
Hari berganti hari,tak terasa perut Shinta sudah semakin membesar.Adel masih saja melayani semua kebutuhan wanita itu dengan kesabaran,walaupun hatinya ingin sekali mengakhiri semuanya itu.
Saat suaminya lagi dikantor,Shinta menyuruh Adel untuk membereskan semua pekerjaan rumah sementara dirinya akan keluar untuk menemui seseorang.
"Kamu mau kemana Shinta?" tanya Adel saat melihat wanita itu sudah kelihatan rapi.
"Mau tau aja kamu,mendingan kamu urus saja semua pekerjaan rumah ini.Setelah aku pulang nanti,semuanya harus sudah bersih." Ucap Shinta lalu keluar dari rumah.
Adel merasa curiga dengan gerak gerik Shinta sehingga dia memutuskan untuk mengikuti wanita itu secara diam-diam. Namun baru saja dia akan keluar, kedua sahabatnya datang menjenguknya. Adel terpaksa batal membuntuti wanita itu padahal dia sangat penasaran kemana Shinta akan pergi dengan wajah yang muram seperti tadi.
"Kamu buru-buru amat? apa ada hal penting diluar sana? " tanya Lala penasaran.
"Tadinya aku mau ngikutin Shinta. Aku curiga padanya, akhir-akhir ini dia sering pulang malam. Tapi yah sudahlah mungkin belum saatnya aku mengetahui rahasianya. Kalian tumben amat pagi ini datang menemuiku? " tanya Adel lalu mengajak mereka untuk duduk.
"Aku justru ingin memberi informasi penting tentang wanita itu. " Ucap Ani berapi-api.
"Coba ceritakan! aku sudah tak sabar ingin mendengarnya. " Ucap Adel lagi menatap wajah Ani dengan serius.
"Kemarin siang, tanpa sengaja aku melihat Shinta masuk kedalam rumah sakit jiwa. Aku tak tau pasti apa yang dilakukannya disana. Dan tau gak? dia ditemani oleh Mario.Itu yang kedua kalinya mereka kesana. Aku curiga ada rahasia besar dirumah sakit jiwa itu. " Ucap Ani membuat keduanya kaget.
"Kamu yakin gak salah lihat? gak mungkin kan Pak Mario bisa akrab dengan Shinta? kan Pak Mario juga membenci wanita itu. Buktinya dia mau membantu kita untuk menyelesaikan permasalahan ini kan? "Ucap Lala tak percaya dengan penuturan Ani.
" Bisa saja Mario pura-pura baik kepada kita. Kita harus hati-hati mulai sekarang kepada Mario. Mengingat sudah beberapa kali kita memergoki kebersamaan mereka berdua. Besok, aku akan mengikuti kemana wanita itu pergi. Dan kupastikan akan segera mengungkap semua misteri kematian Bimo. "Ucap Adel sangat yakin.
Setelah lama mengobrol,kedua sahabatnya pun pamit untuk pulang. Segera Adel kembali membereskan semua pekerjaan rumah yang sempat tertunda. Saat membereskan kamar utama tempat suami dan wanita itu tidur, tanpa sengaja dia menemukan kunci diary yang selama ini sulit untuk diambilnya dari Shinta. Kunci tersebut tergeletak dibawah kasur. Dalam pikirannya mungkin Shinta lupa menyembunyikan kunci tersebut.Segera dia mengambil buku diary yang disimpannya dan membuka diary itu perlahan-lahan. Diapun membaca halaman pertama diary tersebut,
27 Oktober
__ADS_1
Aku menemukan seorang gadis yang saat ini membuatku nyaman dan bisa membuat ku lupa dengan luka yang diberikan oleh Rania. Aghh, aku lupa sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak menyebutkan namanya lagi.
Baiklah sekarang aku akan memulai lembaran baru dengan gadis yang ku jumpai didesa tempatku magang. A D E L.. Sungguh nama yang indah, semoga dia gadis terakhir dan tak akan memberikan luka seperti dia.
"Oh, rupanya kamu sudah berhasil membuka buku diary itu. " Ucap Shinta membuat Adel kaget lalu segera menutup diary tersebut rapat-rapat.
"Siapa Rania? aku yakin kamu pasti mengenalnya. "
"Rania? entahlah. Mungkin aku mengenalnya, tapi bisa juga tak mengenalnya. Apa kamu penasaran dengan wanita itu? " tanya Shinta lalu mengambil diary itu dan meninggalkan Adel yang terlihat kebingungan.
"Shinta.. kembalikan buku diary itu karena aku harus membacanya sampai selesai. " Ucap Adel mengejar Shinta yang hendak keluar dari rumah.
"Akan ada saatnya kamu membaca diary ini. Untuk saat ini, maaf saja anda belum beruntung. Jangan memaksa, atau aku akan mengatakan semuanya kepada nenekmu kalau cucunya tidak bahagia bersama suaminya. Jadi penasaran gimana reaksi nenekmu itu nantinya. " Ucap Shinta lalu kembali melangkahkan kakinya keluar.
Adel tak lagi mengejar, karena takut dengan ancaman wanita itu. Yang dalam pikirannya saat ini hanya ada nama wanita yang tertulis di diary Bimo. Untuk menghilangkan rasa penasarannya, segera dia menghubungi kedua sahabatnya. Dia meminta, untuk segera bertemu ditempat biasa karena ada hal penting yang harus dibicarakan segera.
