Merindukan Malam Pertama

Merindukan Malam Pertama
Ulah geng motor


__ADS_3

Fabian memutuskan untuk kembali kerumah sakit tempat Bu Ida dirawat. Ditengah perjalanan yang tampak sunyi, mobil Fabian dihadang oleh sekelompok geng motor. Ada rasa panik menyelimutinya karena pasti orang-orang itu punya niat yang jahat terhadapnya.


Segera dia meraih ponselnya untuk menghubungi petugas kepolisian untuk segera datang menolongnya yang dalam bahaya. Namun sayangnya ponselnya kehabisan daya dan dirinya lupa membawa charger. Karena kebingungan, dirinya meremas rambutnya dan mencoba untuk tetap tenang.


Para kelompok geng motor tersebut mengetok kaca mobil agar Fabian keluar dari tempatnya berada. Namun dia hanya diam saja dan berharap mereka tak bisa menangkapnya.Hingga dirinya kaget ketika seseorang berhasil memecahkan kaca mobil depan sehingga pada akhirnya mereka berhasil menyeret Fabian keluar dari mobil tersebut.


Awalnya Fabian memberi perlawanan dan berusaha untuk kabur dari kelompok geng motor tersebut, namun usahanya tidak membuahkan hasil karena kekuatan mereka lebih kuat.


"Kamu pikir bisa kabur dengan mudahnya dari kami?" Ucap salah satu dari mereka diakhiri degan tawa yang menggelegar.


"Apa mau kalian? tolong bebaskan aku, dan kalau kalian butuh uang, aku akan memberikannya berapa pun nilainya. " Ucap Fabian memohon dengan sangat.


"Kami tak butuh uang dari kamu. Yang kami butuhkan, kamu mati sekarang juga. Hahaha. "


Fabian terkejut mendengar perkataan tersebut, dan dia berharap ada kendaraan yang lewat ditempat itu agar dirinya bisa terselamatkan dari para geng motor tersebut. Beruntung doanya terkabul, dan membuat para geng motor itu berlari ke arah motor mereka masing-masing.


Fabian merasa lega, namun dia tak menyadari kalau dibelakangnya masih ada salah satu anggota geng motor yang menghampirinya dan menghantamkan benda tumpul kearah kepalanya.


Bruuuk...


Fabian langsung terjatuh tak sadarkan diri. Sehingga karena misi mereka berhasil, mereka pun langsung kabur melarikan diri. Tak lama kemudian pihak kepolisian tiba ditempat perkara disusul dengan sebuah mobil ambulance yang kemudian membawa tubuh Fabian untuk segera dilarikan kerumah sakit terdekat.


_________________________


"Adel, kok kamu bisa disini? apa kalian tak jadi berangkat untuk bulan madu? " Ucap Ani yang terkejut melihat sahabatnya berada dirumah sakit.


"Ceritanya panjang, Ni. Sekarang kita masuk kedalam yah! " ucap Adel lalu melangkahkan kaki masuk ke ruang inap sang nenek.

__ADS_1


Saat masuk, Ani begitu kaget saat melihat Bu Ida terbaring lemah dan ditangannya dipasang selang infus. Ani menatap wajah Adel meminta penjelasan mengapa bisa Bu Ida berada ditempat itu. Akhirnya, Adel pun menceritakan semuanya kepada Ani, dan membuat wanita itu tersulut emosi.


"Wanita itu harus segera dijebloskan kepenjara. Kalau masih berkeliaran, hidup kalian tak akan tenang. Aku akan melaporkan dia atas kejahatannya yang sudah menculik nenek. " Ucap Ani mengepalkan tangannya.


"Tapi kita tak punya bukti, Ni. Dia wanita licik, pasti sulit bagi kita untuk menjebloskan dia kedalam penjara. Apalagi saat ini dia dibantu oleh sepupu Mas Fabian. "


"Bagaimana bisa? apakah kamu mempunyai masalah dengan sepupu suamimu itu? " tanya Ani bingung.


Adel menarik nafas panjang, lalu dia mengatakan semuanya tentang Viona yang dulunya pernah menjalin hubungan dengan suaminya. Bukan hanya Ani saja, tapi Bu Ida sama terkejutnya mendengar penuturan dari Adel. Namun Adel menjelaskan lagi kalau sekarang suaminya tak ada hubungannya lagi dengan Viona, karena sekarang Fabian hanya mencintainya seorang.


Hanya saja, Viona masih saja berharap untuk mendapatkan Fabian. Sehingga dia bekerja sama dengan Rania untuk membuat hidup Adel selalu menderita.


"Wah, berarti tambah berat nih masalahnya. Kita harus menyusun rencana agar kedua wanita itu berhenti untuk mengganggu ketenangan hidupmu. " Ucap Ani kemudian.


"Nanti kita diskusikan dengan Lala besok yah! untuk saat ini, aku ingin balik kerumah dulu untuk membersihkan diriku, lalu nanti akan membawakan baju ganti untuk nenek. " Ucap Adel menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Yah sudah, kamu pulang saja dulu, biar aku yang jagain nenek disini. " Ucap Ani lalu menggeser kursinya untuk lebih dekat dengan Bu Ida.


