawa kecil namun Fabian tampak bingung.
"Siapa yang bercanda? aku sungguh tak mengenalmu. " Ucap Fabian lagi sambil memegangi kepalanya yang terasa sakit.
__ADS_1
Tak lama seorang perawat masuk memberikan sesuatu kepada dokter. Setelah membaca yang diberikan oleh perawat tadi, dokter mengatakan hasil diagnosa bahwa Fabian mengalami amnesia.