"Hampir saja dia mengetahui semua isi diary itu. " Ucap Shinta kepada Rio dan salah seorang wanita.
"Makanya jangan ceroboh. Katamu kamu menyimpan kunci itu ditempat yang aman. " Ucap Rio sedikit emosi.
"Lalu, apa saja yang diketahui wanita kampung itu? " tanya wanita yang bersama mereka.
"Maaf, dia sempat membaca nama kamu. Tapi aku yakin dia hanya membaca halaman pertama doang kok. Untuk nama kamu, yang penting kan, Bryan tak mengenalmu. Dijamin aman. " Ucap Shinta meyakinkan wanita itu yang ternyata adalah Rania.
"Baguslah, gak lama lagi keluarga pak Hadi akan hancur. Mereka akan menyesal karena telah menelantarkan Bimo selama ini. " Ucap Rania mengepalkan tangannya.
"Yah, dan wanita kampung itu juga akan hancur ditanganku. Setelah anak ini lahir, aku pastikan akan membuatnya lebih menderita. Kehadirannya didunia ini membuat keluarga kita berantakan. Sampai harus mengorbankan nyawa ibu. "
__ADS_1
"Tunggu dulu, coba kamu jelaskan kesalahan apa yang Adel perbuat pada keluarga kalian! karena setauku kalian berdua hanya fokus membalaskan dendam kepada keluarga pak Hadi yang telah menelantarkan Bimo." Ucap Rio meminta penjelasan kepada Shinta.
"Nanti kamu akan tau sendiri kok, lihat saja alur yang akan berjalan kedepannya. Aku dan Rania sangat berterima kasih padamu karena sampai saat ini, kamu masih tetap mau membantu kami. " Ucap Shinta menggenggam tangan pria tersebut.
Saat Rio ingin bertanya kembali, datanglah seorang anak kecil dan duduk dipangkuan Rania. anak kecil itu merengek ingin bertemu dengan ayahnya. Namun Rania mencoba membujuk anak tersebut untuk bersabar karena ayah anak itu belum bisa ditemui untuk saat ini. Namun, anak tersebut tetap merengek agar dipertemukan sekarang juga dengan ayahnya sehingga membuat Rania naik pitam.
"Sudah kubilang, nanti kamu akan bertemu dengan ayahmu. Bisa sabar gak? capek loh mendengar kamu merengek terus menerus seperti ini. " Bentak Rania membuat anak kecil tersebut menangis sejadi-jadinya.
"Kak, tolong jangan bentak anak kecil yang belum tau apa-apa. Gak ada salahnya dong dia bertanya tentang ayahnya, bisa kan bujuk nya secara lembut? " ucap Shinta lalu menghampiri anak itu disudut ruangan karena takut kepada Rania.
"Ali sayang, maafin mama kamu yah? mama seperti itu karena sedang capek. Jadi Ali gak boleh nakal dan gak boleh dulu bertanya tentang ayah kepada mama. Tante janji akan menelpon ayah agar cepat pulang dan bertemu dengan Ali secepatnya. Untuk saat ini sabar dulu yah? " ucap Shinta lagi mengusap kepala ponakannya itu dengan lembut.
" Janji? " Ucap Ali yang masih sesegukan dan disambut pelukan oleh Shinta.
Setelah Ali masuk ke kamarnya, Shinta menasehati kakaknya agar jangan terlalu kasar kepada Ali dalam berbicara. Rio yang menyaksikan peristiwa tadi, makin kebingungan melihat anak kecil yang memanggil Rania dengan sebutan mama. Selama ini dia tidak tahu menahu tentang anak tersebut. Ingin bertanya, tapi dirinya ragu dan tak ingin membuat Rania tersinggung.
"Dia anak aku bersama Bimo. Namun dulu, dia menyangka aku hamil bersama lekaki lain. Makanya, untuk menghilangkan sakit hatinya dia mencoba membuka hatinya kepada wanita kampung itu. " Ucap Rania seakan sudah tau isi pikiran Rio yang penasaran.
"Oh, aku mengerti sekarang. Tapi aku ingin bertanya pada Shinta, apakah saat ini sudah ada benih cinta yang tumbuh dihatimu untuk Bryan? " tanya Rio membuat Shinta gelagapan.
"A-ku? yah gak lah. Kan dulu aku masuk kedalam hidup Bryan untuk membalaskan dendam dan buktinya aku berhasil membujuk dia menikahi gadis kampung itu biar sekalian keduanya menderita sekaligus. Ini semata karena dendam dan cintaku hanya untukmu. " Ucap Shinta gugup.
"Memaksa untuk menikahi? maksud kamu, Bryan mau menikahi Adel karena kamu yang memintanya? " tanya Rio mengerutkan keningnya.
"Yah begitulah. Tapi sekarang Bryan sudah mencintai gadis kampung itu sehingga diriku kesulitan untuk menghasutya lagi. " Ucap Shinta lalu bangkit berdiri dan pamit pulang kepada Rania.
" Hei kok ninggalin aku sih? "ucap Rio ikutan pamit kepada Rania lalu mengejar Shinta.
__ADS_1
" Sebentar lagi sayang, kita akan memberikan kejutan kepada keluargamu. Dan aku akan menyingkirkan anak pungut itu. "Ucap Rania lalu melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar anaknya.