Entah mengapa dirinya merasa gelisah, namun dirinya tak tau mengapa perasaan gelisah itu datang melanda nya. Adel berusaha membuang kegelisahan nya itu, dan akhirnya memutuskan pulang kerumah menggunakan taxi online.


Tepat saat dirinya masuk kedalam taxi, mobil ambulance yang membawa Fabian memasuki area rumah sakit. Para perawat segera membawa tubuh Fabian yang tak sadarkan diri itu keruang UGD.


Kebetulan Ani hendak pergi ke toilet karena kebelet pipis, dan dirinya melewati ruang UGD. Karena melihat para perawat yang sedang buru-buru membawa pasien yang baru datang, Ani memberi jalan dan dirinya melihat dengan jelas bahwa pasien yang tak sadarkan diri itu adalah suami dari sahabatnya.


Ani menutup mulutnya tak percaya dengan pemandangan yang ada. Lalu setelah tubuh Fabian sudah masuk ke dalam ruangan, Ani langsung menghampiri seorang perawat dan bertanya apa yang terjadi pada pasien yang baru saja masuk kedalam ruang UGD tersebut.


"Suster, maaf mau tanya, apa yang menyebabkan pasien tadi masuk kedalam ruangan itu? " tanya Ani dengan perasaan panik.

__ADS_1


"Tadi terjadi insiden dijalan Cempaka, salah satu anggota geng motor menghantam kepala pasien menggunakan benda tumpul. Sehingga membuatnya tak sadarkan diri dan sepertinya sekarang dalam keadaan kritis akibat hantaman keras yang mengenai otak kecilnya. Apa anda mengenal pasien? "


"Dia merupakan suami dari sahabatku. "


"Kalau begitu cepat beritahu pihak keluarganya tentang kejadian ini agar mereka segera kesini dan membayar administrasi agar bisa cepat ditindaklanjuti oleh dokter. " Ucap suster itu lalu pamit pergi meninggalkan Ani yang terlihat masih belum percaya dengan kejadian itu.


Setelah dari toilet, Ani kembali terhenti didepan ruangan UGD tempat Fabian berada. Dia bingung untuk mencari cara menjelaskan kepada sahabatnya atas apa yang telah menimpa suaminya. Dia hanya tak ingin membuat Adel Syok dan membuatnya larut dalam kesedihan.


Tapi hal itu harus segera disampaikan kepada Adel, dan Ani mencoba merangkai kata untuk memberitahukan hal itu secara perlahan kepada sahabatnya tersebut. Sambil menunggu kedatangan Adel, dirinya mondar mandir kebingungan membuat Bu Ida juga tampak bingung melihat tingkah Ani tersebut.


"Nak, mengapa kamu terlihat gelisah seperti itu? apa kamu punya masalah? " tanya Bu Ida.


"Gak Nek, aku hanya memikirkan soal pekerjaan saja kok." Ucap Ani lalu menarik nafas panjang dan berusaha terlihat tenang didepan Bu Ida.


Ani hanya tak ingin memberitahukan hal ini mengingat kondisi Bu Ida, takutnya beliau makin drop. Tak lama kemudian Adel datang dengan wajah berseri lalu mencium punggung tangan sang nenek. Karena tak mau Bu Ida mendengar kabar itu, Ani mengajak sahabatnya tersebut untuk keluar sebentar dari ruangan itu, dan untungnya Adel mau menuruti.


"Ada apa, Ni? kok muka kamu tegang amat sih? "


"Del.. aku ingin memberi kabar buruk kepadamu. Tapi aku mohon kamu harus kuat menghadapi ini semua yah? " ucap Ani membuat Adel menautkan alisnya.


"Kabar buruk apa? " tanya Adel singkat.


"Suamimu sekarang ada disini, Del. "


"Mana? yah iyalah dia datang kesini, kan ingin menemani aku untuk merawat nenek. Apakah kabar buruknya, dia datang dengan wanita itu? " Ucap Adel tertawa lebar melihat ketegangan sahabat nya itu.


"Bukan, Del. Suamimu sedang kritis dan sekarang masih berada diruang UGD. " Ucap Ani membuat Adel menghentikan tawanya.

__ADS_1


Tanpa bertanya lagi, Adel segera melangkahkan kakinya menuju keruang UGD untuk memastikan ucapan sahabatnya itu. Dia berharap Ani hanya bercanda dan mencoba untuk membuat prank terhadapnya. Ani menyusul Adel untuk menguatkan sahabatnya itu setelah melihat kenyataan tersebut.


Saat perawat mempersilahkan Adel untuk masuk, benar saja bahwa suaminya kini tak sadarkan diri. Dokter menyatakan bahwa pasien masih dalam keadaan kritis. Mendengar hal itu, Adel pun jatuh pingsan.


__ADS_2